Nillaku

Nillaku
Nillaku 121


__ADS_3

"Datang ya ke sini. Sekali-sekali Griz main ke rumah Oma nya,"


"Iya, Ma. Kalau Jhico sudah bangun nanti, aku ajak ke sana."


"Okay, semoga dia mau. Mama tunggu ya, Van."


"Iya, Ma."


Vanilla kembali melanjutkan kegiatan memasaknya setelah meletakkan ponsel nya di samping sink kitchen.


"Aduh Vanilla. Nanti ponsel nya rusak terkena air,"


Bibi akan membersihkan perkakas dapur di sink kitchen tapi melihat ponsel Vanilla di sekitar sana, Ia mengurungkan niatnya.


Ia pindahkan ponsel Vanilla ke meja pantry lalu Ia kembali ke sink kitchen. Vanilla sudah hampir selesai memasak. Tugas Bibi hanya memotong beberapa bahan masakan saja tadi.


Dan biasanya yang membersihkan peralatan masak memang Bibi karena Vanilla langsung mengurus suaminya usai memasak. Bibi juga melarang Vanilla untuk membantunya. Terkadang panggilan berupa tangisan dari Tuan putri di kamar membuat Vanilla harus cepat-cepat menghampiri.


****


"Eenghhh,"


Grizelle tidur di atas dada Pupu nya. Jhico benar-benar memperlakukan anaknya seperti boneka. Dengan kelembutan Ia memeluk sang anak di dadanya. Lalu saat Grizelle menggeliat dalam tidur sembari mengangkat tangannya, tidak sengaja tangan mungil itu mengenai hidung Jhico. Kening Jhico langsung mengerinyit terkejut. Mata lelaki itu langsung terbuka.


Cklek


Mata Jhico langsung terpejam kembali. Ia yakin yang masuk itu adalah Vanilla. Dibangunkan Vanilla adalah hal yang menyenangkan. Sehingga Ia akan pura-pura tertidur lagi.


"Jhi, bangun. Mentang-mentang hari libur, bangunnya siang sekali ya. Lihat lah bumi, sudah terang,"


Vanilla melipat kakinya di atas ranjang lalu berniat untuk memindahkan Grizelle dari dada Jhico namun tangan Jhico mempertahankan pelukannya terhadap sang anak.


"Jhi, jangan begini kalau tidur dengan Grizelle. Dia bisa jatuh,"


Vanilla menyentuh lengan Jhico agar membuka mata. Namun tak ada reaksi apapun. Melihat kelopak mata suaminya bergerak, Vanilla menahan senyum. Jhico sudah bangun tapi pura-pura tidur lagi.


"Jhi, aku tahu ya kamu sudah bangun. Cepat buka matamu!"


Vanilla mencubit pipi suaminya. Akhirnya Jhico membuka mata. "Seharusnya membangunkan suami itu dengan cara dicium, Nilla. Seperti biasa. Sekarang kenapa malah dicubit?"


"Karena kamu sudah bangun tapi pura-pura tidur. Ngapain dicium?"


Jhico berdecak memutar bola matanya. Ia segera memindahkan Grizelle, namun sang anak nampak menggeliat enggan pindah dari tempat ternyaman nya.


"Griz nyaman aku peluk begini,"


"Tapi aku takut dia jatuh,"

__ADS_1


"Tidak lah, aku memeluknya erat tapi tidak menyakitinya,"


"Oh ya, Mama mau Griz datang ke rumah, bermain di sana."


Tanpa berpikir lama Jhico menggeleng. Bukan hanya karena Ia malas bertemu dengan Papanya saja, tapi lebih baik Grizelle di apartemen saja sampai usia nya sedikit besar.


"Griz baru satu bulan, Nilla. Jangan dulu dibawa keluar,"


"Tapi Mama sangat ingin---"


"Nanti, ada saatnya kita bawa Griz keluar. Dia masih terlalu kecil untuk dibawa berpergian,"


*******


"Aku mau pergi ke mall, Jhi. Tapi pasti tidak kamu izinkan,"


"Kata siapa? ayo, aku temani ke mall,"


Mata Vanilla membulat. Kedua tangan perempuan itu dengan cepat merangkum wajah Jhico.


"KAMU SERIUS?!"


"Iya, serius." Jhico meringis karena tekanan di wajahnya. Sang istri terlalu senang mendengar kalimatnya hingga tanpa sadar seperti ingin meremukkan kedua pipinya.


"Tapi bagaimana dengan Grizelle?"


"Kita minta bantuan Mama untuk menemani Griz di sini,"


"Mama Karina?"


