Nillaku

Nillaku
Nillaku 49


__ADS_3

Vanilla membuka mata, Jhico sudah tidak ada di sampingnya. Gadis itu melihat jam yang melekat di dinding. Ini masih cukup pagi, kemana Jhico? apa dia menghindar karena permasalahan semalam?


Saat Vanilla akan beranjak, matanya menangkap keberadaan sarapan di nakas dan sepucuk surat.


Aku pergi dulu. Sarapan yang aku buat jangan lupa dimakan. Aku tidak bisa menginap di apartemen malam ini karena harus menjaga Nenek. Selalu hati-hati dan jaga diri.


Yang memanggilmu 'Nillaku'


Jhico


Vanilla tidak bisa menahan senyum walaupun perasaannya saat ini kacau. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Seharusnya Ia senang tidak ada Jhico di sampingnya. Sehingga Ia bebas melakukan apapun. Tetapi kenapa Ia merasa kehilangan? apa benar kehilangan atau ini hanya bentuk rasa terbiasa karena Vanilla sudah bergantung pada Jhico tanpa disadari.


*******


"Aunty habis menangis ya?"


Vanilla menyentuh matanya cepat-cepat. Adrian kenapa bisa tahu? apa karena mereka duduk berdekatan seperti saat ini?


"Tidak, ini karena Aunty tidur terlalu malam,"


"Aku sering sulit tidur tapi saat bangun tidak seperti Aunty," Adrian masih tidak percaya dengan alasannya.


Vanilla memilih untuk pergi dari meja makan menghindari keponakannya. Kalau Adrian bertanya lebih jauh, Ia takut tidak bisa menjawab lagi.


Vanilla memang menangis semalaman. Dan baru bisa tidur pukul dua dini hari. Posisi tubuhnya selalu memunggungi Jhico yang habis marah-marah langsung tertidur.


Sebenarnya Jhico mengetahui Istrinya menangis. Tapi yang dilakukannya hanya diam, membiarkan Vanilla melampiaskan rasa kesal dan sedih. Mereka masih sama-sama kalut. Sehingga Jhico memilih untuk tidak menenangkan Vanilla. Semalam, Ia sendiri saja kesulitan mengendalikan diri.


*******


"Nek, aku akan menginap di sini."


"Tidak perlu, ada Mamamu. Kasihan Vanilla bila harus tinggal sendiri di apartemen,"


"Dia bisa menginap di mansion orangtuanya untuk sementara waktu,"


"Jhico, jangan egois seperti itu. Kamu tidak lagi hidup sendiri, apa kata orangtua Vanilla bila kamu meninggalkan Vanilla?"


"Aku tidak meninggalkannya. Ini hanya sementara,"


"Jhico---"


"Nek, Vanilla tidak mempermasalahkan hal itu. Dia mengerti kalau Nenek sedang butuh aku,"


Jhico tidak ingin dibantah. Ia menggenggam tangan rapuh Hawra lalu menciumnya. Jhico sangat menyayangi wanita tua ini. Apapun akan Ia lakukan untuk Neneknya. Karena di saat Jhico membutuhkan sesuatu, Hawra tak pernah absen membantunya. Sedari kecil Jhico membutuhkan cinta, kasih sayang, dan perhatian, selalu dipenuhi oleh Hawra.


Bagaimana Jhico bisa tenang membiarkan Karina saja yang menemani Neneknya di rumah sakit. Karina lebih sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Raganya memang ada di ruangan itu tapi pikiran dan hatinya entah kemana. Sementara Hawra butuh teman bicara dan canda tawa agar Ia tidak selalu stress memikirkan penyakitnya.


"Aku makan dulu ya, Nek?"


"Iya, silahkan. Rupanya kamu belum makan?"


"Belum, sengaja datang pagi-pagi ke sini, lalu membawa bekal,"


"Vanilla yang memasak?"


"Ya," dustanya agar tidak ada yang buruk di mata orang lain sekalipun neneknya sendiri.


Jhico menikmati makanannya dengan tenang. Otaknya berkelana memikirkan Vanilla yang entah sedang apa saat ini. Apakah Ia sudah menikmati sarapannya? atau masih tidur?


*******


Vanilla memilih untuk tidur di apartemen. Ia tidak ingin siapapun tahu bahwa Ia dan Jhico sedang tidak baik-baik saja. Vanilla belum siap untuk jujur.


