Nillaku

Nillaku
Nillaku 100


__ADS_3

"Teman masa kecilmu sering menghubungi kamu ya?"


"Tidak juga, kenapa memangnya?"


"Ini, dia menghubungi mu,"


"Apa katanya?"


"Dia ulang tahun,"


"Lalu?"


"Lihat sendiri ini. Kamu ngapain sih di sana?"


"Masak, kamu lihat sendiri 'kan?"


Vanilla meletakkan ponsel suaminya di meja pantry lalu bertopang dagu. Ia memperhatikan Jhico yang sedang memasak pasta sebagai menu makan malam ini. Vanilla ingin pasta buatan suaminya sementara Jhico minta dibuatkan sereal.


Setelah menaburkan keju sebagai pelengkap pasta, Jhico segera berbalik badan seraya membawa satu piring pasta yang aromanya membuat penghuni di dalam perut Vanilla semakin berisik.


"Aroma nya benar-benar menggugah selera,"


"Makanlah,"


Tanpa basa-basi, Vanilla meraih garpu dan akan memasukkan satu suap penuh ke dalam mulutnya. Tapi Jhico menegur, "Berdoa dulu, Nilla."


"Oh ya, aku lupa."


"Ajari anakmu untuk melakukan kebaikan,"


"Ya,"


Vanilla berdoa sebentar begitupun dengan Jhico.


Hap


Setelah berdoa, Vanilla langsung melahap pasta yang dibuatkan khusus oleh Jhico untuk nya.


"Woahh lezat,"


Jhico tersenyum mendengar pujian istrinya atas masakan yang dia buat. Lelaki itu menikmati sereal yang dibuat sang istri. Ia juga memuji, "Akhirnya susu nya pas ya. Kemarin-kemarin terlalu banyak seperti kebanjiran,"


Vanilla terbahak kencang lalu memukul bahu suaminya. Jhico takjub melihat istrinya yang tadi terlihat lesu sekarang sudah kuat. Pukulannya lumayan sakit.


"Berkat pasta ku, kamu jadi kuat lagi, Nilla."


*****


Hari ini adalah jadwal untuk Joana menjenguk ayahnya di dalam jeruji besi. Ia datang bersama Bela, Ibunya. Setelah mengantar waffle pesanan, mereka segera bergegas ke tempat tinggal Nendra untuk saat ini.


Joana dan Ibunya diminta untuk duduk menunggu Nendra yang akan dipanggil oleh salah satu petugas di lapas nya.


Tak lama, Nendra datang. Ia tersenyum seraya memeluk dua wanita yang berarti dalam hidupnya itu.


"Aku selalu menunggu kalian datang,"


"Kami datang sesuai jadwal biasanya, Ayah."


"Ya, kalian membawa apa?"


"Biasa, hanya makanan."


Bela menyerahkan makanan yang dia masak khusus untuk suaminya. Itu makanan kesukaan Nendra.


"Ayah, lagi-lagi aku minta pada ayah agar pernikahanku dan Milano dibatalkan. Aku mohon, Ayah. Aku tidak mencintainya,"


Beberapa menit terdiam, Joana angkat suara. Ia menatap Nendra penuh permohonan.

__ADS_1


"Ayah ingin kamu bahagia, Joana. Kamu sudah hidup sulit semenjak Ayah di sini,"


"Aku tetap bahagia selama ini." sanggah Joana yang paling tahu bagaimana kehidupannya selama ini. Dia bahagia meskipun tidak ada Nendra di sampingnya. Ia bahagia meskipun Nendra tak bisa lagi memenuhi keinginannya seperti dulu, Ia bahagia biar Nendra tidak lagi memanjakannya dengan harta yang berlimpah.


"Ayah yakin Milano bisa membahagiakan kamu,"


"Kenapa ayah bisa yakin? aku dan dia bahkan baru dekat belakangan ini. Ayah bisa pastikan dia bisa membahagiakan aku yang tidak dicintainya ini?"


