
Jhico tidak melakukan apapun. Ia hanya menggeram pelan tanpa bersikap bak singa kelaparan ketika melihat istrinya ingin dipinang oleh laki-laki lain.
Renald belum mendapatkan jawaban karena ketika Vanilla akan mengeluarkan suara, seorang laki-laki yang pernah bertemu dengannya menarik tangan Vanilla agar bangkit lalu Ia bersiap membawa Vanilla pergi.
"Hey! siapa kau? berani sekali membawa Vanilla,"
Jhico menoleh seraya tersenyum miring. Seharusnya pertanyaan itu buat dia yang dengan mudah menyatakan cinta tanpa tahu status Vanilla. Oh, atau istrinya sendiri yang belum mengakui pernikahan mereka di hadapan laki-laki itu?
Baik, akan Ia sampaikan sekarang juga agar mereka tidak lagi berbuat sesuatu yang membuat dada Jhico terbakar api.
"Kau belum tahu rupanya. Vanilla adalah--"
Vanilla meremas tangan Jhico lalu segera membawa suaminya pergi dari sana. Ia tidak ingin Jhico melanjutkan ucapannya. Ia meninggalkan Renald sendiri yang diselimuti dengan perasaan bingung.
Jhico mengikuti keinginan gadis itu. Entah sampai kapan Ia akan tetap bersembunyi dibalik permainannya bersama laki-laki tadi.
Jhico membawa Vanilla pulang ke apartemen dengan wajah tenang yang luar biasa namun sangat berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.
Ketenangan itu hanya bertahan beberapa saat saja. Karena ketika sampai di kamar, Jhico membanting pintu lalu setelahnya mendorong Vanilla sampai berbaring di atas ranjang.
Rahang Jhico seperti ingin patah karena terlalu mengetat. Vanilla tidak berani melihat sorot marah yang sebenarnya tidak bisa ditutupi oleh Jhico.
"Apa yang kamu lakukan, Vanilla?!"
Jhico membawa bahu istrinya agar duduk lalu menatap tajam tepat ke manik biru Vanilla. Napas Jhico sangat memburu, seiring dengan semakin besarnya keinginan Jhico untuk menampar wajah cantik di depannya ini.
"JAWAB AKU!"
Jhico bertolak pinggang, menjauh dari Vanilla agar sengatan emosi tidak membuatnya semakin gila. Teriak saja sudah menciptakan perasaan bersalah, apalagi kalau Ia melakukan hal yang lebih?
"Jhico, aku takut." Vanilla mengakuinya. Tapi bukan itu jawaban yang diinginkan Jhico.
"Sama, Aku juga takut. Takut kehilanganmu, Vanilla. Kamu tidak mengerti bukan? KAMU TIDAK MENGERTI, OLEH KARENA ITU KAMU MELAKUKAN INI!"
*********
Renald kembali ke rumah kecil yang dikontraknya setiap bulan dengan perasaan kacau. Ia tidak membawa jawaban yang pasti seperti apa yang Ia bayangkan sebelumnya.
Malam ini berakhir dengan kebingungan yang bersarang di kepalanya. Apa yang terjadi diantara mereka? kenapa Vanilla tidak pernah menjelaskan apapun? sikap tubuh mereka tadi, tidak bisa berhenti membuat Renald berpikir buruk. Jhico ingin mengatakan sesuatu, namun Vanilla seperti berusaha menjaga rapat-rapat hal yang seharusnya Renald tahu dari mulut Jhico.
Renald melamun di depan kaca jendela rumahnya yang menampilkan gemilau bintang di atas sana.
"Apa aku sudah terlambat untuk menjadikanmu sebagai milikku?"
*****
Vanilla duduk di tepi ranjang memperhatikan Jhico yang tampak hancur, terduduk bersandar di dinding. Mereka berhadapan, dan sama-sama tenggelam dalam emosi yang belum berujung.
