Nillaku

Nillaku
Nillaku 395 Jane senang sekali bisa bertemu Grizelle


__ADS_3

"Hallo, Sayangku. Ah senangnya ditelpon olehmu. Bagaimana kabarmu di sana?"


Jane tersenyum mendengar sapaan Rena yang tak lama langsung menjawab panggilannya.


"Aku baik, Aunty,"


"Benarkah? ah syukurlah,"


"Kabarmu bagaimana? Uncle bagaimana juga kabarnya?"


"Baik, kami baik, Jane,"


"Tebaklah aku berada dimana?"


"Di--rumahmu. Memang dimana lagi?"


Jane terkekeh kemudian menjawab, "Salah." yang membuat Rena bingung.


"Oh sedang berlibur dengan Richard ya? kemana?"


Raihan hanya melirik sesekali ke arah istrinya dan kembali fokus lagi dengam kesibukannya.


"Berlibur ke rumah Vanilla dan tanpa Richard," jawab Jane langsung. Rena mengerjap masih belum paham.


"Maksudnya bagaimana, Jane?"


"Aku ada di benua yang sama denganmu, Aunty. Dan sekarang aku sedang berada di rumah Vanilla. Aku ke sini tanpa Richard,"


Rena langsung duduk dengan tegap mendengar runtutan jawaban dari Jane.


"Kamu ke sini? pulang, Jane?"


"Ya, benar, Aunty!" Jane berseru disambut dengan Rena yang berseru juga sampai membuat Raihan menoleh bingung.


"Kenapa?" tanya lelaki itu pada istrinya. Ia tak mendemgar keseluruhan pembicaraan mereka.


"Jane pulang, Raihan! dan sekarang dia sedang di rumah Vanilla,"


"Tidak dengan Richard juga?"


Rena mengangguk seperti apa yang dikatakan Jane tadi bahwa Jane pergi tanpa suaminya.


"Aneh, kenapa tidak dengan Richard?"


Rena juga merasa bingung. Kenapa bisa Jane pergi ke sini tanpa Richard?


"Kenapa tidak bersama Richard, Jane?"


"Nanti kalau kita bertemu, aku ingin bercerita tentang masalahku ya,"


Rena terdiam beberapa saat. Dugaannya dan sang suami benar, bahwa ada yang aneh, sesuatu terjadi pada Jane dan Richatd yang menyebabkan Jane ke sini sendiri.


"Okay, kapan kamu datang ke rumah kami? Aunty dan Unclemu ini,"


"Besok mungkin?"


"Ah terlalu lama, Jane. Sudah tidak sabar bertemu denganmu,"


"Tapi aku ingin bermain sepuasnya dulu dengan putri kecil di rumah ini. Vanilla juga memintaku untuk beristirahat dulu sekarang. Tapi aku tidak sabar memberitahumu. Tadinya aku ingin memberi kejutan, tiba-tiba datang ke rumahmu tanpa memberi tahu dulu sebelumnya,"


"Okay, besok ya?"


"Iya, aku akan datang besok,"

__ADS_1


"Selamat beristirahat ya,"


"Terimakasih, Aunty,"


Rena tersenyum bahkan setelah panggilannya dan Jane berahir. Ia senang sekali mendengar kabar bahwa Jane datang walaupun tidak dipungkiri ada kekhawatiran sebab Jane ke sini tanpa Richard karena diantara mereka berdua sedang terjadi sesuatu.


******


Grizelle terbangun setelah Jhico mencium pipinya yang lembut. Padahal Jhico melakukannya dengan sangat lembut itupun karena Ia sudah bingung harus melakukan apa sembari menunggu siaran pertandingan basket mulai.


"Jhi, jangan mengganggu!" Vanilla berbisik memperingati suaminya yang jahil.


"Aku hanya ingin menciumnya. Tidak boleh?"


Keduanya menoleh saat Grizelle melenguh seraya menggeliatkan badan mungilnya.


"Icelle jadi bangun, Jhi,"


"Maaf, Nillaku,"


Pertandingan basket telah mulai, Jhico sudah fokus menatap televisi. Mengindahkan anaknya yang kini sudah terjaga. Bagaimana istrinya tidak kesal. Sudah dibuat bangun, malah ditinggal menonton.


"Pupu," Grizelle merengek seraya melingkarkan tangan di leher sang ayah.


"Ganggu Pupu, Icelle,"


Vanilla semangat sekali menyuruh anaknya mengganggu Jhico yang sedang serius menyaksikan siaran televisi.


"Pupu,"


"Apa, Sayang?"


"Ganti, Kita tonton prrlinces (princes), Pu,"


"Haaa aku tidak suka,"


"Tapi Pupu suka,"


"Haaa Pupu,"


Grizelle memeluk erat ayahnya hingga Jhico benar-benar dibuat terganggu oleh anaknya tapi ia tidak kesal justru malah terkekeh.


