
"Sudah-sudah, kita maklumi. Mungkin Aunty dan Uncle baru saja bermain perang-perangan sama seperti kamu dan Andrean. Jadi sedikit lama," Raihan menengahi. Ia paham betul dengan suasana seperti ini. Semua tidak akan berakhir kalau Adrian tidak dibungkam dengan alasan yang logis, anak itu terlalu berpikir kritis.
"Tapi aku dan Andrean kalau bermain perang-perangan tidak sampai merah-merah lehernya,"
Lovi mengggeram gemas dan menutup mulut Adrian yang banyak bicara. Masalahnya, yang Ia ucapkan itu bukan ranahnya sama sekali, tidak mungkin mereka semua memberi penjelasan lebih pada Adrian mengenai hal itu.
"Kalau kata Aunty Vanilla, kamu julit sekali!" gerutu Andrean yang diangguki oleh Vanilla.
"Adrian jangan bertanya hal-hal yang bukan urusan kamu. Daddy tidak suka,"
Adrian menunduk ketika ayahnya menegur seperti itu. Tak pelak Ia pun mengangguk patuh. Sekarang mungkin Ia mendengarkan kalimat Devan dengan baik, entah nanti-nanti.
Vanilla segera menyusul Jhico yang sudah pergi, sengaja menghindari pembicaraan. Ia membiarkan istrinya saja yang mencari alasan, lelaki itu terkekeh dalam hati.
"Masuk, kalau mau ikut berlibur!" titah Devan pada Adrian yang langsung dituruti anak itu.
Devan dan istrinya tidak menyangka kalau sang anak bisa sejeli itu memperhatikan Aunty-nya.
Begitu masuk di dalam mobil, Vanilla berteriak memarahi suaminya yang sudah terpingkal-pingkal.
"JHICO, INI SEMUA GARA-GARA KAMU! BERANI BERBUAT TAPI TIDAK BERANI BERTANGGUNG JAWAB!"
Tawa Jhico semakin keras saat Vanilla menarik daun telinganya. "Aku malu, Jhico!" rengek Vanilla yang wajahnya sudah semerah strawberry.
"Aku berani bertanggung jawab, Nillaku. Bahkan sudah tanggung jawab sebelum melakukan sesuatu terhadap kamu. Aku sudah menikahimu. Itu tanggung jawabku,"
__ADS_1
"Bukan tanggung jawab seperti itu maksudku, bodoh!" maki Vanilla seraya memukul Jhico dengan tas kecilnya. Jhico hanya bisa tertawa, karena sikap Vanilla yang seperti ini justru sangat lucu di matanya dan juga menggemaskan.
"Kamu membuat leherku merah lalu tidak membantu aku menjawab pertanyaan Adrian. Jahat sekali kamu!"
"Biasanya kamu lebih pintar berkelit. Makanya aku serahkan saja padamu,"
********
Jhico nampak menyingkir dari kebahagiaan keluarga besar istrinya. Ia baru saja dihubungi oleh Hawra yang bercerita mengenai sikap tidak terima Thanatan dan Arlan ketika tahu bahwa Jhico lebih memilih untuk berlibur bersama keluarga Vanilla sementara dengan keluarganya sendiri Ia tolak mentah-mentah. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya liburan ini merupakan keinginan Vanilla.
"Aunty tangkap ya!"
Bola voli yang dilempar Adrian terlalu jauh hingga Vanilla tak bisa meraihnya. Saat ini mereka sedang bermain voli di air setelah sebelumnya sudah mencoba air laut itu untuk berenang.
"Tinggi badanmu padahal minimal sekali tapi lemparannya jauh juga ya," kalimat Vanilla terhadap Andrean membuat Adrian terbahak. Vanilla yang melihat itu langsung melanjutkan ucapannya, "Mohon sadar diri untuk yang tertawa paling kencang. Kalian kembar, tinggi kalian pun sama. Jadi tidak boleh menertawakan,"
"Kalian juga, hey! sudah, jangan tertawa!" akhirnya semua mulut-mulut kecil itu terbungkam. Vanilla tersenyum puas saat berhasil membuat mereka patuh.
Vanilla merasa sangat bahagia saat bisa menjadi teman bermain mereka. Ia dengan senang hati menerima ajakan semua keponakannya untuk berenang dan bermain voli bersama.
"Coba sekali-sekali beri bolanya ke Aunty Jane. Dia banyak menganggur itu,"
"Ah, Vanilla! aku sudah tenang-tenang di sini," Jane berseru tak terima saat Vanilla mengatakan itu.
Sedari tadi Jane memang bermain ponsel di atas jembatan yang membawahi lautan tempat mereka bermain. Pakaiannya sudah basah karena sempat berenang juga tadi.
__ADS_1
Begitu Ia bangun dari tidur siang, Adrian dan keponakannya yang lain langsung menarik lengannya agar segera berganti baju lalu ikut mereka berenang. Jane tak bisa menolak lagi walaupun matanya masih mengantuk.
"Sekarang bergantian. Aunty Vanilla sudah selesai mainnya, saatnya Aunty Jane. Ayo, Jane cepat turun!" titah Vanilla seraya naik ke atas jembatan menghampiri suaminya yang baru saja masuk ke dalam air bersama Auristella dalam gendongannya.
"Kita ke sana ya?" tanya Jhico pada Auristella sebelum mendekati Devan, Zio, Akra, dan Jhon yang berada sedikit ke tengah. Auris malah menangis. Ia hanya mau di tepi saja, tidak mau dibawa kemana-mana. Jhico mengerti, akhirnya Ia hanya duduk di tangga dekat jembatan seraya memangku Auristella.
Vanilla mengajak Auristella bercanda dan membujuknya agar mendekati kedua kakak-kakaknya. Namun Auristella merengek pada Jhico, Ia benar-benar nyaman di tangga itu saja, tidak mau kemanapun. Sepertinya Auristella ketakutan bila di bawa berjalan-jalan.
"Sepertinya dia sering diajak berenang. Tapi kenapa sekarang malah takut ya?"
"Selama ini Auris hanya berenang di kolam, Nilla. Ini 'kan bukan, mungkin itu yang membuat dia takut,"
"Oh iya, benar juga pemikiran dokter tampanku ini ya,"
Vanilla sempat saling meledek dengan Zio yang masih single itu. Awalnya Zio yang memulai karena dilihatnya Jhico dan Vanilla mesra sekali dan terlihat seperti orangtua yang tengah bersama anaknya.
"Sudah, jangan ganggu pengantin baru yang sedang bulan madu, Zio. Kalau iri, cepatlah menikah biar tidak mengganggu kemesraan orang," ujar Jhon menengahi tetapi tak pelak membuat rona merah di wajah Vanilla hadir malu-malu.
Tapi apa katanya tadi? bulan madu? ini bukan bulan madu hey! liburan bersama. Hanya itu saja. Sepertinya itu sebuah sinyal yang sengaja dilemparkan Jhon agar Vanilla dan Jhico segera menikmati waktu berdua di suatu tempat yang romantis.
"BENAR! JODOHI JODOHI JODOHI ZIO! KITA HARUS CARI JODOH UNTUK SI SINGLE TUA INI,"
Zio menangkup air dalam telapak tangannya lalu disiramnya air itu ke wajah Vanilla yang baru saja berseru riuh. Hingga semua keluarga besar menatapnya prihatin. Sialan! Ia belum tua. Masih dua puluh tujuh tahun, memang itu tua?!
__ADS_1
Hay Hay hayyy masih ada yg nungguin ga? gaada? Yaaaa sad deh aku :(