
"Bekerja? kamu yang benar saja, Devan,"
Lovi menegur suaminya yang usai berpakaian malah meraih laptop dan beranjak keluar yang bisa Lovi pastikan lelaki itu akan ke ruang kerjanya, bukan malah mengambil makanan yang sudah Ia bawakan dan menyantapnya.
"Sebentar, Lov. Ada--"
"Makan, setelah itu istirahat," pinta Lovi dengan nada lembut namun tak ingin dibantah. Suaminya sudah benar-benar aneh. Disaat kondisinya yang belum sempurna membaik, dia malah memikirkan pekerjaan? memang bisa? Devan sendiri bilang kepalanya pening. Sekarang sudah mau bergulat dengan pekerjaan.
"Sebentar, setelah itu aku akan mak--"
"Sekarang, Sayang. Bukan nanti," ujar Lovi dengan senyum yang dipaksakan. Tersenyum disaat hati kesal sangat sulit dilakukan. Tapi Lovi harus melakukan itu agar suaminya mengerti.
Lovi diliputi khawatir sejak tadi dan ingin Devan langaung beristirahat usai mengisi perutnya, tapi lelaki itu malah memilih kegiatan lain.
Devan menghela napas pasrah. Ia meletakkan kembali latopnya kemudian mengambil makanannya dan Ia duduk di sofa.
Lovi yang melihat itu, akhirnya tersenyum lega. Devan mau mendengar ucapannya.
Ia duduk di tepi ranjang memperhatikan suaminya menyantap makan malam.
"Kamu tidak makan?"
"Kamu saja dulu. Aku akan makan nanti,"
"Makan denganku sekarang," pinta Devan pada istrinya seraya melirik sisi kosong di sampingnya.
Lovi menggeleng, Ia bisa makan sendiri nanti. Lagipula makanan itu sudah Ia siapkan untuk suaminya saja, bukan untuk berdua dengan dirinya.
"Ayo, Lov. Temani aku makan. Kamu juga harus makan,"
"Aku nanti saja, Devan. Aku ingin memastikan dulu kamu memakan itu sampai habis,"
"Ya ampun, Lov. Aku kalau makan tidak ada cerita tidak habis. Pasti selalu habis apalagi kalau kamu yang memasak. Jadi ayo makan denganku, cantik,"
Lovi merotasikan bola matanya mendengar bujuk rayu sang suami yang terdengar manis sekali.
"Makan denganku, Lov. Ayolah," bujuk Devan masih belum menyerah. Ia bahkan memasang ekspresi memohon agar Lovi bersedia makan bersamanya.
"Tidak cukup, itu hanya cukup untuk kamu,"
"Cukup, ayolah makan denganku,"
Devan terdengar seperti merengek dan itu membuat Lovi terkekeh geli.
__ADS_1
"Mabuk membuatmu seperti ini, Devan?"
"Aku sudah tidak mabuk lagi,"
"Tapi matamu tak bisa berbohong,"
Mata Devan masih terlihat sayu dan berbeda dengan sorot yang biasanya maka Lovi yakin suaminya masih dipengaruhi alkohol.
"Ini karena mengantuk, Lov,"
"Lalu kenapa masih mau bekerja? hm?" alis Lovi naik menuntut jawaban suaminya yang kini terkekeh meringis.
"Aku tidak bekerja. Tapi kamu makan denganku," kali ini Devan memberi penawaran. Lovi menautkan alisnya "Aku melarangmu bekerja sekarang ini untuk kebaikanmu,"
"Ya sudah, aku akan langsung istirahat nanti. Tapi sekarang kamu temani aku makan ya. Karena aku tidak yakin kamu akan benar-benar makan nanti,"
"Aku pasti mak---"
"Makan denganku sekarang,"
Akhirnya Lovi mendekati suaminya, duduk di samping lelaki yang sudah menjadi ayah dari ketiga anaknya.
Devan tersenyum puas, akhirnya Lovi bersedia makan bersamanya. Ia tidak mau bila Lovi hanya memperhatikan Ia makan. Meskipun wanita itu mengatakan pasti akan makan, tapi Devan tidak yakin. Sebab Lovi sering lebih memlih untuk melewatkan jadwal makannya bila tak ada teman saat menyantap entah itu Devan atau ketiga anaknya.
Devan menyuapi istrinya. "Makin lezat kalau aku yang menyuapi kamu 'kan?" lelaki itu menaik turunkan alisnya.
