
"Dimana Mumu?"
"Mumu pelgi bekelja (pergi bekerja)ke Dubai,"
Sebelum Papanya berpikir buruk tentang Vanilla yang pergi sementara anaknya masih berada di rumah sakit, Jhico langsung berujar, "Aku yang mengizinkan Vanilla pergi. Sebelumnya Vanilla tidak ingin pergi kalau kondisi Griz belum membaik. Tapi Dokter mengatakan Griz hanya tinggal pemulihan. Jadi aku biarkan Vanilla pergi karena rencana itu sudah ada dari jauh hari. Aku tidak ingin Vanilla mendapat konsekuensi bila dia tidak hadir sebab dia salah satu pengisi di acara itu." Ungkap Jhico panjang lebar tanpa ada unsur ingin membela istrinya. Yang Ia katakan memang benar adanya. Vanilla sempat berencana tidak pergi bahkan setelah Ia beri izin.
Setelah Grizelle juga membujuknya, Vanilla mengatakan Ia menunggu hasil pemeriksaan Dokter terhadap Grizelle. Jadi, tidak semudah itu Vanilla meninggalkan anaknya.
Jhico tidak ingin Papanya menilai Vanila buruk lagi. Semacam, tidak bertanggung jawab lah, atau kalimat-kalimat lainnya yang menyakiti hati. Maka Ia jelaskan pada ayahnya itu meskipun tidak ada pertanyaan yang diajukan sang ayah sebelumnya.
"Kakek di sini lama 'kan?"
"Memang kenapa?"
"Aku hanya beltanya (bertanya),"
"Tidak, karena Kakek masih harus bekerja,"
Meskipun Grizelle merasa sedih karena kakeknya tak lama di rumah sakit, namun Ia tersenyum. Kakeknya datang saja, Ia sudah bersyukur. Ia tidak boleh meminta lebih pada Kakeknya.
"Aku mau makan,"
"Belum lama makan siang," ujar Jhico yang langsung mendapat raut merengut dari putrinya.
"Tapi aku mau makan, Pu,"
"Iya, tidak perlu marah. Tidak apa Griz makan lagi. Malah Pupu senang kalau Griz banyak makan. Sebentar ya, Pupu ambil dulu,"
Grizelle sudah makan siang sebelumnya namun tidak habis karena katanya Ia sudah kenyang.
Ketika Kakeknya datang, Ia ingin makan lagi. Kenapa? karena Ia ingin disuapi oleh Kakeknya dan berharap tidak ada penolakan.
"Kakek, aku boleh minta disuapi?"
__ADS_1
"Kakek yang suapi kamu?"
"Iya, aku 'kan bicala (bicara) nya dengan Kakek,"
"Makan dengan Pupu saja, Griz," Jhico hanya tidak ingin Grizelle kecewa bila Papanya menolak. Tapi Grizelle menggeleng tegas. Ia ingin Kakeknya lah yang menyuapi dirinya.
"Memang kenapa kalau Papa yang suapi?" tanya Thanatan pada sang putra yang kini berdiri tak jauh darinya dengan memegang satu baki dimana di atasnya terdapat makan dan minum Grizelle.
"Papa tidak akan mau. Permisi, Pa," Pinta Jhico agar Papanya sedikit menjauh dari bangsal anaknya karena Ia ingin menyuapi Grizelle.
"Griz makan dengan Kakek," lugas dan dengan suara dalam Ia mengatakannya.
Thanatan segera meraih baki dari tangan Jhico kemudian meletakkannya di nakas. Grizelle bangkit untuk duduk, Ia membantunya.
"Kakek baik sekali. Aku jadi ingin sakit telus (terus),"
Ucapannya itu mendapat reaksi berbeda dari kedua lelaki di dekatnya saat ini. Jhico yang langsung berdesis tak suka sementara Thanatan yang menatapnya tajam.
Grizelle tampak cemberut. Tapi ketika di depan mulutnya ada sendok dengan isi gandum dihaluskan yang diangsurkan Thanatan, Ia langsung tersenyum.
Jhico memutuskan untuk duduk di sofa memperhatikan Papa dan putri kecilnya. Hatinya merasa damai melihat interaksi mereka berdua. Apalagi pemandangan itu terbilang jarang Ia lihat.
Jujur Ia pun tidak menyangka kalau Thanatan akan datang. Apa ini bentuk permintaan maafnya terhadap Grizelle? apapun itu alasannya, Jhico bahagia karena anaknya juga terlihat bahagia ketika Kakeknya menjenguknya setelah Ia hampir sembuh.
