Nillaku

Nillaku
Nillaku 411 Auristella tidak mau berpisah dengan kakaknya


__ADS_3

Auristella duduk di ruang tunggu usai menyelesaikan kegiatan belajarnya hari ini. Ia akan menunggu jemputan di sana. Dan berharap kakak keduanya hari ini bisa pulang bersamanya tidak ada kegiatan tambahan di kelasnya.


"Auris, dijemput siapa hari ini?"


"Hmm driver. Kenapa?"


"Tidak,"


Seorang teman Auristella bertanya penasaran kemudian mereka kembali duduk diam. Ada juga yang menunggu sambil bermain.


"Itu Adrian. Andrean dimana? tidak sekolah ya?"


Auristella menunjuk kakaknya yang baru memasuki ruang tunggu dan menyapa staf nya sebelum menghampiri sang adik.


"Ean sakit jadi tidak masuk sekolah,"


"Oh, semoga cepat sembuh ya,"


Auristella mengamini dan mengucapkan terimakasih. Ia mendengkus saat Adrian datang-datang langsung mengacak rambutnya pelan.


"Belum dijemput ya? kasihan!"


Ejeknya seolah melupakan fakta bahwa Ia juga belum dijemput. Auristella tersenyum sinis kemudian mencubit gemas pinggang Adrian yang baru akan duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa pulang sekarang sih? seharusnya tidak usah pulang sekalian,"


"Inginnya begitu. Tapi nanti kamu rindu dengan aku, mencari aku,"


"Hih? tidak akan!"


"Nanti kata Mommy, kalau kita bertiga sudah menikah pasti kita akan berpisah dan tidak akan bertengkar lagi, Auris,"


Auristella berdecak pelan dan menutup telinganya. Ia tidak suka mendengar itu! sampai kapnpun tidak akan mau menerima perpisahan itu sekalipun hanya berpisah rumah karena sudah memiliki pasangan masing-masing.


"Sudah ah! kamu malah bicara begitu. Masih kecil, malah memikirkan menikah,"


"Hei bukan begitu maksudku tadi kamu ingin aku tidak pulang karena tidak mau bertemu aku 'kan? kamu harus sabar! nanti juga akan berpisah denganku,"


"Ian, jangan bicara begitu! aku tidak suka!"


Auristella melotot tajam dan membungkam mulut kakaknya. Aksi mereka itu tentu menjadi tontonan bagi sebagian siswa yang juga berada di ruangan itu.


Seorang staf sekolah menghampiri, khawatir bila mereka bertengkar. Tidak tahu saja kebiasaan keduanya kalau di rumah. Lempar-lemparan bantal pun sudah menjadi hal yang biasa.


"Ada apa, Andrean, Auris?"


"Oh tidak apa, Ms,"


Auristella segera duduk tegap tak lagi membungkam mulut kakaknya. Adrian mengusap luar mulutnya dengan kasar.


"Ms, mohon maaf, aku Adrian bukan Andrean,"


Perempuan dengan seragam formal khas staf sekolah mereka itu tersenyum mohon maklum telah salah menyebut nama Adrian malah jadi Andrean.


"Maaf ya,"

__ADS_1


"Iya, tidak apa, Ms. Manusia tidak luput dari salah,"


Perempuan itu tertawa gemas dengan sahutan Adrian yang memang sudah Ia ketahui anaknya sering mengajak bercanda tapi sopan.


"Panggilan kepada Andrean dan Auristella. Sudah saatnya pulang,"


Keduanya berdiri ketika dipanggil untuk segera pulang menemui drivernya.


Akhirnya mereka dijemput. Begitu disambut oleh Mr Jun, Auristella langsung bertanya kenapa tidak datang tepat waktu.


"Ya namanya manusia pasti tidak luput dari salah, Auris,"


"Apa sih! kamu bicara terus!"


Auristella tidak suka kakaknya menyahuti. Ia bertanya pada driver tapi malah Adrian yang menjawab.


"Kita bermain dulu di playground. Mau tidak, Auris?"


"Belum izin Mommy,"


Auristella sebenarnya ingin juga melipir sebentar ke playground nya tapi mereka belum izin dengan orangtua mereka terutama Lovi. 


"Tidak apa, kita datang saja sebentar ke sana. Tidak lama,"


"Tapi tetap saja belum izin! jangan mengajariku untuk mlakukan keburukan ya!"


Adrian terpingkal mendengar seruan marah adiknya yang sama sekali tidak mau diajak ke tempat selain rumah bila belum izin dengan Mommy mereka. Sekalipun ke tempat yang mereka sukai.


"Ayo kita playground,"


"Jangan, Adrian. Belum izin pada Nona Lovi," Tolak drivernya saat Adrian menjawil bahunya dari kursi tengah.


