
"KAKAK DOKTER!"
Teriakan Keyfa dari kamarnya membuat Vivi yang sedang membereskan kamar tidurnya langsung berlari memasuki kamar putrinya.
Keyfa sedang mengigau padahal hari sudah pagi. Vivi cepat-cepat membangunkan anaknya.
"Key, ayo cepat bangun. Ini sudah pagi,"
Perlahan mata Keyfa yang yang sebelumnya memejam erat, kini mulai terbuka. Napasnya tak beraturan. Vivi langsung mengambil air putih di nakas agar diteguk oleh anaknya.
"Ada apa? bisa cerita pada Ibu?"
"Aku---aku mimpi buruk,"
"Mimpi buruk bagaimana?"
"Kakak dokter meninggalkan aku," ujarnya dengan tangis yang histeris. Ia menangis seraya memeluk Ibunya. Vivi dengan setia mengusap punggung anaknya untuk menenangkan.
"Telepon kakak dokter, Ibu. Aku mau bicara dengannya. Ak--aku--ingin bicara dengannya,"
"Jangan terlalu sering menelpon kakak dokter. Ia memiliki keluarga sendiri, Keyfa. Kamu sering sekali mengambil ponsel Ibu diam-diam untuk menghubunginya. Kakak dokter baik, tapi bukan berarti kamu bisa terus-terusan mengganggunya,"
"Memang Kakak dokter terganggu dengan aku?"
Vivi nampak menimang, tadinya Ia ingin menjawab 'ya' tapi Ia tidak ingin anaknya yang saat ini sedih karena mimpi buruk semakin sedih setelah mendengar jawabannya.
"Sudah, tidak usah menangis. Lebih baik, sekarang kamu mandi,"
"Tidak mau! aku ingin bicara dulu dengan kakak dokter,"
Vivi menghembuskan napas pelan. Keyfa benar-benar egois. Ia sulit diberi tahu bahwa Jhico memiliki kesibukan sendiri, Jhico tidak hanya hidup dengan Keyfa saja. Jhico punya anak dan istri yang bisa saja saat ini mereka sedang menikmati waktu akhir pekan bersama.
"Aku ambil ponsel Ibu di kamar ya?"
"Key---"
Keyfa sudah keluar dari kamarnya, dan Ia berjalan ke kamar orangtuanya untuk mengambil ponsel Ibunya.
"Mau apa pakai ponsel Ibu?" tanya ayahnya yang sedang duduk di sofa menonton televisi.
"Mau telepon Kakak dokter,"
"Jangan mengganggu akhir pekan kakak dokter. Dia juga punya kesibukan sendiri. Apalagi ini hari libur, waktunya kakak dokter berkumpul dengan keluarga,"
__ADS_1
Keyfa tak mengindahkan ucapan Ferdy. Ia tetap menelpon Jhico yang di rumah sakit sedang memperhatikan anaknya menyusu.
Grizelle belum tahu pulang kapan. Semalam dia demam lagi padahal paginya sudah normal. Bahkan sempat kejang demam juga. Seperti biasa, Vanilla sangat cemas hingga selalu bertanya pada dokter bagaimana kondisi Grizelle. Melihat pergerakan sedikit dari Grizelle yang sedang tidur, Ia pasti menatap waspada. Padahal sudah tidak kejang dan Grizelle sudah tidur tapi Vanilla tetap saja tak bisa tenang. Semalaman Ia tidak tidur. Beruntungnya ada Jhico yang selalu menemani. Jhico lebih tenang meskipun beberapa kali kena omel Vanilla karena Ia tidak terlihat panik.
Vanilla mengira Jhico tidak khawatir dengan anak mereka. Padahal bukan seperti itu. Kalau Jhico dan Vanilla panik, maka siapa yang akan menenangkan mereka? hanya mereka berdua yang menjaga Grizelle. Dokter juga sudah berusaha untuk menangani Grizelle dengan baik.
Kembali pada pagi ini, Jhico masih menatap anaknya yang sedang menyesap sumber makanan nya dari sang Ibu.
"Ada yang telepon kamu, Jhi." Ucap Vanilla memberi tahu suaminya. Terlalu serius memperhatikan Grizelle, Jhico tidak sadar kalau sudah ada beberapa panggilan untuknya.
Jhico segera meraih ponselnya. Ia melirik Vanilla sekilas setelah melihat siapa yang menelponnya.
"Siapa?"
"Keyfa,"
"Oh, angkat saja," suruh Vanilla dengan nada biasa saja. Tidak ada jengkel yang terlihat. Dalam hatinya Ia bertanya-tanya, apa lagi tujuan Keyfa menghubungi Jhico? ini masih pagi dan juga akhir pekan, kenapa Keyfa menganggu? ya, Vanilla merasa terganggu, jujur saja.
Jhico menjawab panggilan itu dengan segera. Tadinya Ia tidak ingin menjawab karena Ia tidak mau Vanilla bad mood lagi.
"Ada apa, Key?"
"Kakak dokter baik-baik saja?"
