
Grizelle berlari kencang mengelilingi ruang keluarga saat dikejar oleh adik satu-satunya itu yang ingin cokelat di tangannya.
Punya adik usia 3 tahun yang sudah punya makanan kesukaan sedikit menyulitkan Grizelle sebab kesukaannya dengan sang adik kebanyakan memiliki kesamaan.
"Itu punyaku, Kak!"
"Punya aku! bagianmu sudah habis,"
"Ya sudah, aku minta,"
"Minta punyaku, tadi kamu mengaku ini punyamu,"
"Iya, itu punya kakak. Tapi aku minta. Sedikit saja,"
Gisca memperagakan bagaimana sedikit itu menggunakan jarinya. Ia masih mengejar sang kakak sampai akhirnya kakaknya itu tak sengaja menabruk seorang lelaki tak lagi muda.
Grizelle langsung terdiam dan mendongak untuk mengetahui siapa yang telah Ia tabrak tidak sengaja barusan.
"Hai, Kakek ternyata," sapa Grizelle seraya tersenyun meringis. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa kalian berlarian?"
"Kakek, itu Kakak pelit! aku meminta cokelatnya tapi dia tidak mau memberiku,"
Gisca mengadu pada kakeknya seraya memeluk lengan Thanatan yang baru datang dan Ia merengek meminta pembelaan.
"Tadi Gisca bilang, punya dia, Kakek. Padahal ini punyaku,"
"Beli saja lagi," katanya menyarankan agar tidak ada lagi perdebatan diantara mereka berdua.
"Tapi beli sama siapa? uangnya punya siapa? Mumu sedang pergi dan Pupu belum pulang dari klinik. Lagipula kita tidak boleh makan cokelat terlalu banyak," kata Grizelle yang masih keberatan membagi cokelatnya.
"Grizelle, tidak boleh seperti itu pada adikmu,"
Thanatan berujar tegas yang akhirnya membuat Grizelle mengalah. Ia memberikan cokelat bagiannya pada sang adik.
"Aku minta sedikit saja," kata Gisca yang langsung membuka kemasan dan mengambilnya sedikit setelah itu dikembalikannya lagi pada sang kakak.
"Biasanya juga tidak begitu," ujar Thanatan pada cucu tertuanya seraya mengusap rambut Grizelle dan berlalu.
Grizelle dan Gisca mengikuti kakeknya yang kini duduk di ruang tamu.
"Kakek ada apa ke sini?"
Alis Thanatan bertaut. Ia bertanya pada Grizelle, "Memang tidak boleh?"
"Boleh, Kakek. Tapi tidak biasanya Kakek tiba-tiba datang,"
Thanatan merangkul bahu kedua cucunya yang duduk di sisi kanan dan kirinya.
"Kakek ingin memberi tahu sesuatu,"
__ADS_1
Mata Grizelle dan Gisca berbinar seketika. Grizelle sampai lupa memakan cokelatnya dan tak sadar juga kalau Gisca kini kembali mengambil cokelatnya.
"Kakek sudah siapkan liburan bersama untuk kita,"
Sejenak Grizelle terdiam,Gisca yang sedang mengunyah pun berhenti menggerakkan mulutnya.
"Liburan bersama?"
"Kamu lupa dengan rencanamu dan Auris waktu itu? sebelum adikmu lahir,"
"Astaga, liburan itu? Kakek masih ingat?"
Thanatan tersenyum tipis dan Ia mengangguk. Hatinya menghangat ketika tiba-tiba mendapat pelukan Grizelle yang begitu erat.
"Ya, Kakek masih ingat sampai sekarang, dan Kakek mewujudkannya. Adikmu sudah lumayan besar jadi bisa diajak. Sesuai rencana kamu dan Auristella,"
Grizelle bersorak bahkan Ia melompat-lompat riang hingga mengundang tawa Thanatan.
Begini rasanya membahagiakan cucu. Thanatan menyesali kenapa tidak dari awal kehadiran Grizelle Ia bersikap normal terhadap cucunya? kenapa Grizelle harus sempat merasakan bagaimana sakitnya dihiraukan oleh Kakeknya.
"Kakek, terimakasih ya,"
Thanatan tersenyum mengangguk. Ia kembali dipeluk Gisca.
"Kakek, terimakasih ya," Gisca juga mengucapkah hal serupa. Ia memeluk Kakeknya seerat mungkin.
"Kakek sudah siapkan semuanya Jadi kita tinggal berangkat. Grandpa dan Grandma, triple A dan orangtuanya, kita semua liburan bersama,"
Thanatan menunjukkan gambaran negara yang akan menjadi destinasi liburan bersama mereka kali ini.
