
Usai sarapan, Vanilla membantu anaknya untuk bersiap ke sekolah. Jhico dan dirinya akan mengantar Grizelle ke sekolah pagi ini.
Sementara Andrean, Adrian, dan Auristella sudah berangkat lebih dulu dengan driver dan Devan juga sudah berangkat ke kantornya.
Vanilla bersyukur Devan, kakaknya tak ada waktu untuk melanjutan pembicaraan menyebalkan tadi. Kalau tidak, Ia pulang tak membawa wajah lagi karena terlampau malu sebab ketahuan sangat menggunakan kesempatan yang ada di saat Grizelle sedang tak bersamanya dan Jhico sampai-sampai Devan sudah memperkirakan akan ada anak yang ketiga padahal yang kedua saja belum lahir.
"Sudah siap. Sekarang kita pamit dengan Aunty Lovi lalu berangkt ya,"
Grizelle mengangguk. Anak dengan ransel sekolah berwarna pink pastel itu berjalan keluar dari kamar Auristella ke lantai bawah. Ia melangkah menuju taman dimana Lovi sedang mengurusi tamannya.
"Aunty, aku perrlgi (pergi) sekolah dulu ya,"
"Okay, Sayang. Hati-hati ya. Semangat belajarnya,"
Lovi mencium kening Grizelle dan Grizelle memeluknya. Vanilla menanti di jarak yang tak jauh dari mereka.
"Kami pergi dulu ya," pamit Vanilla pada Lovi.
"Ya, hati-hati, Vanilla,"
Vanilla dan Grizele melambai singkat pada Lovi sebelum menghampiri Jhico yang sudah menunggu di dalam mobilnya.
"Sudah siap sekolah?"
"Siap, Pupu,"
Grizelle mengangguk semangat. Ia duduk dengan tenang dan menunggu mobil yang saat ini membawanya tiba di sekolah.
"Semalam tidurnya lelap?"
"Lelap, Mu. Tapi aku terrlbangun karrlena (terbangun karena) haus jadi aku minum ice cream,"
Vanilla yang duduk di depan tepatnya di samping kursi kemudi Jhico langsung menoleh ke arah anaknya yang duduk di tengah. Jhico pun melirik sang putri dari kaca kecil di depannya.
Grizelle baru sadar dengan ucapannya yang terlalu jujur. Ia menutup mulutnya seketika.
__ADS_1
"Oh jadi semalam Griz minum ice cream? hmmm enak ya," ujar Vanilla seraya tersenyum padanya.
"Giliran sakitnya yang tidak enak," lanjut wanita yang merupakan calon ibu dari dua anak itu.
Jhico menggeleng pelan. Grizelle benar-benar sudah lalai sekali menjaga kesehatannya sendiri. Padahal Ia yang akan merasakan sakitnya. Tapi masih sangat sulit diatur. Kalaupun ingin menyantap itu kenapa harus malam? dan Jhico penasaran berapa yang dihabiskan anaknya itu semalam?
"Griz minum ice creamnya banyak?"
"Hanya tiga, Pu. Aku juga makan cokelat dua,"
Jhico menghembuskan napasnya pelan berusaha tak memarahi Grizelle.
"Dua apa maksudnya?"
"Dua-- aku makannya dua kali. Setelah yang satu habis, aku buka cokelat lain terrlus (terus) aku makan lagi," katanya menjelaskan dengan sangat jelas bahwa yang Ia makan itu cukup banyak dan bisa membuat gigi sakit.
"Bagaimana dengan radangmu? masih aman?" tanya Vanilla dengan sindiran halus. Tapi anaknya itu terkekeh dan mengangguk. Ia menjawab dengan yakin, "Aman, Mu. Aku tidak sakit."
"Setelah itu tidak minum air hangat dan sikat gigi?"
"Tidak minum tapi sikat gigi,"
"Aku lupa, Mu. Aku hanya ingat untuk sikat gigi saja itupun diingatkan Aunty Lovi yang terrlbangun karrlena (terbangun karena) haus juga,"
"Kamu dengan Auris semalam?"
"Iya, kami berrldua (berdua) makan itu sambil meeting kalau kata Pupu," kata anak itu seraya terkekeh pelan mengingat bahwa setiap Ia mengobrol dengan Auristella disebut ayahnya sebagai meeting.
