Nillaku

Nillaku
Nillaku 26


__ADS_3

"Sejujurnya aku tidak berharap kau datang, Jhico."


Jhico baru memijakkan kakinya di lantai ruang perawatan Lanera, istri Dinata yang baru melahirkan anak pertamanya, dan langsung disambut dengan kalimat tajam yang keluar dari mulut ayah si bayi.


Vanilla merasa genggaman tangan Jhico yang sebelumnya terjadi tanpa disadari sekarang semakin mengetat.


"Aku hanya datang untuk menyerahkan ini. Walaupun tidak kalian gunakan, setidaknya aku sudah mencoba menjadi keluarga yang baik untuk kalian,"


Jhico meletakkan bingkisan yang dibawanya di sofa yang kosong, tidak digunakan oleh para manusia.


Di sana ada beberapa sepupu Jhico yang juga berkunjung untuk menyambut kelahiran salah satu cicit dari Hawra dan Arlan itu.


Shein, sepupu perempuan Jhico menatap Vanilla dari atas hingga ke bawah. Senyum remehnya hadir setiap kali bertemu Vanilla. Mulai dari saat pernikahan Vanilla dan Jhico beberapa minggu lalu sampai sekarang pun seperti itu.


"Aku kira setelah menikah dengan seorang dokter, akan lebih mudah untuk mengobati cacatmu itu, Vanilla."


Vanilla tanpa sadar mengusap punggung tangan suaminya menggunakan ibu jari saat tangan Jhico begitu kaku dalam genggamannya.


Dulu hingga sekarang Jhico selalu diremehkan. Ia bisa menerima itu hingga mampu bertahan dan berdiri di atas kaki sendiri namun ketika Vanilla yang dijadikan korban selanjutnya, Jhico tidak terima. Seberat apapun masalah yang dihadapinya dan Vanilla saat ini, Jhico akan selalu berada di sampingnya untuk menutup mulut-mulut tidak punya sopan santun itu.


"Sampai saat ini aku masih bingung dengan tujuan pernikahan kalian. Aku lihat, kalian tidak saling menguntungkan,"


"Tujuan kami bukan untuk saling menguntungkan. Aku berbeda dengan kalian yang menikah karena keinginan Opa dan tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk perusahaan masing-masing. Aku tidak tertarik menikah dengan cara seperti itu. Karena yang biasa melakukannya adalah orang-orang terdahulu," Walaupun sikap tubuhnya sudah terlihat emosi, Jhico tetap menimpali dengan kalimat santai namun menusuk.


"Tapi kami tidak setua itu, Jhico." kali ini Dinata membantah. Karena secara tidak langsung Jhico mengatakan bahwa mereka seperti orang-orang yang hidup di kastil dengan usia ratusan tahun, lalu menikah dengan seseorang pilihan orangtua.


Vanilla menahan tawanya. Jhico benar-benar menyebalkan tapi bisa membuat perut geli. Kenapa harus mengatakan itu di saat-saat seperti ini?


"Shein, hati-hati dalam berbicara. Kamu perempuan, bukan tidak mungkin apa yang dialami Vanilla bisa terjadi juga padamu atau bahkan keturunanmu," Jhico menatap sepupu perempuannya yang juga sukses dalam bisnisnya dengan tatapan peringatan. Sebenarnya bukan hanya dia yang mencari masalah dengan menyakiti Vanilla secara verbal. Namun kebetulan yang saat ini bersamanya adalah Shein, Jhico mengambil kesempatan itu untuk memberi pelajaran. Karena ketika di pernikahannya, Jhico hanya bisa diam untuk menjaga suasana yang baik dan bahagia dalam hari jadinya bersama Vanilla sebagai suami istri.


"Oh ya aku lupa. Bagaimana kamu bisa memiliki keturunan ya? menikah saja belum. Bagaimana juga orang mau menikahimu kalau memiliki sikap seperti ini? masih banyak perempuan yang lebih baik darimu,"


Vanilla mendekatkan bibirnya ke telinga Jhico lalu berbisik, "Jhico, sudah!" Kemudian Vanilla mengalihkan perdebatan agar mereka cepat keluar dari ruangan yang dipenuhi kalimat merendahkan itu.


"Boleh kami melihat bayi kalian? dia perempuan?"


"Belum diserahkan oleh perawat,"


"Ternyata kami datang terlalu cepat. Aku sudah tidak nyaman di sini, jadi sampaikan saja salam dari Aku dan Vanilla untuk keponakanku yang baru lahir itu. Semoga kelak Ia tidak memiliki sikap yang sama dengan Ayahnya,"


*****


Jhico dan Vanilla benar-benar menggunakan waktu yang singkat untuk berkunjung dan saat ini mereka sedang berjalan menuju basement rumah sakit untuk mengambil mobil Jhico yang terparkir di sana.


