Nillaku

Nillaku
Nillaku 208


__ADS_3

Vanilla memastikan penampilannya di depan cermin usai bersiap. Vanilla yang akan pergi bersama Grizelle dan Joana sore ini mengenakan hot pants putih yang dibagian bawahnya terdapat aksen ruffle, t-shirt berwarna merah muda yang begitu lembut senada dengan bucket hat yang berada di atas kepalanya. Di bagian kakinya yang jenjang, Ia memilih sneakers putih, begitu tepat menyaingi kulit kakiknya yang putih bersih.


Vanilla melengkapi penampilannya dengan arloji yang bentuk dan warnanya sama dengan milik Jhico. Jam tangan itu Ia beli ketika mereka honeymoon. Sepatu yang dikenakannya saat ini juga merupakan hasil berburunya ketika pergi honeymoon dengan sang suami.


Vanilla meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Ia melakukan panggilan pada suaminya yang sampai sekarang belum juga membawa Grizelle kembali ke rumah padahal Joana mengatakan sudah akan sampai di tempat yang mereka sepakati.


Bukan suara Jhico yang menjawab panggilannya, melainkan suara menggemaskan milik putrinya.


"Hallo, Mu. Pupu tidak bisa mengantal (mengantar) aku pulang klena balu ( karena baru ) saja ada pasien datang yang dijahati oleh penjahat, jadi Pupu halus membantunya. Mumu yang jemput aku di sini ya. Lalu kita pelgi," ujarnya langsung menjelaskan bahkan ketika Vanilla belum bertanya.


"Okay, Sayang. Mumu jemput sekarang ya,"


"Iya, Mu. Hati-hati, Mu. Aku menunggumu,"


Senyum Vanilla mengembang. Ia tatap sebentar ponselnya yang telah padam layarnya. Grizelle terdengar sangat senang dengan rencana hang out mereka, selalu seperti itu.


Vanilla memasukkan ponsel nya ke dalam sling bag yang sudah Ia sandang di bahu, setelah itu Vanilla meraih paper bag berisi baju Grizelle yang stylenya sama persis dengan dirinya. Grizelle tidak akan nyaman mengenakan pakaian yang sudah dari pagi Ia kenakan.


*****


Vanilla membelah jalanan sore ini dengan tenang. Situasi jalan tidak begitu ramai dan itu membuat Vanilla bersyukur karena artinya Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di klinik tempat suaminya melakukan praktik.


Hanya sekitar lima belas menit Ia tiba. Ia berjalan menuju ruangan suaminya usai menyapa orang-orang yang Ia temui begitu tiba.


Jhico baru saja selesai menangani pasien yang dimaksud Grizelle tadi. Ia keluar dari ruang penanganan dan bertemu Vanilla di depan pintu ruangannya.


Ia mempersilahkan Vanilla untuk masuk terlebih dahulu ke dalam ruangannya. Mata Vanilla langsung bisa menangkap sosok malaikat kecilnya yang berbaring terlungkup di sofa sedang berkutat dengan ponsel ayahnya.


"Griz, Mumu datang,"


Grizelle segera menolehkan kepalanya. Senyum mengembang di bibirnya. Vanilla mendekati anaknya dan memberikan kecupan di keningnya.


"Ayo, ganti pakaianmu lalu kita berangkat,"


Vanilla mengangsurkan paper bag di tangannya pada Grizelle. Putrinya itu langsung membuka dan berseru senang saat melihat baju, celana, dan topi yang akan Ia pakai sama dengan milik ibunya.


"Yeayy style kita couple ya, Mu,"


"Iya, sayang,"


Jhico duduk di kursi nya, memperhatikan anak dan istrinya dengan senyuman.

__ADS_1


"Mumu cantik," puji Grizelle.


"Selalu," imbuh anak itu kemudian.


Jhico mengamati penampilan istrinya yang kini duduk di sofa memangku Grizelle. "Kenapa tidak pakai joger pants saja, Nilla?" tanya Jhico.


"Kamu pikir aku akan olahraga?"


"Joger pants tidak hanya untuk olahraga,"


"Memang kenapa kalau pakai ini?"


Grizelle memperhatikan kedua orangtuanya yang berdebat kecil soal celana yang dikenakan Vanilla. Mata anak itu berkedip lucu.


"Kamu seperti anak remaja yang akan pergi bersama kekasihnya kalau penampilan mu seperti itu,"


Vanilla mendengus. Seharusnya Jhico senang karena Ia terlihat lebih muda dari usianya.


"Mumu bagus pakai ini, Pu,"


"Ya memang bagus, Sayang. Tapi menurut Pupu lebih tepat kalau kamu saja yang style nya seperti itu. Lagipula, apa kalian tidak dingin mengenakan celana yang pendek?"


Jhico melirik istrinya yang kini merengut. Grizelle turun dari pangkuan Ibunya lalu memperhatikan penampilan Vanilla, Ia menilai seluruhnya dengan telunjuk di bawah dagu. Vanilla menunggu anaknya selesai menilai penampilannya.


