
"Ya ampun, kalau aku yang belanja tidak sebanyak ini. Kenapa ini banyak sekali ya?"
"Semua yang ada, dibeli oleh Nona, mungkin,"
Driver mengangkut belanjaan Vanilla ke dalam rumah dibantu oleh Bibi, asisten baru bernama Ariella, dan Nada.
Jhico sengaja menambah personil penghuni rumahnya untuk membantu pekerjaan di rumah. Sebab Bibi tidak mungkin diandalkan untuk menyelesaikan sementara kehamilan Vanilla tentu akan terus membesar dan kesehatannya bisa menurun bila kelelahan.
Tapi sampai saat ini Vanilla yang di rumah saja masih membantu. Ia yang memasak, dan untuk membersihkan kamarnya dengan Jhico adalah Vanilla sendiri. Jhico sudah melarang dan istrinya yang tidak bisa diam itu memilih untuk tetap melakukannya. Jhico hanya bisa berpesan tegas agar Vanilla tidak membahayakan dirinya sendiri dan anak mereka. Ia paham Vanilla terbiasa punya kegiatan dan saat ini tengah berhenti, jadi Jhico berusaha untuk memaklumi meskipun jengkel juga. Sampai Ia menambah asisten karena Ia tidak mau Vanilla kelelahan.
Dari awal Vanilla tidak ingin sebenarnya memiliki asisten. Karena rumahnya tidak sebesar milik Raihan maupun Thanatan, tapi Ia sadar bahwa Ia ternyata butuh bantuan. Ternyata benar, saat Ia terlalu sibuk bekerja, mereka lah yang mengerjakan semuanya.
"Iya, Vanilla tidak kira-kira," ujar Bibi yang paling lama bekerja dengan Vanilla dan tak memanggil Nona juga sebab dari awal Vanilla tidak mau. Sementara yang lain masih memanggil Nona karena mereka sama seperti Bibi yang awalnya merasa sungkan memanggil Nona.
"Aku jadi bingung bagaimana menyusunnya," ujar Ariella yamg mengundang tawa Nada. Perempuan yang sejak Vanilla tak lagi bekerja, merasa pekerjaannya terasa ringan sekali karena Grizelle selalu dengan Ibunya. Apalagi Grizelle sudah semakin mandiri. Kalau sekolah memang Grizele terbiasa sendiri sebab pihak sekolah Grizelle melarang siapapun untuk menunggui mereka belajar. Hanya diantar kemudian dijemput.
"Tenang, nanti aku bantu,"
Bibi menepuk bahu Ariella. Sebenarnya memang Vanilla seperti itu kalau sudah pergi belanja bulanan. Banyak sekali yang dibeli.
"Aku mau makan dulu,"
"Lagipula kenapa belum makan? seharusnya tadi sebelum pergi, makan saja dulu,"
"Tadi sebenarnya sudah diajak makan oleh Nona Tapi aku sungkan dan akhirnya aku mengaku sudah makan,"
Bibir terkekeh mendengar ucapan lelaki yang menjadi salah satu dari dua driver di rumah ini.
*****
Vanilla sampai di sekolah Grizelle tepat sekali dengan selesainya Grizelle belajar.
Tanpa menunggu waktu lama, mereka langsung bergegas meninggalkan sekolah tersebut.
"Itu yang dimaksud temanku, Mu. Bagus dan luas kelihatannya,"
Grizelle menunjuk area bermain tak jauh dari sekolahnya ketika mobil sang Ibu melewati tempat tersebut.
"Oh iya, sudah mau dibuka itu sepertinya,"
"Tadi aku katakan pada temanku, Mu. Kalau seandainya itu punyaku, pasti akan aku biarrlkan (biarkan) mereka masuk tanpa tiket. Tapi sayangnya itu bukan punyaku,"
Vanilla terkekeh seraya menoleh singkat pada putrinya yang duduk manis di sampingnya.
"Kita makan dulu ya?"
"Di rrlumah (rumah) 'kan?"
__ADS_1
"Mumu mau makan di restaurant. Mumu sudah keluar jadi sekalian jalan-jalan,"
"Mumu tadi seharrlusnya (seharusnya) tunggu aku saja belanjanya,"
"Takutnya kamu bosan. Kamu tahu sendiri kalau Mumu belanja lumayan lama,"
"Ya sudah, kita makan dimana saja terlserlah (terserah) Mumu,"
*****
"Ayo, kita makan,"
"Selesai membicarakan pekerjaan ada baiknya mengisi perut. Kau mau makan apa?"
"Samakan saja. Aku ke toilet dulu,"
Thanatan meninggalkan seorang rekan kerjanya di meja. Ia segera melangkah menuju toilet.
