Nillaku

Nillaku
Nillaku 369 Devan selalu berhasil menyelesaikan perdebatan kedua anaknya


__ADS_3

"Salahku dimana? aku kira memang yang mengetuk pintu kamarku adalah setan. Ternyata kamu. Siapa suruh ketuk-ketuk pintu tapi tidak masuk?!"


Auristella merajuk dan itu membuat Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ia tahu alurnya setelah ini. Pasti Auristella akan melaporkan kejadian tadi pada Mommy dan daddy mereka lalu nanti Ia yang dinasihati karena Ia lebih dewasa daripada Auristella.


Tapi untuk kali ini, Adrian memang salah, Ia mengakui itu. Ia dengan sengaja menyamakan Auristella dengan sosok tak berwujud.


Tap


Tap


Tap


Auristella menghentak tiap langkah kakinya ketika mendekat pada sang Ibu.


"Mommy, Ian mengatakan aku setan,"


"Hah? kenapa? kamu 'kan bisa terlihat,"


"Hiii Mommy. Jangan bercanda,"


Lovi terkekeh mendengar rengekan Auristella. Ia bingung kenapa tiba-tiba Auristella melapor seperi itu padanya.


"Ada apa ini?"


"Wajahmu kenapa cemberut, Auris?"


Devan duduk menghadap meja makan. Lelaki itu terlihat berwibawa sekali dengan stelan formalnya. Seperti biasa, Lovi merasa ketampanan suaminya akan bertambah dua puluh kali lipat ketika mengenakan pakaian kerja.


"Daddy, Ian menyamakan aku dengan setan,"


"Enak saja mulutnya ya. Princess Daddy disamakan dengan makhluk tak kasat mata,"


"Iya, marahi dia, Dad," cetus Auristella dengan perasaan jengkel yang sudah menumpuk di dada.


"Ya, nanti akan Daddy tegur;"


"Jangan cuma ditegur. Kalau perlu disuruh menangis padaku supaya aku memaafkannya,"


Devan terkekeh tak membayangkan sebesar apa pemberontakan Adrian nanti kalau Ia benar-benar meminta Adrian melakukan apa yang diucapkan Auristella barusan.


"Ian dimana?"


"Entah, mungkin dia sengaja menghindar, karena takut dimarahi Daddy,"


"Tidak lah, Ian sudah sering ditegur jadi dia tidak mungkin menghindar. Anak Daddy semuanya pemberani, kalau salah tetap berani menampilkan wajah," bangga lelaki itu.


Auristella diminta Lovi untuk segera menyantap sarapannya, tidak lagi merengut.

__ADS_1


Adrian dan Andrean akhirnya datang. Yang dikatakan Auristella tadi salah. Adrian bahkan berjalan lebih dulu, atau di depan Andrean. Ia tidak menghindar.


Karena memang belum selesai bersiap, maka baru turun sekarang.


"Ian, kenapa menyamakan adikmu itu dengan mahluk tak kasat mata. Kamu yang benar saja,"


"Pasti Mommy dan Daddy baru dengar dari satu sisi saja. Jadi begini, tadi saat aku bersiap, ada yang mengetuk pintuku beberapa kali tanpa memgucapkan apapun. Aku kira,itu Mommy. Tapi aku bingung kenapa Mommy tidak bersuara sedikitpun,maka aku kira makhluk halus. Tapi ternyata itu Auris, adikku yang cantik tapi memyebalkan" ledeknya di akhir penjelasan.


"Bohong! padahal kamu sudah tahu kalau yang mengetuk pintu itu aku. Iya 'kan?kenapa kamu malah--"


"Ya lagipula kenapa juga kamu mengetuk pintu kamar Ian? tanpa mengatakan apapun. Wajar saja dia mengira kalau itu kerjaan makhluk halus," kali ini Devan mengutarakan apa kata hatinya. Sebenarnya Adrian tidak seratus persen salah.


"Dia yang lebih dulu mengetuk pintu kamarku. Dia jahil, Dad," Autistella menunjuk kakaka keduanya yang tengah makan dengan asik itu.


"Oh jadi yang mulai jahil itu ian?"


Aurislla mengangguk cepat dan Adrian tidak lagi melakukan pembelaan sebab Ia memang mengetuk pintu kamar Aurustella terlebih dahulu tadi.


