Nillaku

Nillaku
Nillaku 229 Nay-Nay dan Oma sudah datang


__ADS_3

Usai sarapan, Vanilla ingin mengajak putrinya ke taman rumah sakit, menikmati suasana pagi di sana agar Grizelle tidak bosan di ruangannya terus.


"Tidak mau pakai itu. Aku mau jalan saja,"


Ia menolak saat perawat membawa kursi roda. Ia memegang lengan Ibunya meminta dibantu turun dari bangsal.


"Kuat bila berjalan sendiri?"


"Kuat, aku bisa, Sustel (suster),"


Perawat tersenyum mendengar penuturan anak itu. Grizelle berjalan sendiri seraya menggenggam tangan Vanilla sementara tangan Vanilla yang lainnya membawa tiang penyangga infus.


Perawat mengawasi sampai keduanya tiba di taman. Kemudian Vanilla mempersilahkan perawat itu untuk meninggalkan keduanya.


"Pupu kita tinggal sendilian (sendirian),"


Anak itu terkekeh mengingat ayahnya yang tidur di sofa bed sendirian.


"Tidak apa, Pupu tidak akan marah biarpun kita biarkan sendirian di sana,"


"Kenapa Pupu tidak mau tidul di tempatku, Mu? padahal masih luas,"


"Pupu tidak mau mengganggu kamu. Lagipula di sofa bed nyaman,"


"Mu, meskipun di luangan (ruangan) ku itu nyaman sepelti (seperti) di lumah(rumah). Tapi tetap saja nyaman di lumah,"


"Iya, rumah memang tempat ternyaman, Sayang,"


Mereka berdua duduk di sebuah kursi yang dikelilingi bunga berwarna putih, ungu, dan merah muda.


Tak jauh dari mereka, ada seorang lelaki berusia senja yang tengah menggendong bayi yang sepertinya belum lama terlahir.


Grizelle menatap kegiatan lelaki itu dalam diam. Grizelle melihat dia menimang, kemudian sesekali mengecup. Dan tak jarang dia juga mengajak anak dalam gendongannya itu tertawa.


"Ada adik bayi dengan kakeknya, Mu,"


Grizelle berujar pelan pada sang Ibu seraya menunjuk dengan matanya.


Vanilla segera melihat apa yang diucap anaknya itu. Sama halnya dengan Grizelle, Vanilla juga tersenyum melihatnya.


"Pasti saat aku masih bayi, Kakek dan Glandpa juga begitu ya, Mu?"


Vanilla tertegun sejenak. Ia mengingat-ingat momen dimana Ia melahirkan Grizelle ke dunia ini.


Thanatan dan Raihan memang datang dan bertemu Grizelle setelah Grizelle berhasil dikeluarkan dari rahim dirinya. Tapi setelah itu, cukup lama Thanatan tak bertemu Grizelle. Kalau Vanilla boleh membandingkan, Thanatan berbeda dengan Raihan yang ketika Grizelle baru lahir sering datang ke rumah untuk melihat cucu pertamanya itu.


Grizelle melewatkan ulangtahun pertamanya tanpa sang kakek. Padahal seharusnya di momen itu semua berbaur dan bersuka cita menyambut usia Grizelle yang memasuki satu tahun.


Thanatan selalu menghindari pertemuannya dengan Grizelle. Bahkan ketika Vanilla dan Jhico datang membawa Grizelle, Ia menyapa cucunya pun tidak. Hanya melirik ketika mereka datang, kemudian masuk ke ruang kerjanya. Grizelle dan Thanatan berjarak sejak kecil.


"Griz, mau dengar cerita Mumu tidak?"


"Mau-mau,"


"Dulu Pupu itu dekat sekali dengan Keyfa sampai Mumu terkadang kesal karena Mumu merasa kamu jadi jauh dengan Pupu,"


Grizelle menatap penuh minat ke arah Vanilla. Mendengar seksama apa yang diutarakan sang Ibu.


"Kakek juga tidak menyukai Keyfa. Mumu pernah bertengkar dengan Pupu hanya karena Keyfa. Kakek juga merasa bahwa Pupu terlalu berlebihan pada Keyfa, akhirnya Kakek tidak suka dengan Keyfa. Kakek tidak mau cucunya yang cantik ini kekurangan kasih sayang dari Pupunya,"


Tak ingin menceritakan hal-hal yang buruk dari seorang Thanatan, Vanilla justru menyampaikan kebaikan ayah dari suaminya itu.