"Jangan ganggu, Icelle,"


"Ganti,"


"Eh iya, Tadi Pupu dan Mumu jemput Aunty Jane 'kan? sekarrlang (sekarang) Aunty Jane dimana?"


Vanilla sudah menduga kalau anaknya akan bertanya tentang Jane sebelum ia memberi tahu kalau Jane sudah tiba di rumah mereka.


"Aunty Jane lagi istirahat, Sayang,"


"Dimana, Mu?"


"Di kamar untuk tamu,"


"Maksudku di rrlumah (rumah) ini?" Tanya nya yang masih belum benar-benar paham dimana Jane beristirahat.


"Iya,"


"Hah? jadi Aunty Jane ada di sini? menginap di sini?"


"Ya, sekarang lagi istirahat,"

__ADS_1


"Oh begitu. Coba aku lihat dulu,"


Grizelle beringsut turun dari ranjang. "Jangan diganggu," pesan ayahnya yang tidak mengizinkan anaknya mengganggu istirahat tamu sekalipun mungkin Jane tidak mempermasalahkan.


"Tidak, Pu,"


Grizelle keluar dari kamar kedua orangtuanya lalu berjalan ke kamar tamu yang ada di rumahnya. Ia tidak bertanya di kamar tamu yang mana. Maka Ia buka saja satu persatu kamar tamu yang ada di rumahnya. Beruntung tidak lebih dari lima.


Sudah empat kamar yang Ia buka pintunya dan ia belum juga menemukan keberadaan Jane. Tinggal kamar terakhir. Ia membuka dengan pelan, sama seperti pintu kamar tamu yang lain, pintu itu tidak dikunci.


Ia membukanya dengan pelan sebab ia yakin di kamar inilah Aunty nya berada. Ia tersenyum menemukan Jane yang tengah duduk di ranjang menatap ponsel. Ia akan menutup pintu lagi namun sayangnya Jane menyadari kedatangan anak itu.


"Eh ada putri kecil ternyata. Ayo ke sini, jangan pergi!"


Grizelle akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar kemudian Ia masuk ke dalam kamar.


Ia melangkah cepat dan langaung melompat ke ataa ranjang hingga lukanya terhentak.


"AHH SAKIT!"


Jane langsung beranjak panik mendekat pada Grizelle. Anak itu menatap kakinya sendiri yang juga diikuti oleh tatapan Jane.


"Ya ampun, Grizelle. Hati-hati! jangan melompat begitu,"


Jane mengibas-ngibas tangannya di sekitar luka Grizelle yang beruntungnya tidak berdarah lagi. Hanya saja Grizelle terkejut dengan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar begitu ia mendarat di ranjang.


"Tidak apa, Aunty. Aku baik-baik saja,"


"Kamu kenapa bisa terluka begini?"


"Aku jatuh dua kali Aunty,"


Jane berdecak menatap keponakannya tak habis pikir. Bisa-bisanya jatuh sampai dua kali lalu menceritakannya dengan ringan sekali, padahal tadi nampak kesakitan.


"Aku jatuh dua harrli berturlut-turlut (hari berturut-turut),"


"Astaga, bagaimana bisa? pasti karena kamu tidak hati-hati ya?"


Jane melihat kejadian tadi maka Ia yakin sekali kalau Grizelle sendiri yang menyebabkan dirinya terluka.


"Iya, aku jatuh karrlena berrlari (karena berlari) dan juga saat olahrralaga materrli (olahraga materi) keseimbangan,"


Jane memeluk kepala Grizelle dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.


"Aunty senang sekali bertemu denganmu,"


"Aku juga senang. Aunty bagaimana kabarrlnya (kabarnya)?"


Jane menatap anak itu dengan dalam. Sudah jauh sekali perubahan Grizlele saat terakhir kali Ia bertemu. Sekarang Grizelle sepeeti sudah dewasa sekali. Sikapnya dan cara bicaranya. Dia yang menanyakan lebih dulu mengenai kabar Jane.


"Aunty baik. Kamu sudah besar ya. Bicaranya sudah lancar,"


"Belum, masih ada yang belum lancarrl (lancar),"katanya seraya menekan kata 'lancar' agar Jane menyadari dimana letak ketidak lancaran yang ia maksud.


"Oh belum bisa bicara huruf R dengan jelas ya? tidak apa, semuanya butuh waktu,"


"Mau punya adik sebentar lagi ya?" Jane menggoda anak itu seraya menjawil dagunya beberapa kali. Grizelle terkekeh mengangguk.


"Iya, adikku perrelmpuan (perempuan),"


"Oh ya? woahh senang sekali pasti. Punya adik perempuan,"


"Senang, Aunty. Senang sekali,"

__ADS_1


Grizelle mengedarkan pandangan ke sekitar. Kemudian mengajukan pertanyaan pada Auntynya itu, "Uncle Rrli (Ri) kemana? tidak ikut? benarrl (benar) apa yang dikatakan Mumu,"


__ADS_2