Nillaku

Nillaku
Nillaku 364 Romantisme Daddy dan Mommy sering menjadi bahan ledekan Adrian


__ADS_3

Raihan sampai di rumah langsung diserbu oleh istrinya mengenai Devan yang belum juga datang.


"Coba. anya di telepon. Jangan kesal padaku, Sayang,"


Raihan menyarankan istrinya untuk menghubungi Devan langsung. Ia punya ponsel kenapa tidak terpikirkan untuk menghubungiDevan.


"Sudah aku telepon tadi. Tapi tidak dijawab. Aku takut dia sedang sibuk,"


Raihan melepaskan jas, dasi dan jam tangannya. Sementara sang istri meletakkan semua itu di laundry bag.


"Coba aku hubungi dulu,"


Rena mengangguk pelan. Membiarkan suaminya yang menghubungi Devan.


"Tidak mandi dulu?"


"Aku bicara dengan Devan dulu,"


"Ya sudah,"


Lagipula masih sore juga. Raihan mandi tengah malam karena baru pulang kerja juga terbilang sangat sering.


"Hallo, Dev,"


"Hallo, Pa,"


"Tidak jadi datang ke rumah Papa?"


"Astaga, aku lupa mengabari Papa. Maaf, Pa, aku belum bisa ke sana sekarang. Auris sedang demam,"


"Demam? ya sudah, tidak apa. Lalu sekarang bagimana keadaannya? suhunya tinggi sekali?"


"Sekarang sudah perlahan turun, Pa. Tadi pagi yang panas sekali,"


"Sedang apa dia sekarang?"


"Papa mau bicara? Auris lagi mengerjakan tugasnya ini,"


"Rajin sekali. Coba berikan ponsel padanya. Papa ingin bicara,"


Devan langsung melakukan apa yabg dipinta ayahnya. Auristella berbisik "Grandpa?"


Devan segera mengangguk membenarkan. Lalu Ia menadapat tatapan kesal dari anaknya. "Kenapa Daddy beri tahu kalau aku lagi sakit?"


"Ya Grandpa bertanya. Tidak mungkin Daddy hanya diam 'kan? Biar Daddy tahu alasan kenapa kita tidak jadi ke sana,"


"Memang tidak jadi?"


"Iya, Kamu masih sakit,"


"Tapi aku ingin ke sana,"


"Lain kali, Auris. Saat kamu sembuh, kita ke sana"


"Hallo, Sayang. Grandpa bicara padamu,"


Terlalu sibuk berbisik-bisik dengan ayahnya, Auristella sampai tidak fokus mendnegarkan kakeknya bicara.


"Hallo, iya, Kakek,"

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu?"


"Sudah lebih baik apalagi setelah dibuatkan mac and cgeese oleh Daddy,"


"Woah bisa memasak juga rupanya,"


"Bisa, Daddyku 'kan hebat," pujinya seraya melirik devan yang kini tersenyum tipis.


"Rasanya bagaimana? hancur?"


"Tidak, Grandpa,"


Sayangnya tebakan Raihan salah. Anaknya bisa memasak! walaupun tidak handal. Suatu kabar yang menggembirakan untuk Raihan.


"Oh Daddy kira rasanya akan hancur. Sebab Daddy mu itu jarang sekali memasak,"


"Ya, tapi rasanya lezat, Grandpa. Aku suka,"


"Masak apa?" tanya Rena yang belum jelas mendengar oborlan antara suami dan cucunya.


"Mac and cheese," jawab Raihan.


Rena mencibir, "Itu mudah. Kalau tidak bisa, payah sekali kamu Devan," ejek Mamanya pada sang anak yang Ia yakin tengah mendengarkan pembicaraan.


"Tapi aku bisa, Ma. Dan anakku memuji hasil masakanku,"


"Oh syurkulah. Mama senang mendengarnya. Sering-seringlah berkutat di dapur ya. Jangan berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas saja,"


"Tapi kata Daddy jangan sering-sering, Grandma. Karena Daddy akan merepotkan maid di rumqh. Daddy mengacaukan dapur,"


Rena dan Raihan terbahak mendengar enuturan Auristella yang mereka yakini sangat jujur.


"Sudah Mama duga. Pasti seperti itu,"


"Anakmu baik-baik saja 'kan setelah makan itu?"


"Ya ampun, Mama," Devan menggeram kesal. Tidak mungkin Ia biarkan Auristella menghabiskan makanan itu kalau Ia merasa sejak awal masakan buatannya tidaklah wajar untuk dimakan Auristella.


"Lovi saja memujiku,"


"Menghargai suami memang penting, Devan,"


"Ya, dia jujur, Ma. Katanya aku hebat,"


Rena mencibir mendengar anaknya yang begitu percaya diri. "Jadi, tidak ke sini sekarang?"


