
Meskipun dalam keadaan tidak baik-baik saja, Joana tetap bisa mengendalikan diri untuk tidak berlebihan mengonsumsi minuman memabukkan.
Ada seorang perempuan yang sudah kenal baik dengan mereka berdua karena dia juga salah satu pengunjung setia kelab tersebut sama halnya dengan Vanilla dan Joana dulu.
Perempuan itu menyapa mereka. "Sudah lama kalian tidak datang. Bagaimana kabar kalian?"
Vanilla menyuruh Mezty untuk duduk di tengah antara dirinya dan Joana. Sebelumnya Mezty berdansa dengan seorang lelaki tapi setelah melihat Vanilla dan Joana, Ia memilih untuk mendekat.
"Ada hal apa yang membuat kalian kembali lagi ke sini?"
"Joana butuh pelampiasan,"
"Kamu kenapa, Joana?"
Joana menggeleng enggan bercerita. Ia hanya ingin menikmati hentakan musik tanpa banyak berkata-kata.
"Aku merindukan kalian, omong-omong."
"Aku juga merindukan mu,"
"Setelah kamu ditemukan mabuk oleh suamimu di sini, kamu tidak pernah datang lagi."
"Kalau aku datang lagi, aku cari mati."
Tawa Mezty pecah mendengar ucapan Vanilla.
"Lalu sekarang kenapa datang? menemani Joana?"
"Ya, aku tidak akan membiarkan dia terpuruk sendirian di sini,"
"Oh kamu sedang melakukan apa yang pernah Joana lakukan padamu dulu ya? dia tidak pernah meninggalkanmu meskipun kamu usir habis-habisan,"
Mezty tahu betul bagaimana Joana dan Vanilla dulu. Mereka tidak pernah akrab. Vanilla tidak pernah peduli pada Joana sementara Joana sebaliknya. Meskipun Vanilla tidak menganggapnya sebagai sahabat, tapi Joana tetap menjadi pelindung untuk Vanilla.
"Iya, Joana begitu baik padaku."
"Semoga persahabatan kalian terus seperti ini. Jujur, aku iri. Karena aku tidak pernah seperti kalian dengan orang yang aku anggap sebagai sahabat,"
"Aku memiliki sahabat tapi aku merasa sendiri," lanjut Mezty masih dengan senyum nya. Tidak pernah mereka berbincang serius seperti ini. Dulu, mereka sibuk berfoya-foya bersama. Tidak pernah meluapkan masalah yang dialami oleh diri sendiri.
"Heh ada Vanilla,"
"Lho, ada Joana juga."
Ketiga perempuan itu menoleh saat ada suara yang menyapa mereka. Ganadian terkejut mendapati kedua temannya berada di tempat yang sama dengannya.
"Wah kalian ngapain datang ke sini? " Ganadian bertanya penasaran.
"Kamu belum tahu aku yang dulu ya? ini tempat kesukaan ku," jawab Vanilla dengan ringan hingga mengundang reaksi tak terduga dari Ganadian. Ganadian sampai terperangah mendengar pengakuan Vanilla.
"Hah? serius?! aku tidak percaya,"
"Terserah, kenyataan nya memang begitu,"
Ganadian menjabat tangan Mezty untuk berkenalan. Kemudian Ia bergabung bersama tiga perempuan cantik itu.
"Mereka memang sudah menjadi pengunjung setia. Tapi dulu," ujar Mezty membenarkan ucapan Vanilla. Ganadian mengangguk. Matanya beralih pada Joana yang terlihat melamun.
Ia mendorong bahu Joana hingga gadis itu tersentak. Kemudian Joana menatapnya tajam.
"Apa sih?! buat kaget saja,"
"Kenapa melamun?"
"Tidak melamun. Jangan sok tahu!"
Alis Ganadian terangkat saat Joana menjawabnya dengan ketus. Biasanya Joana tidak seperti itu. Ia memang dingin padanya, tapi selalu ramah bila diajak bicara.
