
"Kamu sakit? hmm?"
Vanilla langsung menghabiskan pudingnya kemudian mencuci tangannya. Setelah itu Ia memeluk anaknya, meletakkan punggung tangan di dahi Grizelle dan juga lehernya.
"Kamu demam, Griz,"
Vanilla lekas mencari kotak obat. Ia dengan cekatan menyiapkan obat dan air minum untuk anaknya.
"Ayo cepat diminum,"
Selain meminumkan obat, Vanilla juga mengambil kompres langsung pakai di dalam kamar Grizelle yang biasa Ia andalkan ketika Grizelle demam.
Ia segera merekatkan kompres tersebut di dahi sang putri. "Sudah sakit begini masih mau makan puding dingin,"
"Tapi aku mau, Mu. Tadi Mumu makan juga,"
"Mumu tidak sakit,"
"Aduh kelihatan nikmat sekali puding itu,"
Tak ingin membuat anaknya semakin sakit, cepat-cepat Vanilla membuang puding itu ke dalam tempat sampah.
"Yah, Mumu, kenapa pudingnya dibuang? aku belum makan,"
"Nanti kalau sudah sembuh Mumu buatkan,"
"Tapi aku mau sekalang (sekarang),"
"Grizelle, jangan sulit diberi tahu orangtua. kamu sakit, masih mau makan itu? bisa semakin parah nanti,"
Grizelle merengut. Ia menatap tempat sampah dengan sedih dari tempatnya duduk saat ini.
"Dihabiskan air hangatnya. Setelah itu kita tidur,"
"Temani ya, Mu,"
"Iya, pasti Mumu temani,"
Vanilla sudah katakan tadi. Anaknya itu akan manja sekali kalau sedang sakit, sama hal dengan anak lainnya. Tak bisa jauh dari orangtuanya.
"Tadi dengan yakin menjawab Pupu 'Aku tidak akan sakit, Pu' ternyata apa? karena ice cream itu. Makanya jangan melawan orangtua," tegurnya pada sang putri yang sedang meneguk air minumnya perlahan.
"Aku tidak mau minum lagi. Sakit, Mu," keluh Grizelle seraya mengusap leher bagian depannya.
"Minum," titahnya lembut seraya mengangsurkan gelas itu pada Grizelle.
"Supaya radang nya sembuh. Ayo, dihabiskan,"
"Mu..."
Grizelle menggeleng dengan raut memelas. Ia merasa tidak nyaman ketika air hangat itu melewati kerongkongannya.
"Kalau Mumu beri ice cream mau? air hangat tidak mau, tapi kalau ice cream pasti mau. Cokelat juga," Alih-alih memarahi, justru Vanilla menegur dengan cara menawari apa yang disukai anaknya itu.
"Tidak mau,"
"Ah masa? tadi mau makan puding,"
"Puding, bukan ice cream,"
Vanilla menggeleng pelan. Ia menggerakkan dagunya ke arah gelas yang hanya dipegang Grizelle tanpa diminum isinya.
"Minum,"
"Kalau kamu sakit, berarti besok tidak ikut Mumu ya?"
"Kemana?"
"Mumu graduation besok,"
"Hah?! besok? aku belum diberi tahu,"
"Ini Mumu beri tahu,"
"Aku mau ikut,"
__ADS_1
"Harus sembuh. Kalau tidak, kamu diam di rumah. Nanti Mumu minta Grandma datang ke sini untuk temani kamu. Karena Pupu akan pergi dengan Mumu," lugas Rena yang memang akan serius meminta Rena datang ke rumahnya untuk menemani Grizelle di rumah sementara Ia pergi bersama suaminya.
Grizelle membulatkan matanya. Dengan cepat Ia menenggak habis air hangat dalam gelas yang ada digenggamnya. Ia harus ikut menyaksikan saat Mumunya melaksanakan upacara kelulusan.
****
"Nilla, kenapa pindah ke sana?"
