Nillaku

Nillaku
Nillaku 340 Persiapan sebelum tidur


__ADS_3

Jhico mengucapkan selamat malam ketika memasuki kamar orangtuanya. Di sana Ia bisa melihat keberadaan istri dan anaknya selain dari Karina dan Thanatan yang menjadi penghuni tetap ruangan besar tersebut.


"Pupu, yeaay Pupu datang," Tidak pernah berubah Grizelle selalu menyambut kedatangan siapapun dengan antusias. Apalagi orangtuanya.


"Hai, Sayang,"


"Itu bajuku ya?"


"Iya,"


"Letakkan di sini,"


Karina mengambil alih goodie bag berisi baju cucunya kemudian Ia letakkan ke dalam almarinya.


"Griz tidur di sini 'kan? mau ya?"


"Iya, aku tidak mungkin sendirrli (sendiri) lagipula aku menginap di sini karena aku mau tidurrl (tidur) dengan Nay-Nay dan kakek,"


Karina tersenyum puas mendengar jawaban cucunya. Tapi mendengar deheman dan juga penuturan suaminya, Ia jadi berpikir dua kali untuk membiarkan Grizelle tidur bersamanya dan Thanatan.


"Aku masih demam. Sebaiknya kalian tidak tidur di dekatku," Thanatan berharap istrinya mengerti bahwa sebenarnya Ia bukan tidak mengizinkan Grizelle dekat dengannya melainkan ini demi kebaikan Grizelle juga.


"Jadi, Griz mau tidur dimana?"


"Kita tetap di sini saja. Kita di lantai juga tidak apa, Nay-Nay,"


"Jangan, Sayang. Tidak mungkin di lantai,"


"Kenapa tidak? aku bisa di lantai,"


Grizelle benar-benar membuat kakek dan neneknya berdecak. Ya, Thanatan pun turut berdecak dalam hati. Bukan karena kesal tapi karena kagum dengan sikap pengertian anak itu. tidak mempermasalahkan sama sekali dimana Ia akan tidur. Tidak peduli nyaman atau tidak untuknya yang jelas Ia ingin di dekat Thanatan.


"Oh, ada ranjang yang bisa dipindahkan ke sini. Tenang saja,"


Karina lupa bahwa ada banyak tempat tidur yang tidak terpakai dan Ia bisa memindahkannya ke sini untuk sementara waktu.


"Ya ampun, Nay-Nay tidak usah. Aku 'kan tidak selamanya di sini. Kalau dipindahkan ke kamarrl (kamar) ini nanti mengembalikannya lagi bikin urrlusan (urusan)," Ia bersikeras untuk tidur di lantai yang tidak mungkin dipenuhi Karina. Lebih baik pindah-pindah ranjang daripada harus membiarkan Grizelle di lantai. Maid nya saja tidak ada yang tidur di lantai. Tidak munglin cucunya sendiri Ia biarkan tidur di lantai yang dingin luar biasa apalagi ketika malam.


"Nanti Nay-Nay minta tolong di  pindahkan ke sini," putus Karina.


"Nay-Nay, tidak usah. Aku--"


"Kalau tidak mau mendengar apa kata Nay-Ny lebih baik kamu tidak usah menginap di sini. Daripada menginap tapi ketika kembali ke rumah malah sakit,"


Kakeknya sudah bicara tegas seperti itu maka Grizelle tidak lagi berani menolak. Ia akan menurut!

__ADS_1


Jhico dan Vanilla tersenyum. Mengerti maksud ucapan Thanatan.


Thanatan tidak ingin cucunya sakit maka katanya lebih baik Grizelle pulang saja daripada menginap malah menyebabkan dia sakit akibat tidur di tenpat yang tak seharusnya. Benar kata Vanilla, Grizelle terkadang sulit diatur. Tapi kalau sudah ditegaskan begitu apalagi oleh kakeknya, Grizelle tidak akan bisa berkutik.


"Mumu dan Pupu pulang ya?"


Vanilla merasa sudah lama Ia di sana. Sejak siang, tapi tidak terasa karena diisi dengan obrolan atau interaksi hanvatnya dengan penghuni rumah. Ia bersyukur kedatangannya kali ini tak meninggalkan jejak kecewa atau sedih seperti tempo lalu dimana Ia mendengar dari mulut Thanatan sendiri ketika Ia dicap sebagai seorang ibu yang tak bisa menjaga anaknya sampai menyebabkan kandungannya yang sebelumnya gagal. 


