Nillaku

Nillaku
Nillaku 135


__ADS_3

Devan mengantar adik dan keponakannya ke apartemen. Seperti yang dikatakan Vanilla pada Jhico tadi, Grizelle sudah diizinkan pulang sore ini setelah sebelumnya diperiksa oleh dokter untuk memastikan apakah Grizelle sudah benar baik-baik saja atau tidak.


Jhico dijaga oleh Karina, dan Vanilla juga sudah pamit pada suaminya untuk ke apartemen membawa Grizelle. Rencananya Vanilla akan kembali ke rumah sakit namun Jhico melarang. Separah apapun kondisinya, tetaplah Grizele yang harus diutamakan mendapat perhatian dari Vanilla.


"Terimakasih, Devan," ujar Vanilla saat mobil kakaknya tiba di apartemen.


"Kamu mengucapkan itu pada kakakmu? aku rasa tidak pantas," jawab Devan dengan senyum tipis khas nya.


Bukan hanya Devan, Lovi dan Rena pun turut menemani Vanilla dan Grizelle kembali ke apartemen.


Lovi turun membantu Vanilla yang menggendong Grizelle. Sementara Devan membawa tas pakaian keponakannya dan perlengkapan lain. Ia jadi belajar mandiri kalau ke apartemen adiknya. Berbeda sekali dengan di rumahnya yang apa-apa selalu dibantu maid.


"Kamu jadi ke rumah sakit lagi?" tanya Rena pada putrinya.


Vanilla menggeleng, Ia tak mungkin membantah suaminya. Kalau Ia datang lagi ke rumah sakit, bisa-bisa Jhico marah padanya karena meninggalkan Grizelle di rumah.


Meskipun Ia sangat ingin ke rumah sakit, menemani suaminya melewati masa-masa sulit.


"Tapi aku akan ke sana sesekali. Mungkin besok aku datang,"


Lovi terkekeh ketika melihat suaminya yang sedikit kesulitan mengangkut barang. Ketika ingin dibantu oleh Lovi, Devan menolak.


"Nanti kalau Adrian tahu, habis aku diledeknya. Masa seperti ini saja dibantu?"


Setelah selesai mengangkut, Devan, Vanilla dan Rena berbincang ringan sementara Lovi mengambil Grizelle dari gendongan Vanilla.


"Apa kata Adrian saat tahu Uncle kesayangannya kecelakaan?" Rena penasaran dengan reaksi cucu keduanya. Ketiga anak Devan itu sangat dekat dengan Jhico. Terutama Adrian yang kalau mau apa-apa dan kedua orangtuanya tak bisa memenuhi, pasti larinya ke Vanilla dan kalau Vanilla juga tidak bisa memenuhi, maka sasarannya adalah Jhico.


"Dia kaget, dan seperti biasa dia mau jenguk,"


"Besok bawa dia ke sini ya. Biar Grizelle ada temannya. Bawa Auris juga sekalian,"


"Anakku yang satu lagi tidak diundang juga?" tanya Devan seraya berkacak pinggang. Vanilla terkekeh geli kemudian menepuk keningnya.


"Anakmu ada tiga. Kenapa aku bisa lupa ya? Hahahaha,"


******


Malam menjemput Jhico masih setia dalam lamunannya. Karina mau mengajaknya bicara namun Ia takut Jhico masih kesulitan untuk bicara. Akhirnya Karina memilih untuk menonton televisi.


Jhico ingin memperbaiki posisi berbaringnya. Ia sedikit meringis dan hal itu membuat Karina menoleh.


"Seharusnya minta bantuan Mama, Co." Karina segera membantu anaknya untuk mendapatkan posisi yang nyaman.


"Sudah biasa melakukan semuanya sendiri, Ma." jawab Jhico dengan tawa yang samar.


"Sekarang tidak boleh sendiri. Kamu butuh bantuan,"


"Nenek belum ke sini sejak aku sakit?"

__ADS_1


"Sudah, saat kamu masih parah sekali. Nenek ingin menunggumu di sini, tapi Mama melarangnya. Besok pagi Nenek akan datang bersama Papa,"


"Papa akan datang juga?"


"Ya, omong-omong kamu sudah tahu siapa yang mendonorkan darahnya untukmu?"


"Sudah, orang baik itu adalah Ibunya Keyfa. Vanilla memberi tahuku,"


"Dia baik sekali ya. Dan kalau tidak salah kata Vanilla, Keyfa itu anak kecil?"


"Iya, dia pernah menjadi pasien ku,"


"Vanilla mengatakan kalian dekat sekali. Mungkin karena kedekatakan itu dia sampai memohon pada Ibunya agar membantu kamu,"


"Kami memang sangat dekat,"


"Vanilla tidak masalah dengan hal itu 'kan? karena dia anak kecil. Seharusnya Vanilla mengerti,"


Jhico terdiam. Karina tidak tahu kalau saat dirinya datang ke rumah sakit menjenguk Grizelle dimana Jhico dan Vanilla terlibat aksi diam, saat itulah terjadi perdebatan karena Vanilla yang salah paham dalam menanggapi kedekatan Jhico bersama Keyfa. Vanilla menganggap bawa Jhico lebih menyayangi Keyfa daripada Grizelle.


*****


Usai mandi, Vanilla sengaja menghubungi Karina melalui video call agar Ia bisa melihat Jhico.