Tiba-tiba Vanilla terkekeh pelan sehingga membuat kening Jhico mengerinyit.


"Luka di keningmu tidak mungkin membuat kamu aneh seperti ini,"


Jhico membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Vanilla masuk. Ia melindungi kepala Vanilla lalu memastikan kaki gadis itu nyaman berada di tempatnya. Perlakuan sekecil ini yang terkadang membuat Vanilla---rindu? bukan, Vanilla adalah seorang perempuan yang hatinya mudah tersentuh. Siapapun yang diperlakukan seperti ini pasti akan merasakan hal yang sama seperti Vanilla bila sehari saja sosok yang perhatian itu tidak melakukan hal manis.


"Perlu kembali lagi ke dalam? kita periksa, aku takut ada sesuatu yang terjadi di kepalamu,"


Jhico menoleh setelah duduk di kursi kemudinya untuk memastikan keadaan Vanilla yang justru terlihat bahagia setelah keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Sikapmu tadi kenapa bisa membuat aku ingin bertepuk tangan ya? aku kasihan padamu awalnya, tapi kamu menanggapi mereka dengan santai. Jadi semua perasaan kasihan itu hilang,"


"Untuk apa merasa kasihan? aku sudah terbiasa menghadapi hal seperti itu. Ucapanmu tadi sepertinya akan menyinggung beberapa orang yang tidak suka dikasihani. Sebenarnya aku pun begitu. Tapi... kalau memang itu penilaianmu, aku tidak masalah,"


"Bukan-bukan. Aku bukan kasihan. Tapi... entah, aku membayangkan diriku berada di posisimu. Kalau aku yang menjadi kamu, sudah pasti hatiku sakit. Aku tahu, kamu pun merasakan sakit itu tapi kamu begitu pintar menutupinya sampai aku..."


"Kagum," suaranya sangat pelan ketika sampai di kalimat lanjutan namun Jhico masih mendengarnya. Lelaki itu tersenyum lalu mengusap kepala Vanilla.


Tidak disangka, pertemuan yang tidak diinginkan Jhico justru membuat Ia dan Vanilla kembali mencair.


"Kita pulang sekarang," Jhico menyalakan mobilnya dan deru mesin langsung terdengar.


Suara dari perut Vanilla akhirnya menjawab rasa penasaran Jhico ketika di apartemen tadi. Sepertinya Vanilla benar-benar lapar tapi Ia berusaha menutupi. Sayang, Perutnya tidak bisa diajak kompromi sampai akhirnya mengeluarkan suara memalukan itu.


******


"Lanera baru saja melahirkan. Semua keluarga sepertinya sudah datang ke rumah sakit. Hanya Jhico yang belum. Harus aku paksa dia,"


"Jhico sudah. Siapa yang mengatakan belum? semuanya akan berjalan baik-baik saja kalau kamu tidak terlalu sering memaksakan sesuatu, Thanatan."


Hawra datang dari arah ruang makan menghampiri putri dan menantunya yang tengah berbicara berdua.


Karina menghentikan gerak tangannya yang sedang membuat desain busana lalu menatap sang Ibu dengan pandangan kurang percaya.


"Sekeras apapun Jhico terhadap kalian, bila diperlakukan dengan baik, dia akan luluh juga,"


****


"Kita belum membuka kado pernikahan, bye the way,"


Jhico segera meraih banyaknya pemberian semua orang yang diundang dalam pesta pernikahannya.


"Sudah berapa minggu kita menikah?"


Vanilla mengangkat bahunya tidak tahu. Hal itu membuat suaminya geram, dan dengan refleks Ia mendorong lembut wajah Vanilla.


"Kamu terlalu jujur. Kalau aku terbawa perasaan lalu marah lagi bagaimana?"


"Aku tidak peduli. Marah? ya, marah saja. Nanti juga lelah sendiri," jawabnya dengan ringan. Kemudian Vanilla mulai membuka satu persatu benda yang diselimuti kertas berwarna itu.


"Besok kamu ikut aku ke rumah sakit,"


"Aku disuruh kerja juga? tidak mungkin bisa, aku akan ditertawakan,"


"Memastikan kondisi kamu sebelum dioperasi sebentar lagi,"


*****


Seperti biasa, Jhico bangun lebih dulu daripada istrinya. Setelah membuat sarapan, Jhico membangunkan Vanilla. Sesuai rencana, mereka akan sama-sama pergi ke rumah sakit tempat Jhico bekerja untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik sebelum dua hari lagi dokter spesialis mata melakukan tindakan operasi untuk mengganti kornea mata Vanilla.