"Iya, hati-hati, Mu, Pu. Jangan pikirrlkan (pikirkan) aku ya. Aku di sini akan baik-baik saja tidak akan nakal,"


Siapa yang tidak tenang mendengar anak bicara seperti itu? penuturan Grizelle yang memang niatnya untuk menenangkan hati kedua orangtuanya berhasil.


"Kakek, aku lihat Mumu dan Pupu pulang dulu ya,"


Thantan mengangguk, membiarkan Grizelle kekuar bersama Mumu dan Pupunya. Ia membiarkan anak itu melepas kepulangan orangtuanya ke rumah.


"Griz, tadi Nada titip salam rindu tuk Griz,"


"Oh iya, Pu? woah aku juga merrlindukan (merindukan) Nada dan semuanya,"


"Tidak hanya Nada, yang lainnya juga menanyakan kamu terus, Sayang," sambung Vanilla.


Grizelle senang ketika tahu Nda merindukannya. Ia pun demikian. Hampir tiga hari meninggalkan rumah. Rasanya rindu sekali.


"Iya, besok atau mungkin saat jemput Griz nanti diambil,"


Grizelle mengangguk. Ia mengabtar kedua orangtuanya sampai mereka memasuki mobil.


"Griz masuk dulu ke dalam, baru kami pergi,"


"Aku masuknya nanti setelah Pupu dan Mumu perrlgi (pergi),"


Grizelle tak ingin Ia yang lebih dulu masuk. Ia ingin melihat mobil Jhico keluar sampai pelupuknya tak bisa lagi melihatnya.


"Griz masuk,"


"Nanti,"


Keras kepalanya mulai datang. Grizelle bersikeras tidak ingin masuk sebelum mobil Jhico melaju. Bahkan meskipun maid membujuknya masuk ke dalam, Grizelle menolak.


"Aku mau lihat Mumu dan Pupu sampai perrlgi (pergi),"


Vanila menoleh pada suaminya. Kalau tidak mereka yag pergi, maka Grizelle benar-benar tidak akan masuk. Sepanjang itu waktu yang dibutuhkan untuk berpisah.


Jhico mengerti tatapan ustri ya agar segera melajukan mobil supaya Grizelle cepat masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sudah ya, Pupu pulang,"


"Masuk, Sayang,"


Itu kalimat yang Grizelle dengar dari keduanya sebelum mobil mebawa mereka menjauh.


"Ayo, Grizelle masuk. Ini sudah malam, dingin,"


"Okay,"


Grizelle mengacungkan ibu jarinya menuruti maid yag memitanya untuk segera masuk ke dalam. Bahkan hanya keluar dari pintu rumah, bukan gerbang, ada maid yang siap mengantar. Sehingga Grizelle ada yang memastikan Grizelle aman sampai kembali lagi ke dalam.


Sampai di kamar kakeknya, mata Grizelle membulat melihat dua orang laki-laki tengah mengatur posisi ranjang yang baru saja dipidahkan ke sana.


"Sudah-sudah. Ini sudah tepat posisinya. Terimakasih ya,"


Secepat itu ranjang berpindah karena ada orang yang siap membantu.


"Ini darrlimana (darimana), Nay-Nay?"


"Kamar lain, Sayang,"


Karina mengambil alas ranjang agar yang sekarang terpasang diganti supaya cucunya tidur nyaman. Meskipun alas ranjang rajin diganti sekalipun tidak ditempati, tapi tetap saja sekarag ini Grizelle akan menggunakannya bersama dirinya juga.


Maka Ia harus mengganti lagi supaya bebar-benar yang bersih dan nyaman.


"Aku bisa pasang alas tempat tidurrl (tidur),"


"Sudah, biar Nay-Nay. Ini mudah," katanya.


"Halah, kalau mudah kenapa selama ini minta tolong pada orang lain?"


Karina melirik kesal pada suaminya yang bicara sepeeti itu. Ia tak mampu mengelak karena memang selama ini yang bertugas mengganti rutin alas tempat tidur atau bed cover bukan dirinya melainkan asisten di rumah ibi atau maid nya.


"Kamu tahu aku tidak bisa diandalkan dalam hal apapun" akunya dengan berani.


"Cucumu saja mengaku bisa,"


"Aku juga bisa sebenarnya. Tapi aku 'kan sibuk,"


Thanatan mendengkus setelah alasan itu keluar dari mulut istrinya. Tapi memang benar, Karija sibuk tidak sempat mengurus hal-hal seperti itu.


"Aku saja, Nay-Nay. Aku bisa pasang bed coverrl (bed cover),"


"Tidak usah, Sayang. Biar Nay-Nay saja. Nanti kalau kamu bantu, Kakek akan semakin mengejek Nay-Nay,"

__ADS_1


__ADS_2