
Kedatangan Barvi, sepupu Jhico ke apartemen membuat Vanilla yang membuka pintu sedikit bingung. Tidak biasanya Barvi mengunjungi sepupunya.
"Ayo, silahkan masuk."
Barvi dipersilahkan duduk di ruang tamu. "Aku panggilkan Jhico dulu ya,"
Barvi mengangguk. Sebelum Vanilla ke kamar, Vanilla ke dapur dulu untuk meminta pada Bibi agar mempercepat kegiatan masaknya supaya Barvi bisa makan di apartemen.
Vanilla membangunkan Jhico yang masih tertidur. Hampir semalaman Ia tidak tidur karena Grizelle selalu minta ditemani. Jhico memejam sedikit, Ia merengek. Jhico tidak tega meninggalkan anak itu tidur. Saat Grizelle akhirnya tertidur, malah dirinya yang tidak bisa tidur. Pukul empat pagi Ia baru bisa tidur.
"Jhi, ada Barvi di luar,"
Grizelle sudah membuka matanya. Ia menggeliat di samping Jhico lalu melenguh.
"Jhi, Barvi datang. Temui dulu, nanti bisa tidur lagi,"
"Griz, buat Pupu bangun," ujar Vanilla pada putrinya.
Grzelle bergeming. Ia hanya mengerjapkan matanya saat Vanilla memberi instruksi. Vanilla mengguncang lengan suaminya.
"Jhi, bangun sebentar. Nanti tidur lagi,"
"Enggh nanti, Nilla."
"Ck, tidak biasanya kamu sulit dibangunkan. Oh mungkin karena baru tidur ya,"
Vanilla bergumam baru ingat kalau suaminya semalam tidak tidur cukup. Vanilla mengguncang lengan Jhico lalu mencubit kakinya juga.
"Tapi kamu harus temui Barvi. Mungkin dia datang ke sini karena ada perlu,"
"Sshhh jangan dicubit,"
"Cepat bangun, Jhi. Ada Barvi di luar,"
Jhico berdecak malas. Berat sekali rasanya untuk meninggalkan ranjang yang begitu nyaman.
Ia mengacak rambutnya sembari duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa nya. Setelah itu, Ia beranjak ke kamar mandi.
"Ayo, Griz. Kita keluar,"
Vanilla membawa buah hatinya dalam gendongan lalu bergegas keluar dari kamar. Vanilla menghampiri dapur setelah ingat Barvi belum disediakan minum. Saat ke dapur, Bibi tidak ada. Ia keluar dari dapur untuk mencari Bibi. Ternyata Bibi sedang menyajikan minuman untuk Barvi.
"Bagaimana kabarmu, Barvi? sehat 'kan? Bibi sudah lama tidak bertemu denganmu,"
"Hmm, Sehat." jawab Barvi singkat dan terkesan tidak hangat sekali dengan Bibi.
Bibi tersenyum kecil. Sudah biasa Ia melihat perbedaan sikap antara Jhico dengan sepupunya. Memang berbeda sekali ketika memperlakukannya.
__ADS_1
Vanilla duduk di salah satu sofa. "Ada perlu apa datang ke sini, Barvi?"
"Memang tidak boleh?"
"Boleh, hanya saja tidak biasanya,"
Vanilla melipat bibirnya ke dalam merasa salah telah bertanya begitu. Pasti menyinggung hati Barvi.
"Aku sering datang ke rumah Fionna. Tapi kenapa dia tidak pernah ada di rumahnya?"
Kening Vanilla mengerinyit. "Kalian saling mengenal?"
"Tentu saja. Dia sahabat Jhico saat kecil,"
"Aku kurang tahu kenapa dia jarang di rumahnya. Kamu tidak coba bertanya dengan Nenek Hawra? Nenek cukup dekat dengan Fionna,"
"Aku malas bertemu Nenek,"
"Padahal kalau masih diberikan nyawa oleh Tuhan, ada baiknya sering-sering mengunjungi keluarga terutama orangtua,"
Barvi menatap Vanilla dengan tajam. Ia merasa Vanilla terlalu mengatur. Tidak seharusnya Vanilla menasihati seperti itu.
"Rumah keluarga Jhico dekat dengan rumah Fionna. Sekalian saja singgah sebentar untuk bertemu Nenek, Mama Karina, dan Papa Tahanatan,"
"Tujuanku hanya untuk bertemu Fionna,"
"Aku sering ke kantor Paman Thanatan, kalau kamu ingin tahu,"
"Oh itu bagus, nanti sering-sering menemui Nenek mu juga ya,"
Rahang Barvi mengetat. Vanilla semakin gemar membuatnya kesal. Ucapan Vanilla santai tapi makna nya tajam sekali. Vanilla tahu kalau sebagian besar sepupu Jhico kurang menyukai Hawra karena mereka menganggap Hawra lebih menyayangi Jhico daripada mereka. Mereka lebih dekat dengan Arlan, Opa mereka, mantan suami Hawra.
