
Grizelle dengan travel bag berukuran kecilnya berjalan keluar dari kamar. Ia dan Auntynya persis seperti ingin staycation. Kali ini di rumah Raihan dan Rena. Grizelle mau menginap di sana dengan Jane.
"Aku perrlgi (pergi) dulu ya, Mu, Pu,"
Anak itu memeluk kedua orangtuanya sebelum pergi. Grizelle hanya menginap sehari di sana, esok pagi Ia sudah dijemput oleh Ayahnya untuk ke sekolah.
"Hati-hati ya,"
"Okay, Mu,"
Mereka tidak bisa menaha Grizelle yang langsung mengangguk antusias begitu Rena memintanya untuk menginap di rumahnya bersama Jane juga.
Grizelle juga sempat mengtakan, "Belum lama ini aku mengimap di rrlumah (rumah) kakek yang waktu itu sakit. Sekarrlang (sekarang) aku menginap di rrlumah (rumah) Grlandpa. Yeaay!" soraknya gembira. Ia langaung ikut sibuk menyiapkan pakaian bersama Nada. Setelah siap, Jane pun juga sudah siap dengan perlengkapannya.
"Sepi lagi kita tanpa Icelle,"
"Iya, tidak apa. Dia mau menginap jadi kita tidak bisa melarang,"
Jhico mengusap bahu istrinya yang seperti biasa tidak akn mudah melewati satu haripun tanpa Grizelle. Kemudian Ia mengajak Vanilla kembali masuk ke dalam usai melepas kepergian Grizelle dan Jane.
*****
"Icelle sedih berpisah dengan Mumu dan Pupu?"
"Hmm iya sedih sebenarrlnya (sebenarnya),"
"Lalu kenapa mau menginap dengan Aunty di rumah Grandpa?"
"Karena Grandma dan Grandpa meminta aku menginap. Maka aku menginap," katanya seraya tersenyum.
Jane meminta diputarkan plaaylist lagu oleh driver dan terdengar lagu yang hentakan musiknya lumayan kuat. Grizelle beringsut ke depan untuk mengganti sendiri playlistnya sebab Ia tidak mau mengganggu fokus driver.
"Icelle jangan diganti,"
"Tidak suka musiknya, Aunty,"
"Tapi Aunty suka,"
"Ganti saja ya,"
Anak itu tetap mencari-cari lagu yang seauai dengan seleramya. Begitu terdengar lagu yang alunannya manis, Jane berdecak.
"Lebih baik yang tadi, Icelle. Ini buat kita jadi mengantuk,"
"Ah tidak, Aunty. Ini bukan lagu yang sedih melodinya. Tapi---apa ya----rrlomantis (romantis) iya, itu,"
"Kamu tahu romantis itu apa?"
Grizelle menggeleng ragu kemudian tertawa. "Terus kenapa mengatakan kalau itu romantis?"
__ADS_1
"Memang rrlomantis (romantis) itu apa sih, Aunty? aku tidak tahu,"
"Romatis itu---hmm...mesra,"
Grizelle mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian Ia mencari lagu lain sesuai permintaan Auntynya.
"Padahal yang tadi bagus lagunya, aku suka,"
"Tidak suka, Aunty jadi ingat Uncle Ri kalau mendengar lagu seperti itu,"
Grizelle tertawa kwcil setelah mengetahui alasan Jane. Mungkin liriknya yang membuat Jane tidak nyaman. Ia jadi mengingat Richard yang padahal belum tentu saat ini mengingat dirinya.
"Baiklah,aku sudah ganti ini. Bagaimana?"
"Iya, ini saja,"
"Aunty kenapa suka musik yang berrlisik (berisik)?"
"Ini tidak berisik, Icelle,"
"Kalau yang aku suka itu yang seperti tadi. Lembut, menenangkan," katanya dengan gaya menggemaskan, tangannya melambai untuk memperagakan ketenangan. Jane yang melihat itu tak mampu menahan tawanya.
"Kamu benar-benar ya. Nanti tidak Aunty kembalikan lagi ke rumah. Aunty culik nanti biar jadi anak Aunty ya,"
Grizelle yang msih berada di depan kini pindah ke tempatnya semula.
Tak hanya Jane saja bahkan Mr Jun yang kali ini mengantar mereka dibuat tertawa dengan celotehan Grizelle.