"Jangan ganggu, dia sedang banyak pikiran," ucap Vanilla memperingati Ganadian. Ia mengajak Ganadian dan Mezty bicara sebagai pengalihan. Ia ingin Joana bisa menikmati waktu nya sendiri, di samping nya tanpa di ganggu.
"Pikiran apa?"
"Masalah perjodohan," suara Vanilla pelan tapi bisa didengar oleh Mezty dan Ganadian.
"Hah? memang dia jadi dijodohkan?"
__ADS_1
Vanilla mengangguk sebagai jawaban. Kalau tidak jadi, tidak mungkin Joana terlihat stress seperti ini.
"Tolak, Joana. Kalau kamu memang tidak menginginkannya, kenapa tidak kamu tolak saja?"
"Dia pasti sudah melakukannya, Ganadian." ujar Mezty yang diangguki oleh Lovi. "Dia sudah menolak, tapi calon suaminya tidak melakukan hal yang sama padahal katanya tidak mencintai Joana,"
"Kenapa bisa begitu? kalau memang tidak ada perasaan apapun, kenapa dia mau menikahi Joana? jelas-jelas itu akan merugikan mereka berdua,"
"Aku juga bingung," Vanilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal bukan dia yang berada di posisi Joana, tapi dia yang merasa bingung dan kesal.
"Kalau ada masalah, sebaiknya jangan ke kelab, Joana. Apalagi tanpa teman. Bisa membahayakan dirimu,"
"Tapi 'kan ada aku di sini,"
"Ya, aku tahu, Vanilla. Tapi kalau seandainya tidak ada kamu, sebaiknya Joana tidak datang ke kelab sekalipun masalah yang dia hadapi sangat berat. Bukannya menyelesaikan, bisa jadi malah menambah masalah."
"Aku juga dulu begitu. Ada masalah atau tidak ada masalah, pelampiasan nya adalah tempat ini,"
Ganadian menggeleng pelan. Ternyata mereka sama saja. Memang sulit untuk mengendalikan diri. Apalagi saat sedang diterpa masalah, pasti ada keinginan untuk bebas melakukan apapun dan ingin bersenang-senang dengan teman-teman sepanjang malam agar lupa dengan semua masalah yang terjadi.
"Bawa tidur saja. Nanti juga penat mu hilang,"
"Tidak bisa, rasanya ingin mabuk agar bisa sejenak melupakan masalah itu," jawaban Vanilla yang sangat jujur membuat Ganadian berdecak. Lelaki itu mengetuk kening Vanilla hingga yang punya meringis.
****
Jhico tidak henti melihat ponsel, barangkali ada pesan masuk dari istrinya. Tapi ternyata tidak ada. Ia berdecak kesal sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi Vanilla.
Satu kali deringan belum di jawab.
Yang kedua kali, barulah Vanilla menjawab panggilannya. Suara musik yang begitu keras membuat Jhico kebisingan. Ia sampai menjauhkan ponsel dari telinga.
"Kapan aku menjemputmu?"
"Nanti aku kabari,"
"Kamu tidak apa-apa di sana? kamu baik-baik saja 'kan?"
"Ya, ada Ganadian juga di sini."
"Iya,"
"Kamu menyuruh dia untuk datang?" nada bicara Jhico berubah jengkel. Awas saja kalau Vanilla menjawab 'ya' maka Jhico tak akan segan-segan untuk mengomeli istrinya itu setelah mereka bertemu nanti.
"Tidak, kebetulan dia juga sedang berkunjung."
"Benar begitu?"
"Iya, aku tutup teleponnya ya. Sedang seru sekarang,"
"Maksudmu?"