"Tidak, Ma. Auris masih demam. Nanti kalau sudah sembuh, kami pasti ke sana,"


"Ah kamu bohong,"


Rena sudah berharap sekali mereka datang. Sering Devan mengatakan ingin sering datang ke rumah sekalipun tanpa putra dan putrinya tapi kenyataannya tidak.


"Sebenarnya sebelum paoa meminta aku datang ke sana mengajak anak-anak, aku sudah berniat datang ke sana hari ini kalau memang jadwalku luang. Ternuata Papa memintaku untuk datang. Tapi Auris sakit. Aku bahkan tidak diizinkan bekerja hari ini oleh Auris,"


"Iya lah, temani anakmu itu. Ia butuh kamu makanya melarang untuk bekerja,"


"Lalu Lovi ke butik hari ini?"


"Tidak, dia tidak mau meninggalkan Auris. Dan Auris pun tidak mau ditinggalkan bahkan untuk seledar mengantar kedua kakaknya saja tidak diizinkan olehnya,"

__ADS_1


"Tapi kedua kakaknya mengerti 'kan?"


"Ya, tadi pagi sebenarnya aku yang ingin mengantar mereka. Tapi Auris tidak mengizinkan, Lovi pun tidak diizinkan tapi Lovi tetap bersikeras. Ean dan Ian justru meminta Lovi untuk di rumah saja. Mereka mengatakan bahwa Auristella mungkin akan lebih membutuhkan aku dan Lovi,"


"Ah kalian bertiga ifu kalaulagi manis, manis sekali. Tapi kalau sudah bertengkar, kelihatan seperti bukan saudara,"


Rena senang sekali mendnegar cerita tentang mereka bertiga pagi ini yang saling memahami.


"Ya sudah, istirahat ya, Auris,"


"Iya, Grandpa. Aku akan datang secepatnya ke sana,"


"Iya, sayang,"


"Istirahat, Auris. Jangan mengerjakan tugas dulu. Nanti saja kalau sudah sembuh,"


"Hanya sedikit tugasnya. Lagipula aku sudah istirahat terus, Grandma. Aku bosan, makanya membuka tugas dan mengerjakannya,"


"Tapi jangan terlalu dilaksakan kalau sudah tidak kuat ya. Kalau lagi sakit itu seharusnya istirahat,"


"Okay, Grandpa. Siap, aku akan istirahat yang banyak-banyak,"


Lovi memasuki kamar dengan sepiring makanan. Auristella jadi salah fokus karena hidungnya langsung menghidu aroma yang lezat ketika Mommynya masuk. Panggilan berakhir dan Ia segera bertanya cepat pada Mommynya.


"Apa itu, Mom?"


"Ini, pasta dengan sauce mentai. Mau?"


"Mau-mau,"


"Mac and cheese tadi dikemanakan, Sayang?"


"Hmm Daddy, aku 'kan jadi malu. Jangan tanya begitu,"


Devan terkekeh gemas melihat anaknya yang merengut.  Ia menepuk dua kali puncak kepala putrinya yang kini tengah membuka mulut menerima suapan dari Mommynya.


"Mommy kenapa tidak minta dibuatkan ini padaku tadi?" tanya Devan yang kini nenerima suapan juga dari Lovi.


"Aku mau buat sendiri. Lagipula aku kasihan padamu, Sayang. Aku tahu kamu kesulitan kalau diminta untuk memasak,"


Devan tersenyum mendengar penuturan istrinya. Auristella juga tersenyum menatap mereka berdua. Senyum yang jenaka. Devan tak kuat menahan kekehannya. Auristella sudah pandai meledek Devan dan Lovi kalau dilihatanya mereka berdua tengah manis sekali dimatanya.


Tangan Devan terangkat membersihkan noda di sudut bibir anaknya.


"Itu bibir Mommy tidak dkbersihkan juga, Dad?"tanya nya jahil. Yang mengundang Devan untuk mencubit pipinya.


"Jangan mulai lagi ya, Auris,"


"Aku hanya bertanya,"


Lovi mengusap sudut bibirnya sendiri. "Daddy bagaimana? Mommy jadi bersihkan sendiri,"


"Mommy bukan anak kecil. Ah kamu ini,"Lovi berdecak menatap anaknya yang belum berhenti meledeknya. Sudah tertular dari Adrian. Sampai terkadang Lovi dan Devan jadi tidak ingin untuk bersikap manis di depan anak-anaknya.


"Tidak apalah, Dad. Aku jadi punya gambaran nanti kalau sudah punya pasangan," begitu kata Adrian kalau Devan ataupun Lovi malu.


Bisa-bisanya dia berkata begitu. Bagaimana Devan dan Lovi tidak kalap dan langsung berujar tegas.


"Tidak ada pasangan-pasangan. Belajar yang serius!"

__ADS_1


"Ya nanti, bukan sekarang, Mommy, Daddy,"


 


__ADS_2