"Aduh, lelah kalau punya anak seperti kamu ya. Suka membuat tertawa, terharu, sedih, dan macam-macamnya,"
"Namanya juga Icelle, Aunty. Ya beginilah orrlangnya (orangnya),"
Jane memeluk anak itu dengan gemas bagaikan sedang memeluk boneka. Kemudian Ia mencium Grizelle berkali-kali di pipinya yang lembut seperti bayi itu.
****
Adrian berjalan dengan dua malaikat kecil di kedua siainya kanan dan kiri.
Begitu tiba di playground, kedua anaknya langsung berhambur mencari permainan yang ingin mereka jajal.
Mereka berpencar maka keputusan Devan untuk tidak pergi sendirian sangatlah tepat. Meskipun sudah ada yang menjaga tapi Devan tetap mangawasi kedua anaknya.
Tak pernah Ia luput memperhatikan gerak-gerik mereka walaupun terbilang sulit mengawasi dua anak aktif sekaligus yang sedang sibuk bermain.
"Awas, hati-hati," Devan berpesan pada Auristella yang akan menaiki pesawat mini.
"Okay, Dad,"
Auristella mengacungkan ibu jarinya pada sang ayah. Ia bergerak dengan hati-hati sesuai dengan pesan ayahnya.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam pesawat tersebut, pesawat langsung berputar pelan dan Auristella berseru senang.
"Yeaayy,"
Devan tersenyum memperhatikan anaknya yang bahagia sekali. Kemudian masuklah Adrian. Ia tidak ingin ketinggalan menaiki wahana pesawat mini itu.
"Kamu 'kan perempuan. Seharusnya bukan naik ini, Auris,"
"Biar saja. Tidak ada larangannya!"
"Aku yang melarang,"
"Sejak kapan penumpang pesawat hanya dikhususkan untuk perempuan? huu aneh!"
Meskipun tidak bisa mendengar apa yang terjadi antara anak kedua dan ketiganya, tapi Devan yakin kalau mereka kini tengah berdebat. Terlihat dari gelagat dan aksi saling melempar tatapan tajam dari mereka.
"Lanjut sampai akhir perdebatannya ya. Nanti Daddy tinggal pulang," peringatannya berhasil membuat Auristella yang tengah menjulurkan lidahnya ke arah Adrian langsung terdiam, begitupun Adrian yang pura-pura sibuk dengan memutar-mutar alat kemudi pesawat.
*****
"Mau lihat adikmu bermain tidak?"
Lovi memperlihatkan layar ponselnya agar Andrean bisa melihat kedua adiknya yang tengah bermain. Lovi dan Devan kini sedang terlibat panggilan video.
"Kali ini Ean tidak ikut,"
"Tidak apa," kata anak itu berusaha menghibur durinya sendiri. Sebenarnya ingin bergabung tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan.
"Iya, Sayang. Masih banyak waktu atau kesempatan. Nanti Ean bisa bermain di sana,"
"Aku mau mengurangi bermain. Bisa tidak ya, Mom?"
"Hmm? mengurangi bermain?kenapa?"
"Alu sudah besar,"
Lovi tersenyum lembut, selembut usapannya di kepala sang putra. Ia menggeleng, "Tidak masalah kalau dalam diri Ean masih ingin bermain. Lagipula yang dimainkan juga bukan lagi mainan anak kecil usia satu atau dua tahun. Itu mainan-mainan kamu, Ian, dan Airistell sudah mulai diangguri. Artinya memang keinginan kalian untuk bermain tidak lagi seperti dulu. Jadi sekalinya ingin bermain ya tidak apa. Nanti kalau sudah besar juga tidak akan lagi kenal kata bermain. Sudah sibuk dengan dunia yang berbeda dari dunia saat masih menjadi anak kecil," jelas Lovi yang tidak pernah mau membatasi anak-anaknya. Kalau masih ada keinginn bermain artinya memang belum besar, msih anak-anak. Keinginan untuk bermain akan semakin hilang seiring dengan bertambahnya usia.
"Sudah ya, Lov? aku tutup teleponnya," terdengar suara Devan yang ingin mengakhiri panggilan.
"Iya, Dad. Selamat menjaga anak-anak ya,"
"Okay, bye, Lov,"
Lovi tersenyum hingga Devan sulit sekali mengalihkan perhatian dan tidak ingin menyelesaikan panggilannya.
"Devan, kenapa tidak ditutup?"
"Masih ingin melihat senyum manis kamu itu, Lov,"
__ADS_1