Nillaku

Nillaku
Nillaku 324 Devan membuat Lovi khawatir


__ADS_3

"Nanti aku akan ke rumah Vanilla dan Jhico,"


Di sela makan malamnya, Raihan berujar seperti itu. Rena mengangguk pelan.


"Tidak mengajak aku?"


"Kamu mau ikut? ayo, aku ke sana memberikan berkas kepemilikan playground milik Grizelle,"


"Oh, ya sudah, aku ikut ya,"


"Boleh, Sayang,"


Raihan tersenyum mengizinkan. Bahkan sangat mengizinkan istrinya ikut bersamanya ke rumah Vanilla. Mereka bisa keluar menikmati suasana malam.


*****


"Tuan, ini masih belum diperi---"


"Aku bawa pulang saja. Akan aku selesaikan di rumah,"


"Baik, Tuan,"


Devan menghela napas pelan, menelungkupkan kedua tangannya di wajah.


Ia sudah ingin pulang dan rupanya masih ada saja pekerjaan yang belum rampung. Sekretarisnya baru memberi tahu setelah Ia sudah bersiap akan pulang.


Devan menjinjing file bag di tangannya. Blazer sudah tersampir di lengannya. Penampilan Devan sudah tidak sempurna seperti tadi pagi saat Ia berangkat. Tapi aneh, pesona lelaki beranak tiga itu tetap saja mematikan.


Ia sudah benar-benar lelah dan penat. Dan tempatnya pulang adalah keluarganya yang merupakan rumah untuknya berbagi keluh kesah.


Ia meletakkan blazer dan tas berisi file-file kerjanya serta laptop ke dalam mobil, tepatnya di kursi sebelahnya.


Setelah itu Ia duduk dengan tenang di kursi kemudi. Di dashboard masih ada minuman yang tadi Ia beli saat makan siang di luar bersama klien.


Ia meneguknya sebelum menghidupkan mesin mobil. Rasa minuman itu masam dan pahit hingga keningnya sedikit mengerinyit ketika meneguknya.


"Hah, makin mengantuk aku," keluhnya setelah minuman itu habis.


Ia merasa heran kenapa monuman itu membuat matanya yang memang sudah tidak prima lagi malah semakin menjadi.


Ia memandang botol minuman yang Ia beli secara asal tadi siang tanpa tahu itu minuman apa. Ketika Ia baca kandungannya. Terdapat alkohol.


"Hah, sialan! pantas saja," dengus lelaki itu.


Ia menghentai kepalanya ke belakang. Ia menyesal minum itu ketika akan pulang.


Tangannya bergerak ke arah saku untuk menghubungi driver di rumahnya. Ia tak ingin membahayakan diri sendiri dan orang lain, maka akan lebih baik bila Ia dijemput saja.


"Datang ke kantorku," titahnya tegas pada orang di seberang sana.


"Baik, Tuan,"


"Tidak lama," tambah Devan yang lagi-lagi dijawab patuh oleh drivernya.


"Dalam waktu lima belas menit, Tuan,"

__ADS_1


Devan mematikan sambungan teleponnya. Ia memejamkan mata, terpaksa Ia menunggu sampai drivernya datang menjemput dirinya yang berada di dalam mobil yang terletak di area parkir khusus petinggi.


****


"Kenapa tergesa-gesa, Yon?"


Lovi mengerinyit saat Iyon, yang berjalan dari dapur melalui meja makan dimana Ia duduk.


"Tuan Devan memerintahkan saya untuk menjemputnya, Nona,"


"Kenapa? bukankah tadi pagi Ia mengendarai mobil sendiri?"


"Entah, Nona. Saya harus sampai dengan cepat. Permisi, Nona,"


Lovi mengerinyit bingung menatap kepergian Iyon. Aneh suaminya itu. Tadi pagi Ia ingat suaminya mengendarai mobil sendiri dan biasanya saat pulang pun seperti itu. Tapi kali ini kenapa berbeda?


Daripada bertanya-tanya sendiri tanpa mendapat jawaban, Lovi memutuskan untuk bergegas ke kamarnya mengambil ponsel di sana.


Ia segera menghubungi suaminya untuk memastikan bahwa lelaki itu baik-baik saja. Karena tak biasanya Devan meminta dijemput bila saat berangkat Ia membawa mobilnya seorang diri tanpa driver.


Devan tak menjawab panggilan Lovi. Jelas saja, karena lelaki itu tengah memejamkan mata terlelap.


Berkali-kali Lovi menghubungi, sampai akhirnya Devan menyadari.


"Ya ampun, Lovi menelpon sudah sembilan kali. Dan aku dengan bodohnya mengabaikan,"


Devan merutuki diri sendiri. Ia sudah sempat terlelap maka tak sadar bila ponsel dalam genggamannya bergetar.


