
Setelah Jhico membersihkan lantai dapur dan mencuci semua perkakas masak yang belum selesai Vanilla kerjakan tadi, Ia segera menghampiri anak dan istrinya di meja makan.
"Aku mandi dulu ya,"
"Iya, terima kasih dan maaf,"
Jhico berdecak seraya menggeleng. Sudah seharusnya mereka saling membantu. Vanilla bukannya tidak bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah dibuatnya. Ia yakin ada alasan yang membuat Vanilla meninggalkan dapur tadi dan ketika Ia melihat Grizelle bersama Vanilla menghampiri dapur, Ia yakin Grizelle lah yang menganggu kesibukan Mumu nya di dapur.
Grizelle nampak menatap Pupu nya yang tersenyum padanya. Grizelle mengangkat tangannya, seperti minta digendong.
"Pupu mandi dulu sebentar. Hanya sebentar," tekan nya di akhir kalimat. Setelah itu raga nya menghilang di balik pintu kamar.
******
Keheningan menyelimuti makan malam Jhico dan Vanilla. Mereka berdua menikmati makan malam dalam diam sementara anak mereka tenang seolah mengerti bahwa Mumu dan Pupu nya butuh waktu untuk isi energi sebelum nanti malam begadang.
Grizelle masih berbaring di kursi nya tadi. Sesekali Ia diajak berbincang oleh Jhico, meksipun Ia belum bisa menjawab tapi reaksi berupa tatapan matanya terhadap Jhico membuat Jhico senang.
"Nilla, Mama menawarkan aku untuk membiarkan Bibi di rumah keluargaku agar bekerja di sini,"
Vanilla melembutkan gerakan mengunyah nya. Ia menatap Jhico dengan dalam. "Apapun keputusanmu, aku dukung."
Vanilla tak bisa meyakini diri sendiri bahwa dia bisa menghandel semua pekerjaan rumah. Ia akui kalau Ia mulai kewalahan padahal baru sebentar menjadi Ibu. Mungkin karena Ia tidak terbiasa menjalani kesibukan ibu rumah tangga, jadi sekalinya diberikan setumpuk kesibukan untuk mengurus suami dan anak, Ia kesulitan untuk beradaptasi.
"Beliau sudah bekerja dengan keluargaku sejak aku masih kecil. Beliau juga yang menjadi temanku selain Nenek,"
Vanilla diam mendengarkan dengan baik Kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir suaminya.
"Aku tidak ingin kamu kelelahan, itu saja."
Vanilla tahu, keputusan yang diambil suaminya adalah hal terbaik untuknya. Ia seharusnya berterima kasih pada Jhico yang begitu pengertian. Tanpa diminta, Jhico tahu seberapa lelahnya Vanilla.
"Untuk bagian bersih-bersih tetap dari apartemen. Tapi untuk pekerjaan lainnya biar Bibi yang menyelesaikan. Kamu fokus mengurus Grizelle saja,"
"Tapi untuk memasak, aku tetap ingin melakukannya sendiri. Please, aku ingin terus belajar,"
"Ya, kalau kamu ada waktu saja, Nilla. Aku tidak masalah kamu tidak masak. aku menyukai semua makanan baik itu buatan kamu ataupun orang lain. Aku tidak ingin banyak menuntut,"
"Aku bisa masak untuk kamu sarapan dan pulang seperti saat ini. Nanti Bibi yang bantu aku,"
"Okay, terima kasih sudah mau berusaha menjadi istri yang baik. Jujur aku senang melihat kamu memasak untukku,"
"Ya, aku tahu. Oleh sebab itu aku akan tetap memasak dan nanti dibantu agar kejadian seperti tadi tidak terulang lagi," ujarnya seraya tertawa kecil.
__ADS_1
*****
"Ah payah kamu. Baru juga sebentar jadi Ibu sudah minta bantuan asisten rumah tangga saja,"
"Jhico yang baik hati itu tahu kalau istrinya tidak bisa menghandel semua nya..."
"Mau masuk atau di luar saja?"
"Masuk lah bodoh. Aku sudah datang jauh-jauh,"
"Jauh darimana?! jarak rumahmu dengan apartemen ini tidak jauh tapi kamu hanya menemui Grizelle sekali saat dia di rumah sakit,"
"Yang penting aku sudah melihatnya 'kan?"
Vanilla senang sekali sepupunya datang. Semenjak Ia memutuskan untuk istirahat sementara dari pekerjaan, mereka tidak pernah bertemu lagi. Jane hanya datang ke rumah sakit bersama Richard, suaminya untuk melihat dirinya dan Grizelle yang baru dilahirkan pada saat itu. Setelahnya, belum pernah datang ke apartemen untuk sekedar mengajak Grizelle bermain.