"Aku sedang berbincang dengan teman-teman lama ku,"
Yang dimaksud Vanilla adalah orang-orang yang menjadi temannya selama di kelab dulu. Bukan hanya Mezty yang menyadari kehadiran Vanilla. Semakin malam, ada saja yang datang menyapa Vanilla dan mengatakan bahwa mereka rindu. Mereka sedikit terkejut saat melihat Vanilla mengunjungi tempat itu lagi tapi tak bisa dipungkiri kalau mereka senang karena akhirnya bisa melihat Vanilla yang telah banyak berubah.
****
Milano menatap gedung di depannya dengan datar. Ia tak habis pikir calon istri nya datang ke tempat yang begitu ramai ini. Sekitar lima menit Ia hanya berdiri, dan tak sedikit pengunjung keluar dengan kondisi mabuk.
Milano memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia langsung disambut dengan hentakan musik dan banyaknya pengunjung yang tengah berdansa.
Mata tajam lelaki yang akan menikahi Joana itu menatap sekitar dengan tajam dan fokus untuk mencari Joana.
Rupanya gadis itu tidak mengambil tempat yang begitu dalam sehingga Ia bisa dengan mudah menemukannya. Di sana Joana bersama beberapa perempuan, ada juga seorang laki-laki. Mereka terlihat begitu akrab satu sama lain. Terutama dengan lelaki itu. Kenapa dengan dirinya, Joana tak bisa seakrab itu?
Milano menghampiri Joana. Vanilla dan teman-teman lama nya nampak menatap bingung ke arahnya sementara Joana membeku di tempat. Tujuannya datang ke kelab untuk menghindari semua bayang-bayang tentang Milano dan perjodohan itu tapi kenapa sekarang Milano ada di hadapannya?
"Bisa kita pulang sekarang, Joana?"
"Kau siapa?" tanya Vanilla dengan santai. Ia tidak kenal lelaki itu tapi mengajak Joana untuk pulang.
"Aku Milano,"
"Aku tidak tanya nama lebih tepatnya. Siapa kau sampai lancang mengajak temanku untuk pulang bersama? dia akan pulang bersama ku,"
__ADS_1
"Tanyakan pada dia langsung,"
Ganadian dan yang lainnya menjadi penonton sekarang. Mereka semua menatap Joana. Joana segera menjawab pelan karena Ia ditatap sangat intens oleh Vanilla sebab Vanilla meminta jawaban.
"Dia calon suamiku, Van."
"Ayo, Joana. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu di sini," ujar Milano dengan nada datar nya.
"Aku bisa pulang sendiri. Dan aku tidak meminta kamu untuk menunggu ku,"
"Milano, bisa kita bicara sebentar?" tanya Vanilla yang dijawab gelengan oleh Milano.
"Tujuanku ke sini hanya untuk menjemput Joana,"
"Cih sombong sekali kau. Teman ku hanya ingin kau tidak egois," Ganadian menjawab seraya berdecih. Ia tahu apa yang akan dibicarakan Vanilla dan Milano menolak untuk mendengarkan itu. Ia menjadi emosi sekarang.
"Aku egois?"
"Sepertinya kalian ada masalah, Joana, Milano. Lebih baik selesaikan berdua dan bukan di sini tempatnya,"
"Tidak ada masalah apapun. Aku hanya ingin menjemput Joana. Ayo, Joana. Kita pulang sekarang,"
Lengan Joana ditarik untuk bangkit dari duduk. Ganadian bereaksi. Ia mendorong bahu Milano hingga Milano hampir tersungkur.
Vanilla menahan Ganadian agar tak berbuat kekacauan di sini. Vanilla meminta Joana untuk ikut pulang bersama Milano karena hari juga semakin larut. Sebenarnya sejak tadi Ia sudah mengajak Joana pulang, tapi Joana selalu menolak.
Akhirnya Joana menuruti keinginan Milano. Ia bangkit dan melepaskan cengkraman erat dipergelangan tangannya yang disebabkan oleh Milano.
Vanilla dan Ganadian ikut keluar memastikan Joana baik-baik saja. Mereka berdua sudah pamit pada teman-teman Vanilla dan Joana.
