Nillaku

Nillaku
Nillaku 360 Auristella jatuh sakit


__ADS_3

Vanilla langsung beralih ke dapur stelah mendapati anaknya yang terlelap kembali dan kini Ia sudah selesai memasak hanya tinggal menunggu matang dan Ia menyerahkan pada Bibi.


Ia khawatir Grizelle sudah bangun dan akan bersiap sekolah. Begitu masuk ke kamar, rupanya benar. Putrinya sudah bangun tapi sedang duduk melamun di ranjang mengumpulkan nyawanya usai tidur.


"Kenapa, Sayang? hm?"


"Tidak apa, Mu,"


"Seperti kemarin, Mumu bersihkan saja badannya tidak usah mandi,"


Grizelle menunduk ke bawah. Ia melihat ke bawah dan masih ada ayahnya.


"Pupu,bangun. Sudah pagi,"


Grizele menatap Mumunya. "Pupu tidak bekerlja (bekerja) Mu?" tanya anak itu.


"Kerja, Sayang. Tapi praktik jam sepuluh,"


"Oh, pantas Pupu santai, belum mau bangun,"


"Tadi sudah bangun sebenarnya. Pupu melihat Mumu memasak sebentar setelah itu tidur lagi,"


"Kenapa tidak pindah ke samping aku saja?"


"Entah, coba nanti tanya Pupu ya,"


Vanilla melakukan tugasnya senagai seorang Ibu. Ia takut luka anaknya semain parah maka Ia tidak memandikan Grizelle melainkan hanya di lap dengan air hangat saja di kamar mandi.


Grizelle sembari memainkan shower ketika Mumunya membersihkan tubuhnya.


Tak sengaja Ia menekan shower hingga airnya keluar dari sana dan hampir saja mengenai lukanya.


Grizelle berteriak panik yakut lukanya disentuh air. Vanilla berdecak oelan. Grizelle menatap Mumunya dan tersenyum meringis.


"Maaf, Mu,"


"Kalau airnya menyentuh luka, percuma Mumu tidak memandikan kamu,"


"Maaf ya, Mu. Aku tidak berrlmain (bermain) ini lagi,"


Ia segera melmpar shower. Tidak ingin Mumunya matah. Ia tadi hanya kurang kerjaan saja. Maka memainkan shower.


Telinga Jhico menangkap suara terikan putrinya. Dengan tanggap Ia beranjak ke kamar mandi yang ternyata dikunci.


"Sayang, kenapa berteriak? kamu sedang apa di dalam?"


"Lagi aku bersihkan, Jhi," terdengar suara Vanill dari dalam yang membuat Jhico tenang. Ia pikir Grizelle sendirian di kamr mandi.


"Kenapa Griz berteriak?"


"Hampir mengenai lukanya dengan air,"


"Griz, jangan main-main begitu, Sayang,"


"Iya, Pu. Okay," sahut Grizelle seraya terkekeh pelan. Ia sudah membuat Pupunya panik tadi.


"Maaf ya, Pu, jadi membangunkan Pupu,"


"Ya, tidak apa,"

__ADS_1


Jhico menjauh dari pintu kamr mandi. Ia melipat bed cover yang dipakainya semalam. Kemudian Ia keluar dari kamar anaknya.


Setelah bersih, Vanilla membantu Grizelle keluar dari kamar mndi. Vanilla bergegas mengmbil obat luka Grizele beserta kassa dan plesternya.


Luka Grizelle belum Ia bersihkan. Mka akan Ia bersihkan sekarang. Ia membuka dengan pelan pembalut luka anaknya. Kemudian membersihkannya dengan penuh kehati-hatian.


"Arghhh pelan, Mu. Sakit," Grizelle berteriak kencang ditengah Mumunya mengkbtim


"Ini sudah pelan, Griz,"


"Tapi sakit, haaaa,"


Mata Grizell berkaca dan akhidnya Ia menangis. Vanilla menatap anaknya sebentar. "Biasanya tidak menangis kalau dibersihkan,"


"Tapi ini sakit,"


Vanilla mnyelesaiknnya dengan cepat kemudiam Ia menenangkn putrinya. Jhico yang akan masuk ke kama tentu kaget mendengar tangis Grizelle. Ia membuka pintu dengan cepat.


"Kenapa menangis?"


"Sakit, Pu. Mumu berrlsihkannya (bersihkan) tidak pelan-peln,"


"Ya ampun, sudah pelan, Jhi. Aku serius. Biasanya juga Griz tidak menngis kalau dibersihkan," elak Vnilla tidak mau ditatap sebagai ibu yang jahat sekali. Ia sudah melakukannya dengan lembut. Mungkin memang sedang datang rasa nyerinya ketika Ia bersihkan maka Grizelle mengira bahwa Ia yang menyebabkan itu.