"Grizelle kesepian, Jane. Aku juga,"
"Ya buat anak lagi lah. Biar Grizelle tidak kesepian,"
"Sinting!" cibir Vanilla.
Jane memasuki kamar Vanilla setelah diajak perempuan itu lalu Ia menghampiri boks tidur Grizelle. Tadi Vanilla menidurkan anaknya di sana karena Ia harus mencuci snelli suaminya. Jhico memiliki tiga snelli dan dipakai bergantian. Setiap dirasa sudah kotor, Jhico akan membawanya ke apartemen untuk dicucinya sendiri. Tapi entah sejak kapan Vanilla mengambil alih kegiatan yang biasa dilakukan suaminya itu.
"Jangan! dia belum lama tidurnya,"
"Astaga tidur terus,"
"Tidak, dia sejak tadi menemani aku menonton. Grizelle tidak seperti saat baru lahir yang sebentar-sebentar tidur. Sekarang matanya sudah kuat terbuka untuk waktu yang cukup lama,"
"Pengertian sekali dia ya? bisa menjadi teman Ibu nya yang merasa kesepian ini,"
Vanilla mengajak sepupunya keluar dari kamar untuk berbincang di luar kamar saja. Ia tidak ingin Grizelle terganggu.
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana kabarmu dengan Richard?"
"Baik..."
"Sudah terlambat datang bulan?"
__ADS_1
Jane menghembuskan napas seraya menggeleng.
"Makanya, sering-sering datang ke sini supaya kamu cepat hamil," ucap Vanilla.
"Apa hubungannya?!" Jane menyahuti sepupunya tidak santai.
"Kalau kamu sering datang ke sini menemani Griz, nanti pasti Griz ikut mendoakan biar dia cepat punya sepupu dari kamu dan Richard,"
"Ah aku ini sibuk, Nilla."
"Halah sibuk apa? aku sedang istirahat sementara jadi pekerjaan mu sebagai manager ku juga terhenti,"
"Aku sibuk mengurus suami. Terus aku ada rencana buka gerai bakery tapi belum dapat izin dari Richard,"
"Kenapa? dia tidak mau memberimu modal? biar aku saja kalau begitu,"
Jane berdecak kemudian mendorong pelipis sepupunya dengan telunjuk. Vanilla menggeram kesal.
"Kalau Griz sudah besar, dia akan marah ketika Mumu nya diperlakukan dengan kurang ajar oleh Aunty nya,"
"Nyatanya untuk saat ini, yang bisa dia lakukan hanya tidur dan makan saja, Van. Belum bisa marah,"
*****
"Setelah dari sini, kalian ke apartemen Jhico 'kan? untuk melihat anaknya yang baru lahir,"
"Kami langsung pulang. Tidak sempat ke sana,"
Karina mengangkat sudut bibirnya, tersenyum jengah. Keponakannya Dinata dan Qany istrinya baru saja pulang dari luar negeri dan mereka datang ke rumah untuk berbagi cerita sekaligus melihat Hawra katanya.
"Oh ya sudah, sebenarnya Jhico juga tidak berharap kalian datang. Hanya saja, kalau aku menjadi kalian, aku akan berusaha menjadi sepupu yang saling menghargai. Karena seingatku, saat Qany melahirkan, Jhico datang ke rumah sakit untuk melihat anak kalian,"
Dinata dan Qany terkesiap. Karina jadi kesal dengan keluarga nya sendiri. Dan bodohnya, Ia baru menyadari sekarang betapa tersiksa nya sang putra sejak dulu sampai sekarang karena dikelilingi oleh keluarga yang tidak ada pedulinya sama sekali. Sampai detik ini yang datang melihat Grizelle dari keluarga Jhico hanya Karina saja sementara dari pihak keluarga Vanilla, jangan ditanya. Oleh sebab itu Karina merasa sedih sekaligus malu pada Vanilla.
Sikap keluarga Jhico terlihat sekali tidak menginginkan kehadiran Grizelle. Dan Jhico tidak peduli dengan hal itu. Karena istrinya pun sudah tahu bagaimana hubungan dia dengan keluarga besarnya.
"Dia datang untuk menjenguk anak kami pasti karena terpaksa,"
"Tapi dia masih menghargai kalian bukan? lalu bagaimana dengan kalian? setidaknya walaupun datang terpaksa, temui lah anak bayi itu lalu ucapkan selamat pada kedua orangtuanya. Setelah itu kalian langsung pulang. Aku rasa itu tidak sulit dilakukan,"
------
Kaya biasa aku up di jam tuyul🤣 ini tengah malem geeess dan untuk kalian yg insom kek akyuu bisa baca semua ceritaku ya wkwkwk. Tinggal klik profile.
__ADS_1
Addicted dan MCH up !