Ia baru saja selesai membicarakan pekerjaan di sebuah restaurant. Hampir menghabiskan waktu tiga jam, akhirnya mereka selesai. Memang sebelumnya sudah berencana akan sekaligus makan siang di tempat tersebut.
Ia keluar dari toilet dan bertabrakan dengan seorang anak kecil dan perempuan dewasa.
"Ck! hati-hati," tegurnya tegas. Rahangnya mengeras karena kesal langkahnya dibuat terhambat.
Anak dan perempuan dewasa itu menatapnya dan seketika mereka terkejut.
"Maaf, Pa. Tidak sengaja," Vanilla dan Grizelle lah yang Ia temui saat ini.
"Kakek tidak apa 'kan?" tanya anak itu ingin tahu kondisi Kakeknya sehabis tak sengaja tertabrak olehnya yang berjalan tergesa dan Vanilla berusaha menyesuaikan langkahnya.
"Berjalan dengan benar,"
"Iya, maaf ya, Kakek. Aku tidak sengaja,"
Kemudian Grizelle menoleh pada Ibunya. "Mumu, maaf ya. Tapi Mumu tidak apa 'kan? adikku baik-baik saja 'kan?"
tak hanya mengkhawatirkan sang Ibu, Ia pun ingat dengan makhluk kecil di dalam perut Ibunya.
"Iya, Sayang,"
"Kakek di sini juga? kita makan berrlsama (bersama) boleh tidak?"
"Kakek ada teman,"
"Oh, teman kerrlja (kerja)?"
"Tentu saja. Tidak mungkin 'kan teman sekolah?"
__ADS_1
Grizelle terkekeh merasa geli mendengar ucapan kakeknya yang menurutnya tengah mengajaknya bercanda. Padahal suara Thanatan terdengar seperti mencibir.
"Ya sudah, kami pergi dulu ya, Pa," pamit Vanilla pada Thanatan yang mengangguk setelahnya.
"Kita kenapa perrlgi (pergi), Mu? kita mau makan,"
"Iya, maksudnya pergi ke meja kita,"
"Oh iya,"
"Kakek, tidak mau makan dengan aku? malu ya?"
Hati Thanatan merasa tercubit mendengar pertanyaan pokos dari anak itu. Kenapa anak sekecil dia bisa bertanya seperti itu?
Vanilla mengayun tangan anaknya agar segera melangkah. Ia merasa tidak enak hati mendengar pertanyaan Grizelle. Ia khawatir Thanatan merasa tersinggung. Dan, Ia juga merasa sedih sekali ketika Grizelle mengeluarkan pertanyaan seperti itu.
Vanilla mengusap rambut Grizelle seolah membujuknya agar mereka segera pergi. Dari usapannya itu, Ia juga menjawab dalam hatinya bahwa tidak ada satu hal pun dalam diri Grizelle yang membuat malu. Justru semua tentang Grizelle menghadirkan rasa syukur.
"Ayo, ikut Kakek,"
Grizelle segera melompat senang. "Yeayy, aku boleh makan dengan Kakek," serunya terlihat bahagia sekali.
Grizelle segera meraih tangan kakeknya di sebelah kiri sementara Ibunya di kanan. Mereka berjalan bersama.
Saat Vanilla akan ke mejanya, suara Thanatan menginterupsi. "Untuk apa ke sana? makan saja dengan kami,"
"Tapi ada rekan kerja Papa. Pasti akan ada pekerjaan yang--"
"Sudah selesai,"
Thanatan menggerakkan dagunya agar Vanilla mengikutinya dan Grizelle.
Rekan kerjanya merasa terheran melihat Thanatan yang sebelumnya datang ke restaurant itu bersamanya kini nampak bersama seorang anak perempuan di sampingnya.
"Siapa ini? cantik sekali," sapanya pada Grizelle.
"Gliz---"
"Dia cucuku," Belum sempat Grizelle mengenalkan namanya, Thanatan sudah mengatakan iu lebih dulu.
"Namanya siapa?"
Barulah Grizelle menyebutkan namanya. Karena sang Kakek menoleh padanya sebagai isyarat agar Ia yang menjawab.
"Nama yang cantik," pujinya. Kemudian selanjutnya Vanilla yang menjadi pusat perhatian rekan Thanatan.
"Ini menantumu, Vanilla 'kan? aku pernah melihatnya sekali di pernikahannya dengan Jhico,"
__ADS_1
"Iya," singkat Thanatan.
Vanilla mengangguk sopan. Ia tak perlu lagi mengenalkan namanya sebab lelaki berstelan formal itu sudah tahu siapa dirinya.