Lovi dan Devan sampai sekarang selalu mengingatkan mereka agar langsung pulang ke rumah bila sudah selesai belajar dan tunggu sampai di jemput.


"Ah kamu tidak mau diajak ke playground,"


"Nanti saja kalau memang sudah minta izin pada Mommy,"


"Sudahlah kita tetap ke playground saja! ayo, kita ke sana,"


Adrian berseru tetap ingin ke playground dan hal itu membuat Auristella berdecak, dadaya panas mendengar kakaknya yang memaksa ingin ke sana sampai memaksa driver juga.


"Jangan didengarkan, tolong! dengarkan aku saja. Jangan kemanapun selain ke rumah. Anggap saja Ian ini boneka mobil yang rusak jadi bicara terus,"


Auristella ikut terkekeh saat mendengar kekehan dari pengendara mobil yang saat ini membawanya. Ia yang bicara seperti itu dan ternyata mampu menggelitik perut drivernya.


*****


Vanilla sudah pergi dari kediaman kakaknya. Kini Ia sedang dalam perjalanan menuju sekolah anak pertamanya.


Sementara Jane tetap di rumah Lovi dan Devan ingin menunggu kedatangan Auristella dan Adrian. Ia rindu sekali dengan dua keponakannya itu. Rindu dengan perdebatan mereka juga tentunya.


"Ean, mau Aunty suapi?"


"Aku makan sendiri saja, Aunty," tolaknya halus. Lovi membiarkan anaknya makan di meja makan sesuai keinginannya.

__ADS_1


Ia menyentuh kening Andrean. "Syukurlah, sudah tidak terlalu panas, Sayang. Nanti kita periksa suhumu lagi ya,"


Andrean mengangguk pelan. Ia menyantap makanan dengan pelan sebab radangnya membuat Ia sedikit kesulitan menelan sekalipun makannya sudah dibuat Lovi menjadi halus.


"Ean yang semangat makannya. Supaya cepat sembuh. Nanti kita jalan-jalan,"


"Kapan?" sama dengan kedua adiknya yang suka sekali bila mendengar kata itu. Sorot mata Andrean langsung kelihatan berbinar semangat. Meskipun sikap tubuhnya tidak menunjukkan hal itu, tidak seriuh Adrian dan Auristella bila sedang bahagia.


"Ya nanti, Icelle juga minta jalan-jalan,"


'Tapi mintanya dengan Uncle Richard," lanjut Jane dalam hati. Saat Ia menanyakan pada Grizelle ingin hadiah apa, Grizelle menjawab ingin jalan-jalan dengannya dan Richard bila sudah tiba di sini.


"Hah! padahal aku ingin ke playground,"


"Sudah, jangan bicara itu terus! aku bosan mendengarnya. Turun!"


Auristella menyuruh kakaknya yang banyak omong itu untuk segera keluar dari mobil setelah roda mobil tiba di rumah.


Adrian masih saja membahas perihal playground. Ia jadi kesal sendiri.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Adrian seperti biasa menyapa isi rumahnya dengan riang.


"Hallo, ada orang?"


"Ya ada lah! memang ini hutan?" seru Auristella seraya menatap kakaknya dengan sinis.


"Ada, di meja makan,"


Sengaja Jane menyahuti dengan seruannya agar kedua keponakannya mendengar.


"Ada tamu, Ian,"


"Iya, di meja makan katanya,"


Mereka berdua berlari ke meja makan. "Hih kamu kenapa mengikuti aku sih?"


Mereka seperti tengah lomba berlari dan Auristella masih sempat memarahi kakaknya.


"Biar! memang kenapa? huh?!"


Mereka tiba di ruang makan. Dan Auristella langsung berseru senang mendapati keberadaan Jane yang tengah makan bersama Lovi dan Andrean.


"Aunty, ya ampun sudah datang ternyata. Sejak kapan? apa sudah lama? maaf aku baru pulang,"


Auristella langsung beringsut memeluk Jane dengan hangat. Ia juga mencium pipi Jane dua kai kanan dan kiri.


"Hei, Ian. Tidak mau memeluk Aunty?"


"Aku mau memeluk Aunty. Tapi lagi menunggu giliran setelah Auris,"


Jane terkekeh dan menerima pelukan keponakannya yang nomor dua ini. Ia mengacak pelan rambut tebal Adrian. Ia menatap keduanya dari atas hingga bawah.


"Semakin tampan dan cantik kalian bertiga ya,"


"Oh jelas, Aunty,"

__ADS_1


Adrian dengan wajah jumawanya membawa rambutnya ke belakang. Hal itu membuat Jane terbahak. Adrian masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah.


Mihat sikap kakaknya itu, Auristella berdecih. Memang kadar kepercayaan Adrian tidak ada yang bisa mengalahkan.


__ADS_2