Nillaku

Nillaku
Nillaku 274 Kebersamaan Karina dan Thanatan


__ADS_3

Ciiitt


"Ya Tuhan, Kamu bisa hati-hati tidak?"


Karina terkejut begitu mobil yang dikendarai suaminya berhenti mendadak hingga tubuhnya tertarik ke depan bahkan Grizelle dalam pangkuannya hampir jatuh.


Thanatan menunjuk ke depan. "Ada hewan lewat," ucapnya. Kemudian turun untuk melihat keadaan.


Rupanya seekor anjing yang mengganggu perjalanannya. Beruntung Thanatan tidak sampai menabrak. Hewan berkaki empat itu langsung berlari usai bangkit dari rasa terkejutnya akibat hampir saja tertabrak mobil.


Ia kembali masuk ke dalam dan melanjutkan perjalanan. Mereka sedikit lagi sudah tiba di rumah Grizelle.


"Kamu tidak lihat anjing itu, Pa?"


"Tidak, tiba-tiba sudah ada di depan. Aku terkejut dan langsung menginjak rem,"


"Aduh beruntungnya kita tidak apa-apa. Griz hampir jatuh tadi. Tapi dia masih tidur sampai sekarang,"


"Bangunkan saja, sebentar lagi sampai,"


"Jangan, kasihan. Biarkan saja dia tidur. Nanti Jhico yang membawanya ke kamar,"


Sepuluh menit kemudian, mobil Thanatan berhenti tepat di depan rumah putranya. Ia menoleh ke belakang dimana Karina menatap pada cucu mereka yang masih terlelap.


"Aku yang membawanya masuk ke dalam,"


Thanatan langsung mengambil alih Grizelle dari pangkuan Karina. Sementara Karina menyusul di belakangnya.


Jhico yang belum lama pulang dan belum ke kamarnya, langsung menyambut mereka. Ia akan mengambil alih putrinya, namun ayahnya sudah melangkah lebih dulu melewatinya.


Karina dan Jhico menatap sejenak ke arah Thanatan. Kemudian Jhico beralih pada Mamanya.


"Bagaimana acaranya, Ma?"


"Griz kelihatan senang saat hadir tadi. Di acara Evelyn, dia langsung berbaur dengan yang lain bahkan bermain juga di playground. Seperti biasa lah, anakmu tidak pernah menyulitkan," ucap Karina mengusap bahu anaknya.


Jhico meminta Mamanya duduk dulu. Belum lama Karina menempati sofa, Thanatan yang baru selesai memindahkan Grizelle ke kamarnya langsung mengajak Karina pulang.


"Sudah malam, Co. Mama dan Papa pulang ya"


"Iya, Ma. Hati-hati. Terimakasih sudah mengajak Griz dan membuatnya senang,"


"Iya, sama-sama. Kamu langsung istirahat. Baru pulang dari klinik 'kan?"


"Iya, Ma,"


"Vanilla dimana? sudah tidur?"


"Iya sepertinya, karena biasanya dia ada di sini menungguku pulang,"


Jhico mengantar kedua orangtuanya sampai di luar. Tak hanya mengucapkn 'terimakasih' pada Mamanya saja, Jhico pun melakukan hal serupa pada ayahnya. Anaknya bahagia karena mereka berdua.

__ADS_1


*****


"Tadi saat kamu bawa ke kamar, Griz tidak bangun?"


Thanatan menggeleng menjawab pertanyaan Karina yang kini duduk di sampingnya.


"Aku senang kamu membuat Griz bahagia malam ini. Jarang sekali kamu mau mengikut sertakan dia dalam sebuah acara 'kan?"


"Tapi aku pernah mengajaknya datang ke---"


"Ya, memang pernah. Tapi hanya sekali atau dua kali dan itupun aku yang mengajaknya," Karina langsung menyahut sebelum suaminya menyelesaikan kalimat.


"Dia bertemu teman baru, bermain juga tadi. Sayangnya saat pulang, dia tidur. Padahal kalau tidak, aku yakin dia akan banyak bercerita selama di perjalanan tadi,"


"Ya lebih baik tidur lah. Biar tidak berisik,"


"Dia tidak berisik!"


"Berisik, tepat sekali menjadi cucumu,"


Karina mendengus, kalau saja tak sedang menyetir, Ia sudah mencubit perut suaminya sekarang juga.


"Itu cucumu juga!"


"Hah 'kan. Mulai berisik,"


Thanatan menutup satu telinganya dengan tangan yang terbebas dari stir mobil. Suara Karina saat menyentak lumayan membuat telinganya pengang.


