Nillaku

Nillaku
Nillaku 197


__ADS_3

Vanilla sedang berkutat di dapur seorang diri. Bibi belum bangun, suami dan anaknya pun demikian.


Sembari memasak, Ia membuatkan susu untuk buah hatinya dan juga teh hangat untuk sang suami.


Ketika Ia menuangkan air panas ke dalam mug Jhico, Ia dikejutkan oleh kedatangan Grizelle. Anak itu berseru mengejutkan Mumu nya.


"Astaga, Griz. Jangan begitu, Sayang. Kalau air panas nya tumpah dan melukai Mumu, bagaimana?"


"Hihihi, maaf, Mu."


"Kenapa sudah bangun?"


"Tadi bangun karena mau pup,"


"Sudah pup nya?"


"Tidak jadi,"


Grizelle duduk di kursi pantry, memperhatikan Mumu nya yang kini mengaduk teh milik Jhico. Setelah itu melihat masakannya yang belum matang.


"Mumu, jangan pelnah datang lagi ke pesta sendilian ya,"


"Iya, siap putri kecil,"


"Aku selius, Mu."


"Iya, Mumu juga serius. Kalau memang Griz tidak suka Mumu datang sendiri, Mumu tidak akan ulangi,"


"Bukan tidak suka, tapi nanti aku khawatil (khawatir) lagi sepelti (sepeti) semalam,"


Vanilla menoleh ke belakang dimana Grizelle duduk dan bicara dengan tenang dan dewasa, memberikan larangan untuknya agar tidak datang sendirian lagi bila menghadiri sebuah acara. Ia melarang disertai alasan yang manis dan Vanilla senang akan hal itu.


"Dia itu siapa, Mu?"


"Dia?"


"Iya, yang semalam dansa dengan Mumu," jawab Grizelle dengan sedikit malas membicarakan Xendi, laki-laki yang semalam Ia temui sedang berdansa dengan Mumunya.


"Rekan kerja Mumu,"


"Oh kenapa beldansa (berdansa) dengan Mumu? memang dansa telmasuk pekeljaan (termasuk pekerjaan)?"


Vanilla terhenyak ketika anaknya bertanya seperti itu. Terdengar polos tapi berhasil membuat Vanilla diam beberapa saat, menoleh ke belakang untuk menatap anaknya.


"Berdansa dengan teman tidak dilarang, Griz."


"Tapi 'kan ada Pupu. Kenapa halus (harus) dengan olang lain (orang lain)?"


"Pupu belum datang saat dansa dimulai,"


"Hmm... iya juga. Tapi bisa juga Mumu tidak dansa sepelti Aunty Joana,"


Vanilla bingung ingin menjawab bagaimana lagi. Semua yang dikatakan anaknya memang benar. Kalau memang tidak ada Jhico, Ia bisa memilih untuk tidak berdansa, seperti Joana.


"Mumu hanya ingin lebih akrab saja, Griz."


"Okay, baiklah."


Grizelle mengangguk lalu menopang dagunya dengan satu tangan. Vanilla meletakkan susu buatannya di hadapan Grizelle agar segera diminum oleh anaknya itu.

__ADS_1


"Nanti Mumu datang ke sekolah ku 'kan?"


"Tentu, Sayang."


"Yang benal, Mu?"


"Benar, tidak mungkin Mumu berbohong,"


"Memang nya Mumu tidak bekelja?"


"Hari ini kebetulan tidak. Hanya foto-foto di rumah saja nanti,"


"Jadi Mumu hanya di lumah hali ini (rumah hari ini)?"


"Iya, Griz."


"Yeay, Jadi Mumu sekaligus menjemput aku nanti ya?"


"Griz mau dijemput Mumu?"


Grizelle langsung merengut dan melipat kedua tangannya di depan dada. Vanilla selesai menyajikan masakannya di atas piring. Masakannya sudah hampir jadi semua.


"Tentu saja mau, Mu."


"Ya sudah, sekarang Griz sarapan, dan Mumu akan memanggil Bibi,"


"Itu yang masih dimasak apa?" tanya


"Soup untuk Pupu. Kalau Griz mau, tunggu matang dulu ya. Griz sarapan di meja makan, ayo."


Grizelle mengangguk dan mengikuti Vanilla ke ruang makan. Ia duduk dan meneguk susu nya. Setelah itu menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Vanilla.


Bibi mengerjapkan matanya lalu menatap jam. Ia segera beranjak ke kamar mandi, setelah itu bergegas keluar dari kamarnya untuk mulai bekerja.


Saat Ia akan melewati ruang makan, Ia terkejut melihat Grizelle duduk sendirian di meja makan sembari mengunyah.


"Wah Griz sudah bangun,"


"Pagi, Bibi."


"Pagi, Griz. Selamat sarapan,"


"Iya, Bi. Bibi juga jangan lupa salapan (sarapan),"


"Pasti, Griz."


