
"Kenapa kamu bahagia sekali? padahal belum tentu mereka seperti apa yang kamu ucapkan tadi,"
"Karena----"
Jujur saja sejak pertemuannya bersama Fionna di rumah sakit saat Jhico baru mengalami kecelakaan, Ia langsung merasa tidak nyaman melihat kedekatan antara Fionna dan Jhico. Sebenarnya perasaan tidak nyaman itu sudah ada sejak Ia tahu kalau Fionna adalah sahabat Jhico. Tapi berusaha Ia sembunyikan karena Ia harus mengerti bahwa mereka adalah sahabat sejak kecil dan Ia harus belajar menerima.
Dan setelah bertemu di rumah sakit, kekhawatiran akan Jhico yang direbut oleh Fionna kian meningkat setelah Ia melihat betapa perhatiannya Fionna pada Jhico. Sebenarnya itu wajar karena sebagai sahabat tentu harus perhatian pada sahabatnya yang mengalami sakit. Vanilla memang sangat takut kehilangan Jhico. Bukan Ia meragukan perasaan Jhico. Ia yakin Jhico tidak akan berpaling. Tapi rasa cemburu tetap saja tidak bisa terelakkan.
"Hmm? karena apa?"
"Jujur, aku sempat cemburu pada Fionna,"
"Serius? kamu cemburu?"
"Iya, karena kalian dekat sekali,"
"Karena kami sahabat, Nilla. Sejak kecil mereka lah yang menjadi temanku selain nenek, saat Papa dan Mama sibuk,"
"Iya, aku salah, maaf. Tapi wajar 'kan kalau aku cemburu pada teman perempuan kamu? dan aku juga bisa melihat bahwa sebenarnya Fionna memiliki perasaan lain terhadap kamu,"
"Ah kamu jangan bicara begitu. Perasaan apa yang dia miliki? dia tahu aku sudah memiliki istri dan juga anak. Jadi dia tidak mungkin melakukan sesuatu,"
"Ya, dan aku sangat bahagia kalau ternyata Dion dan Fionna benar-benar memiliki hubungan lebih dari sahabat,"
"Justru aku khawatir," lugas Jhico yang membuat Vanilla menatapnya bingung. Apa yang harus dikhawatirkan selagi mereka berdua bahagia?
"Kalau terjadi sesuatu pada hubungan mereka nanti, aku khawatir akan berpengaruh pada persahabatan kami,"
"Aku yakin mereka berdua sudah punya komitmen untuk saling menjaga. Baik hubungan keduanya dan juga persahabatan kalian,"
******
Jhico mendatangi kliniknya sore ini. Ia sengaja memilih waktu yang sekiranya klinik sedang tidak banyak pasien agar tidak mengganggu kesibukan Kenzo, Ricci dokter baru yang bertugas di kliniknya, dan juga para perawat.
Kedatangan Jhico membuat semua pegawainya senang. Rasanya sudah cukup lama dokter yang sudah memiliki satu anak itu tidak menyapa mereka secara langsung.
"Bagaimana keadaan nya, Dokter?"
"Bisa dilihat. Doakan segera sembuh ya,"
"Tentu, Dokter. Semoga segera pulih dan tidak terulang lagi kejadian itu,"
Jhico tersenyum mendengar ucapan salah satu perawat yang menyambut kedatangannya.
Jhico menghampiri ruangan Kenzo. Lelaki itu terkejut sekali atas kedatangan Jhico. "Aduh boss datang. Aku belum siap-siap, ruanganku masih berantakan,"
__ADS_1
Jhico terkekeh kecil. Lalu berdiri di depan meja Kenzo. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Menyenangkan, Boss."
"Jangan panggil aku begitu, Ken. Aku tidak suka mendengarnya,"
"Kau 'kan benar-benar boss,"
"Tidak ada boss dan karyawan di sini. Semua sama. Kalian sangat berperan penting dalam perkembangan klinikku,"
"Kerja sama itu penting,"
"Ya, dan kita harus selalu kompak ya,"
"Bagaimana kabar Griz?"
"Kabarnya baik, dia menitip salam untukmu,"
"Sejak kapan bayi bisa mengatakan 'Pupu aku titip salam untuk Uncle Ken ya,' aku rasa hanya bayi ajaib yang bisa seperti itu,"
"Hahahaha, sudah lama aku tidak tertawa karenamu,"
"Sering-sering datang ke sini supaya bisa terhibur terus. Barangkali dengan begitu, kau lebih cepat sembuh,"
*******
Sore ini Vanilla melakukan workout. Vanilla workout di depan televisi yang sudah Ia setting untuk menampilkan seseorang mengarahkan gerakan workout. Posisinya masih di kamar agar saat Grizelle bangun, Ia langsung tahu.