"Sudah, diam!" titah Thanatan dengan dingin.


"Justru kalau diam, nanti kamu mengantuk. Jadi harus aku ajak berbicara terus, Pa,"


"Aku tidak mengantuk,"


"Tapi kamu lelah. Nanti pulang langsung istirahat. Tidak usah bekerja dulu. Masih ada waktu, kenapa harus memaksakan?"


"Disiplin itu perlu,"


"Tapi kamu sudah kelewat disiplin. Pekerjaan untuk hari-hari lain, malah dikerjakan pada saat itu juga,"


Thanatan sering seperti itu kalau Karina perhatikan. Memang baik menyelesaikan pekerjaan sebelum tiba di hari yang telah ditentukan. Tapi suaminya ini terlalu rajin dan disiplin.


"Itu mungkin yang membuatmu sukses ya? menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan menyelesaikan pekerjaan di waktu yang tepat,"


"Kita langsung pulang sekarang?"


"Iya, memang kamu mau kemana lagi? aku tidak ingin kemana pun,"


Thanatan menggeleng. Ia pun tidak ingin kemana-mana. Tapi barangkali Istrinya ingin datang ke suatu tempat dulu sebelum sampai di rumah.


"Makan malam di luar, Pa,"

__ADS_1


Thanatan menghela napas. Tadi menjawab tidak ingin kemana pun tapi detik berikutnya meminta untuk makan malam di luar.


"Ya sudah, dimana?"


"Terserah Papa saja,"


Tadi Karina hanya memberikan ide yang sebenarnya Ia sendiri pun tak yakin akan dipenuhi suaminya itu. Tapi rupanya Thanatan langsung menyetujuinya.


"Makan di restauran yang sederhana saja, Pa. Tidak usah yang mahal,"


"Kenapa begitu? tidak biasanya,"


"Ya aku mau di tempat yang seperti itu,"


"Bukan takut uangku habis 'kan?"


Tawa Karina pecah mendengar kalimat suaminya. Padahal datar saja tapi menggelitik perutnya.


"Tidak, malam ini kita coba suasana lain,"


Tak membantah, Thanatan fokus melajukan mobilnya sementara Karina mencari restauran yang sesuai keinginannya melalui ponsel.


"Jadi malam ini kita tidak find dining?"


"Iya, benar,"


Karina memberi tahukan pada suaminya bahwa tak jauh dari lokasi mereka saat ini ada sebuah restaurant bernuansa hutan.


"Aku rasa itu juga mahal. Kalau mau yang sederhana itu, kita datang ke street food. Di sana murah,"


"Tapi aku mau makan di restaurant ini. Memang kenapa? takut uangmu habis?"


"Kamu sendiri tadi yang mengatakan ingin yang sederhana,"


"Kita belum tahu restaurant ini seperti apa. Barangkali di sana juga tidak mewah,"


"Baik, Nyonya,"


Thanatan menghentikan perdebatan kecil mereka dengan sebutan baru untuk istrinya.


"Ini restaurant nya, Pa,"


"Iya, aku juga sudah lihat,"


"Ya barangkali matamu rabun. Maklum usiamu tidak muda lagi,"


Thanatan menghentikan mobilnya di restaurant tersebut. Setelah mematikan mesin mobilnya, Ia membalas istrinya dengan telak, "Coba berkaca. Memang kamu masih muda? sudah tua!" usai mengatakan itu Ia bergegas keluar dari mobil sementara istrinya mengerang kesal dan cepat-cepat menyusul suaminya.


"Suasana di sini nyaman,"


Karina memperhatikan sekitar. Thanatan memilih sebuah meja dan istrinya mengikuti. Mereka berdua duduk di sana berhadapan.

__ADS_1


Mereka memilih beberapa menu kemudian langsung menyantapnya. Tanpa disadari Karina dan Thanatan sama-sama menikmati suasana seperti ini. Jarang sekali mereka bisa makan malam di luar hanya berdua. Sejak awal mereka memiliki hubungan khusus memang tak ada yang istimewa bahkan terkesan mereka itu selalu perang dingin. Meskipun sering terlihat saling tidak peduli satu sama lain, tapi tetap saja rasa yang menyatukan mereka hingga saat ini tidak pernah pudar. Bahkan terus bertambah setiap harinya walaupun tanpa kata. Sejak awal sudah berkomitmen untuk saling menerima kekurangan masing-masing dan menjaga komitmen yang telah dibuat. Bersyukur, bisa bertahan hingga memiliki seorang putra yang kini telah memberikan mereka cucu.


__ADS_2