Sore hari Vanilla izin pulang pada semua penghuni mansion. Seperti biasa, teman abadinya tidak akan membiarkan Vanilla pulang. Auristella sudah terlalu nyaman bersama dengan Vanilla.

__ADS_1


"Ada Aunty Jane di sini. Besok Aunty Vanilla datang lagi,"


"Iya, pagi-pagi Aunty Vanilla sudah datang. Kamu tenang saja,"


Rencana Vanilla besok adalah datang pagi-pagi sekali ke mansion.


"Besok kuliahmu pukul berapa?" tanya Vanilla pada sepupunya.


"Tidak terlalu pagi. Sekitar pukul delapan atau sembilan,"


"Kita berangkat bersama besok,"


"Okay,"


Mungkin vanilla akan sarapan di mansion. Karena sarapan di apartemen akan membuatnya semakin nelangsa.


"Kamu tidak dijemput Jhico?" Raihan menyadari menantunya belum juga datang untuk menjemput putrinya.


"Tidak, ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Aku pulang sendiri,"


"Aku antar, mau?" tawa Devan yang langsung ditolak Vanilla.


"Aku bisa sendiri. Sekarang sudah mandiri," alisnya naik turun agar terlihat santai menjawab. Padahal suasana hatinya sedang tidak mendukung. Membayangkan Ia akan bermalam di apartemen sendirian, membuat Vanilla sedikit khawatir. Bukan hanya tentang keadaannya saja, tetapi Jhico yang entah benar atau tidak berada di rumah sakit. Tetapi tidak mungkin Jhico berbohong. Ia tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Jhico bukan dirinya dulu yang lari dari masalah lalu memilih sesuatu yang negatif sebagai tempat untuk melampiaskan emosi. Seperti menghabiskan malam di kelab, foya-foya bersama temannya lalu pulang ke mansion sudah dalam keadaan mabuk berat dan uang yang terkuras banyak.


*******


Untuk menghilangkan kesepiannya, Vanilla memilih untuk menikmati serial drama di laptop. Sebelumnya Ia baru saja melakukan Virtual photoshoot hanya untuk menghilangkan rasa jenuh bersama fotografernya yang belum profesional, yaitu Joana. Dipikirnya yang terpenting ada kegiatan daripada hanya diam.


Joana send picture (15)


Vanilla senang sekali setelah mendapat notifikasi tersebut. Selagi menonton, Ia mematikan ponselnya agar bisa menikmati drama dengan baik.


Ia segera membuka satu persatu foto yang baru saja dikirimkan Joana. Sepertinya ini adalah hasil yang paling baik dari ratusan foto yang diabadikan Joana.


Vanilla menelpon sahabatnya itu dan langsung dijawab.


"Ya, terima kasih kembali. Kamu berhasil mengganggu waktu istirahatku. Tapi tidak apa, aku senang bisa membantu temanku yang sepertinya sedang sedih,"


"Hey, aku tidak sedih,"


"Aku percaya, Vanilla." Ia mengalah saja daripada berdebat.


"Tadi, kamu sedang tidur?"


"Ya, dan kamu membuat aku terbangun."


Vanilla terkekeh lalu meminta maaf. Sesungguhnya Ia tidak tahu kalau Joana tengah beristirahat. Ia menelpon dengan santai lalu meminta Joana untuk menjadi fotografer.


"Kamu sedang apa sekarang?"


"Nonton drama seperti biasa,"


"Bersama Jhico?"


"Hmm... tidak,"


"Ini sudah hampir malam, tidak biasanya kamu dibiarkan sendirian di apartemen,"


"Jhico menjaga neneknya di rumah sakit," Vanilla menjawab apa yang memang dia ketahui. Joana terkekeh di seberang sana membuat Vanilla mengerinyit bingung.


"Aku mengerti sekarang kenapa kamu mengganggu aku. Karena kamu kesepian, sedih tidak ada teman,"


"Tidak, aku biasa saja. Banyak teman di sini,"


"Siapa yang menjadi temanmu?"

__ADS_1


"Lukisan, pajangan, dan---"


Joana tertawa keras. Joana tahu Vanilla sedang merasakan semua yang diucapkannya tadi tetapi Ia masih bisa menghibur orang lain dengan mengeluarkan guyon.


