
Saat ini mereka hanya berdua. Sebab ketiga anak mereka akan bermalam di kediaman sepupu mereka.
"Aku tidak tega pada Vanilla. Perjuangannya untuk mendapatkan anak lagi benar-benar tidak mudah,"
Lovi dan Devan menghabiskan waktu berdua usai melepas keberangkatan triple A ke rumah Grizelle. Mereka mengobrol ditemani dengan hot capucino.
"Setelah keguguran itu Vanilla sangat terpuruk. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Butuh waktu untuk menerima itu semua. Di lain sisi, Grizelle dan Jhico juga sama-sama terluka. Terutama Griz yang masih membutuhkan perhatian dari Vanilla malah sempat terabaikan karena Vanilla tenggelam dalam kesedihannya. Tapi Griz hebat bisa memahami keadaan,"
Slurpp
Lovi meneguk minumannya di mug dengan pelan kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Vanilla juga hebat. Dia bisa bangkit lagi dan akhirnya sekarang bisa memiliki anak lagi,"
Devan mengangguk pelan. Kehidupan pernikahan Vanilla dan Jhico juga tak mudah. Ia sebagai pengamat dari luar bisa melihat berbagai cobaan yang datang untuk mereka berdua.
"Dan jangan lupakan Jhico yang hebat juga. Dia laki-laki yang hebat bisa bertahan terus di disamping Vanilla meskipun dulu sempat mendapat penolakan dari adikku itu. Menurutku, dia laki-laki sabar yang pernah aku kenal. Aku saja belum tentu bisa menjadi Jhico,"
"Ya, kamu bukan lelaki yang sabar. Hobimu marah-marah," sambut Lovi seraya terkekeh.
"Marah-marah padamu itu dulu, Lov. Waktu awal menikah,"
"Woah kamu bukan hanya sekedar marah tapi sudah kejam sekali denganku," tak bermaksud membahas masa lalu tapi Lovi hanya bercanda. Ia tertawa ketika mengatakannya. Namun Devan yang masih belum bisa memaafkan diri sendiri sepenuhnya sampai saat ini merasa bahwa ucapan Lovi itu sebagai tamparan untuknya mengenai masa lalu dimana Ia begitu kejam pada perempuan yang menjadi pendamping hidupnya kini.
"Itu sudah masa lalu," ujar Lovi seraya mengusap rahang tegas suaminya. Lovi kembali meneguk minumannya. Kemudian mengalihkan pembicaraan sebab saat ini Ia bisa melihat raut murung suaminya.
"Sedang apa mereka sekarang ya? belum apa-apa aku sudah rindu saja dengan ketiganya,"
"Entah mengapa aku malah senang, Lov,"
"Senang kenapa?"
"Senang karena aku tidak mendengar keributan yang diciptakan mereka, oh lebih tepatnya Auris dan Adrian," jawahnya seraya tertawa kemudian melanjutkan, "Aku jahat ya? senang saat jauh dengan anak,"
Lovi mengangguk dengan raut cemberut. "Iya, kamu jahat. Ya walaupun kamu ada benarnya. Memang kita jadi tenang kalau tidak mendengar perdebatan,"
Devan terbahak. Ia menjawil hidung istrinya gemas. "Kamu membenarkan ucapanku juga ternyata,"
"Ya, aku tidak memungkiri. Tapi aku juga rindu dengan mereka,"
__ADS_1
"Sebenarnya sama, Lov. Aku pun merindukan mereka bertiga. Tapi biarlah mereka melepas rindu dengan Griz dulu. Biar Griz juga tidak sedih lagi. Aku tahu bagaimana perasaan anak itu. Pasti sedih begitu tahu Mumunya harus masuk rumah sakit,"
Devan beranjak dengan mug kosong di tangannya. "Mau kemana?" pertanyaan strinya itu Ia jawab dengan senyuman dulu sebelum kalimat, "Aku ingin cappucino lagi. Yang ini sudah habis, My Lov,"
Lovi tahu bahwa suaminya tengah membujuk agar Ia diperbolehkan menambah minuman dengan sedikit kafein itu.
"Sudah cukup satu mug saja, Sayang," ujrnya lembut namun tak membuat Devan menyerah. Ia tetap beranjak dengan mug di tangannya, Ia ke dapur minta dibuatkan oleh maid nya yang ada di sana.
Setelah itu Ia kembali lagi ke meja makan dimana istrinya berada. Ia terkekeh begitu duduk mendapat ancaman dari wanita yang merupakan sebagian dari hidupnya itu.
"Akan aku buang nanti,"
"Sekali saja, Lov,"
"Sekali? kamu sudah habis satu mug. Tidak boleh menambah, Devan. Nanti akhirnya kamu sulit tidur lalu memilih untuk bekerja sampai malam,"
"Tidak, Lov," Devan meyakinkan istrinya yang sudah memasang raut kesal itu.
"Terserah lah. Nanti habis ini apa lagi? merokok?"
Lovi sudah kesal sekali dengan suaminya yang masih sulit untuk mengurangi rokok dan minuman-minuman mengandung kafein.