"Hallo, Lov,"


"Susah sekali menjawab panggilanku, Sayang? hmm?" sinis Lovi yang membuat Devan terkekeh lirih di tengah rasa mabuknya.


"Hmm?"


Devan meracau tak jelas. Lovi mengerinyit bingung sekaligus dilanda khawatir.


"Devan, kamu mabuk ya?"


"Ck! hm...Ya, Lov. Tidak sengaja,"


"Kenapa?" tanya Lovi saat Ia tak begitu jelas mendengar jawaban dari suaminya.


"Ya, Lov,"


Lovi menghela napas pelan. Ia memijat pelipisnya yang seketika merasa pening.


"Kenapa kamu mabuk? bukankah biasanya setelah kerja langsung pulang? kenapa singgah dulu di bar? padahal aku sudah menunggu kamu, Devan," ucap Lovi dengan lirih. Ia kesal namun berusaha menekan nada tingginya.


"Sayang, ini tidak sengaja. Aku membeli minuman dan aku tidak tahu kalau itu ada alkoholnya," jelas Devan dengan susah payah walau pada akhirnya tetap terdengar seperti meracau.


"Lov, sungguh, aku tidak ke bar,"


Lovi menghembuskan napas pelan. Ia menggigit bibir bawahnya cemas. dalam hatinya berdoa agar suaminya baik-baik saja.


"Iyon sudah dalam perjalanan,"

__ADS_1


"Iya,"


"Tunggu sampai Iyon datang, Devan! kamu jangan kemanapun,"


"Iya, memang aku mau kemana sih?" sahut Devan seraya terkekeh pelan.


Devan mengakhiri panggilan. Ia mendesis ketika pening di kepalanya semakin terasa.


"Arghh sialan! lumayan juga alkohol itu. Sampai membuatku seperti ini," lagi-lagi Ia seperti meracau.


Devan melihat kadar alkohol yang tercantum. Sebenarnya tak begiu tinggi tapi mengapa Ia bisa sampai seperti ini? apa karena dipengaruhi oleh rasa lelah dan juga sudah jarang nya Ia mengonsumsi alkohol?


****


"Kita ke meja makan. Pasti Momny sudah siapkan makan malam,"


Auristella menjulurkan tangannya pada Grizelle yang baru selesai memasukkan tugas sekolahnya ke dalam ransel.


Grizelle menerima uluran tangannya. Kemudian mereka keluar dari kamar.


"Ian, Ean, ayo keluar dari kamar kalian. Kita makan malam,"


Auristella berseru memanggil kedua kakaknya tanpa mengetuk pintu dan masuk ke kamar mereka.


Grizelle sampai mengusap telinganya. "Suarrlamu (suaramu) lumayan juga ya,"


Auristella terkekeh malu kemudian menutup mulutnya. "Maaf ya. Suaraku terlalu kencang ya?"


"Ughh benarrl (benar) sekali," Grizelle menggeleng pelan sembari bertepuk tangan. Takjub dengan lantangnya suara Auristella.


"Kamu pantas menjadi penyanyi,"


"Ah yang benar?"


"Iya, tapi harrlus (harus) siap dilemparrli (dilempari) dengan batu," lanjut Grizelle seraya tersenyum meringis mendapati pelototan tajam dari Auristella yang tak terima diejek oleh Grizelle.


"Maaf, aku berrlcanda (bercanda),"


Grizele mencium pipi Auristella tanpa ragu agar kakak sepupunya itu tak marah lagi sebab ia tak serius mengucapkannya. Auristella juga sering bercanda padanya.


Dan selalu dengan cara dipeluk atau dicium bila membujuk agar tidak marah.


Auristella menggeram gemas dan mencium pipi Grizelle juga. "Ya, aku juga tidak marah,"


Auristella menarik tangan Grizelle agar mereka berjalan lagi ke ruang makan.


Di meja makan belum ada Lovi. Tapi makanan sudah siap. Auristela mengerinyit bingung.


"Kemana Mommy?" tanya Anak itu pada maid yang sedang meletakkan air minum di meja makan.


"Di luar, Auris,"


Auristella kian bingung mendengar jawaban wanita yang menjadi asisten Mommynya di rumah mereka.


Ia segera keluar dan Grizelle mengekori. Ia bisa melihat Lovi sedang berdiri di dekat pos keamanan dan gerbang rumah.

__ADS_1


"Mommy, kenapa di sana? ayo, masuk,"


"Mommy menunggu Daddy, Sayang. Kalian masuk ke dalam, jangan di sini, dingin,"


__ADS_2