
"Kami pulang dulu, Vanilla. Katakan pada Jhico, bahwa kita datang ke sini,"
"Tentu, Pa. Akan Vanilla sampaikan,"
"Kapan kira-kira Papa bisa mendengar kabar bahagia dari kalian?"
Sebelum benar-benar pergi, Thanatan bertanya seraya tersenyum pada gadis itu.
"Mama juga tidak sabar," sahut Karina.
Vanilla tampak belum mengerti dengan topik pembicaraan mereka sampai akhirnya Thanatan menjelaskan dengan singkat, "Hamil."
"Doakan saja, Ma, Pa."
"Tapi kalian tidak menunda?"
Vanilla menggeleng pelan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Vanilla sendiri bingung dengan makna gelengan kepalanya.
"Semoga secepatnya. Papa tidak sabar memiliki penerus. Tidak ayahnya, maka anaknya pun tidak masalah,"
Thanatan pergi diikuti oleh Karina. Vanilla menghembuskan napas pelan, menatap punggung kedua orangtua suaminya itu. Setelah menutup pintu apartemen, Vanilla bersandar di daun pintu.
"Belum lahir saja sudah diatur seperti itu. Kasihan sekali anakku nanti,"
*******
Jhico meletakkan kunci mobil di tempatnya. Ia memperhatikan apartemen yang sepi tapi ada suara dari dapur.
Jhico segera berjalan ke sana dan Ia menemukan Vanilla tengah mencuci gelas di sink kitchen.
"Siapa yang habis datang ke sini? ada dua gelas,"
Vanilla berbalik setelah mencuci kedua gelas tersebut. Ia meletakkannya di tempat khusus gelas dan piring.
"Papa dan Mamamu,"
"Huh? mereka baru datang?"
Sepertinya jawaban yang tepat adalah 'iya' karena Jhico melihat Vanilla yang baru selesai menghilangkan jejak kedatangan mereka.
"Ya, tidak lama mereka pulang, kamu datang. Sayang sekali kalian tidak bertemu,"
"Itu yang aku harapkan,"
Vanilla memasuki kamarnya. Sementara Jhico meneguk air minum untuk mengusir rasa kelat di tenggorokan setelah mengetahui kedatangan Papa dan Mamanya.
"Apa yang mereka lakukan sebenarnya. Vanilla terlihat berbeda,"
Jhico menyadari bahwa mata dan raut Vanilla tidak sama dengan sebelum Ia pergi tadi. Jhico yakin ada sesuatu yang menjadi penyebabnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah perbuatan kedua orangtuanya, Jhico yakin sekali.
Jhico khawatir, akhirnya Ia menghampiri Vanilla yang berbaring seraya bermain ponsel di atas ranjang.
"Apa yang mereka lakukan di sini?"
__ADS_1
"Tidak ada, hanya berbincang sebentar,"
"Hanya itu? aku tidak percaya,"
"Itu hakmu ingin percaya atau tidak. Yang terpenting, aku sudah jujur,"
Vanilla menjawab tetapi fokusnya masih pada ponsel. Ia tersenyum tipis menatap layar datar yang di pegangnya tanpa menyadari perubahan air muka Jhico.
"Aku sedang bertanya, Vanilla."
"Sudah aku jawab tadi. Apa lagi?"
Jhico merampas ponsel Vanilla dan gadis itu langsung bangkit untuk merebut. Jhico menatap istrinya tajam. Jhico cemas, tidak tahukah Vanilla?
"Sekarang Deni, kemarin Renald. Besok siapa lagi?!" ujar Jhico setelah melihat sejenak apa yang tengah dilakukan sang istri terhadap ponsel itu. Vanilla bertukar kabar dengan Deni.
Vanilla berhasil menggenggam ponselnya lagi. Ia membalas tatapan suaminya tidak kalah tajam.
Katakan saja bila cemburu, kenapa harus marah-marah seperti ini? padahal yang mereka bahas tadi bukan masalah laki-laki yang dekat dengan Vanilla.
"Aku memang sering berbalas pesan dengan Deni. Tidak ada yang aneh. Kamu saja yang terlalu posesif. Kita teman, ingat?"
"Ingat, sangat ingat. Tapi tolong hargai Aku kalau sedang bicara..."
Vanilla tidak acuh sama sekali. Ia memilih untuk kembali menyibukkan diri. Seolah sengaja memancing emosi Jhico.
"Pertanyaanku tadi--"
"Sudah aku jawab, Jhico. Papa dan Mama tidak melakukan apapun di sini,"
"Beda bagaimana maksudmu? aku tetap manusia,"
"Vanilla---" geram Jhico yang sedang serius tapi malah ditanggapi dengan guyon.
