
"Aku saja lagi terus berpikir keras bagaimana caranya untuk membatalkan pernikahan itu,"
"Kamu serius mau--"
"Iya, Van. Sumpah demi apapun, aku belum siap menikah. Apalagi dengan dia yang belum aku kenal dengan baik,"
"Ya sudah, kamu dengan Ganadian saja lah,"
Jane mendorong kepala Vanilla yang asal bicara. "Gila kamu! Dia sudah ada rencana matang dengan keluarganya. Kamu malah menjodohkan dia dengan orang lain?"
Vanilla terkekeh kecil. "Aku bercanda,"
"Tapi Ganadian itu sedang mencari seseorang yang tepat untuknya," lanjut Vanilla.
Joana menggeleng pelan. Tak ingin lagi menanggapi Vanilla yang begitu semangat mendukungnya agar segera menikah.
"Van, aku mau fokus membahagiakan Ibuku. Tapi beliau malah mau aku menikah,"
"Mungkin dengan kamu menikah, Ibumu bisa bahagia,"
Joana menggeleng tidak yakin. Kalau Ia menikah, maka Ia akan ikut bersama suaminya. Bagaimana caranya Ia membahagiakan Bela kalau tinggal bersama saja tidak lagi.
"Aku ke toilet dulu sebentar," ucap Joana sebelum Ia pergi ke toilet untuk menuntaskan hasrat buang air nya. Membahas laki-laki malah membuat Joana tidak nyaman.
"Kelasmu kapan berakhir?"
"Tidak lama lagi,"
"Aku tunggu ya. Setelah itu, temani aku cari kado untuk Andrean dan Adrian yang sebentar lagi ulang tahun,"
"Oh iya, aku juga belum ada kado untuk mereka. Kita berburu kado bersama kalau begitu,"
"Mereka mau apa ya?"
"Aku juga tidak tahu. Nanti kita lihat saja di mall,"
***
Karina menghadiri fashion show atas undangan sebuah brand mode dunia yang sudah menjadi langganan nya. Saat ini mereka akan meluncurkan produk terbaru dan tamu yang diminta untuk hadir adalah orang-orang yang begitu mempercayakan urusan fashion nya pada brand tersebut salah satunya adalah Karina.
Rupanya di sana juga hadir Rena yang juga gemar mengenakan pakaian-pakaian branded salah satunya brand yang tengah mengadakan fashion show tersebut.
Karina menoleh saat ditegur oleh Rena. Bahunya ditepuk dari belakang. Sebelumnya Rena sudah meyakinkan bahwa itu adalah Karina.
"Hai, Rena. Wow tidak menyangka bertemu denganmu di sini,"
"Iya, bagaimana kabarmu?"
"Baik, kabarmu?"
"Aku juga baik. Tidak mengajak Lovi? dibeberapa fashion show kamu sering membawa Lovi,"
"Dia sedang sibuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahun anaknya,"
__ADS_1
"Andrean dan Adrian akan ulang tahun? kapan?"
"Dua hari lagi. Kamu wajib datang ya, jangan lupa ajak Thanatan juga. Kalian 'kan kakek dan neneknya juga. Tapi maaf aku tidak membawa undangan tertulis untuk kalian. Aku tidak menyangka bertemu kamu di sini. Kamu sangat sibuk sampai jarang sekali menghadiri sebuah acara," ujar Rena diselingi dengan kelakarnya yang membuat Karina terkekeh.
"Aku bukan sibuk, tapi sok sibuk," sahut Karina yang mengelak ketika dikatakan sebagai sosok yang memiliki banyak kesibukan. Kalau mendengar kata 'sibuk' Karina selalu ingat dengan anaknya yang menjadi korban kesibukannya dan Thanatan sejak dulu.
"Setelah ini kita shopping bersama bagaimana? sekalian perawatan juga. Walaupun akan menjadi nenek, kita harus tetap cantik,"
Mendengar ajakan Karina, mata Rena langsung berbinar. Ia sudah jarang sekali perawatan.
"Kapan lagi diajak perawatan oleh wanita karir,"
"Jangan bicara begitu, Rena. Kamu juga wanita karir,"
Rena gemar sekali menggoda Karina. Padahal mereka sama saja. Sama-sama istri pengusaha, wanita karir, dan memiliki kesibukan. Tapi bedanya, Karina jarang ada batasan dalam bekerja, sementara Rena memiliki itu apalagi setelah dianugrahi cucu. Bermain bersama mereka lebih penting daripada mencari uang yang sebenarnya tidak perlu lagi Ia lakukan karena semua sudah dicukupi oleh Raihan. Ia bekerja hanya untuk mengisi waktu luang.
***
"Sepertinya tidak ada lagi kado yang tepat kalau bukan mobil-mobilan,"
"Bingung ya?"
