Nillaku

Nillaku
Nillaku 409 Andrean sakit dan tidak masuk sekolah tapi tetap mengumpulkan tugas


__ADS_3

Suasana sarapan di kediaman Jhico sama seperti sebelumnya. Banyak didoninasi oleh Grizelle yang sesekali mengangkat topik obrolan.


"Kenapa Aunty Jane selalu mau mengantar Icelle? apa Icelle mengancam Aunty Jane?"


Grizelle mengatakan ingin diantar oleh Jane lagi dan Jane langsung menyetujui. Maka Vanilla bertanya seperti itu pada putrinya yang langsung dielak.


"Tidak, Mumu. Untuk apa aku mengancam?"


"Vanilla sembarangan kalau bicara. Dia bukan anak seperti itu ya," jane membela keponakannya yang sebenarnya tengah digoda oleh Vanilla saja. Vanilla juga tahu anaknya tak akan melakukan itu.


"Aunty itu baik makanya mau mengantarl (mengantar) aku,"  kata Grizelle seraya menatap Jane sesaat kemudian meneguk susunya hingga tandas.


"Oh iya, nanti aku ma minta pendapatmu soal rumah-rumah yang ada di sini. Setelah itu aku ingin melihat rumahnya secara langsung,"


Vanilla mengangguk pelan disela gerakan mulutnya yang tengah mengunyah makanan.


"Jadi pindah ke sini, Jane?" Jhico mengajukan pertanyaan itu usai mengetahui kalau Jane butuh mendapat istrinya soal memilih rumah.


"Ya, aku jadi pindah ke sini,"


"Ya sudah, nanti aku temani juga saat survey secara langsung,"


"Tidak usah, aku sendiri saja. Kamu cukup membantuku dalam hal meminta pendapat. Kira-kira rumah mana yang tepat hntuk aku tempati. Untuk melihat rumahnya secara langsung biar aku sendiri,"


"Ya ampun, aku tidak akan kelelahan. Kamu tenang saja,"


"Tidak usah, Van. Aku takut kamu kelelahan. Aku mungkin lama di an  Untuk memastikan semuanya duku sebelum memutuskan untuk membelinya atau tidak"


"Iya, aku tetap akan ikut. Aku ingin meliht secara langsung juga"


"Ya, biar Vanilla bantu untuk memastikan juga, Jane," saran Jhivo yang setuju bila istrinya ikut serta. Apalagi kta Jane tidak jauh dari sini letaknya,"


"Okay, kalau begitu kita pergi setelah aku mengangar Grizelle,"


Vanilla mengangguk pelan. "Mumu antar juga, Icelle?"


"Iya, Mumu sekalian mau lihat rrlumah (rumah) 'kan?"


Rupanya Grizelle tahu apa yang sedang dibicarakan diantara mereka. Jelas saja, anak itu menyimak dengan baik dan juga tak sulit untuk dipahaminya.

__ADS_1


******


"Ya ampun, Ean...Ean...kalau sakit begini. Aku jadi tidak tega. Cepat sembuh ya!"


Adrian terpaksa berangkat hanya bersama adiknya ke sekolah sebab Andrean tdak bisa datang ke sekolah dulu untuk hari ini.


Yang dirasakannya malah bertambah selain demam, radangnya kambuh, dan sakit kepala. Andrean kini batuk dan mengalani influenza juga hingga hidungnya sulit digunakan untuk bernapas. Ia harus beberapa menit sekali membuang cairan dari sana yang menyumbat jalur napasnya. Begitupun cairan dari batuknya.


"Belajar yang benar ya,"


"Iya, Mom,"


Auristella menatap kakaknya yang kini terbaring tapi tidak tidur. Ia melambai pada Andrean. "Bye, Ean. Cepat sembuh ya"


"Aku ingin memelukmu," Saat sang adik mendekat ingin merengkuhnya, Andrean bersingsut menjauh. Ia tidak ingin sang adik memeluknya yang tengah tidak sehat. Ia pun merasa tidak nyaman ketika demam dipeluk.


"Ya sudah, tidak apa kalau kamu tidak mau aku peluk. Aku tidak marah, Ean,"


"Ean lagi sakit, Sayang," Lovi meminta pengertian anak terakhirnya yang langsung mengangguk cepat.


"Iya, Mom. Aku tahu. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya,"


Adrian dan Auristella segera keluar dari kamar Andrean menuju sekolah mereka dengan diantar driver karea Devan tidak bisa mengantar mereka pagi ini.


Devan pun pergi tak lama setelah kedua anaknya pergi. Ia menyuruh Andrean untuk istirahat dan memperingati Lovi agar tidak lengah dengan kondisinya sendiri. 