"Kalian pasti saling mencintai tapi semua butuh proses dan waktu. Yakinlah pilihan ayah tidak akan salah. Ayah tahu mana yang terbaik untukmu,"


"Joana sudah memiliki tambatan hati sendiri sepertinya, Nendra." ucapan Bela membuat Nendra terdiam, matanya memandang lurus ke arah Joana yang merasa terkejut mendengar ucapan Ibunya.


"Semalam mereka pergi bersama,"


"Ayah belum kenal, dan Ayah tidak ingin kenal dia,"


"Dia---"


"Tapi sepertinya mereka saling mencintai. Benar begitu, Jo?"


Joana tidak mengerti kenapa Ibunya bicara seperti itu. Semalam dia melarang Joana untuk terlalu sering pergi bersama lelaki lain yang bukan Milano. Tapi sekarang malah terkesan mendukung Ganadian dan Joana yang Ia anggap memiliki kedekatan.


"Ayah hanya ingin Milano yang menjadi suamimu. Ayah sudah kenal dia bahkan sejak kalian masih kecil,"


"Tapi aku baru mengenalnya belakangan ini,"


"Maka berkenalan lah kalian lebih jauh,"


Joana menghembuskan napas panjang nya. Ia segera menyampirkan tas nya di bahu kemudian berdiri.


"Joana pulang dulu,"


"Ibu juga. Ayah hati-hati di sini. Selalu jaga kesehatan,"


*****


Jhico mengajak Vanilla membeli kado untuk Fionna, teman masa kecilnya yang akan berulang tahu dua hari lagi. Jhico sudah dapat undangan untuk datang ke pesta ulang tahun Fionna melalui pesan singkat.


"Kalian sama saja,"


"Berbeda, Jhico. Aku hamil,"


"Tapi ukuran bajumu hanya bertambah sedikit begitupun celana,"


"Artinya beda 'kan?"


"Aku anggap sama,"


Jhico mengambil satu baju kemudian mengira-ngira ketepatan ukurannya menggunakan badan Vanilla. "Sudah lah, ini saja. Aku malas memilih terlalu lama,"


Putusnya setelah mengambil baju yang paling cocok untuk Fionna menurut nya, baik secara ukuran dan model.


"Sekarang aku mau cari untuk kamu,"


"Ngapain? bajuku banyak,"


"Aku ingin membelikan kamu. Apa salahnya? memang pakai uangmu?"


Vanilla menggerutu saat Jhico bicara seperti itu. Ia mengikuti langkah kaki Jhico ke tempat baju-baju hamil. Vanilla menggeleng saat melihat Jhico yang begitu antusias memilih. Tadi saat mencari punya Fionna dia tidak seperti itu. Dan Vanilla bahagia karena dia merasa sangat spesial bila dilihat dari perlakuan Jhico terhadapnya.


Vanilla sudah bosan melihat baju-baju perempuan. Ia memilih untuk berjalan ke tempat baju laki-laki.


Vanilla yang juga penyuka fashion menatap liar baju-baju untuk lelaki di sekelilingnya, Ia mencari baju yang sekiranya tepat untuk sang suami. Entah mengapa mereka jadi seperti bertukar kado.


Jhico sempat mencari-cari keberadaan istrinya. Tapi ketika Vanilla menjawab panggilannya, Ia merasa tenang karena artinya Vanilla masih berada di sekitarnya. Ia memang berlebihan sekali dalam menjaga Vanilla. Ia menganggap Vanilla adalah seorang baby girl yang harus selalu berada dalam pengawasan nya.


"Ah aku suka yang model itu,"

__ADS_1


Hap


Hap


Vanilla dan seorang gadis kecil saling menatap tatkala mereka sama-sama meraih sebuah baju semi formal, berkerah kemeja tapi bahan untuk badannya adalah kaus sementara lengannya berbahan sama dengan kerah. Warna dominan nya adalah navy.


