Nillaku

Nillaku
Nillaku 51


__ADS_3

"Jhico, tidak perlu."


Klikk


Dengan Jhico tidak membutuhkan waktu lama langsung terlepas kaitannya. Jhico segera melepaskan tumit Aurora. Kemudian Ia bangkit dari posisi tubuhnya yang tadi sempat menunduk.


"Terima kasih, Jhico."


"Ya, kembali kasih."


Saat Jhico menoleh pada istrinya, dia tidak ada di sampingnya lagi. Vanilla sudah duduk bersama Renald, Joana, dan Jane yang dilihatnya tengah terbahak.


"Sepertinya karena di sekitar kita ada yang sedang membawa suasana hati panas, jadi sampai pada kita juga rasa panas itu. Kalian merasakannya tidak?" Jane bertanya pada Joana dan Renald yang belum mengerti dengan maksud terselubung dari kalimatnya.


"Tidak, di sini sejuk, Jane."


"Serius kalian tidak merasa panas? kenapa aku merasakannya ya?"


Vanilla bangkit lalu berujar dengan sinis, "Karena kamu banyak dosa, makanya rasa panas itu ada di tubuhmu,"


Vanilla menjauh dengan langkah santai. Ia akan mengubah penampilannya karena seseorang yang akan mempercantiknya sudah selesai menyiapkan semua keperluan Vanilla untuk look kedua ini, Ia juga mengisyaratkan Vanilla untuk segera mendekat.


******


"Besok, klinik milikku sudah mulai dibuka. Dan malam ini, Aku sudah mempersiapkan gala dinner di restoran tidak jauh dari klinik. Jangan lupa bersiap-siap,"


Vanilla baru saja membuka sneakers- nya. Dan Jhico sudah menyuruh bersiap-siap untuk datang ke acara yang sebelumnya tidak Ia ketahui.


"Kamu memberi tahu aku sangat terlambat. Rencananya aku mau istirahat setelah mandi,"


"Kemarin aku menjaga Nenek. Saat menelpon kamu, aku lupa memberi tahu,"


Vanilla akhirnya bangkit dari sofa dengan langkah terseok. Tubuhnya lelah tapi tidak mungkin Jhico hadir seorang diri di gala dinner itu. Apa kata tamu yang hadir?


Saat Vanilla akan mempersiapkan dress-nya, suara Jhico menginterupsi, "Dress code warna putih,"


Vanilla mengangguk dan langsung mencari dress miliknya yang berwarna putih. Jhico pun sedang mencari tuxedo.


Vanilla mengeluarkan sebuah dress yang lengannya sampai siku dan panjangnya cukup sopan untuk dilihat.


"Tidak pakai yang itu?" mata Jhico melirik dress Vanilla yang terdapat tali kecil melingkari leher, dan hanya sebatas paha.


"Memang boleh? aku sebenarnya mau, tapi nanti kamu bicara yang aneh-aneh lagi. Aku malas berdebat,"


Jhico mengacak lembut rambut Vanilla seraya tersenyum kecil, "Pintar." Pujinya atas sikap yang diambil Vanilla.


"Kamu memang tidak mengurus masalah hidupku, tapi kalau pakaian beda cerita,"

__ADS_1


"Ada dua hal yang aku atur. Pertama, kamu sadar diri kalau mau dekat dengan laki-laki, kedua, pakailah baju yang sedikit sopan. Karena apa? keduanya juga melibatkan harga diri aku. Pakaian kamu yang tidak beraturan dan sikap kamu yang terlalu berlebihan dengan laki-laki lain akan membuat aku buruk di mata orang lain. Paham?"


*******


Selain sahabatnya, Jhico juga mengundang teman-teman di rumah sakit tempatnya bekerja dulu seperti Denaya, Vander, Fenelly, dan Nares.


Yang membuat Vanilla dan Jhico bingung adalah ketika keluarga besar Jhico juga turut hadir. Bukan hanya Mama dan Papanya saja. Padahal Jhico tidak mengundang mereka semua. Entah darimana mereka mendengar bahwa Jhico tengah mengadakan gala dinner sebagai perayaan atas beroperasinya klinik Jhico mulai esok hari.


"Selamat, Jhico. Semoga klinikmu bisa membawa kebaikan,"


"Terima kasih,"


Rata-rata doa yang diucapkan adalah kalimat yang intinya sama, berharap klinik Jhico merupakan jalan yang baik untuk Jhico meniti karirnya sendiri.


"Kamu tidak ingin berperan dalam mengembangkan perusahaan keluarga. Tapi memilih untuk mewujudkan keinginanmu sendiri?"


"Ya, lebih baik bukan? kalau begitu, puji aku." Jhico menanggapi sepupunya dengan santai, tidak ingin tahu makna dalam kalimatnya yang jelas-jelas sedang mencemooh Jhico yang keras kepala itu.


"Karina, menantumu belum hamil juga?"


"Jangan-jangan istrinya sendiri pun diperlakukan dengan egois. Kamu tidak bisa menyamakan Vanilla dengan keluargamu, Jhico. Pasti kamu yang menolak untuk punya anak, sementara Vanilla sudah mengharapkannya,"


Rahang Jhico bergemelutuk. Tangannya yang ada di bawah meja tampak mengeras. Ia tidak suka menyaksikan mereka yang seolah paling tahu segalanya.


