Nillaku

Nillaku
Nillaku 177


__ADS_3

"Andrean dan Adrian bermain sepak bola?"


"Yup," Ia menjawab dengan anggukan kepala lagi.


"Kapan datang ke sini?"


"Ndak awu," (Tidak tahu) bahunya terangkat lalu menjawab dengan nada yang sedikit kesal karena ditanyai terus oleh Vanilla.


Vanilla meletakkan anaknya di tempat tidur kecilnya yang bisa digerak-gerakkan, itu menjadi tempat paling nyaman untuk Grizelle bila kedua orangtuanya sedang tidak menggendongnya atau ketika Ia tengah menonton. Auristella segera mendekati adik sepupunya. Tempat tidur yang rendah membuat Auristella dengan mudah mengajak Grizelle bercanda.


Auristella mendorong pelan tempat Grizelle berbaring dan Grizelle tersenyum. "Ty, ukican Yan uwat Icelle ana?" (Aunty, lukisan Adrian buat Grizelle dimana?)


"Ada, kamu sudah dibuatkan juga oleh Adrian?"


Auristella menggeleng dengan wajah jengkelnya. Mengingat kakak keduanya itu, mendadak Ia merasa kesal lagi padahal sebelumnya mereka sudah baik-baik saja.


"Adrian sudah ingin membuat lukisan untuk Auris tapi Auris tidak mau, dia merajuk lagi tiba-tiba. Sebelumnya mereka sudah saling memaafkan karena Devan menegur mereka," jelas Lovi mengingat kejadian tadi sebelum Adrian pergi bermain sepak bola. Sebelumnya mereka sudah saling memaafkan karena Devan yang memaksa mereka agar tidak lagi saling melempar tatapan sinis. Mereka langsung saling memaafkan. Tapi setelah Devan tidak berada di dekat mereka lagi, terjadi perdebatan kecil sampai akhirnya mereka kembali merajuk lagi satu sama lain. Bila bertemu pandang, pasti langsung mengalihkan mata ke arah lain. Yang paling lucu adalah Auristella karena Ia juga memasang wajah galak nya dan melipat kedua tangan kecilnya di depan dada.


"Jadi musuhan lagi?"


"Ya, mucuhan agi," (Ya, musuhan lagi)


"Adik dan kakak tidak seharusnya begitu. Tuhan akan marah kalau kalian bertengkar terus,"


"Anti aikan agi," (nanti baikan lagi)


"Kapan? harus secepatnya. Tidak nanti-nanti. Grizelle saja tidak pernah bertengkar. Kakak nya masa bertengkar?"


"Ya, Icelle ndak unya kakak," (Ya, Icelle tidak punya kakak)


Vanilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai merasa kewalahan ditimpali terus oleh anak yang usianya belum genap dua tahun itu.


"Kenapa anakmu pintar sekali, Lovi? apa tips nya? aku sampai dibuat terperangah,"


Auristella tidak kesulitan lagi berkomunikasi dengan orang lain karena sudah mulai bisa memahami apa yang dibicarakan oleh lawan bicara nya. Tinggal pengucapannya saja yang belum terlalu sempurna.


Lovi terkekeh mendengar ucapan adik dari suaminya itu. Ia sendiri tidak tahu kenapa anaknya pintar sekali menjawab. Auristella bahkan tahu Grizelle tidak bertengkar karena Grizelle hanya sendiri sekarang, jadi tidak mungkin Ia bertengkar.


"Tidak ada tips khusus, Van."


"Icelle juga acih kecil jadi lum ica betengkal," (Grizelle juga masih kecil jadi belum bisa bertengkar)


Vanilla segera mencium pipi berisi milik keponakannya dengan gemas hingga Ia menggertakan giginya. Auristella merengek kesal ketika Vanilla melakukan itu. Setelah Vanilla selesai menciumnya, Auristella mengusap-usap pipi nya.


"Cakit, Ty." (Sakit, Aunty)


"Apanya yang sakit? Aunty tidak menggigit pipimu,"


"Acah pula," (basah pula) gumam nya ketika Ia merasakan bagian pipinya ada yang tidak kering seperti sebelumnya.


Vanilla mendengus kesal. "Aunty tidak membuat pipi mu basah. Mungkin tadi kamu tidur jadi ada yang mengalir ke pipimu,"


"Iiihh ndak, aku ndak tidul,"


Lovi hanya bisa menggeleng pelan melihat perdebatan kecil antara keponakan dan Aunty nya itu. Meskipun masih kecil, Auristella patut diperhitungkan ketika berdebat dengan seseorang. Ia bersikeras mengatakan 'tidak' kalau merasa dirinya tidak seperti apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya.

__ADS_1


"Tidur tadi di mobil. Aunty yakin,"


"Ndak! aku lum tidul. Di obil ndak tidul," (Tidak! aku belum tidur. Di mobil tidak tidur)


"Aunty bisa melihat, Auris. Di mobilmu ada kamera cctv,"


"AAAAA, NDAK,"


Auristella meraung marah lalu tak lama kemudian Ia menangis. Vanilla langsung terkejut dan mengusap keningnya kebingungan.


"Kenapa menangis?"


"Errghhh," Auristella menggeram kesal. Tatapan tajam dari mata bulat nan jernihnya membuat Vanilla menahan tawa.


"Kalau mau menangis, lebih baik pulang. Grizelle tidak menerima tamu yang cengeng," teguran Lovi membuat anak perempuannya itu langsung diam.


Lovi meletakkan telunjuknya di depan bibir Auristella. "Bisa diam?"


Auristella mengangguk. Ia tak lagi menangis dan jejak air matanya yang baru keluar sedikit langsung dihapus Vanilla.


Auristella mengalihkan arah pandangnya sembari mendengus. Ia masih kesal dengan adik dari Daddy nya itu.


