Nillaku

Nillaku
Nillaku 438 Epilog


__ADS_3

Seperti halnya saat Grizelle baru lahir, Vanilla harus menyesuaikan waktu tidurnya dengan waktu tidur Gisca.


Gisca sering terbangun tengah malam dan menangis. Ia akan berhenti menangis kalau sudah diberikan susu oleh Vanilla.


Gisca seperti Grizelle dulu. Sampai dirasa sudah bisa tidur di tempat tidurnya sendiri atau boks nya barulah Jhico dan Vanilla melepasnya. Untuk saat ini, Gisca tidur di antara Jhico dan Vanilla.


Vanilla akan mudah terbangun bila sedikit saja mendengar anak keduanya merengek. Ia akan segera mengangkatnya dan menyusuinya.


Seperti saat ini, Vanilla tengah memberikan susu pada Gisca tapi Gisca belum berhenti menangis.


Jhico juga akan terbangun. Ia mengajukan dirinya untuk membantu Vanilla.


"Coba lihat diapersnya, Nilla,"


Vanilla segera melakukan apa yang dikatakan suaminya. Jhico sudah menyiapkan diapers baru tapi ternyata diapers yang dipakai Gisca bahkan belum banyak isinya.


"Haus tidak, diapers tidak penuh juga,"


"Tadi mimpi buruk mungkin. Biar aku yang menggendongnya," kata Jhico mengulurkan tangan untuk menggendong putri keduanya.


Begitu digendongan Jhico, anaknya masih menangis dan Jhico mengayunnya pelan untuk menenangkan.


"Kamu tidur saja, biar aku yang tenangkan Gisca,"


Jhico tidak tega pada Vanilla yang baru satu jam lalu bangun, dan kini sudah harus bangun lagi.


Vanilla menggeleng enggan. Tidak mungkin Ia meninggalkan anaknya yang sedang menangis.


Jhico terus menenangkan, Ia gendong anaknya dan Ia berjalan ke sisi-sisi kamar. Sampai akhirnya tangis sang putri mereda kemudian berhenti.


Jhico tersenyum, Ia mencium pelan puncak hidung anak keduanya itu.


Kini Gisca sudah terpejam. Deru napasnya juga sudah teratur. Jhico menghapus jejak air mata sang putri.


Ia kembali menyuruh Vanilla tidur. Kali ini Vanilla mengangguk. Ia sudah bisa tenang kalau putrinya tidak lagi menangis.


"Dia bukan haus atau diapersnya penuh. Sepertinya karena mimpi buruk," gumam Jhico sangat pelan agar tidak menganggu tidur anaknya.


Vanilla kembali berbaring. Saat Jhico akan meletakkan anaknya di tempat tidur, anaknya itu menggeliat merengek. Seperti tahu kalau ayahnya tidak menggendongnya lagi.


Akhirnya Jhico tidak jadi meletakkannya. Ia kembali mengayunkan Gisca dengan pelan supaya Gisca semakin pulas.


Vanilla langsung terlelap lagi. Karena memang sebenarnya Ia sudah mengantuk. Tapi karena anaknya terjaga, maka Ia bangun.


******

__ADS_1


"Adikku diberi nama Gisca. Dia sudah lahir kemarin,"


Grizelle selalu antusias kalau sudah berhubungan dengana diknya. Apalagi kali ini untuk pertama kalinya Ia bercerita pada teman-temannya di sekolah mengenai kehadiran sang adik ke dunia ini. 


"Cantik ya?"


"Iya, cantik sekali," puji Grizelle dengan senyum lebarnya.


"Sama seperti kamu cantiknya,"


"Hmm kata Mumu dan Pupu kami berdua sama-sama cantik"


"Ah aku yakin! kamu saja cantik apalagi adikmu,"


Grizelle tersenyum malu. Padahal ia tidak berharap dipuji, justru malah memuji adiknya terus. Tapi memang kedua orangtuanya mengatakan bahwa Ia juga tidak kalah cantik dengan sang adik. Ia bahkan begiu mengagumi Gisca yang sangat cantik dan menggemaskan. Ia pemasaran saat masih kecil apakah Ia juga seperti itu. Jhico dan Vanilla lantas menunjukkan foto Grizelle saat masih bayi. Ia tertawa melihatnya semalam ketika mereka tengah menemani Gisca yang tidak bisa tidur cepat, pukul sembilan baru terlelap.


"Cantik 'kan? Icelle juga cantik! Pupu sudah bilang,"


"Iya, Icelle juga cantik. Itu bisa dilihat fotonya"


Kata kedua orangtuanya semalam setelah mempelihatkan fotonya ketika baru lahir. Mirip sekali dengan Gisca.


Grizelle menceritakan hari-harinya setelah menjadi seorang kakak pada temannya.


"Mumu atau Pupu. Nanti kalau aku yang tenangkan, takutnya dia malah semakin menangis histeris,"


Teman-temannya tertawa. Tapi mereka mengatakan tidak mungkin sampai seperti itu sebab Gisca pasti tahu kalau niat kakaknya ingin menghentikan tangisnya.


