
Vanilla sudah meminta tolong pada vendor yang biasa menangani pesta ulang tahun anaknya untuk mengurusi semua keperluan.
Vanilla selesai menelpon dan anaknya masih setia di sampingnya.
"Aku mau melukis saja. Aku bosan,"
Grizelle bergegas ke kamarnya sendiri ingin menggambar di bukunya sesuka hati. Vanilla yang ditinggalkan anaknya, merengut. Ia memutuskan untuk menyusul sang putri.
"Mumu, kenapa ke sini?"
"Mumu mau lihat Griz melukis saja. Tidak boleh ya?"
"Boleh, Mumu pasti tidak ada temannya ya kalau aku di kamarrlku (kamarku) sendirrrli (sendiri),"
Vanilla mengangguk jujur. Tak ada kegiatan yang Ia lakukan sekarang sehingga lebih baik melihat kegiatan Grizelle saja.
"Griz sepertinya perlu kanvas dan alat-alat lukis lain ya?"
"Aku belum mau pakai itu, Mu. Karrlena (karena) aku belum bisa melukis,"
Vanilla menganggukkan kepalanya. Ia bingung sekali ingin memberikan apa pada putrinya. Yang baru sampai ke telinganya adalah Grizelle yang ingin berlibur.
"Griz berliburnya hanya ke satu tempat saja?"
"Iya, ke sana saja sudah cukup,"
Meskipun Ibunya terbilang cukup mengganggu kegiatannya, namun Grizelle tetap menjawab dengan hangat.
"Mumu, nanti mau beri aku kado apa?" tanya Grizelle menoleh penasaran padanya.
"Aku sebentarrl (sebentar) lagi ulang tahun. Jadi Mumu mau berrli (beri) aku apa?"
Vanilla menggaruk tengkuknya. Sepertinya memang lebih baik bertanya langsung saja tanpa basa-basi seperti tadi.
"Mumu belum tahu mau memberi apa untuk Griz. Kalau Mumu tanya sekarang, Griz mau apa? biar Mumu dan Pupu berikan,"
Grizelle tertawa mendengar pertanyaan langsung dari Ibunya. Ia senang diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginannya.
"Aku mau berrliburrl (berlibur) saja, Mu,"
"Iya, itu akan Mumu berikan. Lalu Griz minta apa lagi?"
"Oh liburrlan (liburan) itu untuk kado ulang tahunku ya, Mu?"
"Iya, Sayang,"
"Yeaayy terrlimakasih (terimakasih), Mumu,"
Vanilla mengangguk mengusap lembut rambut anaknya. Kegiatan yang Ia sukai dari dulu sampai sekarang.
"Griz mau apa lagi selain liburan?"
"Tidak ada, Mu. Ulang tahun sebelumnya aku mau adik. Dan sekarrlang (sekarang) aku sudah punya,"
"Mumu dan adik harrlus (harus) sehat terrlus (terus) ya. Itu akan jadi kadoku juga selain berrliburl (berlibur),"
Vanilla tersenyum haru mendengar ucapan Grizelle. Grizelle hanya meminta Ia dan bayinya sehat. Kenapa se-sederhana itu permintaannya?
__ADS_1
"Kalau itu sudah pasti, Sayang,"
Grizelle tersenyum kemudian memeluk ibunya dengan erat. "Terrlimakasih (terimakasih) ya, Mu," Ia mengecup pipi Vanilla berkali-kali.
Tok
Tok
Tok
Cklek
Jhico menimbulkan kepalanya sedikit. Grizelle tersenyum mendapati ayahnya sudah pulang.
"Pupu, yeaay sudah pulang,"
"Kenapa tidak menyambut Pupu? Peluk Pupu dulu,"
Jhico masuk kemudian Ia merentangkan tangannya yang langsung disambut Grizelle. Anaknya itu berlari ingin memeluknya.
Tapi Jhico segera mundur. ia terkekeh meringis. "Pupu lupa belum mandi,"
Grizelle merengut. Selalu begitu, coba saja kalau Pupunya lupa. Pasti Ia sudah memeluk ayahnya sekarang.
"Pupu, pulang cepat. Tidak sibuk ya?"
"Tidak, Sayang. Makanya Pupu tidak pulang malam,"
"Ya sudah, Pupu mandi saja dulu. Nanti ke sini lagi ya,"
"Okay, Princess kecil,"
****
Malam tiba Grizelle ingin ayahnya membawa Ia jalan-jalan. Jhico yang merasa jenuh juga di rumah tentu tidak akan menolak.
"Mumu harrlus (harus) ikut,"
"Tapi kalau Mumu takut lelah, biar saja Mumu di rumah, Sayang," ujar jhico memberi pengertian pada anaknya.
