
"Hei, lebih seru kalau yang menang dapat hukuman,"
"Hah? bukannya hukuman itu untuk yang kalah?"
"Jangan, Griz. Kita harus beda!"
Grace bergegas ke susternya yang kali ini ikut bersamanya dan sang nenek kemudian Ia minta diambilkan bedak miliknya.
Grace kembali pada teman-temannya. "Taraa, aku sudah ada bedak untuk mencoret wajah anak yang menang,"
"Wajahku dicoret?" tanya Daviska dengan raut polos. Yang langsung diangguki oleh semuanya.
"Lebih baik kalah saja berarti," dengus Daviska yang ditertawai oleh Grizelle.
"Berutungnya angka dikartuku tidak sama dengan Grizelle," ujar Novel bangga.
Mereka mencoret wajah Daviska dengan bedak yang telah mereka sentuh menggunakan tangan masing-masing.
"Jangan banyak-banyak ya,"
"Iya, tenang saja. Lagipula kalaupun banyak memang kenapa, Dav? kamu 'kan masih kecil. Tambah menggemaskan kalau pakai bedak,"
Daviska merengut. Dia memang menyukai bedak tapi tidak dengan dicoret sembarangan ke wajahnya juga seperti yang saat ini dilakukan teman-temannya.
"Maaf ya, Daviska," ujar Grizelle sebelum memberi satu garis di pipinya.
"Aku ratakan bedaknya," kata Grizelle yang diangguki oleh Daviska.
Mereka kembali melanjutkan permainan. Kali ini giliran Novel yang pertama mengeluarkan kartu lalu diikuti oleh teman-temannya.
Dan yang berhasil menyamakan angka kartu milik Novel adalah Grizelle. Artinya Grizelle adalah pemenang.
Sontak mereka tertawa. "Griz, siap-siap dicoret,"
Grizelle tersenyum pasrah. Ia segera menutup matanya saat pipi, kening, dan hidung menjadi objek lukisan asal Novel, Grace, Daviska, Theresita, dan Serein.
"Yeayy Griz makin cantik," sorak mereka menatap Grizelle yang wajahnya sudah dicoret.
"Cantik apanya. Malah aku seperti badut,"
Tawa mereka pecah ketika Grizelle menyamakan dirinya seperti badut. "Padahal kamu tetap cantik, Griz," ujar Serein yang diangguki mereka.
"Sayang, bermainnya nanti di lanjut lagi ya,"
"Memang kenapa, Oma?" tanya Grace pada Arselia, neneknya.
"Mau berenang tidak?"
"MAUUU," Seru Grace dan teman-temannya bersamaan. Mereka bahkan beranjak dengan semangat.
"Ayo, kita ke kamar masing-masing dulu untuk berganti pakaian,"
Mereka menurut dan segera mendekati nenek mereka masing-masing. Begitu juga dengan Grizelle.
"Ayo, Nay-Nay kita ke kamarrll(kamar),"
"Ayo,"
"Raihan tidak ikut ya, Kar?" tanya salah satu suami dari teman Karina.
Memang ada yang suaminya juga ikut serta. Tapi tidak banyak.
__ADS_1
"Tidak,"
"Sibuk, jadi tidak ada waktu ya, Kar,"
Karina terkekeh menggeleng, "Tidak lah. Memang dia tidak mau saja,"
Grizelle mengguncang pelan tangan Neneknya untuk mengalihkan perhatian.
"Ayo, Nay-Nay. Aku mau ganti baju, mau brrlenang (berenang),"
"Okay, Sayang. Ayo,"
******
"Tidak usah pakai itu,"
Grizelle menggeleng saat Karina akan memakaikan pelampung pada Grizelle.
"Pakai, Sayang. Biar aman,"
"Tidak mau, Nay-Nay. Aku 'kan sudah bisa. Lagipula ada Nay-Nay yang menjaga aku,"
Grizelle melihat teman-temannya tidak ada yang memakai pelampung. Hanya anak-anak yang usianya lebih kecil darinya yang memakai pengaman untuk berenang itu.
"Ya sudah,"
Karina tak ingin memaksa. Grizelle menggenggam tangannya mengajak sang nenek untuk masuk ke dalam kolam.
"Ayo Griz, kesini,"
Serein memanggilnya. Grizelle mengangguk, Ia segera berenang menuju teman-temnnya sementara Karina memperhatikan dari tepi.
"Ayo, Kar berenang ke sana,"
"Aku duduk-duduk di sini saja," tolaknya halus.
"Ah kamu tidak bisa berenang?"
"Bisa, cuma sekarang aku ingin menemani Cucuku saja di sini,"
"Banyak yang menjaga mereka, Kar,"
Karina terkekeh pelan. Biarpun ada yang tidak berenang dan duduk di tepi sehingga bisa menjadi mata-mata para anak kecil, tapi Ia hanya percaya pada dirinya sendiri untuk menjaga Grizelle. Ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada anak itu. Ia yang mengajak Grizelle berlibur, kalau terjadi apa-apa, Ia akan sangat merasa bersalah.
Karina duduk di tepi kolam dengan setengah pakaian basah. Ia memperhatikan Grizelle yang kini sedang lomba renang dengan teman sepermainannya.