"Baiklah, aku ingin tidur lagi. Selamat menunggu pangeran tampan ya. Semoga dia cepat datang. Bye,"


******


Jhico tidak bisa terlelap dengan tenang malam ini. Ia selalu memikirkan Vanilla. Sesekali Ia akan menatap jam. Hawra tahu penyebab cucunya menjadi gelisah seperti ini.


Sepertinya Jhico belum pernah membiarkan Vanilla tidur seorang diri di apartemen. Dilihat dari sikap tubuhnya sedari tadi, Jhico sangat tidak tenang.


"Nenek suruh pulang tidak mau. Tetapi selalu melihat jam dinding,"


Jhico menoleh dan mengusap pelipisnya malu, Ia tertangkap basah sedang cemas. "Kamu sudah izin dengan Vanilla?"


"Sudah, Ma."


"Lalu kenapa cemas seperti itu?"


"Aku rasa wajar. Suami istri memang akan seperti ini kalau jauh. Memangnya Mama tidak pernah merasakan itu?"


Karina terdiam membisu. Ia tidak lagi mau bicara. Jhico selalu bisa membuat mulutnya terkatup rapat dengan perkataan yang terdengar ringan tetapi tajam.


"Aku telepon Vanilla dulu,"


Jhico menyerah. Ia rasa semua gundah gulana yang ada di hati dan pikirannya akan hilang bila mendengar suara Vanilla.


Vanilla sudah tertidur dengan laptop yang masih menyala. Drama yang Ia tonton masih belum selesai tetapi rasa kantuk sudah tidak tertahan lagi.


Beberapa kali Jhico menghubungi sang istri tetapi tidak ada jawaban juga. Itu membuat Jhico semakin khawatir. Ia menggigit bibir dalamnya untuk menahan umpatan yang ingin sekali Ia lempar untuk Vanilla yang berhasil membuat hatinya resah dan kacau seperti ini.


Entah sudah panggilan yang ke berapa, Vanilla terbangun. Ia melirik ponselnya yang menyala menampilkan nama Jhico.


Tanpa disadarinya senyum itu hadir. Ia tidak menunggu waktu lebih lama untuk menjawab panggilan Jhico.


"Kenapa baru diangkat?!"


Vanilla menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia tidak menyangka akan langsung dibentak seperti itu di detik pertama panggilan Jhico Ia angkat.


"Aku baru bangun dari tidur. Tidak tahu kalau kamu menelpon,"


"Memang tidak terdengar? huh?!"


Vanilla mencibir dalam hati. Jhico tahu bila Ia tidur akan seperti apa. Sulit sekali untuk dibangunkan. Kebetulan Ia membuka mata, kalau tidak, entah akan semarah apa Jhico padanya.


"Lalu kamu bisa terbangun karena apa? katanya tidak mendengar panggilan aku?"


"Mau membenarkan posisi tidur. Leherku sakit, begitu aku buka mata dan aku lihat ponsel, ternyata kamu menghubungiku,"


Jhico menghela napas lega. Sedari tadi dadanya terasa dihimpit. Setelah tahu bahwa Vanilla baik-baik saja, Ia merasa sangat tenang.


"Kamu sedang apa sekarang?"


"Tadi sempat menonton drama. Sekarang tidak melakukan apapun. Aku akan tidur,"


"Selalu seperti itu. Drama yang menonton kamu, bukan sebaliknya,"


Vanilla rindu dengan marahnya Jhico yang seperti ini. Tidak mengerikan seperti semalam. Jhico terdengar sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Seperti ini saja Vanilla merasa bahagia. Sedari awal menikah, Ia dan Jhico membiarkan semua mengalir begitu saja. Ada saatnya mereka marah, bahagia, dan sedih bersama. Tidak ada yang menuntut ini dan itu. Keduanya sepakat untuk saling tahu diri karena pada dasarnya mereka hanya 'teman'. Vanilla membiarkan Jhico sibuk dengan hidupnya begitupun Jhico yang selalu mendukung Vanilla selagi itu positif.


Orang lain akan menilai pernikahan mereka tidak normal. Tetapi siapa yang peduli? Ia belum ada keinginan untuk menetapkan Jhico sebagai pemilik hatinya.


-----

__ADS_1


Aku hadirnya malem nih. Msh blm pd tidur kan? komen di bawah, kalian baca ini pas lagi apose?


__ADS_2