Nillaku

Nillaku
Nillaku 277 Grizelle mengamati Mumu membuat cookies


__ADS_3

"Griz, sudah lapar belum?"


"Belum, tadi 'kan sudah sarrlapan (sarapan), Mu,"


Jhico menoleh pada istrinya yang bertanya pada sang anak. Sepertinya Vanilla yang lapar.


"Kamu lapar, Nillaku?"


"Iya, padahal tadi sudah sarapan,"


"Ya sudah, mau makan apa?"


"Mau makan di luarrl (luar), Mu?"


"Makan di rumah saja,"


"Yang benar?"


Vanilla mengangguk menjawab pertanyaan suaminya. "Nanti Mumu mau coba buat cookies. Mumu ada resep baru. Griz mau coba tidak?"


"Selalu, aku pasti akan selalu mencoba masakan Mumu,"


"Kalau tidak enak, tidak apa?"


"Tidak apa, Mu. Berrlhubung (berhubung) Mumu bukan chef, jadi pasti aku maklumi,"


Vanilla terkekeh menoleh pada anaknya yang duduk dengan nyaman melihat-lihat pemandangan dari luar jendela mobil. 


*****


"Bukankah ini sudah dekat dengan sekolah Grizelle?"


Melihat Raihan mengangguk, Rena kembali bertanya, "Lalu untuk apa kita ke sini? menjemput Grizelle? sekarang akhir pekan, Pa,"


"Jangan bertanya terus bisa tidak, Sayang? nanti kamu akan tahu sendiri," terlampau geram mendengar istrinya yang terus bertanya, Raihan sampai dibuat gemas.


Makin bertambah bingung ketika Raihan menghentikan mobilnya di depan sebuah tempat yang luas sekali.


"Ayo, turun,"


Raihan meminta istrinya keluar dari mobil. Rena langsung menatap bangunan di depannya dan juga sekitar.


"Ini tempat bermain?"


Ada alat bermain untuk anak-anak yang bisa Ia lihat saat ini maka Ia bertanya seperti itu.


"Iya, untuk cucu-cucuku,"


"Hah?" seperti orang bodoh, Rena terperangah. Ia belum paham dengan maksud ucapan suaminya.


"Sementara, ini aku buat untuk keempat cucuku, Rena," Raihan menyampaikan dengan lebih jelas lagi yang membuat Rena mengerjap beberapa saat.


Rena mengangguk pelan. "Kenapa membuat ini untuk mereka? maksudku, mereka bisa bermain di tempat-tempat lain. Dan apa mereka tahu?"


"Semua cucuku itu hobi bermain. Jadi aku membuatkan mereka tempat ini,"

__ADS_1


"Ya ampun, aku rasa ini tidak wajar, diluar nalarku. Kamu bisa memberikan hal yang lain 'kan, Pa. Semisal rumah atau apa,"


"Itu sudah cukup. Aku ingin menyenangkan mereka dengan tempat bermain ini. Berhubung mereka masih kecil. Kalau sudah dewasa untuk apa lagi aku membuat ini,"


"Jadi nanti setelah mereka dewasa ini akan dihilangkan?"


"Tidak, maksudku, kalau dibuat saat mereka masih kecil, pasti akan sangat terpakai, mereka akan senang. Kalau aku membuatnya ketika mereka sudah dewasa, tidak akan digunakan oleh mereka. Nanti saat mereka dewasa, ini akan tetap ada walaupun mungkin mereka tidak akan lagi singgah-singgah di sini untuk bermain. Tapi paling tidak, ada kenangan,"


Rena mengangguk pelan mendengar penjelasan suaminya. Niat Raihan memang satu, hanya untuk membuat cucunya bahagia. Itu saja, maka Ia melakukan ini yang menurut Rena tak waar sebab ada banyak yang bisa diberikan Raihan untuk mereka namun Raihan memilih tempat bermain untuk dipersembahkan pada keempatnya sebab mereka semua memang suka bermain dari mulai Andrean dan Adrian yang hobi sekali ke arena bermain sampai Grizelle. Meskipun Triple A terbilang tak begitu kecil lagi seperti Grizelle, tapi jangan salah, mereka bertiga masih kerap melipir ke tempat bermain bila sedang berada di pusat perbelanjaan dan mainan di rumah mereka pun masih luar biasa banyak.


Usia Andrean dan Adrian yang sepuluh tahun dan Auristella delapan tahun, tak membuat hobi mereka hilang sepenuhnya. Mungkin kalau berkurang, iya.


"Tapi ini bisa juga untuk umum?"


"Bagaimana menurutmu? dibuka untuk umum juga tidak?"