Karina merasa bahagia bisa melihat riangnya anak itu. Sementara saat Grizelle sakit, Ia sangat terpukul.
Jarang sekali ia bisa pergi hanya berdua dengan Grizelle sebab mereka sama-sama punya kegiatan sendiri. Grizelle sibuk dengn sekolahnya, sementara Ia berkarir.
"Aku menang. Yeayy,"
"Kita sama,"
"Tidak, aku yang lebih dulu sampai,"
"Ya sudah, baiklah," Grizelle mengalah saat Theresita tidak terima pengakuannya yang juga sebagai pemenang karena mereka tiba di waktu yang sama.
"Pemenang nya ada dua," putus Daviska.
"Iya, pemenangnya ada dua. Sekarang kita mulai lagi dari sini ya,"
__ADS_1
Mereka kembali berenang dari tempat mereka sampai tadi. Karina terkekeh melihat Grizelle yang terlihat semangat sekali ingin menjadi pemenang.
Jhico dan Vanilla terbilang berhasil mendidik Grizelle. Anak sulung mereka itu tidak mudah menyerah, namun tidak egois.
"Griz menang. Griz keren,"
"Hanya kebetulan," ujar Grizelle seraya tertawa merendah tak mau dikatakan keren.
Mereka belum bosan. Malah makin semangat berlomba. Kolam renang itu juga cukup untuk seukuran anak-anak, sehingga mereka tidak lelah ketika adu kecepatan.
Karina mengambil ponselnya sebentar untuk mengabadikan kegiatan Grizelle sekarang dan mengirimkannya pada sang putra yang rajin menanyakan tentang Grizelle.
'Apa Grizelle menyulitkan Mama?'
'Grizelle sedang apa, Ma?'
'Grizelle sudah makan, Ma?'
Pertanyaan semacam itu Jhico kirimkan sejak Grizelle bersamanya.
****
Saat sedang bergelut dengan pekerjaan, Thanatan mengecek ponselnya sesaat. Tak ada apapun, hingga Ia kembali bekerja.
Lima menit kemudian, Ia mendapati pesan dari istrinya yang jarang sekali mengirim pesan padanya.
Karina mengirimkan pesan berupa gambar pada Thanatan. Dalam gambar itu terlihat Grizelle sedang berada di kolam renang.
Entah apa maksud istrinya mengirimkan itu, Ia tidak tahu. Ia memilih untuk membalas singkat.
-Maksudmu bagaimana?-
Karina di sana langsung membacanya. Dan Karina berdecak.
"Memang salah kalau aku mengirim foto Grizelle? maksudnya biar sekali-sekali dia tahu kegiatan cucunya," cibir Karina. Usai mengirim pesan pada Jhico dan menjawab panggilan Vanilla, Ia mengirin pesan itu pada sang suami dan ditanggapi dengan kalimat bodoh seperti itu.
-Grizelle sedang berenang dengan teman-temannya. Kamu tidak mengirimkan pesan apapun padaku apalagi bertanya tentang Griz, jadi ya sudah, aku kirim saja foto Griz- ketik Karina dengan cepat. Kemudian fokus lagi memperhatikan Grizelle.
Thanatan mengangguk pelan membaca pesan istrinya. "Griz sedang berenang, dia malah sibuk dengan ponsel. Nanti kalau Griz tenggelam bagaimana?" gumamnya dengan kening mengerinyit.
Ia ingin kembali fokus dengan berbagai dokumen di hadapannya saat ini, tapi tangannya malah bergerak di layar kemudian tersambung dengan Karina. Ia melakukan itu tanpa keinginan sama sekali sebenarnya, tapi tangannya bergerak sendiri. Ia jarang sekali menelpon istrinya disela pekerjaan seperti ini.
"Hallo, kenapa menghubungi? bukankah kamu sedang bekerja?" ujar Karina begitu menjawab panggilan Thanatan.
"Kamu sedang apa?"
"Hih?"
Karina mengangkat sebelah alisnya. Thanatan terbentur sesuatukah? kenapa dia jadi manis?
"Kamu seperti anak muda saja yang bertanya hal-hal tidak penting seperti itu,"
Thanatan mendengus. Maksudnya bukan bersikap seperti itu pada Karina. Ia tahu pernikahannya dengan Karina datar saja namun saling mengasihi.
"Maksudku, Kamu tidak menemani Griz berenang?"
"Aku temani, dan dia sudah bisa berenang sendiri. Apa kamu lupa? makanya sering-sering berenang dengan cucu," cibiran Karina seketika membuat Thanatan ingat. Grizelle sudah berenang. Pernah minta berenang bersama juga dengannya tapi itu hanya dua kali selama Grizelle ada, kalau Ia tidak salah ingat.
"Kamu khawatir ya pada Griz? ah syukurlah, berarti masih punya hati,"
Thanatan berdecak, kesal mendengar kalimat istrinya. Ia segera memutus panggilan mereka. Mulut Karina itu terkadang memang tajam apalagi ketika menegur sikapnya pada Grizelle.
__ADS_1
-----
Kalian biasanya kl baca Nillaku jam brp guys? coba komen di bawah yaa