"Kakek menegur Pupu, menyuruh Pupu untuk menjauhi Keyfa,"


Grizelle mengangguk pelan dengan senyum simpul yang hadir. "Memang Kakek menyayangi aku, Mu. Kakek itu baik, Glandpa juga baik. Semuanya baik," pungkas anak itu.


"Iya, maka Grizelle harus bersyukur karena dikelilingi orang baik," Vanilla mengajari anaknya dengan cara yang halus. Ia ingin Grizelle memiliki rasa bersyukur atas semua pemberian Tuhan. Mulai dari hal-hal yang kecil, sampai besar sekalipun patut disyukuri. Sekalipun mungkin sikap Thanatan tidak sesuai dengan harapan Grizelle, tapi Vanilla ingin anaknya tak membenci. Grizelle harus bersyukur memiliki Thanatan yang tanpa disadari membuat anak itu belajar untuk menjadi sosok yang penyabar dan pengertian.

__ADS_1


****


Jhico terbangun dari tidurnya dan Ia tersentak saat tidak mendapati anak serta istrinya.


"Kemana mereka?"


Berharap tidak terjadi apapun yang mengharuskan mereka keluar dari ruangan dan tidak melibatkan dirinya, Jhico segera menghubungi Vanilla.


Sialnya ponsel Vanilla masih tersambung dengan pengisi daya. Vanilla tidak membawa ponselnya.


Jhici berdiri dengan kepala yang sedikit pening. Saat Ia akan mengenakan alas kakinya, pintu ruangan terbuka.


Vanilla dan Grizelle masuk ke dalam. Keduanya tersenyum mendapati Jhico yang rupanya sudah bangun.


"Pupu sudah cukup istirahat nya?"


"Kalian darimana? kenapa tidak pamit dulu dengan Pupu," tanpa menjawab pertanyaan sang putri, Jhico langsung menyerbu mereka dengan pertanyaan.


"Kamu menghandel Grizelle sendirian, Nilla," ujarnya pada sang istri yang kini mengembalikan posisi tiang penyangga infus di samping bangsal Grizelle.


"Tidak apa, aku bisa membawa Griz ke taman. Aku tidak ingin dia merasa bosan. Maka aku bawa dia ke sana,"


"Pupu, tadi aku beltanya (bertanya,"


Vanilla membantu anaknya untuk duduk di bangsal. Grizelle menatap Ayahnya dengan wajah merengut.


"Tanya apa, Sayang?"


"Pupu sudah cukup istirahatnya?"


Jhico tersenyum mengangguk, "Sudah,"


"Pupu bohong,"


Alis Jhico mengerinyit saat anaknya makin merengut. "Pupu bohong. Kata Pupu semalam, kalau aku tidul (tidur) Pupu akan tidul juga. Pupu baru tidul tadi,"


"Pupu tidak tenang, tidak bisa tidur. Pupu takut saat sedetik saja Pupu memejamkan mata, terjadi sesuatu padamu,"


"Pupu sayang sekali ya denganku?"


Jhico terkekeh pelan, mengusap lembut pipi anaknya. "Kenapa bertanya seperti itu?"


Jhico menyentuh ujung hidung kecil milik putrinya seraya tersenyum, "Kamu tahu jawabannya." imbuh lelaki itu.


"Apa jawabannya?"


"Oh mau dengar langsung?"


"Iya, aku mau dengal (dengar), Pu,"


"Pupu sangat menyayangi Grizelle. Sampai rasanya kalau Grizelle sakit, Pupu mau sakit yang Grizelle rasakan itu pindah ke Pupu saja,"


"Setiap orangtua pasti seperti itu. Nanti juga kalau Grizelle sudah punya anak, Grizelle merasakan," imbuh Vanilla.


"Ihh Mumu,"


Grizelle menatap tidak terima ke arah Vanilla yang tidak tahu kesalahannya apa. Ia menatap bingung pada putrinya itu.


"Grizelle tidak mau jadi olang (orang) tua. Maunya jadi anak-anak saja telus (terus),"


Tawa Vanilla pecah. Rupanya Grizelle kesal karena itu. Ia tidak mau menjadi orangtua, ingin berada di masa kanak-kanak terus.