"Tadi aku mimpi buruk,"
Panggilan yang di loudspeaker membuat Vanilla juga bisa mendengar apa yang diucapkan anak itu. Vanilla dan Jhico saling menatap beberapa saat.
"Mimpi buruk?"
"Aku mimpi Kakak dokter meninggalkan aku, tidak pernah mau lagi bermain dengan aku,"
Sejujurnya hati Jhico terenyuh mendengar itu. Ia sudah niat untuk sedikit menjaga jarak dengan Keyfa demi menjaga perasaan Vanilla. Mereka tetap bisa bermain tapi tidak perlu terlalu sering seperti sebelumnya. Komunikasi mereka juga tidak usah seintens sebelumnya, Jhico sudah berencana untuk melakukan itu.
"Aku tidak akan seperti itu. Kamu tenang saja,"
"Baiklah, aku tutup teleponnya. Jangan pernah menjauh dari aku ya kakak dokter. Tetap menjadi teman bermain untukku, dan tetap sayang aku,"
Sudut bibir Jhico terangkat ke atas. Ia mengangguk tanpa sadar. Ia akan tetap menjadi teman untuk Keyfa, dan Ia juga akan selalu menyayangi Keyfa.
Jhico meletakkan ponselnya ke dalam saku. Ia berdiri dan hal itu membuat Vanilla menatapnya.
"Aku mau pulang sebentar ya?"
__ADS_1
"Untuk apa pulang?"
"Baju kita tidak ada lagi di sini,"
"Oh ya sudah, hati-hati ya,"
Jhico mengangguk, sebelum pergi Ia mengecup kening Vanilla dan Grizelle bergantian. Lalu Ia juga memeluk Vanilla dengan begitu erat seolah tak ada hari esok untuk bisa melakukannya lagi.
"Kamu 'kan mau pulang, bawa tas pakaian kotor kita,"
Jhico segera mencari barang yang dimaksud Vanilla. Tas pakaian kotor ada dua. Milik Vanilla dan Jhico, tapi Jhico lupa akan hal itu. Ia pikir hanya satu saja dan akhirnya Ia membawa satu tas pakaian kotor itu. Namun suara Vanilla menginterupsi nya, "Yang punya aku juga, sayang. Masa hanya bawa punya kamu saja? kamu harus diajari dulu! kamu dokter yang--"
"Apa? dokter yang bodoh?" tanya Jhico dengan nada menyindir ucapan Vanilla semalam karena Ia terlihat tidak panik ketika melihat anak mereka kejang demam dan Jhico lebih memilih untuk segera memanggil dokter, Ia hanya ingin anaknya mendapat perawatan dari dokter yang sudah biasa menanganinya tapi Vanilla malah mengatakan dirinya adalah dokter yang bodoh. Jhico hanya bisa mengelus dada saja. Tapi setelahnya Vanilla meminta maaf berkali-kali.
Vanilla terkekeh ketika suaminya mengingat kejadian semalam. "Aku sudah minta maaf! kenapa dibahas lagi?"
"Aku masih sakit hati," ujar Jhico yang tentu saja tidak benar-benar sakit hati, Jhico hanya ingin tahu reaksi istrinya ketika Ia mengungkit kejadian semalam.
"Astaga, maaf. Aku hanya panik semalam dan juga kesal karena kamu tidak mau menangani Griz,"
"Bukan tidak mau, aku hanya ingin Griz langsung ditangani oleh dokternya sendiri,"
"Iya, aku tahu. Maaf ya?" ujar Vanilla dengan nada memohon. Jhico tersenyum gemas menatap Vanilla. Ia mencuri kecupan sebelum akhirnya meninggalkan rumah sakit.
Vanilla tentu saja tidak akan dibiarkan sendiri menjaga Grizelle di rumah sakit. Jhico sudah meminta Mama nya untuk datang. Ia takut kejadian semalam terulang lagi dan tidak ada yang bisa mengendalikan Vanilla.
Tapi hingga beberapa menit Jhico pergi, Karina belum datang. Malah Joana yang datang ke rumah sakit dan menyapanya dengan hangat.
"Yeaay Griz tidak tidur," Joana senang sekali ketika Grizelle tidak sedang tidur. Ia ingin mengajak anak itu bermain dan mengobrol.
"Aku sudah bilang tidak usah datang. Ibumu tidak banyak pesanan?"
"Semua pesanan waffle yang masuk tadi sudah aku antar semua,"
Vanilla beranjak sebentar dari sisi anaknya untuk mengambil minum. Grizelle nampak memandang Joana dalam-dalam. Ia merasa asing dengan Joana tapi karena Joana tersenyum padanya dan mengajaknya mengobrol, Ia jadi tidak merasa takut.
Gelas dalam genggaman Vanilla tiba-tiba saja terjatuh dan akhirnya pecah. Vanilla terdiam sesaat memandang serpihan kaca di lantai.
Joana menoleh pada sahabatnya lalu Ia bertanya, "Van, ada apa?"
"Perasaanku tidak enak,"
__ADS_1
Waduuh kira-kira Si Nilla Mumu nya Griz kenapa nih?