Bibi beranjak ke dapur. Ia melihat satu menu lagi yang masih belum matang. "Vanilla bangun jam berapa ya? sudah hampir selesai masakannya, buktinya Griz sudah makan,"


Vanilla bangun lebih pagi karena ingin buang air kecil. Setelah dari kamar mandi, Ia tidak ingin lagi kembali ke ranjang yang pasti bisa membuatnya terbuai itu. Kalau Ia sampai tertidur kembali, suami dan anaknya tidak bisa menikmati masakannya pagi ini. Bibi pasti memasak untuk sarapan mereka berdua, tapi Vanilla ingin dirinya lah yang memanjakan perut Jhico dan Grizelle selagi Ia tidak disibukkan dengan hal lain.


*******


Vanilla menyeka gorden hingga sinar matahari menyapa kamarnya. Jhico yang sedang terlungkup menghadap jendela langsung mengerjap begitu ada cahaya menusuk pelupuk matanya.


"Jhi, bangun. Nanti kamu terlambat datang ke klinik,"


Jhico merubah posisinya menjadi terlentang, lalu Ia meregangkan otot-ototnya. "Jhi, ayo, bangun. Kamu kalah cepat dengan Griz. Dia sedang sarapan sekarang,"


Jhico menghembuskan napas pelan kemudian duduk sebentar sebelum akhirnya bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


"Masih menghiraukan aku, artinya masih marah," gumam Vanilla menatap pintu kamar mandi yang sudah ditutup oleh sang suami.


Vanilla memasuki kamar Grizelle untuk mengeluarkan seragam sekolah anaknya dari almari.


Ternyata Nada yang sudah melakukannya. Ia kalah cepat dengan Nada. "Terimakasih ya, Nada."


Nada tahu Vanilla sibuk di dapur belum lagi kalau Vanilla bekerja. Jadi sebisa mungkin Ia akan membantu apapun yang bisa Ia lakukan untuk meringankan pekerjaan Vanilla.


Nada sudah keluar dari kamar Grizelle sementara Vanilla mendekati meja belajar yang sedikit berantakan dengan pewarna dan alat tulis lainnya yang tergeletak tidak beraturan.


"Tumben Griz tidak membereskannya sendiri,"


Grizelle pernah di nasihati oleh Jhico untuk bertanggung jawab atas apapun yang Ia lakukan. Salah satunya membereskan mainan atau buku-buku yang habis digunakannya.


Tapi mungkin Grizelle belum sempat membereskannya, karena setelah pulang sekolah kemarin Ia langsung ke klinik Jhico setelah itu menyusul Vanilla ke pesta.


Selesai dengan urusan anaknya, Vanilla kembali ke ruang makan untuk meminta anaknya agar segera mandi bila sudah menghabiskan sarapannya.


"Mandi ya, Sayang."


"Sebental, Mu. Pelutku (perutku) masih begah,"


Vanilla mengangguk dengan tawa kecilnya. Grizelle nampak mengusap-usap perutnya yang terasa penuh.


"Pupu dimana? belum bangun juga, Mu?"


"Lagi di kamar mandi,"


Baru dibicarakan, Jhico sudah hadir diantara mereka. Lelaki itu segera duduk dan menghadap hidangan yang telah tersaji di depannya. Soup yang Vanilla buat sudah disajikan juga oleh Bibi ketika Vanilla masih berada di kamar Grizelle tadi.


"Griz sudah makan?"


"Sudah, Pu."


"Kamu?" Jhico bertanya seraya menatap Vanilla yang berdiri. Vanilla sempat terkesiap karena tidak menyangka Jhico yang sepertinya masih kesal padanya tiba-tiba mengajaknya bicara.


"Belum, nanti saja."


"Nanti kapan?"


"Setelah kalian pergi,"


"Oh sekarang masih kenyang dengan yang semalam ya?"


Vanilla mengerinyit bingung dengan ucapan suaminya. Beberapa saat kemudian Ia baru sadar kalau Jhico kembali menyindir masalah semalam yaitu Ia yang lancang minum alkohol.


Vanilla berdiri di samping Jhico lalu menuangkan air minum untuk lelaki itu. Ia sengaja menginjak kaki Jhico sekilas hingga Jhico berdecak. Jhico menatap istrinya dengan pandangan kesal tapi Vanilla memasang ekspresi tak acuh.


"Jadi pintar menyindir kamu ya," bisik Vanilla.


Grizelle masih berada di dekat orangtuanya dan Ia merasa bingung dengan perdebatan mereka berdua yang sebenarnya berusaha ditutupi tapi Ia tetap bisa melihatnya.


 


--------


 


Gud net gesss. Ada yg masih melek matanya? ada yg insom kek akyyuu? kuy baca Nillaku trs lgsng istirahat yaaa. Paksain bobok gess wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2