"Dia calon istrimu 'kan? kenapa kau memperlakukan dia dengan kasar?"
"Jangan ikut campur!" sentak Milano yang hilang kesabaran. Ia sudah rela merasakan tidak nyaman di dalam sana demi ingin melihat kondisi Joana, dan sekarang ada yang menjelma menjadi sosok pelindung untuk Joana entah siapa namanya.
"Aku tidak akan kasar kalau dia tidak membantah ucapanku,"
"Dia tidak membantah mu, Milano. Dia menuruti apa maumu. Kalian bisa pulang sekarang,"
Vanilla menengahi. Ia bisa melihat Milano dan Ganadian saling memberi tatapan tajam. Tiba-tiba saja Ganadian memberi pukulan di wajah Milano. Vanilla dan Joana kompak berteriak terkejut. Vanilla berusaha memisahkan mereka berdua begitupun dengan Joana.
Saat ini di wilayah depan kelab sedang sepi, tidak ada pengunjung yang masuk. Dan bagian keamanan entah berada dimana.
Ganadian melakukan itu karena dipengaruhi oleh minuman memabukkan juga. Ia menjadi liar seperti ini diluar dugaan Vanilla.
Mereka berdua laki-laki sementara yang memisahkan adalah perempuan dan hanya dua orang. Tentu saja akan kalah.
Milano yang tidak terima disakiti seperti itu langsung memberi balasan. Vanilla dan Joana semakin panik.
Ganadian pun ingin melancarkan aksinya lagi. Ia mendorong Vanilla yang menahan bahu nya agar tidak maju mendekati Milano yang saat ini dalam kendali Joana.
Beruntungnya Vanilla tidak mendarat di aspal. Ada laki-laki yang menjadi penopang Vanilla, yaitu Jhico, suami Vanilla sendiri.
"Nillaku, kamu tidak apa?"
"Aku tidak apa-apa,"
"Hey, berhenti!" seru Jhico menghentikan aksi mereka. Jhico juga bergerak untuk memisahkan kedua lelaki yang sedang dipengaruhi emosi itu. Suara keras Jhico membuat bagian keamanan datang. Mereka baru sadar ada pertengkaran di tempat mereka bekerja itu.
Mereka datang menghampiri dan bertanya baik-baik. "Ada apa ini?"
"Tidak seharusnya kalian bertengkar di sini. Bisa kalian pulang sekarang?!" tanya Jhico dengan kemarahan di matanya. Mereka berdua sudah hampir menyakiti istrinya. Itulah yang membuat dirinya marah.
Joana segera menarik tangan Milano untuk masuk ke dalam mobilnya. Sementara Ganadian di dorong pelan oleh pihak keamanan. Mau tak mau Ganadian juga angkat kaki.
"Mereka sudah lama bertengkar?" tanya Jhico pada istrinya.
"Tidak juga,"
"Dan kau tidak tahu apapun soal itu?" Jhico menatap pihak keamanan dengan tajam. Ia menggeleng hingga membuat api kemarahan Jhico semakin berkobar. Beruntung ada dirinya yang berhasil menyelamatkan Vanilla. Kalau dia terjatuh lalu terjadi sesuatu pada kandungan nya, Jhico tak bisa membayangkan akan sekacau apa dia.
Beruntungnya juga Vanilla dan Joana tidak terkena pukulan mereka tadi. Ia melihat dengan jelas Vanilla dan Joana berdiri ditengah mereka berdua yang melakukan aksi saling memukul.
--------
Hai semuaaaa. Pa kabs? smg sehat selalu yaa. Akyu dtg bawa si Panil dan donat jeko nih. Ada yg udh nunggu. Ga ada? yahh sad akutu :'( meskipun ga ditunggu tp boleh minta like, vote, dan komen nya ga? boleh yaa?👉👈 *ngarep plakk😂 Maaciw bwt kalian yg baik hatinya 🤗❤️
__ADS_1