Grizelle berbaring di sampingnya dengan mata terbuka. Ia belum tidur padahal sudah malam.


"Hallo, Ma. Ini ada Grizelle. Dia mau bicara dengan Pupu nya, boleh?"


Vanilla mengangguk dan menunggu dengan sabar. Suaminya tentu belum bisa cepat-cepat dalam melakukan suatu hal karena tubuhnya masih sakit.


Grizelle juga senantiasa menatap layar ponsel menunggu wajah Pupu nya menyapa.


Setelah Jhico keluar dari kamar mandi, Ia menatap Mama nya. "Vanilla telepon?"


"Iya, kamu berbaring dulu,"


Jhico mengangguk dan mematuhi apa yang dikatakan sang Ibu. Ia berbaring dengan posisi yang membuatnya nyaman lalu Ia menerima ponsel dari Karina.


"Hallo, Sayang."


"Kamu menyapa siapa?"


"Tentu saja Grizelle dulu..."


"Hallo, Nilla." lanjut nya yang membuat Vanilla mendengus. Ia lupa kalau sejak Grizelle lahir, Ia jadi yang kedua di mata siapapun.


Tapi itu menjadi bukti kalau Jhico memang benar menyayangi anak mereka. Vanilla sempat berprasangka buruk pada suaminya.


"Kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Sudah, kamu dan Grizelle sudah makan?"


"Sudah, aku rindu kamu, Jhi. Besok aku datang! kamu jangan melarangku, please. Griz akan dijaga oleh Mama,"


Vanilla sudah mewanti-wanti sejak awal. Ia akan datang ke rumah sakit dan jangan sampai Jhico melarangnya. Apa salahnya Ia datang sebentar? Lagipula ada Rena yang akan menjaga Grizelle di apartemen semetara Ia mengunjungi Jhico.


Perpisahan seperti ini baru pertama kalinya dialami oleh Jhico dan Vanilla. Rasanya benar-benar menyiksa apalagi sudah ada Grizelle di tengah-tengah mereka. Sedihnya semakin terasa.


"Okay, aku tunggu.


"Jangan ke sini terus. Grizelle---"


"Astaga, baru besok aku ke sana. Kenapa sih kamu melarangku terus?"


"Bukan begitu, Nillaku. Aku pikir, untuk apa kamu ke sini? Griz lebih butuh kamu daripada aku. Apalagi dia juga baru sembuh,"


"Besok hanya sebentar ke sana. Aku juga tidak mungkin melupakan Griz,"


Sementara kedua orangtuanya berbicara, Grizelle memperhatikan dengan mata bulatnya yang sesekali berkedip lucu.


"Griz, tidak mau mengatakan sesuatu pada Pupu?" tanya Jhico dengan suara nya yang masih pelan. Kondisi tubuh lelaki itu masih terbilang lemah.


"Dalam hatinya dia pasti mau bilang rindu padamu. Sayangnya, dia belum bisa bicara,"


"Ah aku ingin sekali menciumnya. Kenapa tidak bertemu beberapa hari saja rasanya seperti tidak bertemu bertahun-tahun? Griz, Pupu merindukanmu. Doakan Pupu ya supaya cepat sembuh dan kita bisa berkumpul lagi,"


Karina yang senantiasa memperhatikan komunikasi antara anak dan cucunya bisa melihat betapa sedihnya Jhico ketika harus melampiaskan rasa rindu dengan anaknya melalui sambungan telepon.


Bahkan tak terasa Jhico mengeluarkan air matanya. Namun lelaki itu dengan cepat menengadahkan sedikit kepalanya agar tidak begitu banyak air mata yang keluar.


Biasanya Jhico tidak pernah seperti ini. Ia sudah terlalu rindu dan rasa tidak menyangka masih ada di hatinya. Ia masih tidak menyangka bahwa kecelakaan itu bisa merenggut beberapa waktu kebersamaannya dengan sang buah hati dan juga istrinya.


"Kamu jangan sedih, Jhi! aku tidak suka, Grizelle juga."


"Tidak, aku tidak sedih,"


"Griz dan aku selalu mendoakanmu agar segera sehat. Jangan sedih! okay?"


"Maafkan aku ya, Nilla."


"Maksudmu?"


"Mungkin aku seperti ini karena sudah melalukan sebuah kesalahan yang besar padamu hingga Tuhan murka padaku,"


Karina berdecak mendengar anaknya bicara seperti itu. Beberapa kali Jhico juga mengucapkan hal yang sama dengan dirinya. Sekarang, Jhico bicara pada Vanilla.


"Tuhan sedang memberikan kamu cobaan agar kamu lebih kuat lagi ke depannya. Sakitmu saat ini belum tentu karena Tuhan murka,"


Vanilla tersenyum menenangkan. Kalimat suaminya membuat perasaan Vanilla tidak menentu. Ia ingin sekali menemani suaminya di rumah sakit dan menghilangkan perasaan sedih suaminya. Mungkin selain karena sakit yang dialami belum hilang, Jhico merasa sedih karena Ia merasa kesepian di rumah sakit. Yang menemaninya hanya Karina saja. Oleh sebab itu Vanilla ingin datang. Meskipun Jhico melarang, tapi Vanilla tahu sebenarnya Jhico juga butuh Vanilla di sampingnya.

__ADS_1


------


Brp hari aku gk up? gk ada yg nyariin getooh? (ngarep😂😂)


__ADS_2