Vanilla terkekeh geli. Ia mengerling pada Jhico lalu meletakkan ponselnya di nakas sebelah ranjang. Ia menepuk pelan kedua rahang Jhico yang mengeras.
Saat wajahnya mendekat, ingin menyatukan hidung mereka, Jhico menghindar. Alis lelaki itu menukik. "Sejak kapan kamu agresif?"
Vanilla dengan refleks memukul lengan suaminya yang mengejek. Ia juga merutuki diri sendiri. Sial! kenapa dia seberani itu? hampir saja melewati batas yang tidak seharusnya dilakukan oleh 'teman'.
"Mau mencium aku?"
"Apa?! jangan terlalu percaya diri!"
"Aku tahu, Vanilla. Kalau tidak, untuk apa kamu maju-maju seperti tadi?"
Wajah Vanilla benar-benar bersemu merah sekarang. Ia terdiam telak, tidak bisa menyampaikan pembelaan apapun lagi.
"Aku hanya--"
Cup
bibir Vanilla dibungkam dengan benda merah muda yang--- ah sial! begitu manis.
__ADS_1
"Aku saja yang mencium kamu,"
Jantung Vanilla hampir lompat dari tempatnya. Mata bulat gadis itu mengerjap lucu. Jhico terkekeh pelan melihatnya. Lelaki itu melakukannya sekali lagi dan pertahanan Vanilla sudah benar-benar hancur.
"Baru dicium sudah seperti ini reaksinya. Bagaimana kalau aku melakukan hal yang lebih ekstrem?"
*******
Jane menghampiri kelas sepupunya untuk melihat apakan Vanilla sudah selesai dengan jam kuliahnya atau belum.
Rupanya masih ada dosen yang tengah menerangkan. Akhirnya Jane menunggu di sebuah kursi yang tidak jauh dari kelas Vanilla. Ini yang terkadang membuatnya kesal. Jane paling tidak suka menunggu. Tapi kelasnya memang selesai lebih dulu, oleh sebab itu Ia yang harus menunggu Vanilla bila gadis itu belum selesai.
"Renald, tidak kuliah?" Jane menyapa teman dekat sepupunya yang sedang membersihkan bagian bawah kursi lain di dekat Jane.
Renald menoleh dan Ia tersenyum. Lelaki itu menghampiri Jane. "Tidak, hari ini aku full bekerja,"
Jane mengangguk seraya membulatkan mulutnya.
"Kamu menunggu Vanilla?" tanya Renald.
"Ya, siapa lagi?"
"Kalian akan langsung pulang?"
"Vanilla ada pemotretan hari ini,"
"Wow, dimana?" tanya Renald antusias. Ia belum pernah melihat secara langsung bagaimana gadis cantik itu bekerja.
"Tidak jauh dari sini," jawab Jane pelan, sedikit menyesal karena memberi tahu hal itu. Sepertinya Renald akan--
"Aku ingin sekali ikut kalian..."
Jane melirik Renald dengan kaku. Ia sepertinya harus melarang secepat mungkin. Jane tidak ingin lagi Vanilla terlalu dekat dengan lelaki itu.
"Tapi pekerjaanku masih banyak. Jadi, lain kali saja,"
Diam-diam Jane menghela napas lega. Tidak perlu dia menolak, Renald sudah mundur. Melihat dosen Vanilla keluar diikuti beberapa mahasiswa, Jane segera bangkit.
"Aku dan Vanilla pergi dulu. Sampai jumpa, Renald."
Vanilla rupanya sempat memperhatikan Jane dan Renald beberapa detik sampai akhirnya Jane tiba di dekatnya. Ia melihat Renald yang melambai ke arahnya. Vanilla tersenyum membalas sapa lelaki itu.
"Ayo, kita pergi sekarang." seru Joana yang selalu semangat bekerja.
Mereka berjalan keluar dari kampus dan ternyata Richard, kekasih Jane sudah menunggu.
"Aku tidak tahu kalau kamu yang akan menjadi supir saat ini,"
"Kalau rubah betina sudah meminta, aku tidak bisa menolak," ujar Richard seraya melirik Jane yang tengah menutup pintu mobil. Joana dan Vanilla terbahak keras. Sementara orang yang dibicarakan hanya mendengus. Memang itu kenyataannya. Dibalik sisi romantisnya, Jane juga bisa garang bila sudah memiliki keinginan. Akhir-akhir ini Richard selalu sibuk dengan pekerjaannya. Berhubung hari ini kekasih hatinya itu libur, maka tidak ada salahnya bila meminta perhatian di waktu luangnya.
--------------
SELAMAT MEMBACA YAAA. TP SBLM BACA, MINTA DUKUNGANNYA DULU, BOLEH GK? BOLEH DONG? KELEAN KAN BAIK HATI ;)
__ADS_1
MCH UP GAESSS👇