
"Menelpon Vanilla terus. Untuk apa sih?"
Karina hanya melirik suami nya dengan sinis. Biasanya dalam sehari Ia menelpon Vanilla hanya sekali atau paling banyak dua kali untuk tahu kabar cucunya. Dan baru kali ini Thanatan protes langsung. Biasanya Ia hanya menyimpan rasa tidak suka nya dalam hati.
"Untuk tahu kabar cucuku lah," jawab nya seraya menekan kata 'cucuku' untuk menegaskan bahwa sekalipun Thanatan tidak ingin menganggap Grizelle cucunya, masih ada dirinya yang bangga mengakui Grizelle sebagai cucu pertamanya.
"Dia pasti selalu baik-baik saja. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa orangtuanya akan selalu melimpahi kasih sayang dan perhatian mereka untuk anak itu,"
Bahkan untuk menyebut nama Grizelle saja Thanatan merasa enggan. Apalagi untuk mengunjungi sekedar memperkenalkan diri bahwa dialah kakeknya. Usia Grizelle sudah hampir satu bulan, tapi tidak ada sedikitpun keinginan yang terbesit untuk melihat cucunya. Selama ini Ia hanya menjadi pendengar bila istrinya berkomunikasi dengan Grizelle.
*****
Sore ini Vanilla memasak untuk makan malam suaminya. Ia tidak membawakan bekal untuk Jhico karena tadi bangun terlalu siang. Ia begitu menyesali keterlambatannya tapi Jhico memahami.
Setelah dibersihkan tubuhnya, Grizelle tidur lagi dan biasanya akan bangun sekitar pukul lima nanti untuk menyambut kedatangan Pupu nya.
Vanilla memasak lebih dari satu menu, Ia keluar dari zona nyaman nya selama ini. Ia mencoba untuk memasak beberapa menu sesuai keinginan nya dan yang Jhico sukai juga.
Semua sudah hampir matang. Tinggal soup creamy dengan daging halus di dalamnya yang belum matang. Sembari menunggu matang, Vanilla mencuci perkakas masak yang sudah Ia gunakan tadi.
Ia tidak sadar kalau kuah soup sepertinya terlalu banyak sehingga saat mendidih, isinya tumpah dan membuat api di kompor mengeluarkan desisan yang membuat Vanilla menoleh.
Ia panik, tidak biasa menghadapi situasi seperti ini. Dengan cepat Ia mengambil sebuah kain untuk mengangkat wadah soup yang berada di atas kompor tanpa mematikan kompor terlebih dahulu. Dan kain yang Ia gunakan itu tidak sengaja termakan oleh api.
"Astaga,"
Vanilla semakin panik. Ia segera melempar kain tersebut dan rasa panas yang disalurkan oleh wadah stainless untuk memasak soup terasa menyiksa tangannya. Setelah kain yang Ia buang kasar, Ia juga meletakkan wadah soup itu kembali ke atas tungku dengan kasar dan mematikan kompor.
__ADS_1
Tapi sayang posisi nya tidak benar hingga wadah jatuh ke lantai dan menimbulkan suara berisik, soup di dalam nya tumpah ruah. Vanilla berjingkat kaget. Ia segera berlari ke pintu dapur karena kuah nya sempat terkena kakinya dan itu panas sekali. Tangan dan kaki sama-sama disiksa oleh rasa panas.
Kain masih dilalap api. Dan Vanilla harus menghentikan api nya terlebih dahulu kalau tidak ingin api dari kain tersebut menyambar ke barang yang lainnya.
Vanilla mengambil kain yang masih terdapat kobaran api itu lalu meletakkannya ke sink kitchen. Lalu Ia menyalakan kran air agar kain tersebut basah dan api padam.
Suara tangis dari baby monitor membuat Vanilla terkesiap. Situasi di dapur sedang kacau dan tangis Grizelle membuat Vanilla stres sendiri.
Vanilla masuk ke dalam kamarnya dengan berlari. Ia meninggalkan kekacauan yang telah Ia buat di dapur. Niat hati ingin membuat suaminya semakin senang dengan perubahan nya yang lebih mandiri, tapi malah terjadi peristiwa yang benar-benar membuat Vanilla tidak henti membodohi dirinya sendiri.
"Ssstt sstt kenapa menangis, Sayang?"
"Lapar? Griz lapar ya?"