"Griz merasa bebas di sana karena tidak ada Pupu ya? hmm? nanti kalau sakit, Pupu yang cemas, Sayang. Pupu tidak bisa bekerja dengan tenang. Jangankan bekerja, makan atau tidur saja tidak bisa tenang karena anak Pupu satu-satunya sakit,"
Grizelle menunduk dan meremat seluruh jarinya yang saling bertaut. Tidak dimarahi melainkan diperingati dengan cara seperti iu malah membuatnya merasa bersalah. Sampai seperti itukah Jhico bila Ia sakit?
"Ya, Mumu juga begitu," tambah Vanilla. "Griz sulit diatur ya," lanjutnya dengan menatap sang anak dengan sorot dingin.
"Maaf, Mu,"
__ADS_1
"Tidak masalah kalau tidak sakit. Tapi Griz itu termasuk anak yang sensitif sekali. Maka Mumu dan Pupu sangat cerewet memberi tahu kamu karena kami tidak ingin melihatmu sakit,"
"Iya, maaf, Pu,"
"Kalau begitu caranya tidak usahlah menginap di rumah siapapun lagi. Entah itu rumah Grandpa atau rumah Auris,"
"Yah Mumu, jangan begitu, Mu," Grizelle tak ingin Ia dilarang untuk menginap di rumah saudaranya lagi. Menginap selain di rumah sendiri itu dianggap berlibur oleh Grizelle karena Ia akan menempati tempat yang situasinya berbeda dengan kediamannya sendiri maka Ia akan merasa sangat senang sekali walaupun tak bisa dipungkiri bahwa pasti ada rasa rindu dengan rumah dan kedua orangtuanya bila Ia menginap tanpa mereka berdua.
"Aunty Lovi sempat menegurrl (menegur) aku dan Aurrlis juga semalam,"
"Lalu tidak Griz dengarkan?"
Grizelle diam tak menjawab namun hatinya berkata, "Tidak. Tunggu habis dulu barrlu (baru) ke kamarrl (kamar),"
Semalam itu Ia dan Auristella memang menghabiskan ice cream terakhir mereka dulu barulah mau menuruti titah Lovi untuk beranjak kembali beristirahat di kamar.
"Tentu saja tidak didengarkan. Mumu dan Pupunya sendiri saja tidak mau didengarkan ucapannya,"
Grizelle merengut sedih tatkala Vanilla bicara seperti itu. Ucapan Vanilla seakan membuatnya tersadar. Tapi Grizelle tetap saja anak kecil yang hanya sadar sebentar setelah itu bisa mengulangi hal yang sama. Melihat ice cream atau cokelat di lemari pendingin pasti langsung Ia santap sebanyak mungkin tak peduli bagaimana larangan dari Mumu dan Pupunya.
Mobil Jhico tiba di sekolah anaknya. Grizelle keluar dari mobil diikuti kedua orangtuanya.
"Aku sekolah dulu," pamitnya pada mereka berdua.
"Iya, semangat belajarnya ya,"
Sudah cukup menegur di dalam mobil tadi, kini Vanilla dan Jhico sudah tersenyum begitu lebar pada anaknya yang akan berjuang menuntut ilmu untuk masa depannya kelak.
"Maaf ya, Mu, Pu,"
Bagaimana tidak luluh kalau Grizelle menatap mereka dengan sorot sendu dan lagi-lagi kata maaf yang keluar dari mulutnya.
Keduanya mengangguk. "Iya, tidak perlu meminta maaf lagi. Yang terpenting ucapan Mumu dan Pupu itu didengar kemudian di lakukan. Boleh makan atau minum apapun tapi tidak berlebihan dan tahu waktunya. Griz harus bisa menilai bagaimana tubuh Griz sendiri. Kalau lemah maka harus lebih pandai lagi mengendalikan keinginan untuk makan yang bebas," pesan ayahnya dengan panjang lebar. Grizelle mengangguk. Tapi Jhico menduga bahwa kalimatnya tadi hanya singgah saja. Masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
Tidak apa lah, memang beginilah mendidik anak kecil seusia Grizelle. Perlu kesabaran dan pengertian yang besar.
__ADS_1
Vanilla mencium anaknya dan Jhico juga begitu. Grizelle berjalan melambai pada mereka berdua sebelum memasuki area sekolahnya.
"Tuhan, berkati anakku dengan ilmu yang berguna," doa Vanilla dalam hati seraya tersenyum membalas lambaian tangan anak perempuannya.