"Aku dulu yang melihat ini,"


"Tapi aku dulu yang mengambil. Lihatlah tanganku berada di bawah tanganmu,"


Entah mengapa Vanilla menjadi egois sekarang padahal yang ada dihadapannya saat ini adalah seorang anak kecil.


Anak kecil itu menggeleng tidak mau kalah. Vanilla yang tadi merendahkan tubuhnya untuk meraih baju itu langsung berdiri tegap lagi seraya memegang baju yang menjadi incarannya.


Anak itu menangis hingga seorang laki-laki dan juga perempuan menoleh kemudian menghampiri anak itu. Vanilla yakin dia orangtua si anak yang menangis itu.


Jhico yang juga mendengar tangis langsung mengalihkan pandangan. Saat matanya menemukan Vanilla berada di dekat anak yang menangis, Jhico segera mendekat.


"Nilla, ada apa?" tanya Jhico menatap Vanilla sebentar kemudian beralih pada orangtua si anak.


Matanya mengerjap terkejut. Mereka adalah Vivi dan Ferdy, orangtua Keyfa dan yang saat ini memeluk Vivi pasti Keyfa.


"Keyfa, ada kakak dokter," ucapan Vivi membuat Vanilla mengerinyit. Ia semakin bingung saat melihat Jhico membawa anak yang menangis itu ke dalam gendongannya.


"Hei, kamu menangis karena apa?"


Keyfa yang sedari tadi menutup wajahnya dengan tangan langsung membukanya. Ia terkejut, ternyata benar ada Jhico dan bahkan saat ini Jhico menggendongnya.


Keyfa menunjuk Vanilla dengan wajah merengut. "Dia mengambil baju pilihanku untukmu, kakak dokter."


"Kamu mau membelikan aku baju?"


"Iya, itu pilihanku untuk kakak dokter. Tapi diambil olehnya,"


Jhico melirik Vanilla yang mendengus pelan seraya membuang pandangan. Terlihat sekali Vanilla sedang menahan kesal.


"Dia istriku namanya Vanilla. Aku sudah pernah mengatakannya padamu 'kan?"


"Oh ini yang akan aku panggil 'kakak manis' itu?"


"Kakak manis?"


"Iya, aku belum pernah bilang kalau aku akan memanggil istrimu 'kakak manis'?"


"Aku lupa..." ujar Jhico seraya menurunkan Keyfa dari gendongannya. Kemudian Ia meraih lengan Vanilla untuk lebih mendekat padanya.


"Perkenalkan, dia Keyfa. Anak kecil yang pernah aku ceritakan waktu itu,"


Keyfa nampak mengulurkan tangannya pada Vanilla seraya memperkenalkan dirinya sendiri. "Namaku Keyfa,"


Vanilla menerima uluran tangan kecil anak itu. Kemudian mengangkat bibirnya sedikit. "Aku Vanilla,"


"Baju nya berikan pada Keyfa saja. Kamu cari yang lain. Lagipula nantinya baju ini akan menjadi milikku juga..."


"Keyfa ingin memberikannya padaku 'kan?" lanjutnya bertanya pada Keyfa.


Keyfa mengangguk dan menengadahkan tangannya, meminta baju yang dipegang Vanilla. Akhirnya istri Jhico itu menuruti apa kata suaminya. Ia menyerahkan baju pilihannya pada Keyfa, biar Keyfa yang memberikannya pada Jhico.


"Aku yang bayar," ucap Jhico dan Keyfa langsung menggeleng tegas.


"Aku ada tabungan, kalau Kakak dokter yang bayar, itu namanya bukan pemberian aku,"


"Okay, baiklah."


 ---------


Like, vote, dan komen nya yg buanyaakk. Maaciw semuanya. Wufyu❤️😘

__ADS_1


Mampir ke lapak baru kuyy👇



__ADS_2