__ADS_1
Vanilla menghampiri Jhico lalu memeluk erat lelaki itu. Vanilla merasa bahunya basah. Jhico menangis, suaminya bersedih. Ya Tuhan, Ia belum menjelaskan apapun pada Jhico namun reaksinya sudah seperti ini.
Vanilla melepas jalinan tubuh mereka. Ia duduk di hadapan Jhico lalu mengangkat wajah Jhico yang menunduk. Ia menghapus jejak aliran bulir air mata di wajah yang penuh dengan pahatan sempurna itu.
"Maafkan aku, jangan seperti ini."
"Bagaimana caranya agar kamu tetap berada di sisiku tanpa menyakiti seperti ini. Katakan padaku, bagaimana caranya? apa yang harus aku lakukan agar pernikahan ini layak untuk disebut normal, Vanilla?" suara Jhico sangat tenggelam. Ia meminta penjelasan Vanilla dengan sorot sangat berharap.
"Kamu sangat mencintaiku? aku harap tidak, karena itu akan semakin menyakitimu, Jhico. Aku tidak bisa memiliki perasaan yang sama sepertimu,"
Kenyataan pahit apa lagi ini? Jhico menggeleng dan merangkum wajah cantik sang istri untuk meyakinkan, "Kamu bisa, tapi kamu selalu menutup diri. Kita bisa baik-baik saja, Vanilla. Tuhan sudah menyatukan kita, tapi kamu masih menolak takdir itu,"
"Ya, karena aku tidak mencintai kamu. Aku anggap kamu adalah temanku yang sama-sama diperintahkan untuk menjalani hubungan asing ini,"
Asing? satu bulan lebih mereka bersama, menghabiskan waktu selalu berdua, Jhico pikir semuanya sudah hampir berjalan dengan semestinya. Ternyata tidak, Vanilla tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan mencintai Jhico, tanpa perlu melihat betapa besar harapan Jhico untuk mempertahankan ini semua.
"Kalau aku boleh tahu, siapa dia? siapa yang kamu cintai, Vanilla?"
Vanilla menghela napas sebelum menjawab dengan suara amat pelan dari mulutnya, "Renald, laki-laki tadi." Vanilla menggenggam erat tangan sosok yang selalu menyayanginya ini. Mereka teman, seperti apa yang Vanilla katakan tadi sehingga saat ini Vanilla tengah menyalurkan kekuatan agar Jhico tidak semakin hancur setelah mendengar jawaban dari hatinya yang terdalam.
******
Selama di perjalanan Jhico mengantarnya ke kampus, tidak ada percakapan apapun. Vanilla enggan untuk berbicara, apa lagi Jhico.
Setelah sampai di kampus, dan Jhico kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit, Vanilla memutuskan untuk tidak kuliah, Ia akan datang ke mansion. Karena percuma juga kuliah namun pikirannya sedang berantakan.
"Kamu tidak kuliah?"
"Kamu sendiri?"
"Nanti siang,"
"Aku lihat dari gelagatmu, sepertinya kamu tidak kuliah hari ini karena ada sesuatu,"
Vanilla mengangguk jujur. Ia menyandarkan kepala di sofa lalu memejamkan matanya untuk mengusir berbagai pikiran buruk di kepalanya.
"Aku dilamar oleh Renald semalam,"
"APA?!"
Laptop Jane hampir jatuh karena Ia bangkit secara tiba-tiba dan laptopnya berada di atas pangkuan.
"Ya, dan Jhico tahu itu,"
Jane menutup mulutnya tidak menyangka. Kisah mereka bertiga begitu rumit hampir sama dengan drama yang sering disaksikannya.
"Lalu bagaimana tanggapannya?"
__ADS_1
"Marah,"
"Aku tahu, Sialan! maksudku, dia meminta pisah darimu atau membunuh Renald?"
"Tidak kedua-duanya,"
"Jadi maksudmu?"
