Nillaku

Nillaku
Nillaku 298 Mengejutkan Rena dan Raihan


__ADS_3

Vanilla tidak bisa benar-benar tenang membiarkan putrinya di rumah sementara Ia dan Jhico harus menginap di rumah sakit. Tapi kalau mengajak Grizelle ikut menginap di rumah sakit, adalah pilihan paling buruk sebab ada beberapa risiko nantinya.


Hanya bisa mengandalkan panggilan video dengan Nada saja Ia bisa melihat wajah anaknya. Seperti sore ini, begitu Ia bangun dari tidur, Ia langsung menghubungi Nada. Ia ingin bicara dengan Grizelle namun sayangnya anak itu pun terlelap setelah bermain bersama Nada.


"Jadi dia baik-baik saja ya, Nad?" Vanilla hanya bisa melihat wajah anaknya yang tertidur tanpa mendengar suaranya.


"Griz baik-baik saja, Nona,"


"Ya sudah, nanti kalau Ia sudah bangun, tolong hubungi aku lagi ya. Aku ingin sekali bicara degan Griz,"


"Baik, Nona. Griz juga ingin sekali mengobrol dengan Nona. Sedari tadi Ia terus memikirkan kondisi Nona. Ingin menghubungi Nona melalui aku, tapi Ia khawatir Nona sedang istirahat. Begitu Nona dibawa ke rumah sakit tadi, Ia sempat menyalahkan dirinya sendiri. Karena menurutnya, Nona sakit karena menemaninya berlibur,"


"Ya ampun, anak itu,"


Vanilla menghela napas seraya menggeleng pelan. Tak habis pikir anaknya bisa berpikir demikian. Padahal jelas-jelas memang kondisi Vanilla saja yang tengah menurun.


"Hati-hati ya, Nad. Tolong jaga Griz,"


"Iya, Nona. Cepat sembuh, Nona,"


"Terimakasih, Nad,"


Vanilla mengakhiri panggilan videonya bersama Nada. Ia menghela napas menatap suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Sudah bicara dengan Griz? cepat sekali,"


"Griz masih tidur," ujar Vanilla seraya merengut. Gagal sudah Ia mendengar suara putrinya.


"Ya sudah, nanti hubungi Nada lagi,"


"Iya, tadi aku sudah minta pada Nada agar kembali menghububgiku kalau Griz sudah bangun,"


Jhico mengusap kepala istrinya yang tampak masih belum benar-benar tenang karena tak sepenuhnya tahu tentang Grizelle sebab anak itu belum bicara apa-apa padanya.


"Kamu jangan terlalu mencemaskan Griz. Dia akan baik-baik saja, aku yakin,"


"Iya, padahal saat aku di rumah sakit karena keguguran waktu itu, aku berpisah dengannya beberapa hari tapi tidak seperti ini perasaanku,"


"Karena mungkin saat itu kamu pun sedang kacau. Jadi tidak ada waktu untuk cemas pada Griz,"


"Hmm...aku jahat ya?"


"Ssstt, jangan pernah bicara seperti itu. Semua akan kacau kalau sedang mengalani kehilangan. Lagipula Griz juga bersama Mama kita waktu itu,"


Jhico menunduk pada istrinya yang terbaring di bangsal. Ia mencium sudut bibir Vanilla singkat.

__ADS_1


Vanilla segera melingkari tangannya di leher sang suami seolah tak mengizinkan suaminya itu menjauh darinya.


"Aku mau makan dulu boleh? aku lapar, Nillaku,"


Vanilla terkekeh mengangguk. "Ya ampun, maka saja harus minta izin?"


"Tidak, hanya saja tolong lepaskan aku. Bagaimana aku bisa makan kalau dipeluk seperti ini?"


Leher Jhico sampai dibuat kaku oleh istrinya yang Ia tahu sedang ingin manja dengannya itu.


"Okay,"


Vanilla mengangkat kepalanya sedikit untuk mengecup hidung Jhico sesaat sebelum mendorong pelan bahu suaminya agar segera melakukan apa yang Ia katakan tadi.


"Makan," ujarnya tapi tak membuat Jhico beranjak, padahal sudah Ia lepaskan jeratan tangannya itu.


Jhico menggeleng dan tersenyum miring. "Jangan dihidung saja menciumnya," ucapnya seraya mengerling.


Vanilla tertawa mencubit bisep suaminya yang sedang meletakkan kedua tangannya di kesua sisi tubuhnya.


"Bisa begitu juga kamu. Karena tidak ada Griz ya?"


