
"Griz senang berlibur kali ini?"
"Senang sekali, Mu. Aku selalu senang kalau berrliburl (berlibur),"
Jhico tersenyum menatap riang di wajah anaknya. Memang terbukti putrinya itu bahagia sekali saat ini.
Mereka berdua masih menyusuri area penginapan dengan tangan saling bertaut.
Sesekali mereka akan terlibat obrolan singkat. Seperti saat ini Grizelle tengah membahas mengenai tempat bermain yang diberikan kakeknya.
"Aku ingin berrlmain (bermain) lagi di sana. Kapan ya, Pu?"
"Lusa Griz sudah sekolah. Griz bisa bermain di sana,"
"Trrliple A kapan kembali sih? aku mulai bosan menunggu mereka,"
Jhico mengusap pipi anaknya yang tampak menggembung dengan bibir mengerucut.
"Sabar, maka sering-sering ditanya pada mereka,"
"Sudah ditanya terrlus (terus), Pu. Tapi merrelka (mereka) tidak pulang-pulang. Aku ingin berrlmain (bermain) dengan merrleka (mereka),"
"Nanti kalau mereka sudah pulang, Griz langsung ajak bermain,"
"Itu pasti, Pu. Kita akan lama berrlmain (bermain) di playgrrlound (playground) yang diberrlikan (diberikan) Grrlandpa,"
*****
"Grandpa, aku minta maaf sudah bicara seperti tadi pada Grandpa,"
Begitu tersambung dengan Raihan, Auristella langsung menyampaikan tujuannya kembali menghubungi Raihan.
"Kenapa meminta maaf, Sayang? kamu tidak salah apapun,"
"Aku sudah meminta playground juga pada Grandpa,"
Raihan mengerti sekarang. Auristella meminta maaf karena permasalahan tempat bermain itu.
"Iya, tidak apa. Lagipula Auris tidak meminta. Sebelumnya Grandpa memang sudah buatkan untuk Griz dan Auris,"
"Tapi aku minta maaf sudah kesal dengan Grandpa tadi,"
"Iya, Grandpa tidak sakit hati sama sekali,"
Adrian mengambil alih ponsel dari tangan adiknya. Kemudian Ia melakukan hal serupa pada kakeknya.
"Grandpa, Aku juga minta maaf sudah menilai Grandpa tidak adil pada kami. Maafkan aku ya, Grandpa," ujar Adrian dengan berani meminta maaf setelah mengakui kesalahannya.
Raihan tersenyum tipis. Hatinya jadi terenyuh kalau sudah mendengar mereka meminta maaf seperti itu. Padahal Ia merasa tak ada kesalahan yang mereka lakukan. Meminta hal yang sama dengan milik saudara memang terkadang sering dilakukan bahkan tak hanya anak kecil, orang dewasa pun kerap melakukannya.
"Kata Daddy, kita iri dengan Griz,"
__ADS_1
"Sudah, jangan pikirkan ucapan Daddy," ujar Raihan pada mereka berdua. Mereka anak kecil wajar saja seperti itu. Melihat orang lain punya ini atau itu, pasti juga ingin. Tapi mungkin menurut Devan cara mereka salah. Terlalu menuntut Raihan, Devan tak suka itu karena Ia merasa Papanya sudah banyak memberi pada ketiga anaknya.
"Bye, Grandpa,"
"Bye, Sayang. Jangan pikirkan ucapan Daddy ya. Grandpa tidak apa,"
"Iya, Grandpa,"
Lovi tersenyum seraya menerima ponselnya dari Auristella. Ia mengusap kepala kedua anaknya.
"Pintar anak-anak Mommy. Mau meminta maaf dan mengakui kesalahan. Tapi jangan diulangi lagi ya,"
Mereka berdua kompak mengangguk. Kemudian Auristella beranjak dan langsung mendapat pertanyaan dari Ibunya.
"Auris mau pergi kemana?"
"Aku mau menghampiri Daddy. Aku ingin minta maaf lagi," ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar kedua orangtuanya untuk menghampiri Daddynya yang saat ini entah menjauh kemana. Tapi yang jelas, Auristella yakin Devan tengah berusaha menenangkan diri sehabis menegur tegas Ia dan kakaknya tadi.
****
Vanilla terbangun dari tidurnya yang tak lama itu. Begitu matanya terbuka, Ia tak menemukan kehadiran anaknya dan sang suami.
"Mungkin mereka belum kembali ya," gumamnya.
Vanilla menghela napas pelan seraya mencoba untuk duduk. Ia diam sejenak mengumpulkan nyawanya.
Kemudian Ia mengikat ulang rambutnya yang berantakan. Setelah itu, Ia pergi ke balkon kamar menikmati suasana lain dari yang biasanya Ia temui bila berada di rumahnya.
****
Ia bergegas kembali ke kamar orangtuanya lagi lalu bertanya pada Lovi mengenai dimana keberadaan Daddynya.