"Aku ingin ikut kalian,"
Maka akhirnya Vanilla ikut jalan-jalan bersama anak dan suaminya.
"Ada pesta kembang api di sana. Ayo kita lihat, Pu,"
Grizelle menunjuk pada keramaian. Jhico menuruti permintaan sang putri. Ia mendekati keramaian tersebut yang sedang bermain kembang api.
"Griz jangan terlalu dekat nanti,"
Melihat orang-orang tersebut seperti sedang beratraksi, Vanilla berpesan seperti itu pada putri pertamanya.
"Aku pernah berrlmain (bermain) itu,"
"Waktu liburan ya,"
"Iya, Mu,"
__ADS_1
"Lalu setelahnya aku merrlajuk (merajuk) pada Nay-Nay karrlena (karena) aku melihat ice cream dan aku mau mencobanya. Tapi Nay-Nay tidak bolehkan aku. Jadi aku merrlajuk (merajuk)pada Nay-Nay. Aku menangis sampai tertidurrl (tertidur),"
"Oh jadi sempat nakal ya saat berlibur,"
Grizelle menutup mulutnya yang kelepasan menceritakan pada ayah dan ibunya bahwa Ia pernah merajuk karena tak diizinkan menikmati ice cream oleh neneknya.
"Maaf, Mu,"
"Tapi Nay-Nay bilang cucunya yang bernama Griz ini baik sekali. Tidak nakal, ternyata Nay-Nay bohong,"
Grizelle terkekeh meringis. Ia waktu itu sempat khawatir neneknya menceritakan semua itu pada kedua orangtuanya. Ternyata Karina sama sekali tidak melakukan hal itu, malah dirinya sendiri yang menyampaikan bahwa Ia sempat sulit diatur oleh neneknya.
"Lain kali jangan begitu. Kalau sudah dilarang, artinya memang tidak baik untuk Griz lakukan," pesan Jhico seraya melirik dari kaca di depannya untuk melihat sang putri yang duduk di tengah.
"Iya, Pu. Waktu itu aku hanya ingin mencoba rrlasanya (rasanya), tapi Nay-Nay tidak izinkan,"
"Karena Nay-Nay tahu cucunya ini tidak mungkin hanya mencoba. Bisa-bisa sampai habis ice cream nya,"
Vanilla tersenyum pada anaknya yang kini merengut. Ucapan Vanilla itu sama dengan yang diucapkan Karina. Grizelle tidak hanya mencoba, pasti akan keterusan menyantap ice creamnya.
Mobil Jhico tiba di dekat keramaian. Ia segera keluar diikuti Grizelle dan sang istri.
Tak hanya mereka bertiga yang antusias menyaksikan tapi lumayan banyak juga orang di sana yang ingin melihat mereka bermain kembang api.
"Pupu bisa behitu tidak?" tanya Grizelle saat melihat laki-laki sedang memutar-mutar kembang api dengan satu tangannya.
Jhico menggeleng,"Tentu tidak bisa." katanya yang mengundang ledekan Grizelle.
"Yah Pupu pasti takut ya?"
"Iya, itu berhubungan dengan api,"
"Lagipula Mumu tidak bolehkan,"
Vanilla membela suaminya. Selain karena memang Jhico yang tidak berani beratraksi kembang api, Ia juga tidak mau suaminya terluka hanya karena kembang api.
Jhico terkekeh mengelus rambut istrinya. "Kamu takut selali kalau aku terluka?"
"Iyalah, kamu 'kan suamiku,"
Jhico tersenyum jujur merasa tersipu ketika Vanilla berkata begitu. Tapi senang juga karena Vanilla terlihat sekali mencintainya.
"Kamu juga istriku, milikku,"
"Haa jangan membuatku merona ya,"
"Aduh Pupu mumu. Jangan mesrrla-mesrrla (mesra-mesra)di sini,"
Tawa Vanilla dan Jhico pecah seketika. Padahal mereka hanya saling menyahuti saja tidak ada sikap tubuh yang intim atau segala macamnya.
"Aku bisa begitu kalau sudah besarrl (besa) nanti, Mu," ujar Grizelle seraya menunjuk kumpulan orang yang masih melakukan atraksi kembang api.
"Tidak boleh, Griz tidak boleh melakukan itu,"
"Mumu tidak membolehkan semuanya,"
"Masa anak perempuan bermain dengan api,"
__ADS_1
"Ya biarrl (biar) beda, Mu,"
"Sudah meminta buaya, sekarang aneh lagi permintaannya," cetus Vanilla yang tak mengerti dengan anaknya ini. Suka sekali membuat orangtuanya tak habis pikir. Terkadang dengan sikap kedewasaannya, terkadang juga dengan kenginannya yang tak masuk akal.