
"Cucuku mengundang Grizelle untuk hadir ke acara ulangtahunnya. Kalau bisa cucumu datang ya,"
Thanatan mengangguk dengan keraguan dalam hatinya. Seingatnya tidak pernah Grizelle hadir di acara-acara yang berkaitan dengan temannya. Misal cucu temannya mengadakan pesta ulangtahun, Ia tidak pernah mengatakan pada Grizelle bahwa Grizelle diminta untuk hadir karena semua temannya tahu cucu Thanatan hanya Grizelle saja untuk saat ini.
"Jangan lupa sampaikan pada Grizelle,"
Thanatan lagi-lagi hanya mengangguk sebelum akhirnya teman kerjanya itu beranjak dari ruang meeting.
Di ponselnya juga sudah dikirimkan undangan digital itu ditambah lagi tadi diundang secara langsung.
Tak ingin ambil pusing dan sepertinya undangan itu akan berakhir sama seperti sebelum-ssbelumnya dimana tidak Ia sampaikan, Ia memilih untuk makan siang di ruangannya. Bicara pada sekretaris menggunakan intercom agar meminta tolong pada chef kantor menyediakan makan siang untuk dirinya.
"Baik, Tuan." patuh sekretarisnya setelah itu Thanatan langsung mengakhiri panggilan intercom.
Ia mengusap wajahnya lalu menyandarkan tubuhnya yang lelah di kursi kebesarannya.
Sudah lewat tengah hari dan ia baru sempat mengisi perutnya. Dan selama ini Ia terbiasa seperti itu.
"Kakek jangan lupa rrlajin (rajin) makan ya. Istirralaht (istirahat) juga yang cukup. Jangan kerrlja terrlus (kerja terus),"
Entah mengapa Thanatan jadi mengingat kalimat dari Grizelle setiap bertemu dengannya. Selalu pesan itu yang keluar dari mulutnya.
******
Keyfa benar-benar me-make over barbie nya dengan style seperti ingin pergi ke pesta. Mengenakan gaun, high heels, serta crown kecil di kepalanya.
"Griz, lihat punyaku,"
"Bagus,"
"Tentu saja. Aku yang mendandani barbienya,"
"Ya sudah, itu kamu bawa pulang saja,"
"Serius, Griz?"
Grizelle mengangguk sembari mengikat rambut barbienya yang panjang.
"Bawa pulang barbienya,"
"Grizelle,"
Grizelle menoleh saat pintu ruang playground nya terbuka. Ia menemukan Nada yang berdiri di depan pintu.
"Griz, Pupu sudah pulang,"
Grizelle langsung keluar dari kamar untuk menemui ayahnya yang baru selesai bekerja.
"Pupu, yeayy sudah pulang,"
__ADS_1
Jhico meraih anaknya dalam rengkuhan dan diberikan kecupan bertubi-tubi di kening dan pipinya.
"Pu, ada Keyfa di sini,"
"Oh kalian bermain?"
"Iya, aku pulang dari sekolah, Keyfa datang,"
"Ya sudah, lanjutkan bermainnya. Pupu mandi dulu,"
"Setelah itu makan ya, Jhi,"
Jhico mengangguk mendengar ucapan istrinya yang baru saja menyambutnya juga kemudian Ia mengecup kening Vanilla dan juga perutnya.
"Griz belum lelah bermain?"
"Masih ada barrlbie (barbie)yang mau aku make overrl (over), Mu,"
"Iya, tapi nanti makan bersama Pupu ya,"
"Iya, aku ajak Keyfa juga,"
Grizelle segera kembali ke playground nya untuk melanjutkan kegiatannya tadi. Setelah itu Ia mengajak Keyfa untuk ke ruang makan.
"Aku sudah lama di sini. Aku harus pulang. Pasti sebentar lagi ayah dan ibuku datang,"
"Makan saja dulu. Tidak boleh pulang sebelum makan," tegas Grizelle seraya menarik tangan Keyfa agar menuju ruang makan.
"Hallo Kakak dokter," sapa Keyfa pada Jhico yang tersenyum membalas.
"Ayo kita makan," seru Grizelle pada mereka yang ada di meja makan.
****
Karina tak ada kesibukan ketika suaminya pulang dari kerja. Sementara suaminya itu mandi, Ia lebih memilih untuk berselancar di ponsel sang suami.