"Iya, kita tidak bisa datang ke sana tapi Mama ingin bermain bersama cucunya. Jadi kita minta Mama datang ke sini saja. Barangkali Mama mau,"


"Tidak jadi, Jhi. Kita tidak usah ke mall. Diam saja di sini. Lagipula baru satu bulan aku tidak beraktivitas di luar. Seharusnya aku tidak boleh mengeluh,"


Jhico menggeleng pelan. Ia mengusap sudut bibir Vanilla yang terlihat berat meninggalkan Grizelle saat ini. Jhico tidak mempermasalahkan sama sekali ketika istrinya ingin keluar sebentar hanya untuk sekedar refreshing. Ia tahu Vanilla jenuh. Biasanya perempuan itu selalu berkegiatan di luar tapi semenjak ada Grizelle, benar-benar mengurung diri di apartemen agar fokus mengurus anaknya.


"Kita hanya pergi sebentar saja. Griz pasti mengerti kalau Mumu nya ingin keluar,"


"Kamu tidak marah?"


Alis Jhico terangkat. Vanilla benar-benar telah menghargai dirinya sebagai suami tidak seperti di awal pernikahan mereka. Sekarang, apapun yang ingin dilakukan Vanilla selalu meminta pendapat dan izin dari Jhico.


*****


Vanilla dan Jhico sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Vanilla tidak henti tersenyum karena akhirnya Ia bisa keluar sebentar menikmati lingkungan luar.


Mereka meninggalkan Grizelle yang terlelap. Air susu Vanilla sudah dipersiapkan bila anak itu haus. Karina benar-benar senang ketika diminta untuk datang ke apartemen. Kebetulan pekerjaan nya sedang sedikit. Rencananya memang Ia akan singgah ke apartemen. Tapi rupanya Jhico sudah lebih dulu memintanya untuk datang. Tanpa berpikir lama, Ia datang untuk menemani cucunya sementara putra dan menantunya menikmati waktu berdua di luar sebentar.

__ADS_1


"Aku mau beli parfum,"


"Ayo, kita cari."


"Tapi mau parfum yang berbeda dari biasanya,"


"Aku suka yang biasa kamu pakai, Nilla."


"Tapi aku mau ganti. Boleh ya?"


"Hmm, okay." meskipun keberatan tapi Jhico tetap mengizinkan. Barangkali parfum baru Vanilla juga Ia sukai aromanya seperti parfum sebelumnya.


Disela perjalanan menuju tempat membeli parfum, Vanilla membeli ice cream. Ia seakan lupa dengan niatnya untuk menghindari makanan yang manis sementara waktu demi mendukung usahanya dalam mengembalikan bentuk tubuh.


"Kamu seperti Adrian saja. Melihat ice cream langsung gembira sekali wajahnya,"


"Dari tadi sudah gembira. Tapi melihat ice cream lebih gembira lagi,"


Jhico menggeleng dengan senyum tipisnya. Tingkah Vanilla seperti perempuan yang belum memiliki anak. Menggemaskan sekali dimatanya.


Setelah tiba di tempat membeli parfum, Vanilla langsung berburu. Dari semua bentuk botol di sana sangat menarik perhatiannya. Karena harganya juga tidak main-main.


Jhico mengambil salah satu botol yang elegan menurutnya. Ia memanggil Vanilla untuk mendekat.


Ia menyemprot parfum tersebut di punggung tangannya lalu Ia hidu. "Ini enak wangi nya. Tidak terlalu manis,"


Kemudian lelaki itu menyemprotkan parfum yang sama di tangan istrinya. Setelahnya, Vanilla menghidu. Vanilla mengangguk seraya tersenyum.


"Kamu tahu saja kesukaan ku,"


"Hanya satu?"


"Iya, satu saja."


Jhico mengangguk, kemudian Ia menjelajahi parfum yang lain kemudian menatap Vanilla sekilas. "Kamu carikan parfum untukku,"


"Okay, pasti aku bisa. Karena aku juga tahu kesukaanmu yang bagaimana,"


Saatnya Vanilla yang mencari tipe parfum yang disukai suaminya. Manly dan tidak terlalu kuat aromanya, itulah yang disukai Jhico.


 


Hai hai hai selamat pagi menjelang siang semuaaa. Masih semangat menjalani hari di Kamis ceria ini? tetap jaga kesehatan yaaa.


MCH ada ex part nya lhoo. Udh mampir ke sana blm? kalau blm, kuyy mampir 🙌


__ADS_1


__ADS_2