"Sudah selesai dibersihkan belum? kalau belum, biar aku,"


"Sudah. Tapi ini kamu saja yang membalut lukanya,"


"Tidak usah sekolah dulu ya? dan lukanya tidak perlu dibalut kalau di dumah,"


"Aku mau sekolah," ujar anak itu bersikeras di sela tangisnya. Vanilla menghapus air mata Grizelle yang belum apa-apa sudah deras saja.


"Istirahat dulu di rumah ya?"


"Sudah bersih semua. Griz hari ini di rumah dulu dan lukanya tidak perlu dibalut," kata Jhico sekali lagi. Ia hanya membersihkan lecet-lecet di kaki Grizelle saja tidak membalut puka yang di lutut.


"Tidur lagi ya?"


"Pupu, tapi aku mau sekolah,"


"Griz, dengarkan Pupu,"


Grizelle kemudian mengangguk saat Ayahnya menatap dalam padanya dan berujar lugas..


"Aku tidak mau tidurll (tidur) lagi. Aku mau makan,"


"Ya sudah, kita makan sekarang,"


Jhico menggenggam tangan putrinya kemudian mereka beranjak keliar dari kamar sementara Vanilla menata kamar putrinya terlebih dahulu sebelum mengikuti mereka berdua.


"Aku tidak mau duduk. Makan sambil berrldirli (berdiri) saja,"


"Duduk, Sayang,"


Makan sambil berdiri bagaimana ceritanya? Jhico bingung dengan permintaan anaknya itu.


"Aku takut nanti ketika naik ke kurrlsi (kursi), kaki ku malah menyentuh meja,"


"Tidak, ayo Pupu bantu,"

__ADS_1


Jhico memposisikan Grizelle di ataa kursi agar anaknya tidak naik sendiri. tidak mungkin juga Ia membiarkan Grizelle melakukan itu.


"Ayo, makan,"


"Pupu suapi aku ya,"


"Iya, boleh,"


Jhico tersenyum mencium singjat puncak kepala anaknya yang terkadang manjanya keterlaluan ini. Biasanya makan sudah sendiri, sekarang ingin disuapi. Biasanya juga bar-bar menaiki kursi atau turun dari kursi, sekarang jadi tidak berkutik.


****


"Auris demam,"


Lovi menyiapkan makanan untuk dibawa ke kamar putrinya yang kini demam.


Devan dan kedua anaknya menghentikan kegiatan makan pagi mereka.


"Demam? sejak kapan, Lov?"


"Semalam masih baik-baik saja. Tadi dia mengeluh sakit kepala. Saat aku sentuh keningnya, ternyata demam,"


Devan akan beranjak melihat kondisi anak mereka namun lovi memintanya untuk menyelesaikan sarapan terlebih dahulu.


Lovi kembali ke kamar Grizelle untuk membawakannya sarapan. Biar Auristella bisa segera minum obat.


"Sayang, bangun dulu ya. Makan setelah itu minum obat,"


"Nanti saja,Mom,"


Auristella mengeratkan pelukannya pada boneka. Ia menolak ajakan Mommynya.


"Harus sekarang. Supaya cepat minum obatnya dan cepat juga sembuhnya,"


Lovi membantu sang putri untuk duduk dengan menyelipkan tangannya di tengkuk Auristella.


"Ayo, makan dulu. Biar mommy suapi,"


Auristella terpaksa membuka mulutnya. Saat menyecap rasa dari makananya Ia mengerinyitkan kening.


"Aku tidak mau makan,"


Biasanya ia selalu menyukai buatan Lovi tapi kali ini tidak. Ia ingin tidur saja.


"Auris mau makan apa kalau tidak mau makan ini?"


"Aku tidak mau makan apapun, Mom,"


Memang dasarnya Auristella sedang tidak nafsu makan. Apapun yang masuk ke mulutnya akan dirasa tidak enak.


"Makan, sedikit saja. Setelah itu kamu minum obat. Dengarkan Mommy ya?"


Lovi membujuk putrinya agar menuruti ucapannya. Kalau dituruti tidak mau makan dan tidur terus, bagaimana bisa sembuh sementara tidak ada nutrisi dan obat yang masuk.


"Ayo, Sayang. Makan dulu,"


Lovi menahan lengan anaknya yang akan bebaring lagi. Akhirnya Auristella tidak membantah. Ia kembali membuka mulut dan Lovi menyuapinya dengan pelan.


"Aduh, tenggorokanku juga sakit, Mom,"

__ADS_1


Lovi menghela rambut putrinya ke balik telinga. Ia mengusap-usap tenggorokan Auristella.


"Harus makan, supaya bisa minum obat biar sakit kepalanya hilang, demamnya turun, dan tenggorkannya tidak sakit lagi,"


__ADS_2