"Jangan melakukan apapun. Harus istirahat, makan, dan minum obat. Okay, Sayang?"


Andrean mengangguk pelan. Meskipun Devan sibuk tapi ia tidak pernah luput memberikan perhatian sekalipun hanya dengan peringatan tidak boleh ini dan itu yang bisa memacu kesehatannya semakin menurun.


"Daddy akan pulang cepat,"


"Tidak usah, Dad. Jangan karena aku sakit, Daddy malah melalaikan pekerjaan,"


Devan tersenyum, Ia menggeleng pelan. Ia juga tidak aman msrasa tenang kalau bekerja sampai waktu yang seperti biasa yaitu sore atau menjelang malam, bahkan sesekali sampai tengah malam, ditengah kondisi anaknya yang sedang sakit.


"Hati-hati ya," pesan Lovi pada suaminya usai mencium singkat keningnya.


"Iya, aku pergi,"

__ADS_1


Lovi tak mengantar suamimya sampai keluar sebab sedang cemas-cemasnya dengan kondisi Andrean yang memburuk semalam. Andrean mengaku sesak atau sulit bernapas karena hidungnya tersumbat. Belum lagi Ia harus terbatuk terus akibat rasa gatal di tenggorokannya.


"Mommy tidak ke butik?"


"Tidak, Sayang,"


"Kenapa? karena aku sakit? aku baik-baik saja, Mom. Jangan terlalu mencemaskan aku,"


Bagaimana tidak cemas? Lovi akan selalu cemas setiap anaknya sakit. Belum lama ini Auristella yang sakit hampir serupa dengan Adrean. Ia berharap tak ada lagi yang jatuh sakit diantara ketiga anaknya.


*****


Adrian menyampaikan pesan kakaknya agar memberikan tugas yang sudah sempat Andrean kerjakan ditengah kondisinya yang kurang sehat. Selain tugas dalam buku, Andrean juga sudah mengirimkan tugas online yang dibrikan oleh pengajarnya. Itu semua Andrean kerjakan saat Ia demam, sakit kepala, dan sakit tnggorokan akibat radangnya. Saat itu kondisinya belum diperparah dengan batuk dan sakit tenggorokan akibat flu yang dialaminya.


"Kakakku tidak masuk hari ini dan dia meminta aku untuk menyampaikan tugasnya,"


"Iya, orangtuamu sudah membuat surat izin secara resmi. Apa Andrean sudah dibawa ke rumah sakit?"


Adrian menggeleng dan mengatakan bahwa kakanya sama sekali tidak ingin diajak ke rumah sakit. Bahkan untuk menerima kehadiran dokter semalam di rumah saja Ia sulit sekali.


Ia malah meminta agar Jhico saja yang datang ke rumhah dan memeriksanya. Andrean mungkin sudah lama tidak berinteraki dengan dokter karena memang Ia sudah lama tidak tumbang. Jadi sakitnya kali ini benar-benar membuatnya takut bila bertemu dokter.


"Kenapa Daddy memanggil Dokter? karena di rumah ini tidak ada yang paham mengenai ilmu kesehatan. Kalau Grizelle yang sakit 'kan tidak begitu cemas karena ada ayahnya yang seorang dokter. Kalau kamu? tidak mungkin 'kan Daddy paksakan diri untuk memeriksa kamu sementara Daddy tidak ada kemampuan dibidang itu? jadi kamu harus mau diperiksa. Biasanya juga tidak menolak,"


"Aku malas, Dad. Aku tidak mau diperiksa,"


"Malas kenapa, Ean? kamu tidak diminta Dokter lari marathon. Kenapa malas?"


Andrean akhirnya bersedia menerima kehadiran dokter dikamarnya dan bersedia juga untuk diperika.


Beruntungnya hanya sakit biasa. Devan dan Lovi bisa bernapas lega. Mereka khawatirnya Andrean mengalami penyakit yang cukup mengkhatirkan.


"Kuncinya hanya Istirahat, makan yang teratur, jangan kelelahan,"


Andrean mengangguk pelan mendengar penuturan dokter. Ia bisa merasa lega juga karena demamnya yang tinggi disertai dengan gejala-gejala lainya bukalah pertansa penyakit yang berarti.


"Kamu itu sakit karena kelelahan, Sayang," ujar Devan sesaat setelah melepas kepergian dokter.


Adrian langsung menyajuti ucapan Daddyny, "Kelelahan kenapa, Dad? Ean saja tidak aktif seperti aku ya. Dia diam terus,"

__ADS_1


__ADS_2