
Adrian menonton televisi sembari menunggu Grizelle dimandikan oleh Vanilla.
Adrian sudah mandi, makan, dan saatnya Ia bermain dengan Grizelle nanti setelah Grizelle mandi.
Saat Grizelle dipakaikan baju oleh Vanilla, Ia keluar kamar untuk mengambil minum. "Bibi, di sini tidak ada mainan ya?" tanya Adrian pada Bibi yang sedang mencuci piring yang baru saja dipakainya untuk makan.
"Boneka,"
"Iya, hanya boneka yang aku lihat. Yang lain tidak ada ya?"
"Tidak ada, Adrian. Anak perempuan mainan nya tidak jauh dari itu."
"Di rumah aku melihat boneka, di sini juga. Huh aku bosan,"
Bibi terkekeh membenarkan. Di kamar majikannya memang hanya ada boneka saja. Wajar karena Grizelle adalah perempuan. Dan tidak ada anak laki-laki di sini.
"Besok aku harus minta dibawakan mainan oleh Daddy,"
******
Adrian melirik anak perempuan di sampingnya dengan bingung. Ia nampak tidak suka saat melihat Grizelle adik sepupunya di pegang-pegang kakinya.
Grizelle tiba-tiba saja menangis. Karena bukan lagi Adrian yang mengajaknya bermain melainkan anak lain.
Saat ini sedang ada Keyfa. Keyfa datang ke klinik Jhico, kebetulan Jhico akan pulang. Lalu anak itu minta ikut ke apartemen ingin bertemu dengan Grizelle katanya.
"Nah kan menangis. Kamu sih!" omel Adrian pada Keyfa. Keyfa langsung menunduk begitu disalahkan. Melihat itu, Jhico langsung mengusap kepalanya.
"Tidak, terkadang Griz memang begitu dengan orang baru," hibur Jhico pada Keyfa.
Vanilla mendengar anaknya menangis langsung masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri Jhico yang memangku Grizelle.
"Tapi saat aku datang Griz tidak menangis. Malah terus tersenyum," bantah Adrian yang masih keras kepala menyalahkan Keyfa. Dari perbincangan itu, Vanilla bisa menarik kesimpulan bawa Grizelle menangis karena Keyfa.
Vanilla segera menggendong anaknya lalu menimangnya. Jhico yang paham kondisi langsung mengajak Keyfa dan Adian untuk bermain di luar.
"Maaf ya, kak dokter. Griz menangis karena aku,"
"Bukan karena kamu, Key. Sudah, jangan merasa bersalah begitu. Mungkin Griz sedang haus atau---"
"Griz sudah minum tadi, Uncle."
"Popoknya penuh, mungkin?"
"Baru diganti oleh Aunty. Uncle lupa?"
Jhico terdiam setelah Adrian menyanggah segala pendapatnya. Adrian memang terlihat tidak suka ketika Keyfa bermain bersama adik sepupunya. Sama halnya bila ada orang lain bermain dengan Auristella. Biarpun Ia dan Auristella kerap bertengkar tapi Ia begitu posesif.
__ADS_1
"Maaf, Adrian." gumam Keyfa. Adrian mengalihkan arah pandangnya. Hal itu menjadi perhatian Jhico. Jhico menggeleng pelan.
"Aku mau pulang, kak dokter."
"Benar, kamu pulang?"
"Iya, aku sudah lelah."
"Bukan karena Griz menangis 'kan?"
Keyfa menggeleng pelan. Jhico jadi merasa bersalah karena anaknya yang tiba-tiba saja menangis ketika dipegang kakinya oleh Keyfa dan setelah ditegur oleh Adrian, wajahnya semakin sedih saja. Padahal Ia tahu, Keya hanya merasa gemas dengan Grizelle.
"Okay, aku hubungi orangtuamu dulu."
Keyfa mengangguk dan membiarkan Jhico menelpon Ibu nya. Ia bersama Ibunya, Vivi ke klinik. Tapi saat mau ke apartemen, Keyfa hanya ingin dengan Jhico saja.
Sembari menunggu keyfa dijemput oleh orangtuanya, Jhico mengajak Keyfa dan Adrian bermain game kemudian menonton televisi.
Keyfa tidak sedih lagi, tapi mood Adrian tetap saja buruk. Setelah Keyfa pulang, barulah Adrian ceria lagi.
Jhico mengantar Keyfa ke lobi. Adrian diajak oleh Jhico untuk ikut ke lobi, tapi Adrian menolak. Ia memasuki kamar Vanilla. Ternyata Vanilla sedang menyiapkan pakaian kerja Jhico sementara Grizelle sudah tertidur.