Jhico dengan wajah suntuk khas bangun tidur bertanya pada istrinya yang akan masuk ke dalam kamar putri mereka.
Grizelle di samping Vanilla menoleh ke arah Pupunya begitupun Vanilla.
"Mumu tidul (tidur)denganku ya, Pu,"
"Griz sakit, Jhi. Aku akan menemaninya malam ini,"
Jhico menghembuskan napas panjang, mengusap wajahnya lalu berkacak pinggang.
"Sakit?"
"Demam? atau apa?"
Dengan cepat Ia menghampiri putrinya. Ia rasakan panas menjalar di tangan ketika menyentuh leher Grizelle.
"Tadi yakin sekali ya tidak akan sakit,"
Grizelle menunduk saat Ayahnya bicara seperti itu. Tidak marah hanya saja Ia dibuat telak ketika Jhico kembali mengulangi ucapannya saat makan malam tadi. Sama seperti yang dilakukan Vanilla sebelumnya.
"Pupu ambil obat dulu,"
"Griz sudah minum obat. Ini sudah pakai kompres juga,"
Vanilla menahan langkah suaminya dan menunjuk dahi anaknya.
"Oh iya,"
"Ya sudah, istirahat. Minum air putih yang banyak. Sudah belum?"
"Sudah, Pu."
"Tadi masih mau makan puding dari freezer," adu Vanilla yang langsung mendapat tatapan tidak percaya dari suaminya.
"Tanya saja langsung pada anaknya,"
"Iya, tadi aku melihat Mumu makan itu. Jadi aku ingin juga, Pu," Grizelle mengakui dengan suara pelannya. Jhico tidak bisa marah hanya bisa memeluk erat anaknya itu seraya menggeram gemas.
"Benar-benar kamu ya. Bahkan masih bisa melirik puding disaat sakit?"
"Dia mengeluh tenggorokannya sakit lalu saat melihat puding, uhh matanya langsung segar,"
Jhico terkekeh kecil mendengar laporan istrinya. "Ya sudah, istirahat sekarang,"
Jhico membuka lebar pintu kamar anaknya lalu mempersilahkan Vanilla dan Grizelle masuk ke dalam.
"Pupu juga mau tidul (tidur) di sini?"
"Ya, kenapa tidak?"
****
Jhico membalut tubuh mungil putrinya dengan selimut lalu mengubah suhu penyejuk ruangan agar tidak terlalu dingin.
"Aku tidur di lantai saja," ujarnya pada Vanilla yang sudah berbaring di samping Grizelle.
"Di sini masih cukup. Tempat tidurnya 'kan luas,"
"Jangan, biar Grizelle lega tidak merasa pengap,"
"Tidak akan, ini sudah dingin,"
Jhico menggeleng, Ia tetap meraih selimut di almari Grizelle kemudian menggelarnya di bawah.
"Pupu tidul (tidur) di bawah?"
Saat kening nya dikecup Jhico, Grizelle kembali membuka mata.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Sudah, jangan bicara lagi. Tidur ya,"
"Tapi sebentar, Pupu cek suhu Griz dulu,"
Jhico belum tahu suhu anaknya berapa untuk saat ini. Oleh sebab itu, Ia mengambil thermometer dan meminta Grizelle menjauhkan sedikit lengannya agar thermometernya bisa terapit di ketiaknya.
Biipp
Suara yang merupakan tanda bahwa thermometer selesai mengukur telah terdengar. Jhico segera melihat hasilnya.
"Aduh tiga puluh sembilan,"
Jhico dilanda khawatir. Ia mengusap kepala anaknya menatap penuh kecemasan.
"Tidur, Sayang." titahnya pada Grizelle yang matanya masih terbuka.
Grizelle menarik lengan ayahnya agar berbaring di sampingnya kemudian Grizelle beringsut memeluk Jhico. Ia memejam di dalam rengkuhan ayahnya. Tak lama, Ia berbalik memeluk Mumunya yang dibelakanginya.