"Jarang sekali aku melihat-lihat isi ponselnya,"
Tak ada niat untuk mencurigai sama sekali, tapi Karina sedang ingin melihat ponsel suaminya. Selama ini hampir tidak pernah Ia melakukan itu karena Ia sangat percaya dan Ia yakin isinya pasti tidak jauh dari pekerjaan.
Benar saja, begitu Ia buka pesan, banyak sekali pesan yang berkaitan dengan pekerjaan suaminya dan hal itu membuat Ia berdecak.
"Membosankan sekali," keluhnya saat tak ada yang menarik dari ponsel pintar dan canggih milik sang suami. Berbeda dengannya, Thanatan sama sekali tidak bermain sosial media. Mungkin punya tapi tidak aktif, Karina juga tidak tahu. Sementara untuk Karina sendiri lumayan aktif. Sebagai pelampiasannya ketika suntuk sebagai wanita karir.
Thanatan keluar dari kamar mandi seraya mengacak rambutnya dengan handuk kecil. Ia mengerinyit melihat kegiatan istrinya sekarang. Tak biasanya Karina memegang ponsel miliknya.
Ia segera mendekat dan mengambil benda tipis persegi itu dari tangan sang istri. Ia juga menatap datar pada Karina.
"Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Aku hanya melihat-lihat saja. Tidak ada maksud apapun," ucap Karina seraya tersenyum.
"Oh iya, tadi aku baca ada pesan dari Thomas. Dia mengirim undangan. Itu undangan apa? aku belum sempat membacanya tadi,"
"Cucunya berulang tahun,"
Karina mengangguk, "Lalu?"
"Lalu apa?"
"Dia mengundang kamu?"
"Grizelle,"
"Oh mengundang Griz. Lalu sudah kamu sampaikan undangannya pada Jhico biar disampaikan Jhico pada Grizelle?"
Thanatan menggeleng enggan. Ia beranjak ke walk in closet usai meletakkan ponselnya di nakas lagi.
Karina mendengus kesal. Dengan cepat Ia membuka ponsel suaminya lagi kemudian dengan gesit meneruskan undangan itu pada putranya.
Biar saja Thanatan marah Ia melakukan itu. Ia rasa tak ada salahnya Jhico menerima undangan tersebut. Barangkali Jhico mengizinkan putrinya untuk datang karena sudah diundang. Kalaupun tidak, yang terpenting undangan itu tidak hanya tertahan di Thanatan saja melainkan sudah sampai pada Jhico.
Thanatan kembali dan Karina sudah selesai dengan kegiatannya.
"Makan," ajak Karina pada suaminya.
Thanatan mengangguk dan meraih ponselnya kemudian mengikuti istrinya ke lantai bawah untuk makan malam.
"Sebenarnya aku sudah makan di kantor tadi,"
"Oh, jadi sekarang tidak makan lagi?"
Thanatan menggeleng namun tetap duduk di ruang makan. Ia tahu akan pulang sangat malam. Terbukti pukul dua belas malam Ia baru pulang. Jadi, ia memutuskan untuk makan malam di kantor pukul tujuh malam tadi. Ia tidak ingin makan terlalu malam atau ketika sampai di rumah.
"Padahal aku sudah menunggumu," gumam Karina sedikit kesal karena Thanatan sudah makan lebih dulu sementara dirinya sudah menunggu Thanatan datang sejak tadi untuk makan bersama.
"Kenapa tidak makan saja? kenapa harus menunggu aku? terkadang kamu makan lebih dulu,"
Karina memutar bola matanya kesal. Memilih tak menjawab, Ia menikmati makan malamnya saja.
"Aku kira kamu pulang pukul dua,"
"Sudah mengira begitu kenapa tidak makan saja,"
"Ternyata pukul dua belas sudah pulang," Karina tak menanggapi ucapan Thanatan sebelumnya.
"Jadi kamu hanya melihat aku makan saja?"
Thanatan tak bereaksi. Ia justru berkutat dengan ponselnya sekarang. Membantah anggapan Karina bahwa Ia melihat Karina makan. Untuk apa? kurang kerjaan sekali dirinya. Ia bukan lagi laki-laki yang baru menikah. Dimana setiap saat harus memandang istri bahkan ketika makan sekalipun sementara sekarang ada beberapa email yang harus Ia periksa.
__ADS_1
"Sudah aku kirim undangannya pada Jhico," ungkap Karina. Thanatan belum memberikan reaksi apapun sehingga Karina berpikir bahwa suaminya belum tahu mengenai hal itu.