Nillaku

Nillaku
Nillaku 54


__ADS_3

Jangankan tertidur lelap, untuk memejamkan mata saja rasanya sangat sulit setelah gairahnya ditantang sedemikian kejam oleh istrinya.


Keringat masih membasahi kening Jhico. Ia gelisah bukan hanya karena nafsu yang tidak tersalurkan melainkan juga karena kalimat Vanilla yang sempat diucapkannya beberapa menit lalu.


Jhico menatap waspada saat vanilla tiba-tiba saja memeluknya. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada Jhico.


"Jhico..."


"Ssstt, tidur yang lelap, Vanilla."


"Jhico, aku butuh kamu,"


Jhico menahan napas lalu menyingkirkan tangan Vanilla dari lehernya. Ia melihat wajah sang istri yang hanya diterpa cahaya dari lampu tidur. Vanilla masih terpejam, tetapi mulutnya belum juga berhenti bicara yang tidak jelas. Vanilla membuat Jhico bingung dengan semuanya. Logika mengatakan tidak, sementara hati malah memiliki keinginan untuk percaya atas pengakuan Vanilla.


*******


"Bagaimana semalam? Jhico melakukan sesuatu padamu setelah tahu kamu mabuk? dia marah?"


Begitu Vanilla sampai di kampus, Joana langsung menyambutnya dengan pertanyaan seperti itu.


"Aku tidak tahu apapun,"


Vanilla terbangun pagi hari, sikap Jhico normal seperti biasa. Tidak ada yang aneh juga diantara keduanya, Hanya saja Jhico memang sempat menasihati Vanilla ketika sarapan tadi.


"Kalau ada masalah, cari solusinya. Bukan menjadikan tempat seperti itu sebagai pelampiasan,"


Jhico tidak menangkap perasaan sesal sedikitpun dalam diri Vanilla setelah Ia mabuk tadi malam. Jhico rasa, Vanilla sudah biasa melakukannya.

__ADS_1


"Bukan hanya merugikan diri sendiri. Yang kamu lakukan tadi malam juga berdampak pada orang lain. Salah satunya Joana yang rela menghabiskan waktu istirahatnya demi menemani kamu,"


"Aku terkejut begitu kamu memaksa aku untuk menemani kamu ke tempat itu lagi. Aku pikir kamu sudah berubah setelah ada Jhico,"


"Dia yang menyebabkan aku seperti itu,"


"Maksudmu?"


Vanilla membawa bahu Joana yang tengah menulis agar menatapnya dulu dan menghentikan kegiatannya.


Vanilla butuh teman yang bisa menjelaskan sesuatu yang tidak dipahaminya. Vanilla bingung dengan perasaannya sendiri.


"Joana, salah tidak kalau aku merasa marah saat melihat suamiku lebih akrab dengan orang lain daripada aku?"


Joana menyingkirkan tangan Vanilla dari bahunya. Lalu merangkum wajah Vanilla. Raut Joana sangat serius.


"Karena itu kamu menjadi kalap lagi semalam?"


"Seandainya kamu menerima dia dengan tangan terbuka, pasti tidak akan seperti itu sikapnya. Yang aku lihat, Jhico sangat baik pada semua orang,"


"Kamu kira aku tidak menerimanya? lalu kenapa kami menikah?"


"Maksudku, kamu tidak menyambut baik sikap hangatnya selama ini. Kamu tidak menganggap dia sejak awal pernikahan. Kamu sibuk dengan dunia kamu, Renald. Kalau aku menjadi Jhico, mungkin langkah yang aku ambil adalah pergi meninggalkan-mu. Mencari kebahagiaan yang baru,"


Kening Vanilla mengerinyit dalam. Ia sakit kepala hanya karena kedekatan Jhico dengan Aurora. Prinsip Vanilla mulai goyah, dan Ia panik sendiri.


"Semua manusia punya rasa lelah, Van. Jangan terlalu memaksa Jhico untuk terus mengejar kamu sementara kamu semakin kencang berlari. Kalian akan semakin bahagia ketika berlari bersama dan saling menggenggam,"

__ADS_1


*******


"Kamu kalau mabuk akan semakin liar, Vanilla. Aku penasaran, ingin melihat langsung kondisimu semalam. Aku yakin Jhico berusaha menahan mati-matian agar tidak menampar kamu,"


"Kamu tahu semuanya?"


"Ya, aku menelpon kamu tengah malam. Lalu yang menjawabnya Jhico. Aku tanya keberadaan kamu, dia menjawab dengan jujur. Karena itulah, dia tidak bisa tidur semalaman,"


"Apa?"


Jane menutup mulut Vanilla yang terbuka karena terkejut. Kemudian Jane mendorong kepala Vanilla dengan gemas seolah Ia sedang berperan sebagai perwakilan dalam menyalurkan amarah Jhico semalam.


"Kenapa menghubungiku?"


"Aku merasa ada firasat buruk tentang kamu. Rupanya benar,"


"Ikatan batin kita kuat. Aku dan kamu satu darah, sudah sering tinggal bersama sejak kecil, apapun yang dilakukan selalu berdua, kita selalu bertukar cerita sekalipun itu urusan pribadi, jadi tidak heran kalau ada ikatan batin diantara kita,"


"Kamu tahu tidak, kalau semalam kamu sudah mempermalukan diri sendiri di hadapan Jhico?"


Vanilla memperbaiki duduknya dengan cepat lalu menatap Jane dengan sorot penasaran, Ia ingin mendengar lengkapnya cerita Jhico dalam menghadapi dirinya yang mabuk.


"Kamu menawarkan diri sendiri. Itu gila, Vanilla."


Melihat raut Vanilla yang kaku, Jane mengangguk agar sepupunya itu percaya. Ia hanya menyampaikan apa yang keluar dari mulut Jhico semalam setelah ia paksa.


"Kamu juga mengakui kalau kamu mencintai dia,"

__ADS_1


Vanilla terkekeh tidak percaya. Tidak mungkin Ia melakukan itu. Ya Tuhan, betapa murahan dirinya semalam. Walaupun tertawa, tapi ada rasa asing yang menyelinap di hati Vanilla dimana Ia jijik pada dirinya sendiri.


"Tapi tenang, dia tidak percaya atas pengakuan mu itu. Karena kamu mabuk. Jadi kamu tidak perlu takut kalau Jhico akan terlalu percaya diri,"


__ADS_2