Tidur ditengah kedua orangtua memang menyenangkan. Bisa memeluk bergantian.
"Gelisah 'kan tidurnya,"
"Heemm,"
Grizelle mengangguk lalu makin meringsek masuk ke dalam pelukan sang Ibu.
Uhukk
Uhukk
Grizelle menarik napas panjang sedikit susah. Hidungnya tersumbat oleh cairan.
"Ayo dibuang dulu ke kamar mandi,"
Jhico tidak akan bisa tidur kalau kondisi anaknya seperti ini. Ia melepas pelukan Grizelle dari Vanilla yang akhirnya membuat anak itu merengek. Kemudian Jhico membawa Grizelle ke dalam gendongannya untuk ke kamar mandi.
Ia meletakkan Grizelle di atas meja marmer wastafel. Kemudian menyuruh Grizelle menunduk di wastafel dan menghembuskan cairan yang menyumbat hidung kecilnya.
"Sudah lega?"
"Sudah,"
Suara Grizelle mulai berubah. Mata dan pipinya juga mulai sedikit merah.
"Tidurnya Pupu timang-timang ya?"
"Tidak mau. Tidul (tidur) dengan Mumu,"
"Biar cepat tidur,"
Tak ingin dibantah Jhico kembali menggendong anaknya keluar dari kamar mandi. Ia meminta Grizelle meletakkan kepala di bahunya. Kemudian Ia mulai mengayunkan tubuhnya pelan agar Grizelle merasa terbuai untuk masuk ke alam mimpi.
Vanilla berbisik pada suaminya agar membiarkan Grizelle tidur di ranjang queen size miliknya namun Jhico menggeleng.
Sepertinya Grizelle akan gelisah semalaman dan berujung tidak tidur kalau tidak diperlakukan seperti ini.
Vanilla tidak bisa terlelap. Ia malah sibuk memperhatikan bagaimana Jhico bersikap perhatian pada putri mereka. Ini bukan pertama kalinya Ia lihat. Jhico memang kerap seperti itu kalau Grizelle sakit. Namun tetap saja selalu berkesan bagi Vanilla. Jhico benar-benar menjadikan Grizelle ratu.
"Kamu tidurlah," gumam Jhico pada istrinya dengan sangat pelan agar tidak mengalihkan atensi Grizelle yang entah sudah tidur atau belum di bahunya.
Vanilla mengangguk kemudian membenarkan letak selimut yang membalut tubuhnya.
"Sssttt," sesekali Jhico berdesis agar Grizelle benar-benar tenggelam dalam tidurnya.
Grizelle sudah terpejam. Ia mulai memasuki alam mimpinya ketika Jhico sedikit menolehkan wajahnya dan menatap sang putri. Jhico mengusap punggung Grizelle yang bergerak mencari leher ayahnya yang tadi sempat menjauh dari kepalanya karena menoleh untuk melihat dirinya sudah terlelap atau belum.
Meskipun diakui Jhico lengannya kebas menggendong Grizelle cukup lama, namun Ia senang karena Grizelle bisa tidur. Ia meletakkan Grizelle di atas ranjang namun saat Ia akan beranjak, lehernya dipeluk erat. Dalam tidurpun Grizelle tak ingin lepas dari ayahnya.
Jhico menahan napas kemudian melepas lilitan tangan mungil putri kecilnya dari lehernya. Kemudian Ia segera berbaring di samping Grizelle memeluknya untuk menenangkan Grizelle sekaligus memberi tahu Grizelle bahwa Ia ada disamping Grizelle.
"Mimpi indah, Princess. Semoga besok kondisimu lebih baik,"
-------
Br jg dibilangin eh sakit beneran. Semangat Icelle! Icelle byk pikiran jg kayanya nih gegara abis liat Pupu dan Kakek nya tengkar😆
__ADS_1