
Usai mengantar Karina sampai di depan pintu apartemen, Vanilla langsung masuk. Karina diantar oleh putranya.
Vanilla menyuruh Jhico untuk mengantar Mama nya karena hari sudah malam. Meskipun Ia dan Jhico sudah pulang dari mall sejak tadi, Karina masih nyaman bersama cucunya. Akhirnya malam lah Ia keluar dari unit apartemen sang anak.
"Kamu dan Vanilla sedang bertengkar atau bagaimana?" tanya Karina saat hening menyelimuti perjalanan menuju kediamannya.
Karina memperhatikan interaksi mereka berdua selama di apartemen tadi. Gelagat mereka aneh, tidak mesra seperti biasanya. Vanilla menghindari suaminya, dan lebih memilih untuk banyak berbincang dengan Karina dan Grizelle sementara Jhico sibuk menghibur diri dengan menonton televisi.
"Tidak, Ma. Kami baik-baik saja," jawab Jhico dengan tenang.
"Kalau memang ada selisih paham, cepat diselesaikan. Jangan berlarut-larut,"
"Iya, Ma."
"Oh iya, Mama mau tanya, kamu tidak ada niat untuk keluar dari apartemen?"
Jhico Yang sedang mengemudi menoleh sekilas. "Maksud Mama, keluarga kecilku tinggal di rumah kita?"
"Tidak, Mama tahu kamu tidak akan mau."
"Iya, aku nyaman berada di apartemen,"
"Kamu sudah punya rumah. Daripada tidak ditempati, lebih baik pindah ke sana. Kalian tidak bisa selamanya tinggal di apartemen. Lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Grizelle lebih leluasa untuk bermain."
"Iya, nanti. Lagipula Griz masih kecil."
Tidak terasa, selama perjalanan sempat mengobrol, sekarang sudah sampai di rumah. "Aku tidak masuk ya, Ma."
Jhico gelisah ingin segera menyelesaikan perdebatan dengan Vanilla. Apalagi Mama nya juga mengatakan seperti itu tadi.
"Iya, hati-hati."
Thanatan kebetulan baru saja pulang. Saat Jhico memundurkan mobilnya keluar dari halaman, mobil Thanatan masuk. Jhico membunyikan klakson untuk menyapa namun Papa nya itu tak acuh.
Jhico menghela napas pelan seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian Ia bergegas kembali ke apartemen. Tidak ingin ambil pusing dengan sikap Thanatan yang tidak kunjung berubah itu.
******
Setelah Jhico sampai di apartemen, Vanilla segera mandi karena Ia terlalu senang dengan kehadiran Karina tadi, Ia sampai lupa membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Grizelle dijaga oleh Pupu nya. Mereka berdua di tengah ranjang. Jhico terlungkup membalas tatapan putrinya. Manik indah itu berkedip-kedip lucu. Tubuh mungilnya sesekali nampak menggeliat.
"Hmmm..." Jhico mencium pipi Grizelle seraya begumam. Grizelle nampak kegelian. Ia tersenyum lebar.
"Menggemaskan sekali kamu,"
Gigi Jhico bergemelutuk menahan gemas. Grizelle benar-benar seperti boneka hidup. Jhico mencium Grizelle bertubi-tubi. Namun Grizelle tetap tersenyum padahal Pupu nya sudah mulai jahil.
Vanilla keluar dari kamar mandi. Harum dari sabun yang dipakai Vanilla menguar ketika pintu kamar mandi terbuka. Saat Vanilla berjalan ke walk in closet, Jhico benar-benar salah fokus. Perempuan itu hanya mengenakan bathrobe putih yang panjangnya hanya sejengkal di atas lutut. Belum lagi harumnya yang membuat Jhico semakin berkeinginan untuk memeluk istrinya itu sampai besok siang.
Grizelle merengek mungkin sudah mulai bosan dengan Jhico yang tidak fokus lagi mengajaknya bercanda.
"Nilla, cepat pakai bajunya. Griz haus,"
"Ada susunya di dekat lemari pendingin,"
Jhico segera mencari botol yang dimaksud istrinya. Vanilla menyuruh Jhico menggunakan susu dalam botol karena barangkali Grizelle sudah tidak sabaran lagi untuk minum susu. Sementara dirinya sedang berpakaian.
"Dimana, Nilla?"
Jhico tidak menemukan apa yang Ia cari. Entah Ia memang tidak bisa diandalkan dalam mencari barang, atau memang Vanilla lupa letak botol susu itu.