Oeeekk
Oeeekk
Oeeekk
Grizelle rupanya memang benar lapar. Begitu disajikan makanan, dia langsung diam. Melihat anaknya yang sudah tenang, Vanilla tersenyum dan menghembuskan napas lega. Jangan sampai Jhico pulang dia menemukan anaknya yang menangis. Lelaki itu paling tidak bisa mendengar Grizelle menangis apalagi karena merasa haus atau lapar. Ia tidak segan menegur Vanilla bila Vanilla lamban memberikan susu nya untuk Grizelle. Misalnya saja bila Vanilla sedang di toilet dan Grizelle lapar, pasti Jhico bersisik sekali menyuruhnya cepat-cepat keluar dari toilet padahal Ia sudah seperti dikejar-kejar setan saat mengenakan celana usai buang air di kamar mandi.
Jhico memasuki apartemen dan Ia langsung bergegas ke dapur karena saat Ia menelpon Vanilla tadi, Vanilla mengatakan ingin masak untuk mereka makan malam bersama.
Begitu Ia tiba di depan dapur, Ia terkejut melihat situasi di sana. Ia tidak menyangka bisa mendapati kekacauan ini disela rasa lelahnya setelah bekerja hampir seharian.
Ia berdecak seraya memijat keningnya. Ia kira Vanilla sudah terbiasa memasak karena belakangan ini Ia selalu memasak untuk sarapan dan semua baik-baik saja tanpa terjadi kekacauan.
__ADS_1
Jhico melipat lengan baju nya lalu melepas jam yang melingkari tangannya. Ia akan membereskan kekacauan yang sudah dibuat oleh sang istri. Entah dimana si pelaku. Tapi Ia menduga, Vanilla sedang bersama Grizelle. Maka Ia yang akan menghilangkan semua kekacauan ini.
Ia menyadari bahwa Grizelle adalah yang utama. Mungkin ini terjadi karena tiba-tiba saja Grizelle membutuhkan Mumu nya sehingga Vanilla langsung meninggalkan kesibukannya demi sang putri tanpa peduli apakah itu akan membuat Jhico nyaman atau tidak. Jujur, Jhico paling tidak suka dengan situasi seperti ini. Ia terbiasa hidup disiplin dan rapih. Melihat kondisi sekitarnya berantakan, Ia merasa tidak nyaman.
Vanilla membawa Grizelle keluar kamar. Ia meletakkan Grizelle di kursi baring nya dimana terdapat mainan berbahan lunak di depan wajah Grizelle. Kemudian perempuan itu mendorong kursi Grizelle menuju dapur. Ia akan membersihkan dapur dan Grizelle tetap di dekatnya.
Ketika tiba di depan dapur, matanya membulat terkejut melihat punggung kokoh suaminya yang sedang merendahkan tubuh untuk mengepel lantai dapur. Lelaki itu masih lengkap dengan pakaian kerjanya, pertanda dia benar-benar baru pulang dan langsung bertanggung jawab atas apa yang telah Vanilla lakukan tadi.
"Jhi... maaf," ujar nya pelan. Telinga Jhico menangkap suara istrinya. Segera Ia menoleh dan tersenyum menyapa. Ia melihat raut penyesalan di wajah Vanilla. Dan senyum lelaki itu kian lebar dengan makna menenangkan.
"Biar aku saja. Lebih baik kamu mandi lalu makan. Lauk nya sudah ada yang matang,"
"Aku selesaikan ini dulu,"
Vanilla menggeleng kemudian mendekati suminya. Ia menyentuh bahu Jhico, meminta nya untuk berdiri tegap.
"Jhico, biar aku saja yang membereskan ini semua karena aku yang menjadi penyebab nya,"
"Aku saja, Nilla." tegas tak ingin dibantah terdengar dari nada bicara Jhico.
Jhico meminta Vanilla untuk menjauh karena Ia harus membersihkan semua lantai dapur yang telah tergenangi kuah soup yang berwarna putih karena merupakan campuran dari susu dan keju.
Vanilla memperhatikan Grizelle yang terdiam memandang mainan di depan wajahnya. Ia belum menyadari kalau ayahnya sudah pulang karena ayahnya itu belum menyapa.
------
Tengah malem aku up 3 cerita sekaligus. Bole minta like, komen, dan vote nya gaakk? makasih buat yg udh baik bgt, gk pelidd like, voment. Dan makasih jg bwt kalian yg jd pembaca gelap🤪pokonya makasih untuk semuanyaaaa. I wuf yu ooolll💙
__ADS_1