Jane mengangguk saat Vanilla mengatakan itu. Kalau mereka memberikan hadiah ulang tahun berupa mobil-mobilan, Andrean dan Adrian sudah memilikinya sangat banyak, sampai tidak terhitung.
"Kita jangan terlalu lama mencari kado, kamu bisa kelalahan, Vanilla."
"Tidak, aku kuat,"
Jane mendegkus tidak percaya. Kalau dia kuat tidak mungkin dokter menyuruhnya untuk istirahat total sampai satu bulan penuh.
"Aku harap anakku perempuan, Jane." ujar Vanilla seraya mengusap perutnya. Ia setuju dengan ucapan Jane. Dan entah mengapa Ia begitu menginginkan anak perempuan. Bisa didandani olehnya, selain mainan, menurut Vanilla model baju untuk anak perempuan juga lebih banyak. Ia adalah orang yang begitu mencintai fashion, dan entah mengapa Ia merasa tidak sabar untuk berburu pakaian anaknya.
"Aku juga ingin sekali memiliki anak perempuan,"
Vanilla terkekeh dan meraih boneka yang ada di dekatnya untuk memukul Jane.
"Menikah saja belum, sudah mau punya anak. Kalau mau cepat punya anak, percepat juga nikahnya. Besok saja menurutku,"
Jane mendorong kepala Vanilla yang bicara seenak hati, "Kamu pikir pernikahanku seperti perkawinan kucing?!"
Vanilla terbahak. Disela kebingungan mencari kado, memang ada baiknya mereka sambil bercanda agar tidak terasa lelah dan membosankan. Kalau melihat-lihat baju dan make up, mereka tidak akan merasakan kedua hal itu. Tapi berbeda cerita kalau melihat mainan-mainan di toys store tersebut.
***
"Rambutku sudah berubah warna,"
"Sudah mau punya cucu empat,"
"Aku mau warnai seperti semula,"
Karina terkekeh mendengar ucapan Rena yang mengeluhkan perubahan warna rambutnya. Rena, nenek tiga cucu yang begitu perfectionist, tak ingin ada cela sedikitpun di setiap penampilannya. Apalagi menjelang pesta ulang tahun kedua cucu kembarnya.
"Aku sudah selesai perawatan kulit. Saatnya rambut. Kamu mau juga tidak?"
__ADS_1
"Tidak, rambutku masih seperti anak muda,"
Rena tersenyum geli mendengar ucapan orangtua dari menantunya itu.
"Aku tunggu,"
Rena menggeleng setelah Karina berucap seperti itu. Ia tidak ingin mengganggu waktu Karina dan biasanya bila melakukan perawatan rambut bisa membutuhkan waktu yang sedikit lama.
"Kalau mau pulang lebih dulu, tidak apa."
"Aku tunggu,"
"Okay, terima kasih Nyonya Thanatan."
Ia dan Karina memang paling tepat bila disandingkan sebagai teman untuk pergi belanja dan perawatan. Karena saling pengertian.
***
"Jhi, aku sedang makan. Baru selesai mencari kado untuk Andrean dan Adrian,"
"Kamu ada dimana sekarang? makan di luar? bersama Jane 'kan?" tanya Jhico dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Iya, sebentar lagi pulang."
"Aku sudah siapkan hadiah untuk mereka dari Aku dan kamu,"
"Kamu tidak mengatakannya padaku,"
"Tidak apa, biar banyak dan mereka akan senang. Segera pulang ya. Jangan kemanapun lagi dan langsung istirahat,"
"Okay, sayangku."
Jhico menahan senyumnya. Pasiennya hari ini cukup banyak dan membuat Jhico sedikit penat. Tapi mendengar sebutan 'sayangku' dari istrinya, semangat Jhico kembali membara dan penatnya hilang seketika.
Panggilan ditutup oleh Jhico. Dan Jane langsung mencibir sikap Vanilla yang seperti sengaja bermesraan di depannya.
"Sebentar lagi aku juga bisa seperti kamu,"
"Iya, Sayangku." ujar Vanilla sengaja membuat Jane kesal.
"Hih aku jijik dipanggil sayang olehmu,"
"Daripada tidak ada yang panggil kamu sayang,"
"Richard sering, asal kamu tahu ya."
"Oh ya? yang sering aku perhatikan, malah kamu yang suka sekali memanggil dia begitu. Jangan-jangan hanya kamu yang sayang sementara dia tidak," Vanilla berucap seraya tertawa kecil. Ia menghindar saat Jane mengarahkan satu buah garpu padanya.
"Sialan kamu. Kalau kamu sering membuat aku kesal, anakmu akan mirip denganku, Van. Lihat saja nanti,"
"Tidak boleh!"
------------
__ADS_1
MCH udh up lhoo manteman. Baca jg yaaa. Jgn lupa dukungannya. Maaciww