"Tadi Daddy tidak mengatakan ingin pergi kemana pada Mommy,"
Auristella menghembuskan napas pelan. Ia berpikir, mungkin Devan sudah terlalu kesal padanya dan Adrian sampai memilih untuk pergi keluar rumah sementara waktu.
"Mungkin sedang ada urusan di luar," ucap Lovi menenangkan putrinya yang memang paling tidak bisa merasa dijauhkan. Hatinya rapuh sekali.
"Tapi urusan apa? tidak biasanya Daddy tidak pamit pada kita," gumamnya sedih seraya berbaring terlungkup di ranjang.
"Memang harus setiap waktu Daddy pamit padamu, Auris?"
Auristella tak menanggapi pertanyaan Adrian. Ia memilih untuk memeluk erat bonekanya yang Ia bawa tadi dari kamarnya sendiri.
Lovi yang juga penasaran kemana suaminya pergi, memutuskan untuk menghubunginya sekarang juga.
Pada dering ketiga baru ada jawaban dari Devan. "Hallo, Kamu dimana, Dad?" tanya Lovi pada Devan di seberang sana. Kedengarannya, Devan sedang berada di tengah lalu lintas karena terdengar suara-suara kendaraan.
"Pergi sebentar,"
"Iya, kemana?"
__ADS_1
"Tidak lama. Sebentar lagi aku kembali,"
Usai mengatakan itu Devan memutus panggilan. Lovi mendengus menatap layar ponselnya yang padam.
"Ditanya kemana jawabannya malah tidak lama," cibirnya.
Ia menoleh pada Auristella yang rupanya sudah terpejam entah terlelap atau hanya sekedar ingin memejamkan mata.
Ia coba menyentuh lengan putrinya dan tak ada reaksi maka Ia menebak bahwa Auristella sudah tidur.
"Ean dan Ian jangan berisik ya. Adik kalian tidur," Ia memperingati kedua putranya yang lahir hanya beda beberapa menit saja.
Mereka berdua kompak mengangguk. Kalau ia percaya bahwa Andrean tak akan berisik sebab saat ini, Andrean masih fokus membaca. Yang Ia takutkan sebenarnya adalah Adrian yang mulutnya tak bisa diam. Tapi Ia bisa sedikit tenang karena saat ini Adrian tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan yang kerap membuat Ia geram sendiri sampai akhirnya berseru kesal atau senang bila memang yang Ia dukung menjadi pemenang. Tayangan yang Ia saksikan saat ini adalah series salah satu karakter hero favoritnya.
****
"Oh Mumu sudah bangun ya? bagaimana istrihat Mumu?"
Grizelle berlari memeluk pinggang Ibunya yang sedang terdiam membelakanginya. Ia tiba di kamar tak menemukan Vanilla lagi dan matanya langsung menyorot balkon yang ternyata benar dugaannya bahwa Vanilla berada di sana.
Vanilla segera menoleh dan mencubit pipi anaknya dengan gemas.
"Kenapa lama?"
"Aku terrllalu (terlalu) sibuk melihat-lihat suasana di sekitarrl (sekitar) sini, Mu,"
"Iya, lama sekali. Sampai Mumu mengira Griz pulang dengan Pupu,"
Grizelle terkekeh pelan. Tidak mungkin Ia pulang meninggalkan Vanilla dan kebahagiaan berlibur di tempat ini.
"Ada restaurant terapung di dekat sini. Kita makan di sana ya, Mu?"
Jhico mendekati mereka. Grizele benar-benar cepat sekali tiba di kamar.
Vanilla mengerinyit sebelum bertanya, "Restaurant terapung?"
"Iya, terapung di perairan dari hasil salju yang mencair,"
"Oh, ada di dekat sini?"
Grizelle mengangguk cepat. Ia mengguncang tangan Mumunya. "Ayo, Mu. Aku ingin sekali datang ke sana. Tadinya aku mau langsung ke sana, tapi kata Pupu, kita harrlus (harus) menghampirrli (menghampiri) Mumu dulu,"
"Ya sudah, ayo,"
Grizelle melompat senang setelah mendapat persetujuan dari Ibunya. Ia dan Jhico berkeliling lumayan jauh juga dari penginapan sampai akhirnya bisa menemukan restaurant itu. Tapi Grizelle yakin kalau menggunakan mobil, tidak akan terasa jauh.
"Kita jalan kaki ke sana? dekat 'kan?"
"Jangan, Mu. Kita harllus (harus) naik mobil. Kalau Mumu jalan kaki, takutnya jadi jauh,"
Vanilla menatap anaknya tak mengerti. Jhico langsung menjelaskan, "Tadi kami berkeliling tidak terasa sudah sampai restaurant itu, Nilla. Sebenarnya lumayan jauh kalau berjalan kaki dari penginapan ini,
__ADS_1
Tapi karena kami sambil mengobrol, jadi tidak terasa jauh. Kalau kamu ingin ke sana, lebih baik menggunakan mobil,"