Grizelle dan Gisca tidak sabar sekali ingin segera berlibur dan menikmati suasana yang ada di sana. Ini merupakan liburan bersama untuk pertama kalinya.
******
Karina mengerinyit saat suaminya meletakkan iPad di atas meja dan memintanya untuk melihat.
Ia segera meraih gadget milik suaminya itu dan membaca kalimat-kalimat yang ada dalam layar. Di sana ada wacana-wacana yang akan dilakukan selama berlibur. Mengunjungi berbagai tempat, hotel dan semuanya sudah ditanggung oleh seseorang atas nama Thanatan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Thanatan yang membuat Karina mendongak menatap sang suami.
"Kita akan liburan bersama dengan siapa?"
"Keluarga terdekat saat ini. Anak cucu kita, triple A dan kedua orangtuanya termasuk, dan juga Raihan dengan Rena,"
"Hah? serius ini, Pa? kapan?" Karina bertanya histeris karena terlampau bahagia. Jarang sekali suaminya mau berlibur apalagi inisiatifnya sendiri. Tiba-tiba semua sudah dipersiapkan oleh Thanatan bagaimana Karina tidak bahagia?
"Lihat waktunya kapan," suruh Thanatan pada istrinya agar mencari tahu di informasi yang termuat di iPadnya.
"Satu minggu lagi?"
Thanatan mengangguk pelan. Ia terkejut saat Karina merangkum wajahnya dan memeluknya tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya ampun, mimpi apa aku semalam ya? kenapa suamiku berubah? tiba-tiba dia mau liburan tanpa aku minta lagi,"
"Aku hanya ingin mewujudkan keinginan Grizelle,"
"Ya ampun, baiknya Kakek dua cucu ini. Terimakasih ya, Sayang. Kamu sudah beri tahu mereka?"
"Grizelle dan Gisca sudah. tadi aku datang ke rumah mereka untuk memberi tahu ini. Tapi kebetulan Jhico dan Vanilla belum pulang,"
*****
"Pupu, tahu bangunan cantik ini tidak?"
Alis Jhico terangkat saat sang putri memperlihatkan colosseum. Ia mengangguk kemudian menjawabnya, "Tahu, kenapa, Sayang?"
"Kita akan ke negara dimana bangunan ini berada,"
Jhico mengerinyit tidak mengerti. "Maksudnya? Icelle lagi bermimpi ke sana?"
Grize merengut mendengar kata bermimpi. Karena Ia sering berkhayal mungkin ya? jadi Pupunya menganggap kali ini ia tengah berkhayal atau mimpi.
"Tidak, Kita akan ke sini nanti. Satu minggu lagi,"
Melihat wajah bingung Pupunya, Grizelle berdecak pelan. "Ya ampun, Pupu. Maksudku, kita akan liburan,"
"Iya, Pu. Kita liburan ke sana. Pupu senang tidak?" Gisca kini menatap ayahnya ketika bertanya seperti itu.
"Oh, kalian ingin berlibur ke sana? Ini ceritanya sedang minta pada Pupu?"
"Pupu salah, Tanpa kita meminta pada Pupu, Kakek sudah berencana akan membawa kita semua ke sana,"
Melihat Pupunya yang masih kelihatan tidak mengerti, Maka Grizelle menjelaskan, "Pupu, tadi Kakek datang ke sini dan memberi tahu kalau kita akan berlibur bersama satu minggu lagi,"
"Kalian bercerita jujur ini?"
"Iya, Pupu. Kita tidak mungkin berbohong,"
"Iya juga. Anak pupu baik, tidak pernah mau berbohong kecuali kalau memang terlaksa," Grizelle dan Gisca tertawa mendengar penuturan ayahnya.
Tak lama Jhico pulang, Vanilla juga pulang dari kantor agency nya untuk menandatangani pemutusan kontrak sebab Vanilla tidak ingin bekerja lagi. Ia sudah memikirkan ini dengan matang dan semoga tidak berubah sampai kapanpun. Dia bisa menyibukkan dirinya dengan bisnis yang berskala kecil atau sedang. Sehingga Ia bisa tetap berkarir meskipun tanpa label sebagai model lagi.
"Mumu,"
Grizelle dan Gisca kompak menyapa Vanilla yang baru tiba. "Hallo, Anak-anak Mumu,"
"Mu, Kakek akan mengajak kita liburan bersama satu minggu lagi ke Italia. Mumu senang?"
"Oh ya? Kakek mengajak kita liburan bersama?"
Jujur Vanilla terkejut sekaligus senang tapi Ia harus memastikan dulu. Anak-anaknya ini suka bercanda.
"Benar, Mu. Kita aka liburan bersama dengan Kakek, Nay-Nay, Grandpa, Grandma, triple A, Aunty Lovi, Uncle Devan,"
__ADS_1