"Dia marah, tapi memilih tetap bertahan di dalam pernikahan ini. Dia bodoh. Benar bukan?"
"Dan kamu mulai mencintai laki-laki bodoh itu, Vanilla."
Jane kembali fokus dengan kegiatannya yang sedang merevisi sesuatu. "Kalau kamu tidak memiliki perasaan apapun, tidak mungkin kamu gelisah seperti ini sampai tidak kuliah. Padahal Vanilla yang aku kenal sekarang sangat rajin karena ingin menghapus sebutan 'mahasiswi abadi' di kampus,"
"Aku gelisah bukan karena itu. Aku memikirkan Renald sejak semalam. Apa dia baik-baik saja setelah melihat aku pergi tanpa menjawab apapun,"
"Ternyata Jhico benar-benar bodoh. Dia mempertahankan gadis yang tidak punya hati dan otak sama sekali,"
Vanilla menarik lengan baju yang dikenakan Jane agar sepupunya itu menatap ke arahnya. Gadis bodoh itu dirinya bukan?
"Bisa-bisanya kamu memikirkan perasaan orang lain disaat suamimu sendiri terluka. DIMANA OTAKMU, VANILLA?" Jane menekan kalimat terakhirnya agar tidak keluar dengan nada kencang.
Ternyata bukan ketenangan yang diperoleh Vanilla ketika datang ke mansion. Ia malah dibuat semakin kacau. Vanilla lupa bahwa mansion ini berisi orang-orang yang pasti lebih membela Jhico daripada dirinya. Ia baru bertemu Jane, dan sudah sesakit ini disalahkan. Apa lagi bila Raihan dan Rena tahu. Apa yang akan terjadi pada dirinya?
******
Semenjak rumah sakit yang menjadi tempat Jhico bekerja digenggam oleh Arlan, kakeknya, Jhico semakin didesak untuk menjadi salah satu bagian yang penting dalam rumah sakit itu. Jhico tidak pernah ingin bekerja menjadi robot. Jhico selalu memberontak dan kali ini bukan untuk pertama kalinya. Ia akan mencari tempat lain untuknya mencari uang.
Keputusannya itu didengar oleh teman-teman Jhico terutama yang satu ruangan dengannya. Seperti Denaya, Vander, Fenelly, dan Nares.
Mereka semua merasa kehilangan. Jhico, si dokter baik yang mudah bergaul dan selalu menebar hal positif akan pergi dari lingkungan pekerjaan mereka yang sebelumnya sama.
"Padahal kita sudah menjadi pasukan yang lengkap, Co." sesal Denaya yang akan kehilangan mantan kekasih sekaligus sahabatnya itu.
"Sudah berpikir matang?"
Jhico mengangguk walaupun hatinya mengatakan 'belum'. Tadinya rencana ini akan dibicarakan oleh Vanilla juga, tapi sayangnya ada permasalahan yang lebih besar menghantam hubungan mereka sampai akhirnya Jhico memutuskan ini seorang diri. Lagi pula Vanilla tidak akan peduli dengan apapun yang Ia lakukan. Seperti yang dikatakan gadis itu, bahwa hubungan mereka terasa asing dan Ia hanya dianggap sebagai teman.
"Kalau aku menjadi dirimu, untuk apa kelelahan mencari pekerjaan baru hanya untuk menghindar dari keluarga,"
"Kau tidak mengerti apapun, Nares. Keluargaku tidak baik-baik saja seperti apa yang kalian nilai dari luar. Aku hanya ingin sukses tanpa adanya jabatan dari Opa atau Papaku dibaliknya,"
Cobaan Jhico saat ini cukup berat. Ia harus memikirkan nasib pernikahannya, juga pekerjaan. Tapi Jhico yakin bahwa orang baik akan menemukan kebaikan juga dalam hidupnya.
-----------
SELAMAT KAMIS PAGIII SEMUAA. LANJUT LAGIII? CUSSS LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAAA. TENCUUU :*
__ADS_1