Nillaku

Nillaku
Nillaku 396 Grizelle "Aunty tidak boleh sedih, harus senyum terus"


__ADS_3

"Trrliple A (triple A) sudah tahu kalau Aunty di sini?"


"Tidak, baru Grandma saja yang tahu. Mereka belum,"


Grizelle mengangguk kemudian. Ia menyudahi Jane yang kembali mengibas-ngibas tangan di atas lukanya.


"Aunty, aku takut,"


"Takut apa?"


"Takut menyentuh lukaku,"


"Oh ya sudah, tidak Aunty kibas lagi," kata Jane seraya menghentikan aksinya yang Ia lakukan dengan niat mengurangi rasa sakit yang dirasakan Grizelle.


"Aunty tidak istirralahat(istirahat) ya?"


Jane menggeleng pelan. Tadi saat Grizelle berada di celah pintu, Ia sedang membaca pesan yang dikirim suaminya dengan mata berkaca. Anak itu datang, sedihnya langsung terhempas.


-Kamu sudah sampai?-


-Hati-hati ya-


- Aku berikan kamu waktu untuk menyendiri. Tapi aku bersumpah akan secepatnya menemui kamu di sana-


-Aku tidak bisa terlalu lama membiarkan kamu sendiri tanpa aku. Kita juga tidak bisa terlalu lama dalam kondisi yang seperti ini-


-Aku sangat mencintai kamu, Jane-


-Jangan pernah lupakan itu-


Pesan itu bertubi-tubi dikirimkan Richard hingga membuat perasaan Jane menjadi tidak karuan.


"Aunty, kenapa menangis?"


Padahal Jane tidak mengeluarkan air matanya. Tapi hanya berkaca saja tapi rautnya bisa Grizelle lihat dan bisa Ia nilai bahwa Auntynya sedang tidak baik-baik saja.


"Aunty tidak menangis,"


"Tadi aku lihat Aunty sedih, melamun juga,"


"Aunty tidak melamun, Sayang,"


"Tadi sebelum aku masuk ke sini,"


"Aunty sedang membaca pesan dari Uncle,"


"Oh iya, pertanyaanku tadi belum dijawab," Grizelle berseru, baru ingat kalau pertanyaan yang ia sebutkan sebelumnya tidak dijawab Jane. Mengenai ketidak hadiran Richard di samping Jane.


"Uncle Rrli (Ri) tidak ikut dengan Aunty?"

__ADS_1


"Tidak, Sayangku,"


Jane mengusap rambut Grizelle yang terasa begitu lembut di tangannya.


"Kamu ini perawatan rambutnya apa sih? rambutmu bagus. Aunty suka sekali,"


"Hanya dipakaikan shampoo dan vitamin saja oleh Mumu. Vitamin itu juga tidak setiap harrli (hari) terrlkadang (terkadang) Mumu lupa, Nada lupa, dan aku juga lupa," Katanya seraya terkekeh dan menyentuh rambutnya sendjri.


Jane membandingkan dengan rambutnya sendiri. Ia memiliki rambut yang terawat karena memang rajin merawatnya. Sementara Grizelle adalah anak kecil yang pemikirannya mungkin belum tentang perawatan tubuhnya termasuk rambut. Tapi rambut Grizelle sudah sebagus dan sesehat ini sekalipun tidak begitu dirawat. Ia sendiri yang mengatakan tidak setiap hari menggunakan vitamin rambut.


"Tapi kalau shampo setiap harrli (hari) dua kali," imbuh Grizelle seraya mengangkat dua jarinya.


"Tidak apa Aunty menginap di sini ya?"


Grizelle menepuk keningnya pelan. "Ya ampun, Aunty,"


Jane langsung menatap serius pada anak itu, "Kenapa?tidak boleh ya?"


"Boleh! boleh sekali. Aku malah senang kalau ada tamu di rrlumah (rumah),"


Jane memeluk anak itu lagi dan mengucapkan terimakasiha tas sambutan Grizelle yang diberikan untuknya.


"Baik sekai kamu ini,"


"Karrlena (karena) Mumu dan Pulu juga baik,"


Jane mengangguk membenarkan. Pantas saja anaknya seperti ini. Pasti ada peran besar orangtua dalam mendidiknya.


"Nanti Aunty mau cari rumah lalu pindah,"


"Kenapa carrli rrlumah (cari rumah) sayang uangnya. Lebih baik tinggal di sini," katanya yang seperti orang dewasa saja tahu tentang uang yang tak cukup sedikit untuk membeli rumah.


Jane terkekeh mendengar anak ini bicara. Benar-benar polos sekali tapi pintar.