Jarang sekali Jhico bersikap seperti itu. Wajar kalau Vanilla bertanya-tanya.


"Di sini boleh sekali," tambah lelaki itu seraya menunjuk tengah bibirnya. Vanilla terbahak mendengarnya.


"Makanlah," suruh Vanilla pada suaminya yang seperti kelupaan dengan niatnya tadi.


"Oh tidak mau rupanya. Ya sudah,"


Vanilla menarik lengan t-shirt suaminya kemudian memenuhi permintaan suaminya itu.


"Sudah 'kan? sekarang kamu makan,"


"Okay, terimakasih, Tuan putri sudah memberiku amunisi,"


*****


Malam ini Rena bosan sekali menunggu suaminya yang belum pulang sampai pukul delapan. Akhirnya Ia memutuskan untuk menghubungi Vanilla saja. Ia ingin mengobrol dengan anaknya itu.


"Hallo, Sayang. Mama mengganggumu tidak?"


"Tidak, Ma. Aku juga lagi menunggu telepon dari Nada. Aku ingin bicara dengan Griz,"


"Kamu tidak bersama Nada sekarang? Atau---"

__ADS_1


"Aku sedang berada di rumah sakit, Ma. Griz tetap di rumah. Dan aku menunggu telepon dari Nada karena aku ingin bicara dengan Griz,"


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu, Van? hm?"


"Kelelahan, Ma. Pulang dari berlibur aku sempat tak sadarkan diri,"


Tentu berita itu membuat Rena sangat terkejut, tidak menyangka kalau putrinya akan mengalami penurunan kondisi kesehatan.


"Ya ampun, Vanilla. Jaga kesehatanmu, Sayang. Jangan lagi terulang seperti ini,"


Vanilla menunduk meremat jemarinya. Ia tak ingin Mamanya bertanya-tanya kenapa Ia menunggu telepon dari Nada maka sekalian saja Ia beri tahu bahwa saat ini Ia tengah dirawat di rumah sakit.


Ibunya itu langsung terdengar khawatir sekali. Ia sudah berusaha menjaga kondisi tubuhnya tapi tetap tumbang juga.


"Iya, Ma. Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku berpisah dengan Griz. Dan Griz juga sedih sekali mengetahui aku harus dirawat usai berlibur,"


"Jelas saja Ia bersedih. Kamu tahu sendiri bagaimana anakmu itu. Tapi memang keputusanmu benar untuk membiarkan Griz tetap tinggal di rumah. Di rumah sakit, Griz belum tentu bisa istirahat. Mama khawatir juga Ia ikut sakit,"


"Iya, walaupun sebenarnya aku ingin sekali dia di sini. Rasanya baru kemarin berlibur bersama, sekarang harus terpisah untuk sementara,"


"Kamu tenang saja. Tidak usah mencemaskan Griz. Mama akan datang sekarang ke rumahmu,"


"Tidak usah, Ma. Griz aman dengan Nada dan yang lainnya. Lagipula aku sudah bisa pulang besok kalau sudah benar-benar membaik,"


"Mama akan menemaninya. Sekarang apa yang kamu rasakan?"


"Hanya lesu saja, Ma,"


"Istirahatlah. Kamu tenang saja. Tidak perlu khawatir dengan Griz ya. Mama akan datang menemaninya di sana untuk malam ini,"


Tahu bahwa anaknya akan kembali melarang, Rena segera memutuskan sambungan telepon mereka. Walaupun Ia tahu cucunya akan aman, tapi Ia tidak akan bisa tidur tenang malam ini karena cucunya tak bersama kedua orangtuanya. Maka Ia akan menemani Grizelle.


"Kemana, Sayang?"


Raihan memasuki kamar lengkap dengan pakaian kerjanya. Ia baru saja tiba di rumah dan Ia mengerinyit ketika mendapati istrinya yang nampak menjinjing hand bag tapi mengenakan pakaian tidur. Bukannya berbaring tapi malah kelihatan ingin pergi.


"Vanilla dirawat di rumah sakit. Aku ingin menemani Griz di rumah,"


"Astaga, kenapa lagi anak itu?kondisinya sekarang bagaimana?"


"Hanya tinggal lesu katanya. Tadi setelah liburan Ia mengaku sempat tak sadarkan diri,"


Raihan menggeleng pelan memijat keningnya. Vanilla malam ini berhasil membuatnya terkejut sekaligus khawatir. Ia pulang kerja langsung mendapat kabar itu.


"Aku ikut menginap di sana,"

__ADS_1


__ADS_2