
Hanya keheningan malam yang menyelimuti kedua insan manusia yang berada di dalam mobil itu. Milano tampak mengatur napas nya untuk tidak mengeluarkan amarah pada Joana. Karena Joana, Ia menjadi malu tadi. Tidak ada sejarahnya Ia bertengkar di tempat umum, tapi karena membela gadis itu, Milano terpaksa melakukannya.
"Aku mohon padamu, batalkan semuanya. Untuk apa kita menikah kalau tidak ada landasan yang kuat?"
"Apa maksudmu? pernikahan kita sudah ditunda dan sekarang kamu ingin membatalkan nya?"
"Kita tidak saling mencintai, Milano. Untuk apa menikah? itu hanya merugikan kita berdua. Kalau kamu melakukan penolakan, aku yakin sekali pernikahan itu tidak akan terjadi. Sayang nya selama ini hanya aku yang menolak,"
Joana sudah kehabisan akal untuk menghindar. Sesering mungkin Ia bicara seperti itu pada Milano, tapi jawaban lelaki itu sama saja.
"Aku ingin mencoba hidup berdua denganmu,"
"Mencoba? pernikahan bukan untuk dijadikan percobaan, Milano. Pernikahan harus bertahan seumur hidup,"
"Turun dari mobilku, Joana. Kamu berada di sampingku malah membuat aku semakin emosi,"
Milano terpaksa mengusir Joana dari mobilnya di hari yang sudah semakin malam. Ia akui saat ini Ia terlihat sangat brengsek. Tapi daripada Ia lebih parah lagi menyakiti Joana dengan kalimat-kalimatnya yang tidak terkendali, lebih baik Joana pergi dari sisi nya untuk sementara waktu.
Milano meminggirkan mobilnya kemudian melirik Joana. Joana langsung keluar tanpa mengatakan apapun. Dan Milano juga langsung melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan yang tidak main-main.
Joana menatap jalanan kota yang sangat sunyi. Entah bagaimana caranya Ia pulang sekarang. Ponsel nya sudah mati sejak tadi.
Joana berjalan tak tentu arah. Ia tidak tahu Milano menurunkan nya dimana. Ia hanya berharap bisa sampai di rumah dengan selamat. Ibu nya pasti sudah menunggu.
"Maaf, Ibu. Joana sudah membuat Ibu khawatir,"
*****
Vanilla berbaring di atas ranjang dengan posisi kepala terkulai di tepi ranjang hingga rambut panjang nya terjuntai ke lantai kamar.
Jhico sedang menonton televisi di ruang keluarga. Entah kenapa lelaki itu tidak mau menggunakan televisi di dalam kamar mereka. Jhico terlihat menghindari Vanilla. Ini biasa terjadi ketika Jhico merasa marah. Setelah Ia jauh lebih tenang, sikapnya akan seperti biasa lagi.
"Sepertinya tidak ada harapan Joana bisa lepas dari Milano. Aku bingung---" Vanilla berhenti bergumam saat mendengar pintu kamar dibuka.
Cklek
Jhico memasuki kamar dan Ia mengerinyit tatkala melihat istrinya berbaring dengan posisi seperti itu. Jhico merendahkan tubuhnya untuk meraih rambut Vanilla.
"Rambutmu akan kotor, Nillaku."
"Tidak, lantai ini selalu bersih."
"Bangun dari posisimu sekarang!" titah Jhico karena Ia khawatir Vanilla merasakan pusing jika kepalanya terkulai ke bawah seperti itu.
Jhico membantu Vanilla untuk duduk. Jhico menyuruh Vanilla untuk tidur seraya melirik jam dinding.
"Aku tidak akan mengizinkanmu ke tempat itu lagi, Nillaku."
__ADS_1
"Kelab?"
"Ya, apalagi yang aku maksud kalau bukan kelab?"
"Memang kenapa?"
"Pikir sendiri!" jawab Jhico dengan dingin lalu Ia membaringkan tubuhnya ranjang. Menarik selimut kemudian memunggungi Vanilla yang sedang menahan senyum.
*****
Ganadian melajukan mobilnya sangat tenang karena Ia tahu bahwa saat ini risiko kecelakaan sedang menghantuinya. Ia mengendarai mobil dalam kondisi mabuk walaupun tidak terlalu parah.
Matanya memicing saat melihat ada seorang gadis yang tengah berjalan sendirian di antara sunyi nya malam. Ia mempercepat laju mobilnya untuk memastikan penglihatannya. Entah mengapa Ia berpikir kalau itu adalah Joana karena baju yang dikenakan gadis itu sama persis dengan yang dikenakan Joana tadi.
Ganadian menggaruk kepalanya sendiri. "Sedetail itu aku memperhatikan Joana sampai bajunya aku hafal. Astaga, Ganadian!" gumamnya seraya menepuk-nepuk keningnya.
Tin
Tin
Tin
Ganadian membunyikan klakson dan langsung turun setelah mobilnya mati. Ia yakin itu bukan makhluk halus karena dia tidak menghilang ketika dihampiri malah terus melangkah.
"Joana!" panggil Ganadian seraya berlari mendekati gadis itu dan Ia berhasil meraih bahu nya. Gadis itu menoleh dan matanya membulat. Ia terkejut begitupun Ganadian.