"Tapi nanti Uncle Rrli (Ri) ikut pindah juga 'kan?"


Jane bingung akan menjawab apa. Sebab belum tahu bagaimana Ia dan Richard ke depannya. Apa benar lelaki itu akan menyusulnya atau tidak. Jane tidak yakin.


"Hmm ya, tidak,"


Kedua jawaban itu malah membuat Grizelle bingung. Maka Ia langsung menyambut dengan pertanyaan lagi, "Ya dan tidak? yang benarrl (benar) itu yang mana, Aunty?"


"Belum tahu, Sayang,"


"Hmm begitu. Tapi sebaiknya ajak Uncle saja. Lalu kalau Aunty tetap mau mencarrli rrlumah (mencari runah) carrlilah (carilah) yang dekat dengan rrlumahku (rumahku) supaya kita bisa serrling berrltemu (sering bertemu)," ungkap Grizelle yang lagi-lagi membuat Jane terhibur dengan celotehannya. Belum apa-apa Ia sudah memberi saran agar mencari kediaman yang dekat dengan kediamannya sendiri supaya sering terjadi pertemuan katanya.


"Kalau Uncle Rrli (Ri) tidak diajak pindah juga, kasihan Uncle Rrli (Ri) nanti dia menangis, sedih tinggal sendirrli (sendiri),"


Jane merasa gemas dengan Grizelle. Ia mencium anak itu tak ingin berhenti. Hanya saja Ia tak ingin membuat Grizelle tak nyaman, maka Ia tidak bisa menciumnya bertubi-tubi.

__ADS_1


Grizelle tiba-tiba saja mengusap pipi Jane dengan lembut dan menatap sangat dalam tepat di mata Jane.


"Aunty tidak boleh sedih. Harrlus (harus) senyum terrlus (terus) apalagi di sini 'kan ada aku. Okay, Aunty?"


Grizelle tidak tahu apapun yang sedang dihadapi Jane tapi entah mengapa Ia merasa ingin sekali mengatakan itu pada Jane, menghiburnya dan meyakinkan Jane agar tidak sedih karena ada dia di sampingnya.


Padahal Grizelle tidak tahu permasalahan apapun yang dibadapi Jane hingga sedih. Yang jelas, Grizelle memang merasa ada yang beda dari sorot mata Auntynya. Ia tersenyum tapi seperti ada luka.


"Iya, terimakasih sudah baik sekali,"


"Mereka berdua itu beruntung sekali memilikimu, Grizelle,"


"Merrrleka berrldua (mereka berdua) siapa, Aunty?"


"Mumu dan Pupu Grizelle,"


Grizelle menganggukkan kepalanya beberapa kali tapi ia juga menyampaikan bahwa Ia tak kalah beruntung memiliki Mumu dan Pupunya.


******


Jhico dan Vanilla bingung mengapa anaknya tak kunjung kembali ke kamar mereka padahal katanya hanya ingin sekedar melihat Jane.


"Apa dia mengganggu Jane yang sedang istirahat ya?"


"Aku rasa tidak, Nillaku. Icelle tidak akan berani melakukan itu dan tadi juga aku sudah berpesan padanya,"


Vanilla membenarkan ucapan suaminya. Rasanya tidak mungkin kalau Grizelle menganggu istirahat Auntynya yang baru tiba apalagi tadi ayahnya sudah berpesan agar tidak mengganggu dan anak itu mengiyakan.


Vanilla memutuskan untuk menghampiri anaknya di kamar yang ditempati Jane.


"Kemana, Nillaku?"


"Melihat Icelle dulu sebentar, My Jhi,"


Jhico berdecak menatap istrinya kesal. "Sudah aku bilang jangan memanggil My Jhi. Masih saja diulang," kata nya.


Vanilla menutup mulutnya seketika. Ia terkekeh meringis. Lupa kalau Jhico memang tidak ingin dipanggil begitu.


"Ya sudah, inginnya dipanggil apa?"


"Jhi saja. Panggilan itu berbeda dari yang lainnya,"


"Okay,"


"Tidak usah menghampiri Icelle,"


"Dia kemana? Aku 'kan khawatir, Jhi,"


"Aku rasa Jane belum sempat istirahat dan dia terlanjur melihat Grizelle lalu mereka sekarang berbincang,"

__ADS_1


"Hmm ya sudah, aku ingin memastikan sendiri,"


Vanilla keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan sang putri yang tadi mengatakan hanya ingin melihat Jane yang sedang istirahat tapi sampai saat ini tidak kunjung kembali.


__ADS_2