****


Karina dan Hawra singgah terlebih dahulu di sebuah cake store. Namun ketika mereka tiba di sana, store belum buka. Terpaksa mereka menunggu.


Setelah store dibuka dan mereka membeli beberapa macam cake, bakery, dan cookies untuk Grizelle, mereka segera bergegas ke rumah sakit.

__ADS_1


Kedatangan mereka disambut senang oleh Grizelle. Grizelle sedang menonton serial animasi kesukaannya bersama Vanilla sementara Jhico mandi. Tidak disangka Hawra dan Karina akan datang pagi.


"Mama dan Nenek sudah sarapan?" tanya Vanilla pada keduanya.


"Sudah, Kamu sudah sarapan? jangan lupakan dirimu sendiri, Van,"


"Aku sudah sarapan, Ma. Tinggal mandi saja ini. Tapi Jhico yang lagi mandi,"


"Kakek tidak ikut ke sini?"


"Kamu mengundang kakek nanti siang 'kan?"


"Iya, tapi aku kira Kakek datang sekarang bersama Nay-Nay dan Oma,"


"Tidak, Sayang. Kakek bekerja dulu, nanti ke sini,"


"Yeaayy Kakek sudah janji padaku,"


Karina tersenyum melihat anak itu berseru seraya mengangkat tangannya.


"Awas infusnya lepas lagi. Nanti guling-guling kalau dipasang infus yang ketiga kalinya," Vanilla mengingatkan karena putrinya mengangkat tangan yang sedang diinfus.


"Oh iya, lupa,"


"Meskipun kelihatannya senang sekali. Tapi kamu masih lemas ya, Sayang?"


"Iya, Nay-Nay," suara Grizelle bahkan masih serak. Pipinya masih merah.


Grizelle nampak menarik-narik kulit kering di bibirnya seraya melihat Karina yang kini tengah menunjukkan satu persatu cake yang Ia bawa.


"Griz mau yang mana?"


"Hei, bibirnya jangan ditarik-tarik begitu," tegur Vanilla seraya menyingkirkan tangan Grizelle dari bibirnya sendiri.


"Bibirku kering, Mu,"


"Ya karena sedang sakit,"


"Hah berdarah 'kan,"


Diberi tahu tapi tidak mau mendengar, akhirnya bibirnya berdarah karena kulit bibirnya yang kering ditarik.


"Tangannya tidak bisa diam,"


Vanilla membersihkan dengan tissue. Sementara Karina dan Hawra dibuat menggeleng. "Grizelle...Grizelle, untuk apa sih ditarik begitu?" Vanilla menahan geramnya. Darah yang keluar lumayan.


"Nanti Pupunya keluar dari kamar mandi dilihatnya bibirmu berdarah. Dikiranya karena apa nanti,"


Baru dua detik dibicarakan, Jhico hadir dengan penampilannya yang jauh lebih segar. Rambutnya basah dan kini sedang dikeringkannya dengan handuk kecil.


"Wah sudah ada Mama dan nenek," ujarnya.


"Iya, kami datang sekarang tidak apa 'kan? padahal Griz meminta kami datang saat makan siang,"


Jhico terkekeh, "Tidak apa lah, Nenek. Memang siapa yang melarang. Justru Grizelle senang karena banyak teman,"


"Nilla, kamu mandi saja. Griz biar denganku,"


Mereka memang selalu bergantian. Tidak membiarkan Grizelle sendirian di bangsal tanpa pengawasan.


"Itu tissue kenapa ada noda merahnya?" tanya Jhico melihat tissue yang dipegang Vanilla dan akan dibuang.


"Griz menarik kulit bibirnya yang kering jadi berdarah,"


Jhico menggeleng pelan. Ia menatap Grizelle dengan sorot memperingati dan Grizelle langsung tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Ia menyatukan kedua tangannya lalu sedikit menunduk ke arah Jhico.


"Ampun, Pu,"

__ADS_1


------


Tiga part untk hari ini. Kl gk rame like, vote, dan komennya, parah bgt si😭jgn pelit yakk pembacaku. Kelean semua kan org baeekk. Buat aku senang gampang kok, tinggal ramein cerita aku aja hehehe. Makasiii🙏Oiya Addicted up✔


__ADS_2