Grizelle makan sembari bercerita tentang kegiatan dirinya selama di rumah sakit. Ia mengeluh bosan, tapi senang juga karena sakit, Mumu dan Pupunya benar-benar setiap saat ada bersamanya, Ia mengatakan itu seraya tertawa.
"Aku inginnya Mumu dan Pupu ada dengan aku telus (terus), Kakek. Tapi 'kan tidak mungkin. Kalena (karena) nanti aku tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa beli ice cream dan cokelat, tidak bisa beli mainan,"
Thanatan hanya mendengarkan cucunya yang bicara panjang lebar.
"Jadi, aku bolehkan Mumu kelja(kerja). Aku juga tidak melalang (melarang) Pupu kelja (kerja) tapi pupu yang tidak mau bekelja (bekerja) kalena (karena) aku belum sembuh katanya. Padahal aku sudah sehat, ya walaupun telkadang (terkadang) masih pusing sedikit dan ladang (radang)ku juga masih sakit,"
"Itu artinya belum sembuh. Ya wajar saja Pupu tidak mau bekerja," kali ini Ia menanggapi kemudian mengulurkan tangan untuk memasukkan makanan ke dalam mulut cucunya.
__ADS_1
*****
"Aduh, kebas leherku,"
Vanilla melenguh kemudian meregangkan otot-ototnya saat dibanguni Nein yang mengatakan bahwa mereka sudah sampai ditempat tujuan.
Tadi saat transit, Vanilla menghubungi putrinya melalui sang suami. Ia tahu bahwa ternyata Thanatan dan kedua orangtuanya datang ke rumah sakit.
Ia senang melihat Grizelle yang bercerita antusias tentang kedatangan mereka bertiga.
Raihan yang tahu bahwa istrinya akan datang ke rumah sakit, memutuskan untuk ikut juga. Lalu mereka menjemput Nada di rumah Jhico dan Vanilla yang ditugaskan Vanilla untuk menemani Grizelle di rumah sakit selama Ia pergi.
Setelah Grizelle makan dengan lahap dan habis, Thanatan undur diri. Thanatan dan Raihan sempat berbincang sedikit tentang kesibukan mereka masing-masing.
Raihan mengantar Thanatan sampai ke luar ruangan Grizelle sementara Grizelle sedang berbincang dengan Rena dan Nada, teman barunya di sana.
"Than, aku harap kita sering-sering seperti ini. Karena Grizelle senang melihat kita berkumpul,"
Thanatan hanya tersenyum menanggapi. Ia datang karena merasa bersalah apalagi ditambah dengan cercaan Karina setelah Ia mengingkari janjinya dengan Grizelle. Kebetulan juga ia bisa keluar dari kantor sebentar, maka Ia memutuskan untuk mengunjungi cucunya yang ternyata menyambut bahagia bahkan tidak ada ungkapan kesal sedikitpun setelah sebelumnya Ia mengecewakan.
"Aku tidak bisa melihat Grizelle sedih. Saat kau tidak datang, Ia benar-benar kecewa. Aku ingin sekali memusnahkan siapapun yang membuatnya seperti itu. Tapi aku tahu itu tidak mungkin ku lakukan karena kau adalah kakeknya juga,"
Raihan menepuk bahu Thanatan seraya tersenyum bijaksana. Aura khawarimatik Raihan semakin bertambah tak dimakan usia. Begitupun dengan Thanatan, sebenarnya. Sayang, Ia tidak seperti Raihan dalam menyikapi Grizelle.
"Aku benci melihat kesedihan di matanya. Aku sangat menyayanginya dan aku tahu, kau pun begitu. Aku harap, kita berdua bisa terus mendampingi Grizelle, membuatnya bahagia. Karena sebenarnya kebahagiaan anak itu sangat sederhana. Kita berkumpul saja sudah membuatnya bahagia, tanpa diberi sesuatu yang mahal dan berkelas. Karena menurutnya kehangatan keluarga adalah yang paling bernilai,"
Raihan mungkin baru kali ini melihat bagaimana Thanatan mengecewakan Grizelle. Tapi reaksinya sudah seperti ini.
Raihan hanya ingin cucu-cucunya dilimpahi kebahagiaan. Ia selalu berusaha untuk memberikan itu. Dan Ia berharap Thanatan pun demikian.
-----
Nah lhoo Raihan lgsng negur Thanatan. Untung ngomongnya msh baik ya wkwk. Baru sekali pdhl dia ngelihat Griz dibuat sedih sm Thanatan. Sesayang itu Rai sm Griz ya😆
__ADS_1