Nillaku

Nillaku
Nillaku 245 Permintaan Grizelle yang akan diusahakan oleh Raihan


__ADS_3

Jhico dan Vanilla berdampingan keluar dari rumah sakit usai memeriksakan kandungan Vanilla.


Sesuai perkataan Jhico saat Vanilla masih di Dubai, Jhico ingin ketika Vanilla pulang, Vanilla kembali periksa kandungan. Agar Jhico tahu juga bagaimana kondisi dan perkembangan jabang bayi mereka.


"Kamu dengar ucapan Dokter, tadi 'kan? harus banyak istirahat, vitaminnya jangan pernah lupa, dan makan yang---"


"Iya, aku dengar, Jhi,"


"Pintarnya Nillaku,"


Vanilla tersenyum merona saat Jhico mengacak pelan rambutnya dan memuji dirinya seperti anak kecil.


"Kita mesra-mesraan dimana dulu ya? Griz lagi bersama Grandpa dan Grandma nya,"


Jhico menyadari bahwa Vanilla ingin menghabiskan waktu berdua dengannya. Ia berpikir sebentar ingin membawa Vanilla kemana.


"Kita staycation saja di hotel,"


Vanilla memicing ke arahnya. Menatap Jhico curiga. Niat sekali Jhico ingin menghabiskan waktu berdua dengannya di hotel.  "Harus hotel?"


"Ya staycation biasanya dimana?"


Vanilla menggeleng sembari tertawa kecil. "Kita seperti mau honeymoon ya," ujarnya yang disambut tawa juga oleh Jhico.


Lelaki itu merangkul bahu istrinya masih berjalan menuju basement rumah sakit.


"Persiapan untuk yang ketiga,"


Sontak saja Vanilla mencubit pinggang suaminya yang kebetulan mudah Ia raih sebab Jhico yang merangkulnya.


"Sembarangan kamu. Yang ini saja belum lahir,"


Tawa Jhico pecah. Ia senang menggoda Vanilla yang sebelumnya sempat cemas menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Vanilla takut mendengar hal-hal yang tak diinginkannya. Jujur Ia masih selalu teringat dengan kegagalan yang pernah terjadi di kandungan keduanya. Jhico di sampingnya berusaha meyakinkan anak mereka sehat.


"Waktu kamu periksa di Dubai, kandunganmu 'kan sehat tapi lemah. Jadi kamu tidak perlu khawatir,"


"Aku takut saja. Karena aku habis melakukan perjalanan pulang,"


"Tidak apa-apa," pungkas Jhico seraya mengusap kepala istrinya sebelum masuk ke dalam ruangan dokter.


Jhico membukakan pintu mobil untuk sang istri, kemudian Vanilla langsung masuk disusul oleh Jhico.


"Jhi, aku ingin istirahat sebentar dari pekerjaanku ya,"


Jhico yang tengah menyalakan mobilnya langsung menoleh pada sang istri. Ia membiarkan mobil menyala tanpa melaju, sebab Ia harus bertanya pada istrinya terlebih dahulu.


"Sudah yakin? nanti tidak bosan di rumah saat aku dan Griz tidak ada di rumah?"


"Aaa Jhi, jangan begitu,"


Vanilla merengek saat Jhico seperti menggoyahkan keputusannya. Padahal maksud Jhico, Ia ingin Vanilla lebih yakin setelah memutuskan berbagai pertimbangan.


"Aku hanya ingin meyakinkan kamu saja, Nilla,"


"Aku yakin,"


"Benar?"


Vanilla terkekeh melihat suaminya yang tersenyum mengangkat kedua alisnya bergantian.


"Yakin,"


Jhico langsung mengusap dadanya merasa lega. "Akhirnya kamu memutuskan hal itu, Nilla,"


Jhico memang inginnya Vanilla tidak lagi berkutat dengan pekerjaan. Setelah istrinya memutuskan bahwa Ia akan istirahat dari kesibukannya, Ia sangat bersyukur.


"Berhenti selamanya?"

__ADS_1


Vanilla bergumam, berpikir sembari merotasikan bola matanya.


"Belum tahu,"


Jhico menghela napas. Ia pikir Vanilla ingin selamanya berhenti dan memberi seluruh waktunya untuk keluarga.


"Yang penting untuk sekarang aku memutuskan untuk fokus dulu dengan kehamilanku. Masalah itu, bisa dipikirkan lagi nanti,"


*****


Grizelle menyusul kakeknya yang langung meninggalkan meja makan usai mengisi perutnya. 


Ia penasaran dengan yang ingin dilakukan Raihan. Ternyata kini, Raihan tengah memberi makan untuk ikan-ikan peliharaannya.


Ia berdiri di samping Raihan yang serius dengan kegiatannya. Ia mengalihkan perhatian Raihan dengan cara menyentuh baju di pinggangnya.