"Kamu sudah jauh lebih baik?"
"Ya, tapi masih lesu saja. Inginnya tidur,"
"Ya, maka setelah ini langsung tidur,"
Lovi memperhatikan mata suaminya yang masih merah sedikit. Tatapannya pun masih tidak fokus. Tapi ketika diajak bicara Ia bisa dan tahu arahnya.
"Kamu saat di telepon tadi meracau saja. Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan,"
"Tapi aku menjawab pertanyaanmu, Lov. Mungkin suaraku saja yang kurang jelas. Namanya juga baru minum,"
"Ya, dan itu membuat aku tambah khawatir. Aku pikir setelah kita bicara, kamu tak sadarkan diri,"
Devan tertawa geli mendemgar penuturan istrinya. Sebesar itu rasa cemas yang dimiliki Lovi untuknya.
"Harus sering mabuk lagi biar tidak cupu seperti tadi. Biasanya aku lebih dari ini, tapi aku masih kuat melakukan apapun,"
__ADS_1
Lovi mencubit otot bisep suaminya hingga pria itu meringis perih.
"Lakukan saja, habis itu tidak usah pulang ke rumah"
"Okay, ke hotel kalau begitu,"
Lovi menggertakkan giginya geram. Kedua tangannya sudah mengepal dan Devan semakin semangat membuatnya kesal.
"Tapi serius, Lov. Kalau aku sedang pergi bekerja ke suatu tempat tanpa kamu, tak jarang diajak minum oleh rekanku. Setelah itu aku akan kembali ke hotel,"
"Oh begitu. Jujur sekali ya,"
Lovi menganggukan kepalanya beberapa kali. Sepertinya karena masih ada sedikit pengaruh alkohol, Devan jadi kelewat jujur.
"Tapi di hotel hanya tidur, Lov,"
"Oh tidur? tidur sendiri?"
"Iya, memang tidur dengan siapa lagi? tidak ada kamu jadi aku tidur sendiri," kata pria yang sudah memiliki tiga anak itu.
Lovi mendengus merasa sulit percaya pada suaminya. Tapi biasanya kalau sedang mabuk, orang akan berkata jujur. Ini mungkin kesempatan untuknya menggali yang lebih dalam.
"Selama bersamaku, masih suka kencan dengan wanita lain?"
"Tidak lah! tidak pernah. Kalau mabuk masih suka. Tapi kalau untuk yang satu itu, tidak. Tidak sama sekali,"
Berkali-kali Devan mengatakan 'tidak' yang berarti bahwa lelaki itu sadar bahwa saat ini penting untuknya meyakinkan sang istri.
"Mabuk pun tidak gila seperti dulu, Lov. Karena aku tahu hidupku ini harus berubah. Tapi kamu tahu 'kan kalau semua perlu proses?"
"Kalau memang ingin sekali, atau sedang ada yang mengajak, aku akan minum. Tapi untuk pengkhianatan, tidak pernah. Aku serius,"
Menunjukkan keseriusannya, Devan meraih tangan wanita yang telah melahirkan tiga malikat kecilnya itu dengan erat. Bahkan ia sampai meletakkan makanannya di atas pangkuan.
"Aku percaya. Karena kamu sepertinya masih mabuk jadi aku yakin kamu jujur,"
"Astaga, aku sudah sadar sepenuhnya ini, Lov. Jawabanku saat mabuk maupun tidak, akan tetap sama. Aku tidak pernah lagi kencan dengan wanita lain setelah aku yakin bahwa aku memiliki masa depan yang indah denganmu,"
Lovi terkekeh pelan. Ia mengangguk, sangat percaya. Kalau Devan bohong, pasti hati kecilnya akan mendorong Ia untuk tidak percaya pada Devan. Tapi kenyataannya tidak. Hati kecilnya bahkan ikit meyakinkan bahwa yang Devan katakan adalah sebuah kejujuran.
"Ya sudah, cepat suapi aku lagi,"
Devan memenuhi keinginan istrinya yang sudah membuka mulut. Terlibat obrolan seperu tadi membuat kegiatan makan malam mereka sempat terhenti.
__ADS_1
"Maaf ya sudah membuatmu cemas,"
"Bukan hanya aku sebenarnya. Triple A dan Icelle juga. Tadi, saat aku mengambilkan makan malam untukmu, mereka langsung bertanya tentang kamu,"