"Aku rasa untuk umum juga tidak masalah. Karena sayang sekali kalau hanya digunakan oleh mereka bereempat yang tidak bisa setiap hari datang bermain ke sini,"


Raihan membenarkan masukan istrinya. Ia sempat berpikir seperti itu yang ternyata sama dengan istrinya.


"Jadi bisa bermanfaat juga untuk orang lain. Aku rasa banyak anak yang ingin bermain di sini karena setahuku belum ada tempat bermain yang sebesar ini di sekitar sini,"


"Ini belum resmi dibuka,"


"Ya kalau untuk cucu saja tidak usah ada pembukaan secara resmi. Kecuali kalau untuk umum,"


Raihan terkekeh mendengarnya. "Iya ini untuk umum nanti. Sebaiknya begitu 'kan?"


"Iya, biar bermanfaat juga untuk anak-anak lain. Mereka bereempat juga akan senang bila ramai suasananya,"


"Aku mencari tempat yang bagus ya? dekat dengan sekolah Griz,"


*****


"Makan dulu, baru buat cookies,"


"Aku mau makan cookies saja,"


"Tapi bukankah masih lama kalau menunggu cookies jadi?"


"Tidak apa,"


Jhico kira istrinya mau makan yang lain, tapi ternyata Vanilla mau menghilangkan laparnya dengan cookies buatannya nanti.


Vanilla mengganti bajunya terlebih dahulu baru kemudian ke dapur.


"Aku mau bantu Mumu,"


"Iya, nanti Griz bantu mempercantik saja ya,"


"Berarti terakhirrl (terakhir) ya, Mu?"


"Iya, Sayang,"


Vanilla mulai mencampurkan bahan-bahan yang sudah disiapkan Bibi. Setelah siap barulah nantinya dimasukkan ke dalam oven.

__ADS_1


"Itu sampai berrlapa (berapa) lama, mu?"


"Sampai tercampur rata,"


"Oh, aku boleh coba?"


"Jangan ya, Sayang. Alat pengaduk ini menggunakan daya listrik,"


"Okay, baiklah,"


Seperti biasa, Grizelle senang sekali menjadi pengamat bila Ibunya atau siapapun sedang memasak terutama membuat cake atau cookies.


Sementara anak dan istrinya di dapur, Jhico memilih untuk membaca-baca buku sesekali Ia akan bermain game di gadgetnya.


****


"Lihat pemandangannya,"


"Seram, karena ada hutan,"


"Justru biar kamu tahu bagaimana alam yang sebenarnya, Auris,"


"Lebih menyenangkan di pantai,"


"Tidak jauh dari sini ada pantai. Auris mau ke sana?"


"Mau-mau, Dad,"


"Ya sudah, nanti sore ya. Sekarang kita nikmati dulu tempat ini,"


Auristella mengangguk senang. Dan Ia pun ikut menikmati pemandangan hutan yang berhadapan dengan kamar mereka. Jujur Ia pun mendapat ketenangan di sini.


"Peraturan ketika berlibur seperti biasa ya, Dad," Lovi menaik turunkan alisnya menatap sang suami.


"Apa?"


"Tidak boleh bekerja,"


"Ah, Daddy tetap saja suka sibuk sendiri dengan pekerjaan kalau sedang berlibur. Percuma dibuat peraturan seperti itu, Mom," sambar Adrian yang benar adanya. Auristella bahkan ikut menambahkan, "Iya, padahal berlibur tapi masih sibuk,"


"Ah tidak juga,"


Auristella dan Adrian kompak mencibir ayahnya tak mengakui itu.


"Hei, nanti Daddy pulangkan, tidak usah ada liburan,"


Devan mengancam yang sebenarnya hanya bercanda. Namun reaksi kedua anaknya panik, benar-benar takut dipulangkan dan akhirnya bayangan-bayangan mereka tentang liburan tak jadi terlaksana.


****


Grizelle membuka pintu kamar tidur Mumu dan Pupunya. Ia diminta Vanilla untuk memanggil Jhico agar makan siang bersama dan mencicipi cookies yang baru jadi buatan Vanilla. Di atas ranjang Ia melihat Jhico terlelap dengan buku yang sedikit menutupi wajahnya.


Grizelle menahan tawa melihatnya. Ia jalan pelan-pelan seperti seorang penjarah.


Ia menatap sebentar ayahnya. Hatinya tidak tega bila membuat Jhico terjaga tapi Ia diminta begitu oleh Mumunya.

__ADS_1


Ia berbalik keluar dari kamar untuk bertanya pada Vanilla apakah Jhico dibangunkan saja atau tidak perlu. Karena jujur Grizelle tidak tega.


------


__ADS_2