"Jadi kamu punya teman sekarang"


"Iya, aku senang sekali. Tidak sendirian lagi. Kalau libur tidak cepat bosan lagi," ucap anak otu seraya menangkup kedua pipinya yang menggemaskan.


*****


"Kakek, tidak ajak Grizelle ya?"


Thanatan kenbali bertemu dengan Evelyn yang mengundangnya ke acara peresmian bisnis baru istri Thomas.


"Tidak, Eve. Grizelle baru punya adik. Jadi dia sepertinya tidak akan mau kalau diajak keluar rumah sekalipun sebentar,"


Thanatan tahu bagainana antusias cucu pertamanya itu dalam menyambut sang adik. Saat Ia bertemu di rumah sakit saja, Grizelle tidak mau lepas dari Gisca. Selalu ada di dekat Gisca.


"Opa, kapan kita bertemu adiknya Grizelle?"


Evelyn ingin sekali bertemu dengan adik Grizelle. Ingin tahu rupanya dan berkenalan. Ia merengek pada kakeknya seraya mengguncang pelan tangan sang kakek.

__ADS_1


"Besok kita ke sana ya,"


"Yeaay, aku ikut ya, Opa?"


"Tentu saja, kamu yang paling semangat bertemu adiknya Grizelle,"


"Bagaimana rasanya memiliki dua cucu perempuan, Thanatan?" Thomas beralih pada rekan kerjanya yang sangat akrab dengannya itu. Thanatan terkekeh menggeleng pelan. "Rasanya menakjubkan. Aku tidak menyangka kini sudah memiliki dua cucu. Aku berharap yang kedua ini tidak kalah cerdas dari kakaknya, tidak kalah baik dan tulus,"


"Dan masih berharap untuk yang ketiga?"


Thanatan mengangguk yakin. "Tentu saja," katanya lugas kemudian mengundang tawa Thomas.


"Laki-laki?"


"Iya, perempuan sudah cukup. Semoga saja doaku kali ini dapat terwujud. Tapi... kalaupun tidak, aku tidak bisa apa-apa. Berarti hanya dua malaikat kecil yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi cucuku,"


******


Jhico memasuki rumahnya pukul lima sore. Ia baru saja selesai praktik di kliniknya. Keadaan runah sepi. Tentu saja, karena pasti Grizelle di kamar bersama Ibu dan adiknya.


Jhico segera bergegas ke kamar untuk menghampiri tiga perempuan yang menjadi bagian dalam hidupnya.


"Woah Pupu datang, Gisca," Grizelle yang sedang memainkan jemari mungil Gisca meberi tahu pada adiknya itu bahwa ayah mereka telah tiba.


"Bagaimana hari ini?" tanya Vanilla seraya bangkit untuk menyiapkan pakaian sang suami yang akan dikenakan nanti usai melakukan ritual mandi.


"Melelahkan, tapi langsung hilang rasa lelahnya setelah melihat kalian bertiga,"


Vanilla dan Grizelle tersenyum mendengar penuturan Jhico yang begitu manis.


Jhico izin mandi terlebih dahulu sebelum bergabung nersama ketiga perempuan berbeda generasi tapi sama-sama dicintai Jhico itu.


"Gisca, nanti kalau besar semoga bisa cepat bicara huruf R ya. Jangan seperti aku," Grizelle kembali mengajak adiknya bicara.


"Tapi pintar dan baiknya haru mengikuti Kakakmu, Gisca," Vanilla menyahuti.


"Gisca pasti bisa lebih pintar lagi, lebih baik lagi, Mu,"


Vanilla mengamini, Ia memiliki Grizelle saja sudah sangat bersyukur dengan segala kelebihan yang dimiliki anak itu. Kemudian saat ini dianugrahi Gisca. Ia pun akan sangat bersyukur dengan kelebihan yang Gisca miliki. Ia bersyukur bisa menjadi ibu dari dua anak ini dan menjadi pendamping untuk Jhico.


Jhico keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang segar dan bersih tentunya. Barulah Ia berani untuk bergabung dengan ketiganya tanpa khawatir membawa kuman atau bakteri dari luar sebab Ia habis bekerja seharian.


Jhico menatap ketiga perempuan di dekatnya ini dengan lembut. Dalam hati tidak pernah berhenri berayukur dengan nikmat Tuhan yang begitu baik menganugrahi dirinya dengan kebahagiaan yang luar biasa. Gisca semakin melengkapi dirinya dan Vanilla, Nillaku, perempuan yang cintai dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya.


Satu harapan Jhico dari awal bersama Vanilla, kemudian mendapatkan Grizelle, dan sekarang Gisca, Jhico hanya ingin bersama mereka dengan waktu yang lama. Ia minta pada Tuhan agar Vanilla dan dirinya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menemani Grizelle dan Giscaa disetiap momen yang terjadi dalam hidup mereka.

__ADS_1


__ADS_2