Joana yang sedari tadi menahan tangis sepanjang Ia berjalan akhirnya tak mampu lagi membendung air matanya. Ia menangis tersedu dan Ganadian langsung memeluknya dengan erat untuk menenangkan. Tangan lelaki itu terangkat untuk mengusap kepala Joana.
"Hei, kenapa kamu di sini? seharusnya kamu sudah pulang,"
Joana hanya menggeleng tidak ingin menjawab. Akhirnya Ganadian membiarkan Vanilla untuk tenang terlebih dahulu, tidak memaksa untuk bercerita padanya.
Sekitar lima menit Joana memeluk Ganadian. Ia menghentikan tangis lalu melepas pelukannya. Ia mengusap air mata di wajahnya.
"Maaf, Ganadian." ujar Joana tidak enak hati karena telah menyita waktu Ganadian.
"Tidak apa, aku akan mengantarmu pulang."
Ganadian menggenggam tangan Joana lalu membawanya untuk mendekat ke mobil. Ia membuka pintu mobil untuk Joana masuk kemudian Ganadian segera duduk di balik kemudi.
****
Milano menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia menopang kepalanya dengan tangan. Matanya menatap ke atas. Otaknya berkelana memikirkan Joana. Sejujurnya Ia khawatir. Tapi rasa panas di hatinya tidak bisa dielakkan. Ia tidak suka melihat Joana bersama lelaki itu dan Ia benci saat Joana mengatakan ingin pernikahan mereka dibatalkan.
Obsesi nya terhadap Joana sudah sangat besar. Ia juga tidak tahu kenapa. Ia tidak mencintai Joana tapi Ia ingin memilikinya. Mereka baru kenal secara intens semenjak adanya rencana perjodohan itu.
"Aku tidak mau pernikahan itu dibatalkan, tapi kalau dimintai alasan, aku tidak bisa memberikannya,"
__ADS_1
Milano bergegas menghubungi Ibunya Joana untuk menanyakan apakah gadis itu sudah pulang atau belum.
"Selamat malam, Bu. Maaf aku mengganggu,"
"Tidak apa, Nak. Ada apa?"
"Apa Joana sudah tiba di rumah?"
"Belum, Ibu sedang menunggunya sekarang. Joana tidak bersamamu?"
Milano terdiam beberapa saat, bingung harus menjawab apa. Ia menggeleng padahal Ibu dari calon istrinya itu tak bisa melihat.
Mendengar ada suara mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumah, Bela segera beranjak masih dengan ponsel yang melekat di telinga nya.
"Joana sudah pulang, Nak."
"Ah syukurlah," Milano menghembuskan napas lega. Telepon nya belum dimatikan oleh Bela sehingga Ia bisa mendengar Bela bicara dengan Joana.
"Pulang dengan siapa?"
"Ganadian, Bu. Teman Joana,"
Ganadian baru keluar dari mobilnya usai mematikan mesin mobil sementara Joana sudah keluar terlebih dahulu lalu memeluk Ibunya.
Milano yang mendengar dengan jelas ucapan Joana dari seberang sana langsung mengetatkan rahang tegasnya. Matanya menatap ke depan dengan tajam. Ia segera mematikan sambungan telepon.
Tut
Tut
Bela menatap ponselnya. Ia baru ingat kalau panggilannya dengan Milano belum diputus. Joana melirik ponsel Ibunya. "Siapa yang menelpon Ibu?"
"Milano, dia bertanya apakah kamu sudah pulang atau belum,"
Alis Joana terangkat saat mendengar itu. Begitupun dengan Ganadian. Dalam hati Ganadian memaki lelaki bernama Milano itu. Meskipun Joana tidak bercerita apapun padanya, tapi Ia yakin Milano lah yang menyebabkan Joana berjalan seorang diri membelah jalanan kota malam ini.
"Untuk apa dia bertanya begitu? dia peduli? tadi aku disuruh turun," batin Joana menggerutu. Ia menyuruh Ganadian untuk masuk tapi lelaki itu ingin langsung pulang katanya. Ganadian turun hanya ingin menyapa Bela dan meminta maaf karena membawa Joana pergi sampai malam. Joana salut dengan Ganadian. Padahal Joana pergi hingga larut seperti ini bukan karena Ganadian, tapi Ganadian mengaku sebaliknya untuk melindungi Joana.
Setelah Ganadian pulang, Joana mendapat teguran dari Ibunya, Bela. "Sebentar lagi akan menikah, jangan terlalu sering pulang malam, Joana. Apalagi dengan laki-laki selain Milano,"
"Apa yang salah? aku sudah menolak perjodohan itu berkali-kali. Tapi tidak ada yang mau memenuhi keinginanku itu,"
"Ibu juga sudah menolak, tapi ayahmu tidak sama seperti kita,"
Aku mau rajin up lg nih. Pd setuju gk? kl setuju, like, vote, dan komen yg kenceng yaaaa tiap hari. Jan kasih kendor wkwk. Tengkyu semuanyaaa🤗❤️
__ADS_1
Aku udh post cerita nya Grandpa Raihan sama Grandma Rena waktu masih muda. Mampir yooo judulnya Addicted