Ia workout di atas matras. Ia memilih workout yang tidak ada gerakan lompat karena tenaga nya sudah tidak penuh seperti pagi hari dan Ia khawatir Grizelle yang baru bangun tidur terbangun mendengar suara lompatan nya yang mungkin membuat Grizelle terganggu.
Bibi memasuki kamar Vanilla, sebelumnya sudah mengetuk pelan karena Ia tahu Grizelle sedang tidur.
Setelah menimbulkan kepalanya sedikit di sela pintu, Ia langsung menangkap sosok Vanilla yang sibuk membakar kalori hingga tidak sadar dengan suara ketukan pintu dan kehadirannya.
"Padahal aku ingin mengajaknya membuat cookies. Ternyata Ia sedang sibuk olahraga. Ya sudahlah, aku masak sendiri saja,"
Bibi keluar lalu menutup pintu kamar, membiarkan Vanilla berolahraga disaat putrinya sedang tidur.
Sudah lima menit Vanilla workout, keringat mulai deras mengalir. Ia bertolak pinggang dan mengatur napasnya. Vanilla beristirahat atas arahan dari perempuan yang menjadi pengarah workout nya sore ini.
Vanilla memperhatikan Grizelle. "Masih aman," gumamnya karena Grizelle lelap sekali tertidur. Berhubung pendingin ruangan Ia buat agar tidak sedingin biasanya, Ia takut Grizelle mudah terbangun. Kalau pendingin ruangan terlalu dingin, Ia merasa kurang totalitas karena keringatnya tidak terlalu banyak. Ruangan yang sejuk sangat tepat menurut Vanilla
"Masih sepuluh menit lagi, semangat!" gumam Ibu satu anak itu menyemangati dirinya sendiri.
"Demi kesehatan dan keseksian, aku harus semangat,"
__ADS_1
Ia tertawa dalam hati. Seksi? Ia merasa geli sendiri berucap seperti itu. Walaupun memang tujuannya berolahraga tidak lain dan tidak bukan untuk menjaga bentuk tubuhnya agar nanti Ia bisa tetap bekerja sebagai model dan juga menyenangkan hati Jhico.
"Okay, mulai lagi,"
Gerakan yang sedang dilakukan Vanilla saat ini adalah plank high five. Tiga puluh detik Ia lakukan gerakan itu. Tangannya sudah terasa terbakar sejak tadi. Apalagi perutnya yang selalu dikunci hampir setiap gerakan seperti mountain climber, side plank, elbow plank, dan lain sebagainya.
******
"Aku pulang dulu ya. Tidak bisa lama-lama. Sudah rindu dengan anak,"
"Iya, hati-hati. Kau pulang dengan siapa?"
"Sendiri, tentu saja."
"Maksudku, kau menyetir sendiri?"
"Iya, terpaksa."
"Astaga, cedera mu belum benar-benar pulih, Co."
"Vanilla saja pergi kemanapun sendiri sekarang. Aku tidak mungkin memintanya untuk mengantarku ke sini karena dia harus bersama Grizelle,"
"Aku antar saja, bagaimana?"
"Tidak usah, aku bisa."
"Kau serius?"
"Iya, tenang saja."
Jhico meyakinkan Kenzo yang nampak khawatir membiarkan Ia pulang sendiri. Padahal saat berangkat pun Ia sendiri dan bersyukur nya tidak apa-apa meskipun cedera tangan yang Ia alami belum pulih sepenuhnya.
Saat Jhico akan keluar dari klinik, kebetulan Alifia, kekasih Kenzo datang. Jhico membalas sapa Alifia dengan anggukan dan senyum tipis.
"Beruntungnya aku tidak menerima tawaranmu. Aku hampir menggagalkan rencana dating kalian sehabis pulang kerja nanti," ujar Jhico menggoda Kenzo.
Setelah mengatakan itu, Jhico benar-benar pergi dari kliniknya. Kenzo dan Alifia beradu tatap.
"Memang kamu menawarkan apa untuk Jhico?"
"Tadi aku ingin mengantarnya pulang. Tapi dia menolak,"
-------
HALLOO SEMUAAA KOK SEPIII? KEMANA NIH WARGA NYA GRIZ?😂
__ADS_1
UDAH BACA ADDICTED BLM? SI RAIHAN MAKIN-MAKIN LHOOO. MAMPIR YAKK