"Tapi aku tidak mengetuk sampai berkali-kali. Sementara Auris beberapa kali,"


"Tetap saja kamu yang salah,"


"Dua-duanya salah. Sudah, Daddy putuskan keduanya salah, tidak hanya salah satu saja," Devan berujar tegas meletakkan tangannya di antara Auristella dan Adrian yang duduk berhadapan saling memberi tatapan sinis.


"Ean, semoga kamu tidak menyesal lahir di keluarga ini ya? sabar ya, Sayang,"


Andrean menahan tawanya ketika Mommynya berucap seperti itu seraya mengusap bahunya.


"Minta maaf dulu. Biar ilmu yang masuk ke otak lebih mudah karena hati tenang dan damai," Suruh Devan pada kedua anaknya yang langsung melakukan.


"Hah, pintar. Tapi lima menit lagi ada saja perdebatan lain," gumam Devan yang sudah tahu betul bagaimana kedua anaknya ini. Ada saja hal yang membuat mereka adu mulut. Beruntung tidak pernah sampai adu otot.


"Auris ini juga jahil. Nanti Mommy kembalikan ke dalam perut lagi ya, Auris?"


"Ide bagus, Mom. Biar hidupku tenang," seru Adrian setuju sekali bila Mommynya mengembalikan sang adik ke dalam perutnya lagi. Sayang, itu tidak akan mungkin terjadi. Mustahil.


"Lebih baik Ian yang dikembalikan, Mom. Karena dia pembuat masalah,"


Hah


Baru juga dikatakan Devan tadi. Mereka sudah mulai lagi. "Makanan dihabiskan Setelah itu berangkat ya," titah Devan pada mereka.


"Okay, Dad," kompak, ketiganya menjawab.


"Mommy hari ini ke butik, Dad," pamit Lovi pada suaminya yang diangguki.


"Ya, kamu sudah mengatakan itu semalam,"


"Barangkali kamu lupa,"

__ADS_1


"Seperti biasa, aku akan menjemputmu kalau aku bisa ya,"


"Kalau untuk Mommy akan diusahakan bisa ya, Dad?" kata Adrian menatap ayahnya dengan alis yang sengaja dinaik turunkan.


"Ah tidak juga," bantah Lovi. Tidak setiap saat Devan menepati ucapannya. Tapi dari awal juga Devan memang tidak berjanjni. Ia mengatakan kalau bisa,maka Ia akan datang. Tapi kalau tidak bisa, maka Ia pulang sendiri, tanpa dijemput suaminya.


Usai menghabiskan sarapan, mereka meninggalkan meja makan, siap untuk berkutat dengan kegiatan masing-masing.


"Daddy bisa mengantar kalian,"


"Yeaay diantar Daddy,"


Auristella paling kelihatan senang diantar ayahnya. Tak hanya ketiga anaknya, Devan juga mengajak Lovi untuk pergi bersamanya.


"Aku antar kamu ke butik dulu baru ke kantor,"


"Tidak apa memangnya?"


"Tidak masalah, Lov," jawab Devan meyakinkan istrinya yang pasti tak ingin ia terlambat.


*****


"Huwaa aku tidak sekolah lagi?"


"Semalam saja hangat lagi,"


"Hmm ya sudah,"


Grizelle merengut setelah mendnegar ucapan ayahnya yang memutuskan agar ia izin tidak mengiku pelaharan hari ini sebab semalam Jhico masih bisa merasakan dahi putrinya yang hangat setelah dicek suhunya, Grizelle memang demam ringan.


"Pupu mau kemana? bersepeda ya?"


"Iya, sebentar saja,"


"Aku ingin ikut,"


"Bagaimana bisa, Sayang? kakimu saja belum sembuh,"


"Tapi aku ingin sekali ikut Pupu. Sudah lama aku tidak perlgi (pergi) di pagi harrli (hari) berrlsama (bersama) Pupu,"


"Naik golf cart saja, Sayang," suara Vanilla terdengar menyarankan Grizelle. Vanilla datang ke meja makan dengan susu hangatnya.


"Memang boleh, Pu?"


"Boleh kalau itu.Ya sudah,nanti Pupu bersepeda dulu. Setelahnya baru kita naik golf cart ya?"


"Okay, Pu. Aku tunggu ya,jangan lama-lama berrlsepeda (bersepeda) nya,"


"Iya, Sayang,"

__ADS_1


Jhico tidak sarapan, ia hanya minum green tea nya saja setelah itu siap untuk bersepeda pagi ini.


__ADS_2