"Griz mau tidur saja kalau kamu masih kesal dengan Aunty,"


Auristella segera menahan tangan Vanilla yang akan membawa Grizelle masuk ke dalam kamar.


"Ndak oleh!" (tidak boleh)


Jhico baru saja keluar dari kamar dan langsung menghampiri mereka yang terdengar sedang adu mulut.


"Ada apa ini? Uncle mendengar suara tangis tadi,"


"Hmm ternyata benar kamu yang menangis. Suaramu khas sekali, Uncle sudah hafal."


"Buat telinga sakit ya?" tanya Lovi dengan tawa kecilnya. Di usianya yang sekarang, Auristella semakin mudah merajuk dan suaranya memang bisa dikenali apalagi kalau sudah menangis.


"Apa Daddy mu tidak pernah pusing mendegar suaramu itu, Auris?" Vanilla bertanya dengan jahilnya.


"Jangan ditanya, Vanilla. Sering sekali Auris ini terkena omelan Daddy nya,"


Kalau Ia sudah marah dan menangis berlebihan hanya karena masalah kecil, Devan maju paling depan untuk menegur tegas anaknya. Tapi sepertinya karena Auristella merasa bahwa Ia adalah anak perempuan satu-satunya dan juga anak terakhir, menurutnya Ia harus dimanja dan tidak boleh ditegur sedikitpun. Devan dan Lovi sedang berusaha mengubah karakter Auristella yang seperti itu.


********


Adrian dan Andrean diantar oleh Raihan menggunakan mobil usai bermain sepak bola bersama. Kini mereka sudah tiba di kediaman Vanilla yang baru.


"Bye, Grandpa,"


"Grandpa pulang ya. Mommy dan adikmu sudah menunggu di dalam,"


"Iya, Grandpa." jawab Adrian.


"Hati-hati ya, Grandpa. Membawa mobil tidak perlu cepat karena Grandpa bukan pembalap,"


Raihan terkekeh mendengar cucu sulungnya berpesan seperti itu. Raihan mengacak lembut rambut Andrean dan Adrian lalu membiarkan mereka berdua keluar dari mobil.

__ADS_1


Adrian membuka pintu di sebelah kiri sementara kakaknya di sisi lain. Setelah Ia keluar dari mobil, ada mobil lain yang mendaratkan rodanya di carport rumah itu.


Raihan belum pergi, melainkan memperhatikan seorang anak kecil yang baru saja keluar dari mobil yang baru tiba itu.


"Keyfa, kenapa dia ada di sini? ergghh!" gumam Adrian yang juga memperhatikan dengan seksama siapa orang yang juga akan bertamu.


Brakk


Adrian menutup pintu mobil kakeknya dengan kencang. Ia melakukan nya tanpa sadar.


Raihan sampai tersentak di dalam mobil akibat ulah cucu keduanya itu. "Siapa dia? seperti pernah melihatnya," gumam Raihan.


Adrian mendekati Keyfa lalu berdehem. "Keyfa, kenapa datang ke sini?"


Keyfa segera menoleh ketika namanya disebut. Andrean menegur adiknya dengan tatapan. Apa yang dilakukan Adrian bukanlah hal yang baik. Apa salahnya Keyfa datang ke rumah Vanilla dan Jhico?


"Aku diminta untuk datang oleh kakak dokter,"


"Tidak mungkin, aku sudah katakan pada Uncle kalau aku tidak mau bertemu kamu saat aku datang ke sini. Tidak mungkin Uncle meminta kamu untuk datang sementara Uncle tahu kalau aku akan datang hari ini,"


"Memang kenapa kamu tidak mau bertemu aku? aku tidak pernah nakal,"


"Kamu pengganggu. Seharusnya cukup aku, Andrean, dan Auris saja yang--"


"Ssttt, Keyfa, silahkan masuk. Tidak usah mendengar ucapan adikku. Maafkan dia,"


Keyfa mengangguk setelah Andrean bicara seperti itu. Adrian menatap kakaknya dengan kesal.


"Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu pada Keyfa. Dia juga teman kita, Adrian."


"Sejak kapan aku mau berteman dengan dia?"


"Jangan seperti itu! Keyfa membuat kesalahan apa padamu?"


Adrian memilih untuk tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Anak itu kembali ke mobil kakeknya yang sedari tadi memperhatikan nya.


"Kenapa tidak jadi masuk ke dalam rumah?" tanya Raihan.


"Aku mau pulang saja. Percuma juga datang ke sini. Aku hanya ingin bermain dengan sepupuku, bukan orang lain,"


"Hey tidak boleh begitu. Punya banyak teman itu menyenangkan, Adrian,"


"Iya, tapi aku sedang kesal dengan Keyfa,"


"Kesal karena apa?"


"Setelah tahu kalau dia itu sering mengajak Griz bermain dan tidak jarang membuat Griz menangis, aku jadi kesal,"


"Kapan dia membuat Griz menangis?"


"Waktu itu, saat aku datang ke apartemen Aunty, dia juga ada di apartemen itu. Awalnya aku senang saja bermain dengan dia. Tapi saat kami sibuk bermain, dia beberapa kali mengambil mainan Grizelle hingga Grizelle menangis. Lalu tidak sampai di situ saja, aku pernah melihat dia mencubit Grizelle,"


"Jangan menuduh begitu, Adrian. Tidak baik,"


"Aku melihatnya, Grandpa." jawab Adrian dengan lugas lalu ingatannya terlempar pada kejadian yang baru saja Ia ceritakan itu.

__ADS_1


 -------


Hellooo pa kabs? baca jam brp nih? Trs kalian ada di WIB, WITA, atau WIT? komen yaa, aku pen tau :)


__ADS_2