Ia nyaman berada di walk in closet memperhatikan Vanilla. "Aunty, Keyfa itu nakal ya!" Ia membuat pernyataan tegas. Hal itu membuat Vanilla mengerinyit. Ia menoleh, menatap keponakannya.
"Kenapa bicara begitu?"
"Tidak boleh begitu. Griz tidak menangis karena Keyfa. Sepertinya Griz mengantuk, makanya dia menangis,"
"Tapi, Aunty---"
"Sudah, jangan bahas Griz. Nanti Uncle mu sakit hati,"
"Sakit hati? maksudnya?"
Vanilla menggeleng seraya tersenyum. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Jhico begitu menyayangi Keyfa dan sangat membela Keyfa bahkan sampai pernah bertengkar dengannya hanya karena membela Keyfa.
Jhico memasuki apartemen setelah mengantar Keyfa ke lobi dimana kedua orangtuanya sudah menunggu.
"Itu bisa dikerjakan besok, Bi."
Saat mengambil air minum, Jhico melihat Bibi tengah membersihkan meja makan. Semua sajian makan malam sudah tidak ada lagi di meja makan.
"Sudah biasa dibersihkan malam, Jhi. Jadi saat pagi tinggal di pakai untuk menyajikan makanan,"
"Setelah itu tidur, Bi."
"Iya, tenang saja."
__ADS_1
Jhico memasuki kamarnya. Ia tidak melihat Vanilla dan Adrian. Hanya Grizelle yang sedang tidur lelap.
Mendengar suara tawa Adrian dari walk in closet, Ia segera bergegas ke sana.
"Ssst jangan berisik. Suaramu bisa terdegar ke telinga Griz," ujar Vanilla pada Adrian.
Adrian membungkam mulutnya. Kemudian tertawa pelan. Tadi Ia tertawa karena Vanilla menggelitikinya yang sangat penasaran dengan ucapan Vanilla tentang Keyfa sampai bertanya berkali-kali. Vanilla yang kesal akhirnya menggelitik perut keponakannya itu.
"Adrian, kenapa belum tidur?"
Suara Jhico membuat mereka berdua menoleh. Adrian menggeleng kemudian menengadahkan tangannya pada Jhico.
"Aku boleh pinjam ponsel? aku belum bicara dengan Daddy dan Mommy malam ini,"
Jhico mengangguk, tentu saja Ia membolehkan. Lelaki itu mengambil ponselnya di dalam saku celana cargo sebatas lutut yang Ia pakai.
Adrian mencari nomor Daddy nya di ponsel Jhico. Setelah dapat, Ia segera memanggil.
Sementara Adrian menunggu panggilannya dijawab, Jhico menghampiri istrinya yang baru saja menutup almari. Vanilla sudah menyiapkan baju kemeja pendek dan celana bahan berwarna cokelat susu yang senada dengan bajunya untuk Jhico bekerja.
"Hallo, Daddy."
"Hallo, Sayang. Baru saja Daddy mau telepon,"
"Daddy dan Mommy sedang apa?"
Adrian diajak kembali ke kamar oleh Jhico dan Vanilla, Ia mengikuti. Kemudian anak itu duduk di sofa.
"Menonton saja dengan Auris,"
"Adrian, kamu tidak mencari Mommy?" suara Lovi terdengar menyapanya.
"Tadi aku tanya tentang Mommy. Aku mencarimu, Mom."
"Tidak nakal hari ini? setelah Daddy tinggal bekerja, masih menjadi anak baik 'kan?"
"Iya, Aku tidak membuat Griz menangis. Tanya saja dengan Griz kalau tidak percaya. Tapi dia sedang tidur," jawab Adrian seraya menatap Grizelle yang lelap sekali di tengah ranjang bersama Mumu dan Pupu nya yang menunggunya selesai menelpon.
"Ya sudah, kamu tidur ya."
"Okay, Mom. Bye Dad, Mom. Bye juga Auris,"
"Bye," tidak hanya suara Devan dan Lovi yang terdengar. Auristella yang sudah menguasai lebih banyak kata, juga menyahuti salam perpisahan dari kakaknya.
Setelah Adrian selesai menelpon, Ia segera menaiki ranjang sehingga Jhico undur diri dari ranjang. Seperti biasa, selama Adrian menginap di sini, Ia akan mengalah tidur di kasur yang berbeda. Agar Adrian bisa tidur dengan Auntynya dan juga adik sepupunya.
__ADS_1
Udh baca Ex part MCH kan? pas gede Andrean sama Adrian pocecip bgt sama adeknya. Apalagi Adrian. Ternyata dr kecil dia emg bgitu guyss😂😂