Selain karena istrinya yang terlihat semakin cantik dengan pakaiannya saat ini, tujuan Jhico menyarankan Vanilla untuk mengenakan joger pants agar paha putih dan mulus milik istrinya itu hanya Ia yang bisa melihatnya.


Grizelle tetap dengan penilaiannya di awal. Mumunya sangat cantik mengenakan apapun. Ia tidak pernah tidak suka dengan penampilan Vanilla.


"Pupu takut kelihatan lebih tua dali Mumu ya?" ujar Grizelle memicing menatap ayahnya. Vanilla seketika menahan tawanya.


"Mumu cantik pakai ini," tambah anak itu.


Vanilla mengajak anaknya untuk high five. Grizelle memujinya dan membuat Jhico mendelik ke arahnya yang memasang tampang mengejek.


"Griz saja suka dengan penampilanku, tidak berisik seperti kamu,"


Jhico menggeleng pelan, tak lagi mengatakan apapun. Vanilla dan Grizelle tertawa kecil kemudian menyatukan hidung mereka.


"Dasar, kakak adik,"


******

__ADS_1


Joana mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja secara asal, sembari menunggu kedatangan Vanilla. Mereka berdua memang sudah sepakat untuk bertemu di food court.


Barusan Ia menghubungi Vanilla kemudian Vanilla mengatakan bahwa sebentar lagi Ia akan tiba. Joana tidak sabar untuk bertemu Vanilla karena Vanilla akan membawa anak menggemaskan yang begitu Ia idolakan sejak lahir ke dunia, Grizelle.


"Dimana Aunty Jo?"


Grizelle bergumam, memperhatikan sekitarnya. Satu tangan anak itu digenggam Vanilla. Mereka berdua menyusuri food court. Sebelum akhirnya sorot jernih Grizelle berhasil menemukan sosok yang Ia cari.


"Aunty Jo," serunya seraya melambai. Ia berlari setelah melepas genggaman tangannya pada sang Ibu.


"Apa kabar, Sayang?"


"Baik, Aunty juga baik? sepeltinya ya kalena Aunty ada di sini," ujarnya mengundang tawa Joana. Vanilla segera duduk, sementara Grizelle memperhatikan paper bag di atas meja.


"Aunty bawa apa itu? bawa waffle buatan Ibunya Aunty?" tanya Grizelle yang tahu bahwa Ibu Joana punya bisnis waffle yang mulai berkembang. Sama halnya dengan Vanilla yang menyukai makanan itu, Grizelle juga demikian. Oleh sebab itu kalau mereka bertemu, Joana sering membawa waffle dan Grizelle akan dengan senang hati menyantapnya.


"Bukan, Sayang,"


Joana mengambil paper bag itu lalu menyerahkannya pada Grizelle. Anak itu membukanya tak sabaran. Layaknya anak kecil pada umumnya yang akan sangat bahagia menerima hadiah dan tidak sabar untuk melihatnya.


"Woaahh selimut,"


Grizelle segera memeluk selimut berbahan sangat lembut itu. Bahkan Grizelle membalut tubuhnya dengan itu hingga Vanilla terkekeh menggeleng.


"Telimakasih (terimakasih) ya, Aunty," ujarnya tanpa disuruh. Wajahnya berseri sekali menerima pemberian Joana.


"Aku suka, pasti aku pakai. Hmm...hangat,"


Grizelle terlihat menggemaskan karena tubuhnya yang kecil tenggelam dalam balutan selimut itu.


"Kembali kasih, Sayang. Maaf ya, tidak mahal harganya,"


Biarpun Ia mengatakan tidak mahal, tapi kalau untuk anak Vanilla dan Jhico itu, tidak ada seorang pun yang akan dengan sembarangan memberikan hadiah.


"Ini bagus, pasti mahal. Kalena (karena) kata Mumu balang (barang) bagus itu mahal halganya (harganya),"


"Kamu tidak perlu membelikan sesuatu untuk Grizelle. Sudah terlalu sering," ucap Vanilla pada Joana.


Joana menggeleng, Grizelle sudah seperti anaknya sendiri. Ia begitu menyayangi anak hebat yang dilahirkan Vanilla itu.


Saat melihat Grizelle berusaha kuat setelah mengetahui bahwa adiknya pergi dan Ibunya sakit, Joana merasa kagum sekaligus haru pada anak itu. Dia anak perempuan yang hebat. Ditengah keterpurukan kedua orangtuanya atas kehilangan calon anggota baru keluarga mereka, Grizelle justru berperan sebagai anak pertama yang dewasa meskipun usianya masih sangat kecil. Ia menguatkan Ibunya, padahal dirinya sendiri merasa sedih.

__ADS_1


 


Hellawww selamat pagiiii. Ketemu sm Icel lg nih. Oiya, pagi ini aku update 3 ceritaku yaaa. Addicted dan Because of you udh duluan aku up tadi. Skrg Nillaku. Selamat membaca🙌jgn lupa tinggalkan jejak yaaa💙


__ADS_2