Ia mengusap kening Vanilla yang memar itu dengan penuh hati-hati. Lalu Jhico mengoleskan sesuatu yang mungkin bisa meredakan rasa nyeri Vanilla. Walaupun tidak mengatakannya, Jhico tahu Vanilla sampai sakit kepala hanya karena kepalanya terantuk besi penyangga bed.


"Nilla, kita akan pergi ke rumah sakit sebentar lagi. Bangun sekarang!" titahnya di telinga Vanilla.

__ADS_1


"Ya, aku bangun,"


"Bangun? matamu saja masih belum terbuka,"


"Ini aku buka," Jhico terkekeh saat Vanilla memaksa membuka matanya yang masih ingin menjemput mimpi.


"Vanilla, cepatlah! aku harus bekerja,"


Jika sudah tegas seperti ini, Vanilla akhirnya menyerah juga. Lagipula Ia tidak akan bisa tertidur lagi karena suara Jhico benar-benar mengganggunya.


******


"Aku rasa keputusan untuk menjalani operasi dua hari lagi adalah keputusan yang tepat,"


Setelah mendengar kalimat itu, Vanilla tidak bisa lagi merasa tenang. Ia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan akhir pekan.


Vanilla akan kembali melihat orang-orang disekitarnya sebentar lagi. Jhico yang belum pernah hadir dalam hidup Vanilla sebelum Vanilla buta, sejujurnya sampai saat ini masih membuat Vanilla penasaran akan rupanya. Apakah Ia menikahi laki-laki yang benar-benar tampan seperti perkataan orang selama ini? bahkan ketika di pesta pernikahan pun lebih banyak Jhico yang dipuji. Atau ini hanya perasaannya saja? ah, Ia lupa. Jelas saja seperti itu, karena secantik apapun dirinya, akan tetap terlihat tidak menarik ketika salah satu bagian tubuh tidak bekerja dengan seharusnya.


"Kita ke mansion saja,"


"Biasanya kamu selalu membuat aku terkurung di dalam apartemen,"


"Kali ini tidak. Aku khawatir kamu akan melakukan sesuatu karena ponselmu masih belum ditemukan. Bisa jadi kamu mengundang seseorang untuk melepas rindu mengingat kalian tidak berbagi kabar setelah beberapa hari,"


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? penilaianmu terhadapku benar-benar buruk ternyata,"


"Tidak perlu aku ingatkan lagi bukan? beberapa hari ke belakang kamu melakukan banyak kesalahan. Bukan hanya tentang Nenek. Tapi Deni yang aku temui setelah keluar dari rumah keluargaku. Aku juga pernah melihat bagaimana hangatnya kalian saat kamu berada di mansion dan aku baru saja pulang bekerja," rangkaian kesalahan Vanilla disebutkan satu persatu. Terdengar banyak tapi sebenarnya tidak semua terjadi karena kesalahan Vanilla. Mungkin saat membuat Hawra menangis bisa dianggap kesalahannya. Sementara untuk pertemuan dengan Deni, itu bukan keinginannya sama sekali. Deni datang untuk menjemputnya yang tiba-tiba saja jatuh sakit di kampus.


Seingatnya hanya dua kali Ia membuat Jhico marah. Dan untuk kejadian di mansion, Jhico terlihat tidak masalah pada saat itu.


"Masalah pertemuan kamu dengan Deni di mansion, itu sudah terjadi lebih dulu. Kenapa sekarang dibahas? bahkan kamu sempat minta aku untuk mengurusmu yang sedang sakit. Artinya kita baik-baik saja setelah itu,"


"Aku jadikan itu sebagai bentuk kesalahanmu agar terdengar semakin banyak, Nillaku."


"Sialan!"


Jhico tak bisa menahan tawanya. Ia mengecup surai coklat Vanilla lalu menghidu aroma harum yang menguar.


"Jangan terlalu sering memaki, Nillaku. Aku suamimu, bukan musuhmu. Seharusnya kamu balas sebutan 'Nillaku' dengan 'Jhicoku' agar kita sama-sama romantis,"


Jhico geli sendiri dengan ucapannya. Apa lagi Vanilla. Wajah Jhico memerah karena malu saat gadis di sampingnya itu memasang raut mual.


"Bukannya tersentuh, aku malah jijik mendengarnya,"


-----


Jijay apa jijay? awokwok. ABSEN DI KOLOM KOMEN, YG BACA INI ANK CEKULAHAN, KULIAHAN, ORG KANTORAN, ATAU BUIBU RUMAH TANGGA. GK ADA PAKBAPAK RUMAH TANGGA KAN DI SINI?😂 PEN TAU PEMBACAKU ITU BERMACAM-MACAM ATAU CUMA SATU MACAM DOANG. HEHEH


MCH up gengsss! cek cek cek goooo. sampai ketemu di sana. BABAAAYYY



Terima kasih untuk dukungan kalian🙏

__ADS_1



__ADS_2