"Glandpa, Aku saja yang beli (beri) makan,"


"Beri,"


"Iya, beli (beri),"


"Coba bicara R nya yang benar,"


"Llll,"


"R, Griz. Bukan L,"


"Aaa belum bisa, Glandpa,"


"Grandpa, bukan Glandpa," ujarnya lagi. Raihan menggoda Grizelle sekalian menyemangati cucunya itu agar lebih baik lagi dalam bicara.


"Belum bisa,"


"Bisa, coba dulu,"


"R,"


"L,"


"Aduh, bagaimana ini? sudah mau punya adik tapi sebut huruf R saja belum bisa,"


Makin mendung raut Grizelle. Ia memainkan lidah di dalam mulutnya. Kemudian mencoba lagi.


"L,"


"R,"


"Lrr,"


"Nah, itu sudah mulai bisa," sorot mata Raihan terlihat berbinar mendengar cucunya sudah mulai bisa.


Grizelle menghentak kakinya kesal. Hal itu membuat Raihan terkekeh.


"Susah,"


"Itu mulai bisa. Coba lagi," pintanya yang langsung dituruti Grizelle.


"Llrr,"


Tawa Raihan pecah melihat usaha cucunya yng ingin lancar menyebut R. Benar-benar anak yang tak pantang menyerah.


"Aku saja yang bellri (beri) makan ikannya,"


"Woahh sudah ada kemajuan,"


Raihan bertepuk tangan riang. Grizelle cemberut menatap kakeknya yang memang kelihatan sengaja ingin mengerjainya. Tapi ia jadi bersyukur, karena begitu, Ia bisa sedikit lebih baik dalam pengucapan.


"Nanti belajar lagi,"

__ADS_1


Grizelle mengangguk dan mengulang ucapan kakeknya, "Nanti belajallrr (belajar)lagi,"


Raihn tidak kuat melihat cucunya yang makin menggemaskan ketika mulutnya terbuka penuh usaha agar bisa.


"Ini, kamu beri lah. Tapi jangan terlalu banyak. Karena tadi Grandpa sudah berikan juga,"


Grizele mengmbil alih makanan ikan-ikan kakeknya yang dibiarkan berenang bebas di dalam kolam yang didesign menyerupai kayu. Di atasnya juga ada jembatan, dimana mereka berdiri sekarang.


"Glandpa,"


"Kenapa Glandpa lagi?"


Grizelle menggaruk keningnya saat ditegur oleh sang kakek. Ia menyalahkan lidahnya yang kembali lagi seperti sebelumnya.


Raihan tertawa kemudan memaklumi. "Hanya tinggal dibiasakan,"


"Lidahku ini yang salah,"


Grizelle memukul pelan mulutnya seraya menggerutu.


"Tadi mau bicara apa?"


"Hmm apa ya, aku lupa,"


"Hahh," Raihan membuang napas, padahal Ia sudah menunggu apa yang akan disampaikan Grizelle karena tadi sepertinya Grizelle memanggilnya ingin mengatakan sesuatu.


"Aku mau duduk di sini,"


Grizelle duduk hingga kaki kecilnya bergelantungan. Raihan pun mengikuti. Kesempatan menghabiskan waktu dengan cucu seperti ini sangat Ia sukai. Baik dengan cucunya dari anak Devan, maupun anak Vanilla.


"Oh iya, aku mau bilang itu tadi...hmm... aku diajak berllibur (berlibur) oleh Nay-Nay,"


"Oh iya? woahh senang nya,"


"Nanti lain waktu aku akan belibulrr (berlibur) juga dengan Glandpa dan Glandma ya?" ujarnya sedikit tersendat karena pengucapan R yang masih Ia usahakan.


Raihan tidak tahan untuk tertawa lagi. Ia mengusap helai rambut Grizelle.


"Sudah, jangan dipaksakan. Nanti juga lama-lama bisa,"


"Aku juga malu krlena bentarl (karena bentar) lagi lima tahun tapi belum bisa bilang R,"


"Sudah mulai bisa itu. Tapi Griz harus biasakan supaya lidahnya tidak kaku dan tambah bisa,"


Raihn menutup wadah penyimpan pakan ikannya setelah Ia mengatakan 'cukup' pada Grizelle dan anak itu langsung menyerahkan wadah padanya.


"Liburan kemana?"


"Entah, aku juga tidak tahu. Yang penting aku lribulran (liburan),"


"Kakek Thanatan ikut?"


"Hmm kata Nay-Ny tidak. Klrena (karena) Kakek kelrja (kerja),"


"Jadi hanya berdua?"


"Iya, Grlandpa (grandpa),"


"Ya sudah, hati-hati nanti ya. Jangan nakal. Semoga saat kamu pulang nanti, buaya nya sudah ada,"


Raihan harus mencari dulu kemudian mengurus perizinannya bila memang boleh dipelihara. Kemudian Ia harus menyiapkan tempat tinggal yang layak juga.


"Griz, jadi minta buaya?"


"Aduh, Glandma jangan buat kaget,"


 


Beneran mo diturutin dong si Icelle minta buaya sm Raihan😭 bener-bener yaa permintaannya si Icelle. Aneh bgt wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2