Jhico keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih segar. Ia segera menyapa Barvi. "Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat,"
"Aku sering sekali datang ke rumah Fionna tapi dia tidak pernah ada di rumahnya. Kau teman dekatnya pasti tahu kemana dia," lanjut Barvi, langsung menyinggung tujuannya datang ke sini yaitu untuk menanyakan Fionna.
"Setahuku dia tidak pindah. Mungkin saat kau datang, Ia sedang pergi,"
"Aku sudah didesak untuk menikah. Apalagi setelah adanya rencana Destira menikah dua minggu lagi,"
Barvi mengeluhkan sikap orangtuanya. Destira, sepupu nya dan Jhico akan menikah sebentar lagi. Dan orangtua Barvi mendesak putra mereka agar segera menyusul Destira. Barvi berusaha menyanggupi.
"Lalu kaitannya dengan Fionna apa? kenapa kau mencari Fionna?"
"Aku mau mendekati Fionna lagi. Dulu aku sempat mundur karena aku tahu dia menyukaimu,"
__ADS_1
Jhico terkejut dengan alis matanya yang terangkat. "Jangan sembarangan bicara. Ada istriku di sini. Kau harus menjaga perasaannya,"
"Aku bicara kenyataan. Memang Fionna memiliki perasaan lebih terhadapmu. Aku sempat ingin mendekatinya tapi lama-lama aku mundur. Sekarang aku ingin berusaha lagi,"
Jhico beralih menatap istrinya yang nampak biasa saja setelah mendegar ucapan Barvi. Karena sebelumnya Vanilla memang sudah bisa membaca perasaan Fionna. Ia tidak terkejut lagi mendengar fakta yang disebutkan Barvi.
"Entah sekarang dia masih memiliki perasaan itu atau tidak lagi. Aku berharap tidak. Karena aku ingin berjuang,"
"Kau mencintainya? kalau hanya mendekati Fionna agar kalian bisa menikah memenuhi permintaan orangtuamu, jujur saja aku tidak setuju,"
"Cinta bisa datang karena terbiasa hidup bersama. Aku yakin dengan itu,"
"Perasaan yang kau miliki untuk Fionna dulu bukan mencintai?"
"Sepertinya dulu aku hanya mengaguminya. Dan nanti aku akan berusaha menghadirkan perasaan lebih dari sekedar kagum,"
"Apa kau yakin? jangan coba-coba menyakiti perasaan nya, Barvi." tegas Jhico yang membuat Vanilla semakin mencintai suaminya. Jhico sangat menghargai semua perempuan dan berusaha melindunginya.
"Tenang saja, aku akan berusaha menjadi laki-laki yang baik seperti kau yang selalu menghargai wanita,"
"Tapi sepertinya Fionna sudah memiliki kekasih," ujar Vanilla yang membuat Barvi menatapnya serius.
"Sebelum mendekatinya, pastikan dulu perasaan nya, Barvi. Kamu harus tahu apakah dia sudah memiliki hubungan special dengan orang lain atau belum,"
Barvi mengusap wajahnya dengan kasar. Padahal ia sudah berharap lebih. Tapi ucapan Vanilla membuat semuanya musnah. Tadi Ia sempat optimis untuk mulai mendekati Fionna. Setelah mendengar kalimat Vanilla, semangatnya untuk memiliki istri sedikit menurun.
"Aku sudah bosan hidup sendiri. Makanya aku ingin menyanggupi permintaan orangtuaku,"
"Aku pikir keputusanmu tepat. Daripada kau dekat dengan beberapa perempuan tanpa status yang jelas, lebih baik menikah. Kalau kau menikah, barangkali istrimu nanti bisa membawa kebaikan dalam hidupmu,"
"Kau mendoakan aku yang baik-baik tidak sih? jangan-jangan karena aku jahat, kau mendoakan yang buruk untukku. Karena aku merasa hidupku datar saja tanpa makna,"
"Aku tidak pernah mendoakan hal buruk untuk seseorang sekalipun dia jahat,"
"Suamiku tidak akan seperti itu, Barvi. Aku tahu dia seperti apa,"
"Okay, terimakasih sudah mendoakan hal baik untukku. By the way, nama anakmu siapa?"
"Grizelle. Panggil saja Griz," jawab Jhico seraya tersenyum memperhatikan anaknya.
"Padahal dia menggemaskan tapi kenapa Paman Thanatan tidak menyukai kehadirannya?"
-------
Hallawwww aku up lg di jam pocong wkwk. Aku up ini jam 00.10. Kalian baca jam brp? ADDICTED UP BARENG SAMA NILLAKU YAA KRN KEMAREN ADDICTED GK UP.
__ADS_1