"Terus saja menyakiti dirimu sendiri, Devan. Aku tidak mau peduli lagi,"
Devan menaik turunkan alisnya. "Benarkah?" Ia mengajukan pertanyaan itu sebab Ia merasa tidak yakin kalau Lovi tidak peduli lagi padanya. Selama ini sering Lovi berkata seperti itu kalau Lovi sudah lelah menyuruh suaminya istirahat disaat waktu telah menunjukkan dini hari, dan suaminya sudah kelebihan merokok atau mengonsumsi minuman-minuman kafein.
Tapi nyatanya Lovi masih mau peduli padanya hingga saat ini. Lovi selalu mengingatkan dan berpesan agar ia tak menyakiti diri sendiri dengan mengonsumsi rokok dan yang lainnya.
"Iya, kali ini benar. Terserah mau bagaimana. Kamu juga yang akan merasakan sakit nantinya. Dan jangan mengeluh padaku kalau batuk, perutmu sakit, atau segala macam,"
Devan tertawa kencang. Lovi kelihatan sekali kesal padanya. Lovi mengalihkan pandangan tak mau mengarah padanya, Ia juga sibuk dengan cappuciono miliknya dan sesekali akan berkutat dengan ponsel yang sejak tadi dihiraukan.
"Jangan begitu lah, Sayangku. Aku 'kan suamimu. Aku tidak boleh mengeluh?"
"Kamu mengeluh, aku sudah beri saran agar jangan begini, begitu, supaya tidak ada keluhan lagi. Tapi kamu tetap saja keras kepala," ujar Lovi tanpa henti karena sudah terlampau kesal. Ia akan dengan senang hati mendengar keluh dan resah suaminya dan Ia kan memberikan saran yang Ia anggap tepat. Tapi kalau Devan tetap saja keras kepala, Ia bosan lama-lama memberi saran agar kurangi merokok, minum kafein, dan baru saja dia mengaku suka minum alkohol bila di luar rumah.
"Jangan minum alkohol lagi. Aku kira kamu sudah tidak minum itu,"
"Iya, My Lov,"
__ADS_1
"Iya terus tapi ternyata masih," Lovi mendengus kasar. Ia meneguk minumannya sampai tandas. Bertepatan dengan itu, maid datang membawa mug milik suaminya yang berisi cappucino.
Rena akan beranjak pergi. Namun Devan dengan cepat menahan lengannya. Ia tersenyum memyerahkan mug berisi cappucino miliknya yang baru dibuat bahkan uapnya masih menguar. Kening Lovi mengerinyit tak mengerti maksud suaminya.
"Katanya ingin membuang. Ini, silahkan buang cappucino punyaku,"
Ia yang sudah lupa dengan niatnya tadi langsung tersenyum tipis setelah dipersilahkan oleh suaminya.
Ia segera beranjak ke wastafel membawa mug tersebut kemudian membuang isinya. Ia kembali ke hadapan Devan yang menatap nelangsa.
"Sayang sekali itu,"
"Lebih sayang dengan itu daripada dirimu sendiri?"
Devan terkekeh mengecup bibir istrinya sekilas. "Tidak apa, Sayang. Yang penting kamu tetap peduli padaku ya?"
"Sekarang mungkin mau mendengarkan aku. Tidak tahu kalau nanti. Bisa jadi kamu diam-diam membuat minuman itu lagi,"
Devan melipat bibirnya ke dalam menahan tawa. Lovi kenapa memiliki feeling sekuat itu? Ia memang berniat demikian.
****
"Sudah bisa pulang ya. Jangan terlalu banyak aktivitas. Beristirahat lah dan tidak boleh banyak beban pikiran agar Nona tidak stress,"
Vanilla mengangguk mengerti diberi pesan seperti itu oleh Dokter yang menanganinya.
Usai dokter keluar, Jhico segera mengemas sedikit barang yang semalam dibawa oleh drivernya sebagai keperluan Vanilla selama di rumah sakit yang telah disiapkan Bibi.
Usai siap semuanya, Ia menghubungi driver agar membantunya untuk mengangkut barang dan Ia mendorong kursi roda istrinya.
"Padahal aku bisa berjalan sendiri,"
"Ya, aku tahu, Nillaku. Tapi aku takut kamu masih lemah,"
"Sebesar itu rasa khawatirmu padaku, My Jhi?" tanya Vanilla dengan senyum jahilnya dan panggilan yang begitu posesif karena dengan terang-terangan menyatakan kepemilikannya atas Jhico.
"Tentu saja, My Nilla," sahut Jhico seraya terkekeh kecil. Ia mengikuti panggilan Vanilla terhadapnya.
"Aku tidak mau dipanggil seperti itu. Nillaku saja," pintarnya seraya merengek. Hatinya terasa beda ketika dipanggil Nillaku. Ia lebih suka panggilan itu daripada yang lain. Hangat langsung menjalar di hatinya kalau Jhico sudah memanggil seperti itu.
__ADS_1
****