Jhico sengaja bergabung bersama keluarganya karena kalau Ia memilih untuk selalu dengan sahabat dan rekan-rekannya, pasti akan dipandang aneh oleh orang lain. Mereka tidak mengetahui perselisihan yang belum juga usai antara Jhico dengan keluarga besarnya.


Setelah mengucapkan rasa 'terima kasih' pada semua tamu, Jhico dan Vanilla berbaur dengan keluarga Jhico.


Mereka belum memiliki anak, itu sudah menjadi keputusan bersama. Untuk apa memiliki anak dengan kondisi rumah tangga yang belum memungkinkan. Perkara mendidik dan membesarkan anak tidak bisa dianggap mudah.


Dan kalau pernikahan mereka belum berjalan normal seperti yang dipikirkan banyak orang, bagaimana anak mereka akan nyaman berada di tengah orangtuanya?


"Kalian menundanya?"


"Tidak, memang belum diberi oleh Tuhan. Tapi itu bukan masalah,"


"Ya, ya, aku mengerti. Tapi aku kasihan padamu Uncle Than. Jhico sudah menolak untuk dijadikan pewaris. Kalau Jhico tidak memiliki anak, artinya Uncle benar-benar tidak memiliki pewaris?"


Thanatan melirik putranya dalam diam. Ia ingin tahu reaksi Jhico setelah ini.


Jhico menghembuskan napas pelan, berusaha mengatur emosinya. Ia masih tersenyum tidak ingin terpengaruh oleh mulut-mulut jahat di depannya itu.


"Kalaupun aku punya anak nanti, memang aku mau menjadikan dia sebagai pewaris? aku ayahnya, jadi aku yang berhak untuk mengatur semuanya," balasan telak yang membuat mereka terdiam untuk beberapa saat. Selang beberapa detik kemudian mereka tertawa kecil. Menganggap ucapan Jhico adalah sebuah lelucon.


"Belum apa-apa, Ia sudah berniat untuk mendidik anaknya menjadi seorang pembangkang, tidak berbeda jauh dari dirinya sendiri,"


"Bukan pembangkang. Tapi setiap manusia berhak memilih. Kita bisa sukses dengan cara masing-masing bukan?"

__ADS_1


******


Jhico meletakkan sepatunya sembarangan. Perasaan kesal belum hilang sepenuhnya. Ia tidak menduga kalau gala dinner tadi akan berakhir seperti itu.


"Jhico, kamu baik-baik saja?"


Vanilla khawatir dengan suaminya yang tidak mengeluarkan suara apapun di dalam kamar mandi. Kalau Ia sedang membersihkan diri, kenapa tidak ada suara air atau aktifitas lainnya?


"Jhico, aku mau mandi juga," itu alasannya saja agar bisa melihat kondisi Jhico.


"Jhi---"


"Sebentar, Vanilla. Aku akan keluar, tunggu!" titahnya dari dalam. Vanilla menurunkan tangannya yang sudah bersiap untuk mengetuk.


"Cepat ya,"


Saat Jhico keluar, Vanilla masih dengan penampilannya yang tadi. Sehingga Ia mendengus. "Kalau mau mandi kenapa masih memakai itu semua?"


"Aku buka baju di kamar mandi,"


"Aku tahu, tapi accessories belum ada yang kamu lepas,"


"Oh iya," Vanilla berpura-pura lupa. Ia segera melepas pita rambut, jam tangan kecilnya, juga menghapus make up.


"Ucapan-ucapan mereka yang buruk, tidak perlu diingat, Jhico,"


"Semuanya buruk, jadi tidak ada yang aku ingat."


"Tapi kamu terlihat kepikiran. Apa hanya perasaanku saja?"


"Kenapa kamu jadi peduli?"


Vanilla menggeleng tidak tahu. Ia sendiri bingung dengan apa yang ada di pikirannya. Sepertinya itu bentuk rasa peduli terhadap seseorang yang sedang mendapat masalah. Semua manusia pasti akan melakukan hal yang sama bila melihat dengan mata kepala sendiri ketika manusia lainnya disakiti. Ada perasaan tidak tega dan ingin melindungi.


"Jhico, sebenarnya kamu mau memiliki anak atau tidak?"


"Memang kenapa?"


Jhico berjalan ke arah cermin untuk menata rambutnya. Di sana ada Vanilla juga yang sedang duduk membersihkan wajah dari segala produk yang menunjang kecantikannya.


"Mereka mengira kamu egois, tidak mau memiliki anak. Kamu tidak ingin membuktikan pada mereka kalau kamu tidaklah seperti itu?"


"Anak bukan ajang pembuktian. Aku ingin memilikinya kalau kita sudah sama-sama siap. Jangan dengarkan mereka. Aku tahu, kamu yang lebih pemikir bila menyangkut masalah ini,"


Jhico memeluk perempuan itu. Sebenarnya bukan hanya Jhico yang dianggap buruk karena belum memiliki anak. Secara tidak langsung mereka pun menganggap Vanilla seperti itu. Dan perasaan Vanilla jauh lebih sensitif daripada dirinya.


"Persiapkan diri terlebih dahulu. Setelah yakin, barulah kita berusaha untuk menghadirkan anak,"

__ADS_1


---------


Zheyeng-zheyeng akyuuu yg baik hati, boleh minta like, vote, dan komennya?


__ADS_2