"Cari yang benar sebelum cerewet," ujarnya setelah menemukan botol susu Grizelle. Jhico terkekeh memperlihatkan gigi nya. Disaat mendapat teguran, sempat-sempatnya mata Jhico melirik bagian depan tubuh sang istri yang belum tertutup sepenuhnya.
Vanilla menyerahkan botol susu pada suaminya. "Berikan ini dulu. Aku mau pakai skincare,"
Jhico mengangguk dan membiarkan istrinya ke meja rias. Grizelle tidak menangis ketika diberikan susu Mumu nya menggunakan botol. Grizelle tahu Vanilla butuh waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi kalau Grizelle sedang manja, jangankan pakai skincare, ke kamar mandi pun sulit sekali bagi Vanilla.
Jhico memperhatikan anaknya yang sedang menyusu dengan lamat-lamat. Lelaki itu memangku Grizelle.
"Minum yang banyak. Supaya tidak rewel tengah malam nanti ya, Sayang?" ujar Jhico seraya mengusap dahi Grizelle yang merupakan makhluk kecil ciptaan Tuhan yang melengkapi pernikahan dirinya dan Vanilla.
Lama-lama usapan di dahi nya membuat Grizelle terpejam. Susu di dalam botol juga sudah habis. Jhico tersenyum senang.
Ayah satu anak itu meletakkan Grizelle di kasur kecilnya yang berada di tengah ranjang. Kemudian memastikan kelambu tidur Grizelle benar-benar melindungi Grizelle.
"Nilla..."
Jhico belum bicara sama sekali pada Vanilla mengenai permasalahan tadi siang dengan Keyfa.
__ADS_1
"Hmmm?" Vanilla sedang menepuk-nepuk pipinya yang habis menggunakan toner wajah.
"Maafkan Keyfa ya. Dia masih kecil jadi belum mengerti kalau---"
"Dia masih kecil. Grizelle juga masih kecil. Jadi kamu lebih mengutamakan yang mana kalau seandainya kamu berada di antara dua pilihan? Entah mengapa aku merasa posisi dia di hatimu sama seperti posisi Grizelle,"
"Jaga ucapanmu Nilla!" Desis Jhico seraya menatap Vanilla dengan tajam melalui pantulan cermin.
"Tentu saja aku mengutamakan anakku," imbuh lelaki itu dengan tegas.
"Anakmu siapa? Griz atau Keyfa?"
"Nilla!"
"Jawab, aku menyebutkan dua nama. Dan tidak ada nama 'Nilla',"
"Grizelle, tentu saja aku mengutamakan dia. Tadi Griz tidak apa-apa, aku tenang meninggalkannya bersama Mama. Oleh sebab itu, aku tidak mau menolak permintaan Keyfa,"
"Okay, tidak masalah. Aku tahu seberapa besar rasa sayangmu pada Keyfa. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan menanggapinya. Aku hanya tidak ingin pisah dengan anakku dalam waktu yang lama. Apalagi tadi adalah pertama kalinya aku meninggalkan Griz. Wajar bukan kalau aku merasa begitu khawatir sekalipun Griz aman bersama Oma nya?"
"Iya, tapi sikapmu tadi terlihat seperti orang yang jahat, Vanilla. Beberapa kali Keyfa mengajakmu bicara tapi kamu tidak acuh,"
"Jangan banyak menuntut seperti dia, Jhi. Yang terpenting aku sudah menuruti keinginanmu. Kamu mau aku temani dia juga 'kan? sudah aku lakukan tadi. Apalagi?"
Vanilla menggigit lidahnya yang telah bicara begitu tajam pada suaminya. Rasa kesal kembali hadir setelah Ia mengingat kejadian tadi. Dengan mata kepalanya sendiri Ia melihat Keyfa begitu manja dengan Jhico. Tadinya Ia menganggap itu hal yang wajar. Tapi lama-lama Vanilla merasa gerah.
Vanilla cepat-cepat menggunakan semua produk perawatan wajah nya agar Ia bisa segera tidur dan Jhico tidak lagi membahas itu.
"Kamu marah pada anak kecil?" tanya Jhico tidak habis pikir.
"Memang aku memarahi dia tadi? tidak. Aku menyimpan kesal dalam hati. Aku masih menghargai dia, orangtuanya, dan juga kamu. Aku berusaha untuk tetap bersikap baik. Maaf kalau aku tidak berhasil melakukannya,"
---------
Griz be like : Key, gegara lu, Ortu w berantem. Gimana nih? tanggung jawab!
Keyfa : Gaada urusan Bosque🤣🤣
Siapa yg kesel sama Keyfa? Gaada kan? masih aman 'kan?
__ADS_1